TOKOH - Di sebuah kampung yang menghadap keindahan Danau Maninjau, lahirlah seorang anak bernama Abdul Malik pada 17 Februari 1908. Kampung itu bernama Tanah Sirah, yang kini termasuk wilayah Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Kelak, anak tersebut dikenal dengan nama Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau Hamka. Masyarakat memanggilnya dengan sebutan Buya Hamka. Ia tumbuh menjadi ulama, pemikir, wartawan, sastrawan, pendidik, dan tokoh pergerakan yang pengaruhnya melampaui batas Indonesia.
Hamka merupakan anak pertama dari pasangan Abdul Karim Amrullah dan Safiyah. Ayahnya, yang dikenal dengan panggilan Haji Rasul, adalah seorang ulama pembaru di Minangkabau. Setelah menuntut ilmu kepada Ahmad Khatib Al-Minangkabawi di Makkah, Haji Rasul kembali ke tanah kelahirannya dan aktif menyuarakan pembaruan pemikiran Islam.
Di Maninjau, Abdul Malik kecil banyak diasuh oleh neneknya, Sitti Tarsawa, yang dipanggilnya anduang. Dari sang nenek, ia mendengar pantun, nyanyian, cerita, dan berbagai ungkapan yang menggambarkan keindahan alam serta kehidupan masyarakat Minangkabau.
Suasana itulah yang tanpa disadarinya menumbuhkan kecintaan kepada bahasa dan cerita. Kelak, pantun, pidato adat, kisah rakyat, dan pergulatan kehidupan masyarakat Minangkabau akan banyak memengaruhi gaya bahasa serta tema karya-karyanya.
Ketika berusia empat tahun, Malik mengikuti orang tuanya pindah ke Padang Panjang. Ia mulai belajar membaca Al-Qur’an dan bacaan salat di bawah bimbingan Fatimah, kakak tirinya.
Pada usia tujuh tahun, Malik masuk Sekolah Desa. Ia juga belajar di Diniyah School yang didirikan Zainuddin Labay El Yunusy. Pagi hari ia mengikuti pelajaran umum, sedangkan pada sore hari ia mempelajari agama.
Malik kemudian dimasukkan ke Sumatera Thawalib oleh ayahnya. Di sekolah itu, para murid diwajibkan mempelajari kitab-kitab klasik, tata bahasa Arab, ilmu nahwu, dan ilmu saraf.
Namun, Malik tidak menyukai sistem pendidikan yang terlalu mengandalkan hafalan. Ia cepat merasa jenuh ketika harus menghafal pelajaran tanpa memperoleh ruang yang cukup untuk bertanya, berdiskusi, dan memahami maknanya.
Di balik kehidupan belajar yang ketat, Malik kecil dikenal nakal, penuh rasa ingin tahu, dan sulit dikekang. Ia bahkan pernah meninggalkan kegiatan mengaji secara diam-diam hanya untuk mengintip pertunjukan film bisu di sebuah bioskop.
Luka Masa Kecil dan Kecintaan kepada Buku
Ketika Malik berusia sekitar 12 tahun, kedua orang tuanya bercerai. Peristiwa tersebut mengguncang kehidupannya. Ia merasa tidak benar-benar memiliki tempat untuk pulang.
Di rumah ayahnya ada ibu tiri, sedangkan di rumah ibunya ada ayah tiri. Kebingungan itu membuat Malik sering meninggalkan sekolah dan berjalan tanpa tujuan mengelilingi kampung-kampung di Padang Panjang.
Pada suatu hari, ia melihat seorang pengemis tunanetra di pasar. Karena merasa iba, Malik menuntun laki-laki tersebut menuju tempat yang lebih ramai agar memperoleh sedekah. Ia bahkan mengantarkannya pulang.
Namun, perbuatan itu justru membuat ibu tirinya marah karena dianggap mempermalukan nama ayahnya. Malik semakin merasa tidak dipahami. Ia kemudian membolos selama berhari-hari hingga gurunya datang ke rumah untuk mencari tahu keadaannya.
