Moeslim Taher, Dari Sigli Membangun Jayabaya

    Moeslim Taher, Dari Sigli Membangun Jayabaya
    Prof. Dr. H. Moeslim Taher, S.H.

    TOKOH - Ada orang yang meninggalkan jejak melalui jabatan. Ada pula yang meninggalkan nama lewat lembaga yang terus hidup jauh setelah dirinya tiada.

    Prof. Dr. H. Moeslim Taher, S.H. termasuk yang kedua. Namanya tidak dapat dipisahkan dari Universitas Jayabaya, perguruan tinggi yang ia dirikan pada 5 Oktober 1958. Dari sebuah gagasan tentang pendidikan, ia membangun institusi yang kemudian tumbuh menjadi salah satu perguruan tinggi swasta yang dikenal di Indonesia.

    Perjalanan itu berawal jauh dari Jakarta. Moeslim Taher lahir dengan nama Sidi Moeslim bin Mohammad Taher di Sigli, Kabupaten Pidie, Aceh, pada 10 September 1934. Ia merupakan anak keempat dari tujuh bersaudara.

    Lingkungan keluarganya mempertemukan beberapa akar budaya. Ayahnya, Haji Sidi Mohammad Tahir, pernah bekerja sebagai kepala pegadaian sebelum pensiun. Sementara ibunya, Nurcahya, berasal dari Minangkabau.

    Nama “Taher” di belakang namanya memiliki hubungan dengan tradisi keluarga Arab Hadhrami. Sementara gelar “Sidi” di depan namanya berkaitan dengan tradisi masyarakat Pariaman, Sumatera Barat.

    Dalam lingkungan budaya Minangkabau, terutama di Pariaman, gelar Sidi dikenal sebagai salah satu gelar kehormatan yang memiliki kaitan historis dengan garis keturunan dan penyebaran Islam.

    Dengan latar semacam itu, Moeslim tumbuh di tengah pertemuan tradisi Aceh, Minangkabau, dan Arab. Namun masa mudanya tidak hanya dibentuk oleh keluarga. Pendidikan menjadi jalan yang kemudian menentukan hampir seluruh hidupnya.

    Moeslim memulai sekolah dasar di Sigli dan menyelesaikannya pada 1947. Setelah itu, langkahnya membawanya ke Padang, Sumatera Barat. Di kota itu ia melanjutkan pendidikan menengah pertama dan menengah atas hingga lulus pada 1957.

    Indonesia saat itu masih menjadi negara yang sangat muda. Kemerdekaan baru berusia sedikit lebih dari satu dasawarsa. Negara sedang membangun pemerintahan, ekonomi, infrastruktur, sekaligus sumber daya manusia.

    Perguruan tinggi belum sebanyak sekarang. Bagi banyak anak muda, pendidikan tinggi masih merupakan kesempatan yang langka. Di tengah situasi itulah Moeslim Taher melihat pendidikan bukan hanya sebagai jalan meningkatkan kehidupan pribadi, tetapi sebagai instrumen membangun bangsa.

    Hanya setahun setelah menyelesaikan pendidikan menengahnya, ia mengambil keputusan besar. Pada 5 Oktober 1958, Moeslim Taher mendirikan Universitas Jayabaya.

    Ia masih sangat muda. Usianya baru sekitar 24 tahun. Mendirikan sebuah perguruan tinggi pada usia semuda itu merupakan langkah yang berani. Sebab membangun universitas bukan hanya soal menyediakan ruang kelas.

    Dibutuhkan dosen.

    Dibutuhkan mahasiswa.

    Dibutuhkan kurikulum.

    Dibutuhkan legitimasi akademik.

    Dan yang lebih penting, dibutuhkan keyakinan bahwa lembaga tersebut akan bertahan menghadapi perubahan zaman. Moeslim memiliki keyakinan itu. Universitas Jayabaya kemudian berkembang menjadi medan pengabdian terbesarnya.

    Pada masa awal berdirinya, universitas tersebut dipimpin Prof. Mr. S. A. Hakim sebagai rektor pertama. Empat tahun kemudian, pada 1962, Moeslim Taher dipercaya menggantikannya sebagai rektor kedua.

    Sejak saat itu, hidupnya semakin menyatu dengan Jayabaya. Ia memimpin universitas tersebut selama sekitar 26 tahun, dari 1962 hingga 1988.

    Rentang waktu itu melewati berbagai perubahan besar dalam sejarah Indonesia: pergolakan politik awal 1960-an, perubahan kekuasaan pada pertengahan dekade tersebut, lahirnya Orde Baru, hingga periode pembangunan nasional yang berlangsung selama dekade 1970-an dan 1980-an.

    Di tengah berbagai perubahan itu, pendidikan tetap menjadi poros kehidupannya. Menariknya, ketika telah menjadi pemimpin perguruan tinggi, Moeslim tidak berhenti belajar. Pada 1965 ia memperoleh gelar sarjana hukum dari Universitas Jayabaya, perguruan tinggi yang dipimpinnya sendiri.

