TOKOH - Dr. Handi Risza Idris, S.E., M.Ec. lahir di Padang, Sumatera Barat, pada 18 Agustus 1979. Perjalanan hidupnya bergerak di antara tiga dunia yang saling bertaut: kampus, pemikiran ekonomi, dan politik.
Ia dikenal sebagai ekonom, akademisi, dosen, penulis, pembicara, sekaligus politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Di lingkungan akademik, Handi dipercaya menjabat Wakil Rektor Bidang Pengelolaan Sumber Daya Universitas Paramadina sejak 2021.
Namun perjalanan menuju posisi tersebut dimulai jauh sebelumnya. Masa remajanya banyak dihabiskan di Jakarta. Ia menamatkan pendidikan di SMP Negeri 174 Jakarta pada 1994, lalu melanjutkan ke SMA Negeri 58 Jakarta dan lulus pada 1997.
Selepas sekolah menengah, Handi kembali ke tanah kelahirannya di Sumatera Barat untuk menempuh pendidikan tinggi di Fakultas Ekonomi Universitas Andalas.
Di kampus inilah kehidupan intelektual dan organisasinya mulai terbentuk. Handi bukan hanya menjadi mahasiswa yang berkutat dengan buku, teori ekonomi, dan ruang kuliah. Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan organisasi mahasiswa. Aktivitas tersebut mempertemukannya dengan berbagai gagasan tentang ekonomi, masyarakat, kepemimpinan, dan perubahan sosial.
Ia pernah dipercaya menjadi Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia atau KAMMI Sumatera Barat. Pengalaman tersebut menjadi salah satu fase penting dalam pembentukan karakter kepemimpinannya.
Pada masa kuliah pula Handi bersentuhan dengan Gerakan Tarbiyah, lingkungan gerakan yang kemudian membawanya semakin dekat dengan dunia politik dan akhirnya bergabung dengan Partai Keadilan Sejahtera.
Pada 2001, Handi menyelesaikan pendidikan sarjana dan memperoleh gelar Sarjana Ekonomi dari Universitas Andalas. Namun gelar sarjana bukan akhir dari perjalanannya.
Menimba Ilmu hingga Malaysia
Keinginan memperdalam ilmu ekonomi membawa Handi meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di International Islamic University Malaysia atau Universitas Islam Internasional Malaysia.
Di Malaysia, ia memperdalam studi ekonomi sekaligus semakin mengenal pemikiran ekonomi Islam dalam lingkungan akademik internasional.
Selama berada di luar negeri, aktivitas organisasinya juga tidak berhenti. Handi pernah menjadi penasihat Perhimpunan Pelajar Indonesia atau PPI di IIUM Malaysia. Ia juga dipercaya menjadi Editor in Chief Islamic Economic Forum for Indonesian Development atau ISEFID pada periode 2002–2003.
Peran tersebut memperlihatkan ketertarikannya yang semakin kuat pada kajian pembangunan, ekonomi, dan pemikiran Islam.
Pada 2005, Handi berhasil menyelesaikan pendidikan magisternya dan meraih gelar Master of Economics.
Setelah menimba ilmu di Malaysia, ia kembali ke Indonesia dengan membawa pengalaman akademik dan organisasi yang semakin matang.
Memilih Jalan sebagai Dosen
Salah satu pilihan penting dalam perjalanan Handi adalah dunia pendidikan. Pada 2008, ia memulai karier sebagai dosen tetap di Universitas Paramadina. Ruang kuliah kemudian menjadi bagian penting dalam kehidupannya.
Di kampus, Handi tidak hanya berhadapan dengan teori ekonomi. Ia berinteraksi dengan mahasiswa, berdiskusi mengenai persoalan ekonomi nasional, pembangunan, kebijakan publik, hingga dinamika sosial dan politik.
Bagi seorang ekonom, dunia akademik memberinya ruang untuk melihat persoalan secara lebih mendalam.
Namun keinginan Handi untuk terus belajar belum berhenti. Ia kembali menempuh pendidikan, kali ini pada jenjang doktoral di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Bidang yang dipilihnya adalah ekonomi Islam. Pada 2012, Handi berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya dan meraih gelar doktor ekonomi Islam.
