TOKOH - Dr. Shofwan Karim Elhussein merupakan akademisi, tokoh Muhammadiyah, aktivis organisasi, dan politisi Indonesia yang sebagian besar perjalanan hidupnya diabdikan di Sumatera Barat. Namanya dikenal luas setelah memimpin Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat selama dua periode serta aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan, kepemudaan, keagamaan, dan politik.
Lahir pada 12 Desember 1952, Shofwan tumbuh dalam keluarga Minangkabau yang religius. Dari lingkungan keluarga sederhana, ia menempuh perjalanan panjang sebagai pelajar, aktivis mahasiswa, wartawan kampus, dosen, rektor, anggota legislatif, komisaris perusahaan, hingga pemimpin Muhammadiyah.
Kehidupannya memperlihatkan perjalanan seorang anak guru agama yang sejak muda terbiasa hidup dalam dunia pendidikan dan organisasi. Baginya, kampus tidak hanya menjadi tempat memperoleh gelar. Kampus merupakan ruang untuk membangun gagasan, melatih kepemimpinan, dan mempersiapkan diri menghadapi persoalan masyarakat.
Anak Sulung dari Keluarga Guru Agama
Shofwan terlahir dengan nama Shofwan Karim Elha pada 12 Desember 1952. Ia berasal dari Desa Sirih Sekapur, Kecamatan Jujuhan, Kabupaten Bungo, Jambi.
Meskipun demikian, akta kelahirannya mencatat bahwa ia dilahirkan di Sijunjung, yang ketika itu masih berada dalam wilayah Sumatra Tengah.
Shofwan merupakan anak sulung dari sepuluh bersaudara pasangan Haji Abdul Karim dan Hajjah Rahana. Kedua orang tuanya berasal dari lingkungan keluarga Minangkabau.
Ayahnya, Haji Abdul Karim, bekerja sebagai guru agama di Sungai Limau, Koto Baru, Sijunjung. Profesi sang ayah membuat kehidupan keluarga Shofwan dekat dengan kegiatan belajar, mengaji, dan pengabdian kepada masyarakat.
Sebagai anak tertua, Shofwan tumbuh dengan tanggung jawab yang lebih besar. Ia tidak hanya menjadi kakak bagi sembilan orang adiknya, tetapi juga menjadi salah satu tumpuan harapan keluarga.
Kehidupan dalam keluarga besar mengajarkannya berbagi, memimpin, dan memahami perbedaan watak. Nilai-nilai tersebut kelak menjadi bekal ketika ia memasuki berbagai organisasi.
Nama “Karim” yang digunakannya berasal dari nama ayahnya, Abdul Karim. Sementara itu, nama “Elha” merupakan akronim dari nama sang kakek.
Setelah menunaikan ibadah umrah pada tahun 2013, Shofwan mengubah nama belakang “Elha” menjadi “Elhussein”. Sejak saat itu, ia lebih dikenal dengan nama Shofwan Karim Elhussein.
Menempuh Pendidikan dari Rantau Ikil hingga Padang Panjang
Masa pendidikan dasar Shofwan dimulai di Sekolah Rakyat Rantau Ikil. Pada saat yang sama, ia juga belajar di Madrasah Ibtidaiah Al-Hidayatul Islamiah.
Dua lingkungan pendidikan tersebut mempertemukannya dengan pengetahuan umum dan pendidikan agama sejak usia dini. Ia belajar membaca, menulis, berhitung, sekaligus mendalami dasar-dasar ajaran Islam.
Shofwan menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 1965. Setelah itu, ia melanjutkan sekolah ke SMP Negeri 5 Jambi dan menamatkannya pada tahun 1968.
Perjalanan pendidikannya kemudian membawanya ke Padang Panjang. Ia masuk Sekolah Persiapan Institut Agama Islam Negeri Imam Bonjol, lembaga yang kini dikenal sebagai Madrasah Aliyah Negeri 1 Padang Panjang.