    Tiga tahun kemudian, ia menyelesaikan pendidikan di Fakultas Sosial dan Politik Universitas Padjadjaran. Perjalanan akademiknya terus berlanjut. Sejak 1978, Moeslim Taher menjadi dosen luar biasa di Universitas Padjadjaran.

    Setahun kemudian, pada 1979, ia meraih gelar doktor dari universitas tersebut dengan predikat cum laude. Capaian itu memperlihatkan satu karakter penting dalam hidupnya: ia tidak hanya ingin membangun institusi pendidikan, tetapi juga menempatkan dirinya sebagai bagian dari tradisi akademik.

    Baginya, universitas tidak cukup hanya dibangun secara fisik. Universitas harus dibangun melalui ilmu. Melalui dosen. Melalui penelitian. Dan terutama melalui generasi yang dididik di dalamnya.

    Selama lebih dari dua dekade memimpin Universitas Jayabaya, Moeslim Taher menjadi bagian penting dari perkembangan pendidikan tinggi swasta di Indonesia. Pada masa itu, perguruan tinggi swasta memiliki peranan yang semakin besar karena kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan tinggi terus meningkat.

    Tidak semua orang memiliki kesempatan masuk perguruan tinggi negeri. Perguruan tinggi swasta kemudian menjadi salah satu jalan penting bagi masyarakat untuk mendapatkan pendidikan.

    Dalam konteks itulah Universitas Jayabaya tumbuh. Moeslim Taher tidak sekadar menjadi rektor. Ia menjadi figur yang identik dengan perjalanan universitas tersebut.

    Namun ruang pengabdiannya kemudian meluas ke tingkat nasional. Pada 1983, Presiden Soeharto menunjuk Moeslim Taher menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia.

    Dewan Pertimbangan Agung atau DPA ketika itu merupakan salah satu lembaga tinggi negara yang memiliki tugas memberikan pertimbangan kepada presiden.

    Moeslim menjalankan tugas tersebut hingga 1988. Penunjukan itu menunjukkan bahwa kiprahnya tidak lagi hanya dilihat dalam ruang pendidikan. Ia mulai ditempatkan dalam lingkaran yang lebih luas, tempat gagasan mengenai bangsa, pembangunan, pemerintahan, dan pendidikan bertemu.

    Namun di tengah kesibukan akademik dan kehidupan publiknya, Moeslim Taher juga menjalani kehidupan keluarga yang panjang dan kompleks.

    Sepanjang hidupnya, ia tercatat menikah sebanyak lima kali. Pada 1962, ia menikah dengan Nurtini binti Sjahboedin, seorang perempuan keturunan Arab Hadhrami. Dari pernikahan tersebut lahir Agustian Putrajaya pada 30 Agustus 1963.

    Pada 1963, Moeslim menikah dengan Yuyun Hindun. Dari pernikahan tersebut lahir tujuh anak: Mustar, Mulia, Rachmat, Yulia, Kurnia, Sartika, dan Citasari.

    Pada 1965, ia menikah dengan Rosemary Siagian. Pernikahan tersebut kemudian berakhir pada Desember tahun yang sama. Dari hubungan itu lahir seorang putri bernama Dessy Musnilla.

    Sepuluh tahun kemudian, pada 1975, Moeslim menikah dengan Saleha Moeslim Taher. Dari pernikahan tersebut lahir enam anak: Amri, Nurfitri, Firman, Moehamad Ichsan, Firdaus, dan Rasyid.

    Pernikahan terakhirnya berlangsung dengan Fatimah pada 1984 dan berakhir pada tahun yang sama. Dari pernikahan itu lahir seorang putri bernama Sabrina.

    Dari perjalanan kehidupan pribadinya itu, Nurtini, Yuyun Hindun, dan Saleha Moeslim Taher disebut sebagai tiga pasangan yang tetap mendampinginya hingga akhir hayat.

    Kehidupan keluarga Moeslim Taher menggambarkan sisi lain seorang tokoh publik. Di balik ruang rektor, forum akademik, dan lembaga negara, terdapat kehidupan pribadi dengan dinamika, tanggung jawab, dan hubungan keluarga yang tidak selalu sederhana.

    Tetapi ketika perjalanan panjang hidupnya dilihat secara keseluruhan, satu hal tetap berdiri paling menonjol: pendidikan.

    Moeslim Taher percaya pada kekuatan perguruan tinggi. Ia hidup pada masa ketika Indonesia sedang mencari bentuk, membangun institusi, dan membutuhkan semakin banyak kaum terdidik.

    Ia memilih memberikan jawabannya dengan mendirikan universitas. Universitas Jayabaya bukan hanya sebuah lembaga pendidikan yang ia bangun. Universitas itu menjadi bagian dari identitas hidupnya.