Di tengah pergolakan batin tersebut, Malik menemukan tempat pelarian dalam buku. Ketika gurunya membuka perpustakaan penyewaan, ia mulai membaca karya-karya sastra Balai Pustaka, cerita Tiongkok, serta buku-buku terjemahan dari bahasa Arab.
Karena tidak selalu mempunyai uang untuk menyewa buku, Malik menawarkan tenaganya kepada pemilik percetakan. Ia memotong karton, membuat lem, memperbaiki sampul, dan menyeduhkan kopi. Sebagai imbalan, ia hanya meminta izin untuk membaca buku-buku yang tersedia.
Setiap selesai membaca sebuah cerita, Malik mencoba menuliskannya kembali dengan gayanya sendiri. Kebiasaan sederhana itu menjadi latihan awal yang kelak membentuknya sebagai seorang pengarang.
Ayahnya terkadang merasa khawatir melihat Malik terlalu banyak membaca cerita. Haji Rasul pernah bertanya apakah anaknya kelak hendak menjadi seorang alim atau sekadar menjadi tukang cerita.
Malik tidak memberikan jawaban panjang. Namun, perjalanan hidupnya kelak memperlihatkan bahwa ia berhasil menjadi keduanya: seorang ulama sekaligus pencerita besar.
Persoalan keluarga membuatnya semakin sering bepergian seorang diri. Ia pernah berjalan kaki puluhan kilometer dari Padang Panjang menuju Maninjau hanya untuk menemui ibunya.
Ia juga berkelana sampai Bukittinggi dan Payakumbuh, bergaul dengan beragam kelompok masyarakat, mendengarkan kaba, menghadiri pertunjukan tradisional, serta menyaksikan kehidupan rakyat dari dekat.
Ketika berusia sekitar 14 tahun, ayahnya mengirim Malik belajar kepada Syekh Ibrahim Musa di Parabek. Di sanalah ia mulai belajar hidup mandiri sebagai seorang santri.
Malik masih membawa sifat usilnya. Namun, di Parabek, ia semakin tertarik kepada pantun, pidato adat, dan cara para penghulu menyampaikan kata-kata di hadapan masyarakat. Ia menghadiri berbagai upacara adat, mencatat ungkapan yang didengarnya, lalu mendatangi para penghulu untuk belajar secara langsung.
Si Bujang Jauh
Kebiasaannya bepergian seorang diri membuat ayahnya menjuluki Malik sebagai “Si Bujang Jauh”. Ia seperti tidak pernah betah berada terlalu lama di satu tempat.
Pada usia sekitar 15 tahun, Malik bertekad merantau ke Pulau Jawa. Ia meninggalkan rumah tanpa sepengetahuan ayahnya dan hanya berpamitan kepada anduang-nya di Maninjau.
Perjalanan pertama itu tidak berjalan sesuai harapan. Setibanya di Bengkulu, Malik terserang malaria. Belum sembuh sepenuhnya, tubuhnya kemudian diserang cacar.
Selama berbulan-bulan ia terbaring sakit di rumah kerabatnya. Bekas cacar meninggalkan bopeng di wajah dan tubuhnya. Kondisi tersebut membuat Malik remaja merasa rendah diri, terutama ketika sejumlah teman mengejek penampilannya.
Ia akhirnya dipulangkan ke Maninjau. Namun, kegagalan itu tidak memadamkan keinginannya untuk melihat dunia di luar Minangkabau.
Pada Juli 1924, Malik kembali berangkat ke Jawa. Kali ini ia berhasil mencapai Yogyakarta. Di kota tersebut, ia tinggal bersama sesama perantau Minangkabau dan bertemu dengan Jafar Amrullah, adik ayahnya.
Jafar membawanya belajar tafsir Al-Qur’an kepada Ki Bagus Hadikusumo. Cara Ki Bagus menjelaskan makna ayat secara mendalam membuat Malik menemukan kegembiraan baru dalam belajar agama.
Di Yogyakarta, ia juga mengenal Sarekat Islam. Melalui berbagai kursus dan pertemuan, Malik menyerap pemikiran sosial dan politik dari tokoh-tokoh pergerakan seperti H.O.S. Tjokroaminoto dan Suryopranoto.