Perjalanan akademiknya, dari Universitas Andalas, International Islamic University Malaysia, hingga UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, membentuk fondasi intelektual yang kemudian menjadi bagian penting dalam kariernya sebagai ekonom dan pengamat kebijakan.
Dari Kampus Menuju Ruang Publik
Nama Handi kemudian semakin dikenal di luar lingkungan perguruan tinggi. Ia mulai sering muncul dalam diskusi publik mengenai ekonomi dan politik Indonesia.
Kemampuannya menjelaskan persoalan ekonomi membuatnya dipercaya menjadi salah satu juru bicara bidang ekonomi Partai Keadilan Sejahtera.
Dalam kapasitas tersebut, Handi kerap menyampaikan pandangan mengenai kebijakan ekonomi, pembangunan, daya beli masyarakat, pengelolaan anggaran, hingga berbagai persoalan yang berkaitan dengan kondisi perekonomian nasional.
Namanya mulai muncul dalam berbagai pemberitaan media nasional. Ia beberapa kali menjadi narasumber maupun tampil dalam program televisi nasional, termasuk MetroTV dan Kompas TV. Pandangan dan pernyataannya juga diberitakan berbagai media seperti Tribunnews, detik.com, Sindonews.com, dan Fajar.co.id.
Dunia media membuat pemikirannya tidak lagi hanya terdengar di ruang kuliah. Melalui televisi, surat kabar, dan media daring, pandangannya mengenai ekonomi dan politik mulai menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Menulis untuk Publik
Selain berbicara di ruang publik, Handi juga memilih tulisan sebagai sarana menyampaikan gagasan. Sebagai ekonom dan pengamat politik, ia menulis mengenai berbagai persoalan ekonomi nasional.
Tulisan-tulisannya pernah dimuat di sejumlah media massa nasional, antara lain Kompas.id dan Bisnis.com. Melalui tulisan, Handi memiliki ruang yang berbeda dari televisi.
Jika perdebatan di televisi menuntut jawaban cepat dan ringkas, tulisan memungkinkan sebuah persoalan dibahas lebih panjang dan argumentatif.
Di sana, ia dapat mengurai gagasan mengenai ekonomi, pembangunan, kebijakan pemerintah, serta hubungan antara keputusan politik dan kehidupan masyarakat.
Memasuki Struktur Politik
Keterlibatan Handi dalam politik bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. Jejaknya telah terbentuk sejak masa mahasiswa. Pertemuannya dengan Gerakan Tarbiyah dan aktivitasnya dalam organisasi mahasiswa menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian membawanya bergabung dengan PKS.
Di dalam partai, Handi mendapatkan ruang yang dekat dengan bidang keahliannya. Pada periode 2015–2020, ia dipercaya menjabat Sekretaris Bidang Ekonomi, Industri, Teknologi, dan Lingkungan Hidup atau Ekuintek-LH Dewan Pimpinan Pusat PKS.
Posisi tersebut mempertemukan dua dunia yang telah lama digelutinya: ekonomi dan politik. Sebagai ekonom, ia memahami teori dan kebijakan. Sebagai politisi, ia harus melihat bagaimana teori tersebut diterjemahkan ke dalam program, keputusan, dan kepentingan masyarakat.
Menjadi Juru Bicara dalam Pilpres 2019
Pemilihan Presiden 2019 menjadi salah satu periode ketika nama Handi Risza Idris semakin dikenal publik. Ia dipercaya menjadi Juru Bicara Koalisi Indonesia Adil Makmur.
Dalam posisi tersebut, Handi kerap tampil di media untuk menyampaikan pandangan dan argumentasi tim kampanye, terutama mengenai persoalan ekonomi. Ia terlibat dalam berbagai diskusi dan perdebatan mengenai keadaan perekonomian Indonesia.
Isu seperti pertumbuhan ekonomi, lapangan pekerjaan, harga kebutuhan masyarakat, utang, pembangunan, hingga kebijakan fiskal menjadi bagian dari perdebatan politik yang harus dijelaskannya kepada publik.