Padang Panjang memiliki tradisi pendidikan Islam yang kuat. Kota tersebut telah lama menjadi tempat tumbuhnya sekolah agama, ulama, mubalig, dan tokoh pembaruan Islam di Sumatera Barat.
Di lingkungan itulah Shofwan semakin dekat dengan kegiatan keagamaan dan organisasi pelajar. Ia menyelesaikan pendidikan menengahnya pada tahun 1971.
Aktivis Pelajar yang Belajar Memimpin
Sejak masih bersekolah, Shofwan telah aktif dalam Pelajar Islam Indonesia. Pada periode 1969 hingga 1971, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua PII Padang Panjang.
Keaktifannya tidak berhenti setelah menamatkan sekolah. Ketika melanjutkan pendidikan tinggi, Shofwan terpilih menjadi Wakil Ketua PII Sumatera Barat untuk periode 1972 hingga 1976.
Organisasi pelajar menjadi tempat pertamanya belajar menyusun kegiatan, memimpin rapat, berbicara di depan umum, dan berhubungan dengan berbagai kelompok masyarakat.
Melalui organisasi, Shofwan memahami bahwa kepemimpinan bukan sekadar menduduki jabatan. Seorang pemimpin harus mampu mendengarkan, menggerakkan orang lain, dan mempertanggungjawabkan keputusan yang diambil.
Pengalaman tersebut membentuk dirinya menjadi pribadi yang terbiasa berada di tengah perdebatan dan dinamika organisasi.
Memasuki IAIN Imam Bonjol
Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, Shofwan melanjutkan kuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang, yang kini menjadi UIN Imam Bonjol.
Ia menyelesaikan jenjang sarjana muda pada tahun 1976. Pendidikan kemudian dilanjutkannya hingga memperoleh gelar doktorandus pada tahun 1982.
Masa kuliah bagi Shofwan bukan hanya periode untuk mengejar gelar. Sebagian besar waktunya juga diisi dengan kegiatan mahasiswa dan kepemudaan.
Sejak tahun 1972, ia menjadi Wakil Ketua Senat Mahasiswa di tingkat fakultas. Jabatan tersebut dijalaninya hingga tahun 1974.
Setelah itu, ia dipercaya menjadi Wakil Ketua Dewan Mahasiswa sampai tahun 1976. Ia juga aktif dalam Badan Koordinasi Kemahasiswaan hingga sekitar tahun 1980.
Keterlibatannya di berbagai lembaga kemahasiswaan memperluas jaringan pergaulan. Ia berhubungan dengan mahasiswa dari berbagai fakultas, tokoh organisasi, pejabat kampus, dan kelompok masyarakat di luar perguruan tinggi.
Di tengah kesibukan tersebut, Shofwan bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Padang pada tahun 1972.
Ia juga aktif di lingkungan Muhammadiyah. Pada periode 1973 hingga 1976, Shofwan menjadi Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Padang.
Di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Sumatera Barat, ia dipercaya menjadi Ketua Departemen Kader pada periode 1976 hingga 1978.
Aktivitas tersebut memperlihatkan bahwa sejak muda Shofwan telah bergerak di antara beberapa lingkungan organisasi sekaligus. Ia bergaul dengan kelompok mahasiswa, pemuda Islam, kader Muhammadiyah, dan aktivis kepemudaan.
Belajar Disiplin dari Resimen Mahasiswa
Selain aktif dalam organisasi keagamaan dan kemahasiswaan, Shofwan juga bergabung dengan Resimen Mahasiswa.
Ia pernah memimpin batalyon Resimen Mahasiswa Mahasakti IAIN Imam Bonjol. Selanjutnya, ia dipercaya mengepalai staf Resimen Maharuyung Sumatera Barat sejak tahun 1974 hingga 1980.
Kegiatan Resimen Mahasiswa memperkenalkannya pada kedisiplinan, struktur komando, tanggung jawab, dan ketahanan dalam menghadapi tekanan.