Tjokroaminoto memperhatikan semangat belajar Malik. Pemuda Minangkabau itu selalu mengikuti pelajaran dengan tekun, mengajukan pertanyaan, dan mencatat berbagai gagasan yang disampaikan.
Pengalaman di Jawa mengubah pandangan Malik terhadap agama. Islam tidak lagi dilihatnya sebatas kumpulan pelajaran yang harus dihafalkan. Ia menemukan Islam sebagai kekuatan hidup, gerakan sosial, dan perjuangan untuk membebaskan manusia dari keterbelakangan serta penindasan.
Setelah beberapa bulan di Yogyakarta, Malik pergi ke Pekalongan untuk menemui kakak iparnya, Ahmad Rasyid Sutan Mansur. Dari tokoh Muhammadiyah tersebut, Malik belajar berdakwah, berorganisasi, dan berpidato di depan masyarakat.
Ketika kembali ke Sumatera Barat, ia ikut membesarkan Muhammadiyah. Malik mendampingi Sutan Mansur berdakwah dan merintis cabang-cabang Muhammadiyah di berbagai daerah.
Ia juga memimpin latihan pidato bagi para calon mubalig. Pidato-pidato yang dinilai baik disunting dan diterbitkannya dalam majalah Khatibul Ummah. Walaupun hanya bertahan selama tiga edisi karena keterbatasan dana, majalah tersebut menjadi salah satu tempat awal Malik mengenali kemampuannya sebagai penulis dan penyunting.
Ditolak karena Tidak Memiliki Ijazah
Meskipun mulai dikenal sebagai pembicara yang menarik, Malik belum sepenuhnya diterima sebagai seorang ahli agama. Ia dinilai lebih pandai berpidato daripada memahami tata bahasa Arab.
Ketika Muhammadiyah membuka penerimaan guru di Padang Panjang, Malik ikut melamar. Namun, ia tidak diterima karena tidak memiliki ijazah atau diploma.
Penolakan tersebut sangat melukai hatinya. Ia merasa berbagai pengalaman dan ilmu yang diperolehnya tidak dihargai hanya karena tidak mempunyai bukti kelulusan pendidikan formal.
Dalam kegelisahan itu, Malik teringat cerita anduang-nya bahwa sang ayah pernah berniat mengirimnya belajar ke Makkah. Tanpa banyak memberi tahu keluarga, Malik memutuskan berangkat dengan usahanya sendiri.
Karena kekurangan biaya, ia berjalan kaki dari Maninjau menuju Padang. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan hingga akhirnya menaiki kapal dari Pelabuhan Belawan menuju Jeddah pada awal Februari 1927.
Di atas kapal, kemampuan Malik membaca Al-Qur’an membuatnya dihormati para penumpang. Sejumlah orang bahkan memanggilnya dengan sebutan ajengan.
Setibanya di Makkah, Malik tinggal di rumah seorang pemandu haji bernama Amin Idris. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, ia bekerja di sebuah percetakan.
Pekerjaan itu kembali mempertemukannya dengan buku. Di sela-sela bekerja, Malik membaca kitab-kitab klasik, buku sejarah, karya sastra, serta berbagai buletin berbahasa Arab.
Ia belajar bahasa Arab secara lebih mendalam tanpa mengikuti sekolah formal. Dari bahan bacaan itulah pengetahuannya tentang Islam, sejarah, politik, dan sastra terus berkembang.
Malik sempat berniat menetap lebih lama di Makkah. Namun, pertemuannya dengan Haji Agus Salim mengubah keputusan tersebut.
Agus Salim menasihatinya bahwa masih banyak pekerjaan penting yang dapat dilakukan di Indonesia. Tanah air membutuhkan pemuda yang bersedia belajar, bergerak, dan berjuang.
Nasihat itu menyentuh Malik. Setelah sekitar tujuh bulan berada di Makkah dan menunaikan ibadah haji, ia memutuskan kembali ke tanah air. Sejak saat itulah namanya semakin dikenal sebagai Haji Abdul Malik Karim Amrullah—Hamka.
