TOKOH - Drs. Indrawadi Tamin, M.Sc., Ph.D. merupakan salah satu tokoh komunikasi Indonesia yang menempuh perjalanan panjang melintasi dunia jurnalistik, pemerintahan, hubungan masyarakat, penyiaran, hingga pendidikan tinggi. Lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 23 Februari 1951, Indrawadi mengabdikan sebagian besar hidupnya pada bidang komunikasi yang kemudian membawanya menduduki berbagai posisi penting di tingkat nasional.
Perjalanan itu tidak dibangun dalam waktu singkat. Sejak muda, Indrawadi telah memilih komunikasi dan jurnalistik sebagai bidang yang ingin ditekuninya. Pendidikan menjadi fondasi utama yang kemudian mengantarkannya dari ruang redaksi surat kabar hingga lingkungan kepresidenan.
Ia memulai pendidikan tingginya di Akademi Penerangan, Jakarta, dan berhasil meraih gelar Bachelor of Arts (B.A.). Dari sana, keinginannya memperdalam ilmu komunikasi semakin kuat. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Tinggi Publisistik Jakarta, yang kini dikenal sebagai Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik atau IISIP Jakarta, di Lenteng Agung. Di kampus tersebut, Indrawadi memperoleh gelar Doktorandus atau Drs.
Namun perjalanan akademiknya belum berhenti.
Indrawadi kemudian berangkat ke Amerika Serikat untuk memperdalam ilmu jurnalistik. Ia menempuh pendidikan di School of Journalism, Ohio University, dan memperoleh gelar Master of Science (M.Sc.).
Pengalaman akademik di Amerika semakin membuka cakrawala pemikirannya mengenai komunikasi, media, dan kehidupan masyarakat. Ia pun melanjutkan pendidikan ke jenjang doktoral di College of Communication, The Florida State University, Amerika Serikat.
Dari universitas tersebut, Indrawadi berhasil meraih gelar Doctor of Philosophy atau Ph.D. Pencapaian akademik itu kemudian menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan panjangnya sebagai praktisi sekaligus akademisi komunikasi.
Berawal dari Dunia Jurnalistik
Sebelum dikenal sebagai birokrat dan akademisi, Indrawadi lebih dahulu bersentuhan langsung dengan dunia pers.
Ia pernah menjadi wartawan Harian Waspada di Medan. Dari dunia kewartawanan itulah ia belajar bagaimana sebuah informasi dikumpulkan, diverifikasi, diolah, kemudian disampaikan kepada masyarakat.
Setelah itu, perjalanan jurnalistik membawanya ke Jakarta. Ia bergabung sebagai wartawan Harian Angkatan Bersenjata, salah satu surat kabar yang memiliki posisi penting pada masanya.
Pengalaman bekerja di ruang redaksi membentuk pemahamannya mengenai hubungan antara media, pemerintah, dan masyarakat. Pengetahuan tersebut kelak menjadi salah satu kekuatan Indrawadi ketika memasuki dunia hubungan masyarakat dan pemerintahan.
Meski kariernya kemudian berkembang ke berbagai bidang, kedekatannya dengan dunia pers tidak pernah benar-benar terputus.
Ia pernah dipercaya menjadi penasihat ahli Tabloid Cek & Ricek serta penasihat ahli Tabloid Politisia. Keterlibatannya dalam organisasi profesi pers juga cukup kuat. Indrawadi tercatat sebagai anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat untuk periode 2013–2018.
Tidak hanya itu, kemampuannya dalam bidang hubungan masyarakat membawanya dipercaya memimpin Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia atau PERHUMAS sebagai Ketua Umum.
Posisi tersebut semakin menegaskan kiprahnya sebagai salah satu figur yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan profesi hubungan masyarakat di Indonesia.
Mengabdi di Pemerintahan
Perjalanan Indrawadi kemudian memasuki dunia birokrasi.
Ia meniti karier di Departemen Penerangan Republik Indonesia, lembaga yang pada masa itu memiliki peran besar dalam pengelolaan komunikasi dan informasi pemerintah.
Kariernya dimulai dari berbagai posisi teknis. Ia pernah menjabat Kepala Seksi Pengolahan Bahan Siaran Departemen Penerangan. Dari posisi tersebut, tanggung jawabnya berkembang ketika dipercaya menjadi Kepala Bagian Penyusunan Program dan Laporan Direktorat Jenderal Penerangan Umum.
Pengalaman dan kapasitasnya dalam pengelolaan informasi membuat kariernya terus meningkat.
Indrawadi kemudian dipercaya menjadi Direktur Pembinaan Hubungan Masyarakat Departemen Penerangan. Jabatan tersebut membuatnya semakin dekat dengan pengelolaan komunikasi publik pemerintah dan hubungan antara institusi negara dengan masyarakat maupun media massa.
Puncak pengabdiannya di lingkungan Departemen Penerangan antara lain ketika ia dipercaya menjadi Kepala Pusat Informasi Nasional atau PIN.
Dalam posisi itu, Indrawadi berada di salah satu pusat penting pengelolaan informasi pemerintah. Ia berhadapan langsung dengan dinamika komunikasi publik nasional yang terus berkembang seiring perubahan politik, teknologi, dan media di Indonesia.
Pengalamannya dalam pemerintahan kemudian membawanya ke lingkungan Istana Negara.
Indrawadi dipercaya menjabat sebagai Deputi Sekretaris Presiden Republik Indonesia Bidang Protokol, Pers, dan Media. Posisi tersebut mempertemukan berbagai pengalaman yang telah dikumpulkannya selama bertahun-tahun: jurnalistik, hubungan masyarakat, birokrasi, protokoler, dan komunikasi pemerintahan.