Pengalaman tersebut melengkapi kemampuan organisasinya. Apabila organisasi mahasiswa mengajarkannya berdiskusi dan membangun kesepakatan, Resimen Mahasiswa mengajarkannya bekerja dalam aturan dan struktur yang tegas.
Di sela-sela aktivitas tersebut, Shofwan juga mulai mengenal dunia jurnalistik. Dari tahun 1979 hingga 1981, ia menjadi redaktur media mahasiswa Suara Kampus.
Melalui ruang redaksi, ia belajar menyusun tulisan, menilai sebuah peristiwa, dan menyampaikan gagasan kepada pembaca.
Pengalaman jurnalistik tersebut kelak mendukung kegemarannya menulis buku dan menyampaikan pandangan mengenai agama, politik, nasionalisme, serta kehidupan masyarakat.
Melanjutkan Pendidikan hingga Gelar Doktor
Keinginan Shofwan untuk memperdalam ilmu tidak berhenti setelah memperoleh gelar doktorandus.
Ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang kini dikenal sebagai UIN Syarif Hidayatullah. Pada tahun 1991, ia meraih gelar Magister Agama.
Pendidikan tersebut memperluas pemahamannya mengenai pemikiran Islam, pendidikan, sosial, dan politik.
Bertahun-tahun kemudian, ia kembali ke kampus yang sama untuk menempuh pendidikan doktoral.
Pada tahun 2008, Shofwan berhasil memperoleh gelar doktor dari Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Disertasinya mengkaji persoalan nasionalisme, ideologi Pancasila, serta hubungan Islam dengan perdebatan mengenai dasar negara Indonesia.
Tema tersebut memiliki hubungan erat dengan pengalaman hidupnya. Shofwan telah lama bergerak dalam organisasi Islam, dunia politik, lembaga pendidikan, dan kegiatan kebangsaan.
Ia memahami bahwa hubungan antara Islam, Pancasila, dan nasionalisme tidak hanya menjadi perdebatan dalam buku sejarah. Persoalan tersebut terus hadir dalam kehidupan politik dan masyarakat Indonesia.
Memulai Karier sebagai Dosen
Pada Maret 1985, Shofwan diangkat menjadi pegawai negeri sipil. Ia ditugaskan sebagai dosen tetap di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang.
Sebagai dosen, ia memasuki ruang pengabdian yang berbeda. Bila sebelumnya ia banyak berbicara dalam forum organisasi, kini ia harus membimbing mahasiswa melalui perkuliahan dan kegiatan akademik.
Pada masa awal kariernya, Shofwan bergabung dalam tim pengajar di Jurusan Sosiologi Antropologi Fakultas Sastra Universitas Andalas.
Kegiatan tersebut berlangsung dari tahun 1985 hingga 1987. Ia mengajar bersama dosen tamu Joke van Reenen dari Vrije Universiteit Amsterdam.
Mata kuliah yang diajarkan berkaitan dengan kehidupan keagamaan dan kemanusiaan di Afrika. Pengalaman itu memperluas perspektif Shofwan mengenai agama sebagai fenomena sosial dan budaya.
Ia tidak lagi melihat agama hanya melalui teks dan norma. Agama juga dipahami melalui kehidupan masyarakat, perubahan sosial, tradisi, konflik, serta hubungan manusia dengan lingkungannya.
Shofwan kemudian mengajar di Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Ia juga memperoleh pengalaman internasional dengan mengajar di Institut Islam Muhammadiyah Singapura.
Sejak tahun 2000 hingga sekitar sepuluh tahun berikutnya, ia menjadi dosen mata kuliah Pemikiran Modern di Dunia Islam pada Kolej Islam Muhammadiyah di Singapura.
Perjalanan mengajar tersebut mempertemukannya dengan mahasiswa dari lingkungan yang berbeda. Ia membawa pengalaman akademik Indonesia ke Singapura sekaligus mengenal perkembangan pemikiran Islam di kawasan Asia Tenggara.