Menemukan Jalan sebagai Wartawan dan Pengarang
Kapal yang membawa Hamka pulang berlabuh di Medan. Alih-alih langsung kembali ke kampung halaman, ia memilih menetap di kota tersebut.
Medan menjadi tempat Hamka menemukan jalannya sebagai wartawan. Ia mulai menulis pengalaman perjalanan hajinya untuk surat kabar Pelita Andalas. Ia juga menulis tentang Sumatera Thawalib serta gerakan pembaruan Islam di Minangkabau.
Honor menulis pada masa itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, Hamka juga mengajar agama kepada para pedagang kecil dan masyarakat di sekitar perkebunan.
Di sana, ia menyaksikan dari dekat kehidupan para buruh dan kuli perkebunan. Pengalaman tersebut kelak menjadi salah satu sumber inspirasi bagi novelnya, Merantau ke Deli.
Setelah berulang kali diminta pulang oleh keluarga, Hamka akhirnya kembali ke Sungai Batang. Pertemuannya dengan sang ayah berlangsung penuh keharuan.
Haji Rasul terkejut mengetahui anaknya telah pergi ke Makkah dengan biaya dan keberaniannya sendiri. Ia menyesali mengapa Malik tidak pernah menceritakan niat tersebut.
Hubungan ayah dan anak yang sebelumnya sering terasa keras perlahan menjadi lebih dekat. Hamka kemudian memenuhi permintaan keluarga untuk menikah dengan Sitti Raham pada 5 April 1929.
Sebelum menikah, ia telah menyelesaikan roman pertamanya dalam bahasa Minangkabau berjudul Si Sabariah. Karya itu dibacakannya di hadapan sejumlah ulama, termasuk ayahnya, Jamil Jambek, dan Abdullah Ahmad.
Si Sabariah diterima dengan baik dan dicetak hingga beberapa kali. Dari honor buku itulah Hamka membantu membiayai pernikahannya.
Keberhasilan tersebut membuatnya semakin yakin bahwa menulis dapat menjadi bagian dari dakwah. Ia tidak harus selalu berdiri di atas mimbar untuk menyampaikan nilai-nilai agama. Melalui cerita, ia dapat memasuki hati pembaca dengan cara yang berbeda.
Membesarkan Muhammadiyah
Setelah menikah, Hamka dan Sitti Raham tinggal di Padang Panjang. Ia memimpin cabang Muhammadiyah sekaligus mengelola Tabligh School.
Di sekolah tersebut, Hamka mengajarkan kepemimpinan, strategi dakwah, kemampuan berpidato, dan keterampilan menulis. Cara mengajarnya dinilai berbeda karena ia mendorong murid-muridnya berpikir, bukan sekadar menghafal.
Hamka juga aktif mengikuti kongres-kongres Muhammadiyah. Dalam berbagai pertemuan itu, kemampuan pidatonya mulai mendapat perhatian.
Pada Kongres Muhammadiyah di Bukittinggi tahun 1930, ia menyampaikan pidato mengenai hubungan agama Islam dan adat Minangkabau. Hamka berusaha mempertemukan dua unsur yang sering dianggap saling bertentangan tersebut.
Setahun kemudian, dalam kongres di Yogyakarta, pidatonya tentang perkembangan Muhammadiyah di Sumatera membuat banyak peserta terharu.
Hamka kemudian mendapat berbagai tugas dari Muhammadiyah. Ia membuka dan mengembangkan cabang organisasi di Bengkalis, Makassar, serta beberapa daerah lainnya.
Selama berada di Makassar, Hamka menerbitkan majalah Islam Tentera dan Al-Mahdi. Ia juga mendirikan Tabligh School dengan sistem pendidikan yang lebih modern, tetapi tetap berlandaskan nilai-nilai agama.
Pergaulannya dengan masyarakat Makassar memberikan banyak inspirasi. Dari berbagai cerita yang didengarnya, tumbuh gagasan untuk menulis novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck.