Ia juga pernah menjalankan tugas sebagai Wakil Sekretaris Badan Koordinasi Nasional Penanggulangan Bencana dan Pengungsi atau Bakornas PBP.
Mengawal Penyiaran Publik
Kiprah Indrawadi dalam dunia komunikasi nasional juga menyentuh sektor penyiaran.
Ia dipercaya menjadi anggota Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia atau TVRI untuk periode 2011–2016. Dalam lembaga tersebut, ia menangani bidang Program dan Berita serta Bidang Pengembangan Usaha.
Kepercayaan tersebut bukan sesuatu yang terpisah dari perjalanan sebelumnya. Puluhan tahun bergelut dengan jurnalistik, komunikasi publik, hubungan masyarakat, pemerintahan, dan pendidikan membuat Indrawadi memiliki perspektif yang luas mengenai posisi media penyiaran publik.
Baginya, penyiaran bukan hanya persoalan bagaimana sebuah program ditampilkan di layar televisi. Di dalamnya terdapat tanggung jawab mengenai informasi publik, pendidikan, kepentingan masyarakat, independensi media, hingga keberlanjutan lembaga penyiaran.
Kembali ke Dunia Kampus
Di tengah panjangnya perjalanan sebagai jurnalis dan birokrat, Indrawadi tetap memiliki ruang khusus bagi pendidikan.
Ilmu dan pengalaman yang diperolehnya selama puluhan tahun kemudian dibagikan kepada generasi berikutnya melalui ruang-ruang perkuliahan.
Ia menjadi dosen pada berbagai program pascasarjana komunikasi di sejumlah perguruan tinggi di Jakarta. Di antaranya Universitas Prof. Dr. Moestopo, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Universitas Trisakti, serta The London School of Public Relations Jakarta.
Kehadiran Indrawadi di ruang kuliah membawa sesuatu yang berbeda. Ilmu komunikasi yang disampaikannya tidak hanya berasal dari buku dan teori akademik, tetapi juga dari pengalaman langsung menghadapi dunia pers, birokrasi pemerintahan, hubungan masyarakat, penyiaran, hingga komunikasi kepresidenan.
Perjalanan akademiknya kemudian membawanya ke Universitas Indonusa Esa Unggul, yang kemudian dikenal sebagai Universitas Esa Unggul.
Di perguruan tinggi tersebut, Indrawadi pernah menjabat Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Selanjutnya, ia dipercaya memimpin Fakultas Ilmu Komunikasi sebagai dekan.
Perannya dalam pendidikan komunikasi tidak berhenti di tingkat kampus.
Pada periode 2010–2013, Indrawadi dipercaya menjadi Ketua Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi atau ASPIKOM Koordinator Wilayah Jabodetabek-Banten.
Melalui organisasi tersebut, ia ikut berada dalam dinamika pengembangan pendidikan tinggi ilmu komunikasi di Indonesia. Perjalanan panjang sebagai praktisi dan akademisi membuatnya memahami bahwa pendidikan komunikasi harus mampu menjembatani teori dengan perubahan nyata yang terjadi di industri media, pemerintahan, dan masyarakat.
Sebuah Perjalanan Lintas Dunia
Jika perjalanan hidup Indrawadi Tamin ditarik sebagai sebuah garis panjang, maka terlihat satu benang merah yang tidak pernah terputus: komunikasi.
Ia pernah berada di ruang redaksi sebagai wartawan.
Ia pernah bekerja di balik meja pemerintahan sebagai birokrat.
Ia pernah berada dekat dengan pusat kekuasaan sebagai pejabat yang menangani protokol, pers, dan media di lingkungan kepresidenan.
Ia pernah mengawal lembaga penyiaran publik melalui Dewan Pengawas TVRI.
Dan pada saat yang sama, ia terus kembali ke ruang kelas sebagai seorang pendidik.
Keempat dunia tersebut—pers, pemerintahan, penyiaran, dan pendidikan—menjadi bagian yang saling melengkapi dalam perjalanan hidup Indrawadi Tamin.
Pengalamannya menunjukkan bahwa ilmu komunikasi tidak berhenti pada teori mengenai pesan dan media. Komunikasi hadir dalam proses bagaimana pemerintah berbicara kepada masyarakat, bagaimana wartawan menyampaikan fakta, bagaimana lembaga publik membangun kepercayaan, serta bagaimana generasi muda dipersiapkan untuk memahami perubahan zaman.
Indrawadi Tamin meninggal dunia di Banten pada 24 Juni 2015. Ia meninggalkan perjalanan panjang pengabdian dalam dunia komunikasi Indonesia.
Dari Padang menuju Jakarta, kemudian menimba ilmu hingga Amerika Serikat, sebelum kembali mengabdi di tanah air, kehidupan Indrawadi merupakan kisah tentang seorang akademisi yang tidak hanya mempelajari komunikasi dari ruang kuliah, tetapi juga menjalankannya secara langsung dalam berbagai ruang kehidupan bangsa.
Warisan terbesarnya tidak semata terletak pada berbagai jabatan yang pernah diembannya. Jejak itu juga hidup melalui mahasiswa yang pernah dididiknya, institusi yang pernah dipimpinnya, dunia pers yang pernah digelutinya, serta berbagai gagasan mengenai komunikasi publik yang pernah ia kembangkan sepanjang hidupnya. (PERS)

Updates.