Mengabdi melalui KNPI dan Muhammadiyah
Kehidupan Shofwan di dunia organisasi terus berkembang setelah masa mahasiswa.
Ia aktif dalam Komite Nasional Pemuda Indonesia Sumatera Barat. Mula-mula, ia menjabat sebagai Ketua Departemen Organisasi selama dua periode.
Setelah itu, Shofwan terpilih menjadi Wakil Ketua KNPI Sumatera Barat untuk periode 1982–1987. Ia kembali dipercaya untuk jabatan yang sama pada periode 1987–1992.
Keterlibatan dalam KNPI membuatnya berhubungan dengan berbagai organisasi kepemudaan. Ia harus bekerja bersama tokoh yang memiliki latar belakang politik, agama, dan kepentingan yang berbeda.
Kemampuan menjalin komunikasi menjadi semakin penting. Shofwan belajar bahwa kerja organisasi tidak selalu berlangsung dengan orang-orang yang mempunyai pandangan sama.
Di lingkungan Muhammadiyah, perjalanannya juga terus berlanjut. Setelah aktif di tingkat mahasiswa dan daerah, ia terpilih menjadi anggota Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sumatera Barat untuk periode 1995–2000.
Dalam kurun 2005 hingga 2015, ia menempati posisi sebagai penasihat Muhammadiyah Sumatera Barat. Setelah itu, ia kembali dipercaya memimpin organisasi tersebut.
Muhammadiyah menjadi salah satu ruang pengabdian terpanjang dalam hidupnya. Di organisasi ini, Shofwan terlibat dalam kegiatan pendidikan, dakwah, kaderisasi, sosial, dan pemberdayaan masyarakat.
Memimpin Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat
Puncak perjalanan Shofwan dalam dunia akademik terjadi ketika ia dipercaya memimpin Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.
Sebelum menjadi rektor definitif, ia telah dua kali ditunjuk sebagai penjabat rektor. Penugasan pertama berlangsung pada periode 2001–2002, sedangkan penugasan berikutnya terjadi pada tahun 2005.
Pengalaman tersebut membuatnya memahami persoalan internal universitas sebelum memegang kepemimpinan penuh.
Pada tahun 2006, Shofwan terpilih menjadi Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat. Ia kemudian kembali dipercaya untuk periode kedua.
Sebagai rektor, Shofwan tidak hanya mengurus administrasi perguruan tinggi. Ia berusaha membangun kehidupan mahasiswa dan meningkatkan mutu dosen.
Salah satu gagasannya adalah menyelenggarakan “Hari Mahasiswa”. Program tersebut dirancang sebagai kegiatan pembinaan intensif bagi mahasiswa.
Melalui kegiatan itu, mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk mengikuti perkuliahan, tetapi juga dibina dalam pengembangan karakter, organisasi, kepemimpinan, dan kehidupan keagamaan.
Shofwan juga memberikan perhatian terhadap peningkatan kualitas dosen, khususnya dalam proses pengajaran.
Menurutnya, mutu universitas sangat bergantung pada kualitas tenaga pendidik. Gedung yang besar tidak akan berarti apabila proses belajar tidak berkembang.
Karena itu, dosen perlu terus meningkatkan pengetahuan, memperbaiki metode mengajar, dan menyesuaikan diri dengan kebutuhan mahasiswa.
Kepemimpinannya berlangsung selama dua periode. Dalam sumber riwayat ini terdapat perbedaan keterangan mengenai akhir masa jabatannya: bagian awal menyebut periode 2006–2013, sedangkan bagian lain mencatat dua periode 2006–2010 dan 2010–2014.
Terlepas dari perbedaan pencatatan tersebut, kepemimpinannya meninggalkan jejak penting dalam perkembangan Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.
Kiprah di ICMI dan Semen Padang
Di luar dunia kampus, Shofwan aktif dalam Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Sumatera Barat.