Pada tahun 1934, Hamka kembali ke Padang Panjang dan memimpin Kulliyatul Muballighien. Di lembaga tersebut, ia mendidik calon mubalig dan guru serta mengajarkan kemampuan menulis dan berpidato.
Lahirnya Nama “Hamka”
Pada Januari 1936, Hamka kembali ke Medan untuk memimpin majalah Pedoman Masyarakat. Ketika ia mulai menjabat sebagai pemimpin redaksi, majalah tersebut hanya memiliki oplah sekitar 500 eksemplar.
Di bawah kepemimpinannya, oplah Pedoman Masyarakat meningkat menjadi sekitar 4.000 eksemplar. Majalah itu membahas agama, sejarah, pengetahuan umum, sastra, dan persoalan sosial.
Melalui majalah tersebut, Abdul Malik Karim Amrullah mulai menggunakan nama pena “Hamka”, singkatan yang kemudian dikenal luas hingga akhir hayatnya.
Di Pedoman Masyarakat, Hamka menulis berbagai rubrik dan cerita bersambung. Ia mengangkat persoalan cinta, ketidakadilan adat, perbedaan kedudukan sosial, kawin paksa, dan benturan antara nilai agama dengan tradisi.
Dari tangan Hamka lahirlah Di Bawah Lindungan Ka’bah, kisah tentang Hamid dan Zainab yang cintanya terhalang perbedaan kedudukan keluarga. Novel itu kemudian diterbitkan Balai Pustaka pada tahun 1938.
Setelah itu, ia menulis Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, kisah cinta Zainuddin dan Hayati yang terhalang adat serta berakhir tragis.
Ketika cerita tersebut diterbitkan secara bersambung, banyak pembaca mengirimkan surat. Mereka merasa Hamka seolah-olah sedang menceritakan pengalaman hidup mereka sendiri.
Namun, tidak semua orang menerima karya-karyanya. Sejumlah kalangan menganggap seorang ulama tidak pantas menulis roman percintaan.
Hamka menolak pandangan tersebut. Baginya, sastra dapat menjadi jalan dakwah selama membawa pembaca kepada keindahan, kebenaran, dan kebaikan.
Dari ruang redaksi Pedoman Masyarakat, nama Hamka melambung sebagai sastrawan dan wartawan. Karya-karyanya menjangkau pembaca jauh melampaui Sumatera.
Masa Jepang dan Tahun-Tahun Paling Pahit
Ketika Jepang menduduki Medan pada Maret 1942, Pedoman Masyarakat berhenti terbit. Hamka kemudian lebih banyak mencurahkan perhatian untuk mempertahankan Muhammadiyah agar tidak dibubarkan.
Pada tahun 1944, pemerintah pendudukan Jepang mengangkat Hamka sebagai anggota Chuo Sangi-in di Sumatra Timur. Ia menerima jabatan tersebut karena percaya kepada janji Jepang yang akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.
Namun, setelah Jepang kalah, keputusan itu menjadi beban berat baginya. Sebagian masyarakat menganggap Hamka terlalu dekat dengan pemerintah pendudukan.
Ia dijauhi, dicurigai, dan dicela. Periode antara Agustus hingga Desember 1945 dikenangnya sebagai salah satu masa paling pahit dalam hidupnya.
Merasa tidak lagi diterima di Medan, Hamka pulang ke Sumatera Barat. Di sana, ia berusaha membuktikan bahwa dirinya tetap menjadi bagian dari perjuangan rakyat.
Ia kembali menulis dan menerbitkan buku-buku yang berbicara tentang revolusi, agama, demokrasi, serta hubungan adat Minangkabau dengan perubahan zaman.
Pada Mei 1946, Hamka terpilih sebagai Ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah Sumatera Barat. Jabatan tersebut memberinya kesempatan untuk mengunjungi berbagai daerah dan mengobarkan semangat perjuangan.
Ketika Belanda kembali berusaha menguasai Indonesia, Hamka tidak tinggal diam. Ia menjalankan apa yang disebut sebagai “tablig revolusi”.