    Selama puluhan tahun, ia berada di tengah pertumbuhan kampus tersebut. Ia menyaksikan mahasiswa datang, belajar, lulus, kemudian memasuki berbagai bidang kehidupan.

    Mungkin di situlah makna sebuah universitas bagi seorang pendirinya. Bangunan dapat berubah. Kurikulum dapat diperbarui. Generasi dosen dan mahasiswa dapat berganti. Tetapi gagasan awal yang melahirkannya tetap berjalan.

    Pada 23 November 1999, Prof. Dr. H. Moeslim Taher meninggal dunia dalam usia 65 tahun. Perjalanannya berhenti, tetapi lembaga yang ia bangun terus berdiri. Lebih dari empat dekade sebelumnya, seorang pemuda berusia sekitar 24 tahun pernah mengambil keputusan yang mungkin ketika itu terlihat sangat besar: mendirikan universitas.

    Ia tidak dapat mengetahui berapa banyak mahasiswa yang kelak akan belajar di dalamnya. Ia juga tidak dapat mengetahui berapa banyak lulusan yang kemudian bekerja sebagai profesional, birokrat, akademisi, pengusaha, politisi, maupun pemimpin di berbagai bidang.

    Yang ia miliki saat itu adalah keyakinan. Keyakinan bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan. Karena pada akhirnya, warisan seorang pendidik memang jarang berbentuk sesuatu yang hanya dapat dihitung dalam satu generasi.

    Ia hidup melalui murid. Melalui kampus. Melalui ilmu. Dan melalui orang-orang yang kemudian meneruskan apa yang pernah dimulainya.

    Itulah sebabnya nama Moeslim Taher tetap melekat pada sejarah Universitas Jayabaya. Bukan semata karena ia pernah menjadi rektor. Tetapi karena sebelum menjadi rektor, ia terlebih dahulu memiliki keberanian untuk mendirikannya. (PERS)

    moeslim taher tokoh minangkabau tokoh indonesia
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Percepatan Pembangunan RTLH, Anggota Satgas...

    Artikel Berikutnya

    Dr. Hendri: Penjajahan Modern Datang Melalui...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Kodim 0811/Tuban Tingkatkan Kemampuan Apkowil Tersebar dalam Mendukung Tugas Pembinaan Teritorial TA 2026
    Senyum Warga Yahukimo Mengembang, Marinir Berbagi Kebahagiaan di Kampung Moruku
    Satgas Yonif 2 Marinir dan Warga Bersihkan Puing Kebakaran Pasar Enarotali
    Rakor Optimalisasi Posyandu 6 SPM, Koramil Karanganom Dorong Sinergi Tingkatkan Kesehatan Masyarakat
    Kekerasan OPM Tewaskan Sopir Angkutan Masyarakat, TNI Perkuat Pengamanan Dan Kejar Pelaku
    Tak Kenal Lelah! Prajurit TMMD Ke-129 Kodim 1807/Sorong Selatan Kebut Pembangunan Rumah Warga Demi Wujudkan Hunian Layak
    Latihan Kemampuan Penembakan Target Drone Menjadi Wawasan dalam SGS 2026
    Menembus Asap Karhutla Kalsel, Personel Lanud Sjamsudin Noor dan Kekuatan Udara Bergerak, Heli TNI AU dan Gabungan Dikerahkan, Wujud Negara Hadir
    Rayakan HUT ke-80, Kodam III/Siliwangi Gelar Pameran Lukisan 'Siliwangi Untuk Indonesia Ku'
    Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat
    Tak Kenal Lelah! Prajurit TMMD Ke-129 Kodim 1807/Sorong Selatan Kebut Pembangunan Rumah Warga Demi Wujudkan Hunian Layak
    Wapangkoops TNI Habema Tinjau Kesiapsiagaan Prajurit di Pos Kotis Dekai
    Menembus Asap Karhutla Kalsel, Personel Lanud Sjamsudin Noor dan Kekuatan Udara Bergerak, Heli TNI AU dan Gabungan Dikerahkan, Wujud Negara Hadir
    Abdullah Rasyid: Di Balik Predikat WTP, Masih Ada Pekerjaan Rumah Negara
    Progres Pengecoran Jalan TMMD Ke-129 Kodim 1807/Sorong Selatan Capai 55 Persen, Wujud Nyata Pengabdian TNI Membangun Desa
    Tongkat Estafet Kepemimpinan Pusinfolahta TNI Resmi Berganti
    Kodim 1714/Puncak Peduli Pendidikan Hadiri Penamatan Siswa Sekolah Alkitab Mulia Ke-56 Tahun 2026
    Dr. Hendri: Narasi, Framing, dan Manipulasi Makna dalam Perang Kognitif
    Progres Pengecoran Jalan TMMD Ke-129 Kodim 1807/Sorong Selatan Capai 55 Persen, Wujud Nyata Pengabdian TNI Membangun Desa
    Abdullah Rasyid: Di Balik Predikat WTP, Masih Ada Pekerjaan Rumah Negara

    Ikuti Kami