Pada tahun 2003, ketika menjabat sebagai Wakil Sekretaris ICMI Sumatera Barat, ia menjadi salah seorang dari lima tokoh yang menandatangani gerakan pengambilalihan Semen Padang dari pemerintah pusat di bawah Semen Gresik kepada Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.
Persoalan Semen Padang pada masa itu menjadi perhatian luas masyarakat. Perusahaan tersebut dianggap bukan hanya sebagai badan usaha, tetapi juga sebagai bagian dari identitas dan kepentingan ekonomi daerah.
Keterlibatan Shofwan menunjukkan perhatiannya terhadap hubungan antara perusahaan, pemerintah, dan masyarakat Sumatera Barat.
Pada 5 Oktober 2005, ia diangkat menjadi salah seorang komisaris PT Semen Padang.
Ia kembali diangkat sebagai komisaris pada 17 Juni 2011 dan menjalankan tugas tersebut hingga 7 April 2015.
Dalam periode itu, Shofwan juga dipercaya menjadi Sekretaris ICMI Sumatera Barat untuk masa kepengurusan 2007–2012.
Pengalaman sebagai komisaris membawanya keluar dari lingkungan akademik dan organisasi sosial menuju tata kelola perusahaan.
Ia harus memahami persoalan manajemen, kebijakan perusahaan, pengawasan, dan tanggung jawab badan usaha terhadap masyarakat.
Berkiprah dalam Organisasi Buruh dan KPU
Perhatian Shofwan tidak terbatas pada pendidikan dan organisasi keagamaan.
Dari tahun 2005 hingga 2010, ia pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Konfederasi Buruh Islam Internasional.
Organisasi tersebut mencakup jaringan di beberapa negara, seperti Swiss, Maroko, Mesir, dan Malaysia.
Keterlibatan tersebut memberinya kesempatan memahami persoalan buruh dalam konteks internasional. Isu tenaga kerja, kesejahteraan, hubungan industrial, dan keadilan sosial tidak hanya menjadi persoalan satu negara.
Menjelang Pemilihan Presiden 2009, Shofwan memperoleh kepercayaan lain. Pada tahun 2008, ia memimpin Tim Seleksi Anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah Sumatera Barat.
Tugas itu menuntut sikap objektif dan tanggung jawab tinggi. Tim seleksi harus memilih orang-orang yang mampu menjalankan penyelenggaraan pemilu secara mandiri dan profesional.
Pengalaman tersebut memperlihatkan luasnya bidang pengabdian Shofwan. Ia bergerak dari kampus, organisasi Islam, kepemudaan, perusahaan, buruh, hingga penyelenggaraan demokrasi.
Perjalanan Politik Bersama Golongan Karya
Di samping karier akademik dan organisasi, Shofwan juga pernah aktif dalam dunia politik melalui Golongan Karya.
Kiprahnya di Golkar berlangsung cukup panjang, terutama pada masa Orde Baru. Ia pernah menjadi Ketua Biro Pemenangan Pemilihan Umum selama dua periode.
Setelah itu, ia menduduki jabatan Wakil Sekretaris dan kemudian Sekretaris Golkar di tingkat Provinsi Sumatera Barat.
Rangkaian jabatan tersebut dijalaninya dalam kurun 1982 hingga 1999.
Pada tahun 1992, Shofwan terpilih menjadi anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat. Di lembaga legislatif, ia dipercaya menjadi Sekretaris Fraksi Golongan Karya.
Pada Pemilihan Umum 1997, ia kembali mempertahankan kursinya untuk masa jabatan kedua. Ia menjadi anggota DPRD hingga tahun 1999, ketika Indonesia memasuki masa Reformasi.
Pengalaman di parlemen mempertemukannya dengan proses penyusunan kebijakan, pembahasan anggaran, pengawasan pemerintahan, dan penyerapan aspirasi masyarakat.
Sebagai akademisi yang memasuki dunia politik, Shofwan membawa pengetahuan dan pengalaman organisasi ke lembaga legislatif.
Namun, politik juga menuntut kompromi, ketegasan, dan kemampuan menghadapi perubahan kekuasaan.