Hamka bergerilya dari satu nagari ke nagari lain, keluar masuk hutan, dan menghubungkan para ulama dengan kelompok-kelompok pejuang. Ia memimpin Barisan Pengawal Nagari dan Kota serta ikut menggalang perlawanan rakyat terhadap Belanda.
Ketika Front Pertahanan Nasional Sumatera Barat dibentuk pada Agustus 1947, Mohammad Hatta menunjuk Hamka sebagai salah seorang pemimpinnya bersama Khatib Sulaiman, Rasuna Said, dan Karim Halim.
Perjuangan itu membuat Hamka harus berpisah lama dari keluarganya. Ketika tentara Belanda menduduki Padang Panjang pada tahun 1948, istri dan anak-anaknya mengungsi ke Sungai Batang dan hidup dalam kekurangan.
Dari Jakarta Menuju Panggung Politik
Pada akhir 1949, Hamka membawa keluarganya pindah ke Jakarta. Mereka memulai kehidupan baru dengan menyewa sebuah rumah sederhana di kawasan Kebun Jeruk.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Hamka mengandalkan honor dari buku-bukunya dan menulis untuk berbagai surat kabar serta majalah. Ia kemudian diangkat menjadi pegawai Kementerian Agama pada masa Menteri Agama K.H. Wahid Hasyim.
Hamka juga mengajar di sejumlah perguruan tinggi Islam dan semakin sering diundang memberikan ceramah.
Perjalanan ke berbagai negara memperluas pandangannya. Ia mengunjungi negara-negara Arab, Amerika Serikat, Thailand, dan Burma. Pengalaman tersebut kemudian dituangkan dalam sejumlah buku perjalanan.
Di tengah kesibukannya sebagai pegawai dan pengajar, Hamka memasuki dunia politik melalui Masyumi. Ia memandang perjuangan politik sebagai salah satu jalan konstitusional untuk memperjuangkan aspirasi umat Islam.
Ketika pemerintah meminta pegawai negeri memilih antara jabatan pemerintahan dan keanggotaan partai, Hamka memilih meninggalkan pekerjaannya di Kementerian Agama.
Pada Pemilihan Umum 1955, ia terpilih menjadi anggota Konstituante mewakili Masyumi. Dalam sidang-sidang Konstituante, Hamka berbicara mengenai dasar negara, bahasa, agama, dan hak asasi manusia.
Sikapnya sering berbeda dengan Presiden Soekarno, khususnya mengenai Demokrasi Terpimpin. Perbedaan politik tersebut kelak membawa konsekuensi besar dalam perjalanan hidupnya.
Masjid Al-Azhar dan Pengakuan Dunia
Pada tahun 1956, Hamka membangun rumah untuk keluarganya di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tidak jauh dari rumah tersebut, sejumlah tokoh Masyumi berencana mendirikan sebuah masjid.
Hamka diminta menjadi imam sekaligus penanggung jawab kegiatan masjid. Ia menerima amanah tersebut dengan syarat masjid tidak hanya digunakan untuk salat.
Menurutnya, masjid juga harus memiliki ruang pendidikan, pertemuan, kegiatan sosial, dan dakwah. Dari gagasan itulah masjid tersebut berkembang menjadi pusat kegiatan umat.
Pada Februari 1958, Hamka memberikan ceramah di Universitas Al-Azhar, Kairo. Ia menjelaskan pengaruh pemikiran Muhammad Abduh terhadap gerakan pembaruan Islam di Indonesia dan Malaya.
Ceramah tersebut mendapat perhatian besar dari kalangan akademisi Mesir. Universitas Al-Azhar kemudian menganugerahkan kepadanya gelar kehormatan yang setara dengan doktor honoris causa.
Ketika Imam Besar Al-Azhar, Syekh Mahmud Syaltut, berkunjung ke Indonesia pada tahun 1960, ia meninjau Masjid Agung Kebayoran Baru. Masjid tersebut kemudian dikenal sebagai Masjid Agung Al-Azhar.