Pengalaman sebagai dosen memberikan keuntungan tersendiri. Handi terbiasa menjelaskan persoalan yang rumit dengan bahasa yang lebih terstruktur. Namun panggung politik memiliki tantangan yang berbeda dari ruang kuliah.
Di ruang kuliah, perdebatan bertujuan mencari pemahaman. Dalam politik, setiap pernyataan dapat menjadi bagian dari pertarungan gagasan, strategi, dan persepsi publik. Handi menjalani kedua dunia tersebut sekaligus.
Mencoba Jalan ke Parlemen
Pada Pemilihan Umum Legislatif 2019, Handi mengambil langkah lebih jauh dalam dunia politik. Ia mencalonkan diri sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Partai Keadilan Sejahtera untuk daerah pemilihan Sumatera Barat I.
Pencalonan tersebut membawanya kembali ke daerah tempat ia dilahirkan. Sebagai putra Minangkabau yang sebagian perjalanan hidupnya berlangsung di Jakarta dan luar negeri, pencalonan dari Sumatera Barat menjadi bagian lain dari perjalanan politiknya.
Namun dalam pemilu tersebut, Handi belum berhasil memperoleh kursi di DPR RI. Kegagalan itu tidak menghentikan aktivitasnya. Ia tetap berada dalam dunia akademik, terus menulis, berbicara mengenai ekonomi, serta terlibat dalam aktivitas politik dan kebijakan publik.
Kembali Memperkuat Kampus
Pada 2021, perjalanan akademiknya memasuki fase baru ketika ia dipercaya menjabat Wakil Rektor Bidang Pengelolaan Sumber Daya Universitas Paramadina.
Tanggung jawab tersebut memperluas perannya. Jika sebelumnya ia banyak berada di ruang kuliah sebagai dosen, kini ia ikut terlibat dalam pengelolaan institusi pendidikan.
Sebagai wakil rektor, ia berhadapan dengan persoalan sumber daya manusia, organisasi, manajemen perguruan tinggi, dan berbagai tantangan pendidikan tinggi yang terus berubah.
Pengalaman di bidang ekonomi dan organisasi menjadi bekal penting dalam menjalankan peran tersebut.
Tiga Dunia dalam Satu Perjalanan
Jika perjalanan Handi Risza Idris dilihat secara utuh, ada tiga ruang utama yang terus hadir dalam kehidupannya.
Pertama adalah pendidikan. Dari Padang, Jakarta, Malaysia, hingga kembali ke Jakarta, pendidikan menjadi fondasi perjalanan intelektualnya.
Kedua adalah ekonomi. Bidang inilah yang dipelajarinya sejak sarjana, diperdalam hingga jenjang doktoral, diajarkan kepada mahasiswa, ditulis di media, dan disampaikan dalam berbagai forum publik.
Ketiga adalah politik. Aktivisme mahasiswa membawanya kepada organisasi, organisasi mempertemukannya dengan gerakan politik, dan politik kemudian membawanya ke panggung nasional sebagai juru bicara serta calon anggota legislatif.
Ketiga dunia tersebut tidak berdiri sendiri. Bagi Handi, akademik memberi kerangka berpikir, ekonomi memberikan bidang keahlian, sementara politik menjadi salah satu ruang untuk memperjuangkan gagasan.
Perjalanan Dr. Handi Risza Idris memperlihatkan sosok yang bergerak dari ruang organisasi mahasiswa menuju ruang kuliah, dari penelitian menuju media massa, dan dari kampus menuju panggung politik.
Ia menjalani berbagai peran sekaligus: dosen yang mengajar, ekonom yang menganalisis, penulis yang menyampaikan gagasan, pembicara yang berdiskusi di ruang publik, serta politisi yang berusaha membawa pemikirannya ke dalam proses kebijakan.
Dan di tengah semua itu, dunia pendidikan tetap menjadi salah satu pijakan utama dalam perjalanan hidupnya. (PERS)

Updates.