Hampir Mendampingi Gamawan Fauzi
Nama Shofwan kembali muncul dalam dinamika politik Sumatera Barat menjelang Pemilihan Kepala Daerah tahun 2005.
Saat itu, ia termasuk dalam bursa bakal calon Wakil Gubernur Sumatera Barat.
Gamawan Fauzi, yang ketika itu menjabat sebagai Bupati Solok, sempat mempertimbangkan Shofwan sebagai calon pendampingnya.
Pilihan tersebut tidak terlepas dari latar belakang Shofwan sebagai akademisi, tokoh Muhammadiyah, dan figur yang memiliki jaringan organisasi luas.
Namun, rencana itu tidak berlanjut. Gamawan Fauzi akhirnya maju sebagai calon gubernur dengan menggandeng Marlis Rahman sebagai calon wakil gubernur.
Meskipun tidak masuk dalam pasangan calon, kemunculan nama Shofwan menunjukkan bahwa dirinya diperhitungkan dalam politik daerah.
Mendukung Joko Widodo
Setelah berakhirnya masa Orde Baru dan keaktifannya di Golkar, Shofwan tetap memberikan perhatian terhadap perkembangan politik nasional.
Dalam Pemilihan Presiden 2014, ia menyatakan dukungan kepada Joko Widodo.
Dukungan tersebut cukup menonjol karena Joko Widodo menghadapi berbagai isu sensitif di Sumatera Barat. Shofwan beberapa kali memberikan tanggapan terhadap tuduhan dan kabar yang diarahkan kepada calon presiden tersebut.
Pada Pemilihan Presiden berikutnya, ia kembali menyatakan dukungan kepada Joko Widodo.
Pada tahun 2018, Shofwan bahkan dipercaya menjadi penasihat Forum Komunikasi Relawan Pemenangan Joko Widodo Sumatera Barat.
Sikap politik tersebut memperlihatkan bahwa Shofwan tetap aktif menyampaikan pilihan dan pandangannya meskipun tidak lagi menjadi anggota legislatif.
Keluarga dan Pendamping Perjalanan Hidup
Pada 25 November 1977, Shofwan menikah dengan Imnati Ilyas, seorang perempuan asal Payakumbuh dari Suku Pagar Cancang.
Keduanya merupakan teman kuliah di IAIN Imam Bonjol. Hubungan yang bermula dari lingkungan kampus kemudian berlanjut ke pernikahan.
Akad dan rangkaian pernikahan mereka berlangsung di Balai Talang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota.
Imnati Ilyas menjalani karier sebagai pegawai negeri sipil dan guru sekolah menengah. Ia terakhir mengajar di SMK Negeri 9 Padang sebelum pensiun pada tahun 2014.
Dari pernikahan tersebut, Shofwan dan Imnati dikaruniai empat orang anak, yakni Iqbal Shoffan Shofwan, Shofwim Shofwan, Putri Bulqis, dan Adam Putra.
Di tengah kesibukan organisasi, politik, dan akademik, keluarga menjadi tempat Shofwan kembali. Perjalanan panjangnya tidak terlepas dari dukungan istri dan anak-anak yang mendampinginya.
Memasuki Masa Pensiun, Tetap Mengajar
Pada Januari 2018, Shofwan memasuki masa pensiun sebagai dosen UIN Imam Bonjol Padang.
Jabatan akademik terakhirnya adalah Lektor Kepala golongan IV/b atau associate professor.
Pensiun sebagai pegawai negeri tidak membuatnya berhenti mengajar. Ia tetap aktif sebagai dosen pada Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.
Baginya, mengajar bukan sekadar pekerjaan yang berakhir ketika masa dinas selesai.
Mengajar merupakan bagian dari identitas dan pengabdian. Selama masih memiliki pengetahuan dan pengalaman, ia merasa berkewajiban membagikannya kepada generasi berikutnya.
Ruang kuliah juga menjadi tempat untuk mempertemukan pengalaman hidupnya dengan pertanyaan-pertanyaan mahasiswa.
Ia dapat berbicara mengenai agama bukan hanya dari buku, melainkan dari pengalaman berorganisasi. Ia dapat membahas politik dari pengalaman menjadi anggota DPRD. Ia dapat mengajarkan kepemimpinan berdasarkan pengalamannya menjadi rektor dan pemimpin Muhammadiyah.
Menulis tentang Islam, Nasionalisme, dan Perjalanan Hidup
Selain mengajar dan berorganisasi, Shofwan menuangkan pemikirannya melalui buku.
Pada tahun 2020, ia menerbitkan Islam sebagai Dasar Negara: Polemik Natsir Versus Soekarno.
Buku tersebut membahas perdebatan dua tokoh penting Indonesia mengenai hubungan Islam dan negara. Tema itu berhubungan erat dengan penelitian doktoralnya.
Pada tahun yang sama, ia menerbitkan 68 Tahun Melukis di Atas Awan. Buku tersebut merekam perjalanan, pemikiran, dan pengalaman hidupnya.
Kemudian pada tahun 2023, Shofwan menerbitkan Islam dan Nasionalisme: Pemikiran Mohammad Natsir.
Melalui karya-karya tersebut, ia kembali membahas persoalan yang telah lama menjadi perhatian intelektualnya: bagaimana seorang Muslim memahami nasionalisme, negara, dan Pancasila.
Bagi Shofwan, perdebatan tersebut tidak harus selalu berakhir dalam pertentangan. Sejarah pemikiran dapat dipelajari untuk memahami perbedaan sekaligus mencari jalan kehidupan berbangsa yang lebih baik.
Warisan Seorang Aktivis yang Menjadi Pendidik
Perjalanan hidup Shofwan Karim Elhussein memperlihatkan keterhubungan antara pendidikan, organisasi, agama, dan politik.
Ia memulai perjalanan sebagai anak sulung seorang guru agama. Dari lingkungan keluarga, ia belajar nilai keislaman dan tanggung jawab.
Di sekolah, ia mengenal organisasi pelajar. Di kampus, ia memasuki senat mahasiswa, dewan mahasiswa, Resimen Mahasiswa, HMI, IMM, dan dunia jurnalistik.
Setelah menjadi dosen, ia tetap aktif di KNPI, Muhammadiyah, ICMI, Golkar, dan berbagai lembaga lainnya.
Ia pernah berdiri di ruang kuliah sebagai pengajar, di ruang sidang DPRD sebagai legislator, di ruang rapat perusahaan sebagai komisaris, serta di kantor rektorat sebagai pemimpin perguruan tinggi.
Setiap ruang memberikan pengalaman berbeda. Namun, semuanya dihubungkan oleh satu hal: keinginan untuk terlibat dalam kehidupan masyarakat.
Shofwan tidak membatasi dirinya hanya sebagai akademisi. Ia memilih memasuki wilayah organisasi dan politik yang penuh dinamika.
Pilihan itu membuat perjalanan hidupnya tidak selalu sederhana. Ia bergerak melewati berbagai perubahan zaman, dari Orde Baru hingga Reformasi, dari politik Golongan Karya hingga dukungan kepada Joko Widodo.
Di lingkungan Muhammadiyah, ia tumbuh dari kader mahasiswa menjadi pemimpin wilayah. Di dunia pendidikan, ia berkembang dari mahasiswa IAIN menjadi dosen, doktor, dan rektor.
Dari Sirih Sekapur hingga Padang, Jakarta, dan Singapura, Shofwan Karim Elhussein menempuh perjalanan panjang sebagai pembelajar dan pengajar.
Kisahnya menjadi gambaran seorang tokoh yang membangun dirinya melalui pendidikan, melatih kepemimpinan melalui organisasi, serta terus berusaha mempertemukan Islam, nasionalisme, dan pengabdian kepada bangsa. (PERS)

Updates.