Pengakuan itu terasa istimewa bagi Hamka. Seorang pemuda yang dahulu ditolak menjadi guru karena tidak memiliki ijazah akhirnya memperoleh penghormatan akademik tertinggi dari salah satu pusat pendidikan Islam paling terkemuka di dunia.
Dari Tuduhan hingga Penjara
Memasuki awal 1960-an, situasi politik Indonesia semakin keras. Kedekatan Hamka dengan Masyumi membuatnya menjadi sasaran serangan politik.
Organisasi kebudayaan yang berafiliasi dengan kelompok komunis menuduhnya melakukan plagiarisme. Novel Tenggelamnya Kapal Van der Wijck disebut meniru karya pengarang lain.
Pada saat yang sama, majalah Panji Masyarakat yang diasuhnya dibredel setelah memuat tulisan Mohammad Hatta berjudul “Demokrasi Kita”.
Keadaan semakin buruk ketika pada 27 Januari 1964 Hamka ditangkap. Ia dituduh terlibat dalam gerakan yang hendak menjatuhkan pemerintahan, meskipun tuduhan tersebut tidak pernah terbukti melalui pengadilan.
Hamka menjalani masa tahanan dalam keadaan penuh tekanan. Ketika kesehatannya memburuk, ia dipindahkan ke Rumah Sakit Persahabatan.
Namun, penjara tidak menghentikan pikirannya. Dalam kesunyian dan keterbatasan, ia meneruskan penulisan Tafsir Al-Azhar.
Ia membayangkan wajah para jemaah yang dahulu mendengarkan ceramah tafsirnya setiap pagi di Masjid Al-Azhar. Dari ingatan itu, Hamka terus menulis hingga karya tafsir tersebut berhasil diselesaikan.
Bagi Hamka, masa penahanan bukan semata-mata penderitaan. Ia kemudian menyebut masa tersebut sebagai kesempatan yang diberikan Tuhan agar dirinya dapat menyelesaikan tafsir Al-Qur’an sebanyak 30 juz.
Memaafkan Orang yang Menyakiti
Hamka dibebaskan pada tahun 1966. Setelah keluar dari tahanan, ia kembali berdakwah, menulis, mengajar, dan menghadiri berbagai pertemuan internasional.
Meskipun pernah dipenjarakan pada masa pemerintahan Soekarno, Hamka tidak memelihara dendam. Ketika Soekarno meninggal dunia, keluarga menyampaikan bahwa mantan presiden tersebut menginginkan Hamka menjadi imam salat jenazahnya.
Hamka memenuhi permintaan itu. Baginya, perbedaan politik tidak boleh menghilangkan kewajiban kemanusiaan.
Sikap serupa terlihat dalam hubungannya dengan tokoh-tokoh yang pernah menyerangnya melalui tulisan. Hamka tidak membalas kebencian dengan kebencian.
Ia meyakini bahwa dendam hanya akan menjadi beban bagi hati. Pengalaman pahit justru diubahnya menjadi kekuatan untuk menghasilkan karya dan memperluas pengabdian.
Di tengah keteguhannya dalam persoalan akidah, Hamka dikenal terbuka dalam masalah perbedaan cabang keagamaan. Ia tidak mempersoalkan perbedaan jumlah rakaat salat Tarawih, penggunaan qunut, maupun tradisi azan Jumat.
Bagi Hamka, perbedaan yang tidak menyentuh prinsip dasar agama tidak seharusnya memutuskan persaudaraan.
Menjadi Ketua MUI Pertama
Gagasan pembentukan Majelis Ulama Indonesia mulai berkembang pada awal 1970-an. Sebagian tokoh khawatir lembaga itu hanya akan menjadi alat pemerintah.
Hamka memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, MUI dapat menjadi jembatan antara pemerintah dan umat Islam.
Majelis Ulama harus berani mengkritik pemerintah apabila kebijakannya dinilai salah. Namun, lembaga tersebut juga harus berani mendukung pemerintah apabila langkah yang ditempuh dianggap benar.
Ketika MUI resmi dibentuk pada 26 Juli 1975, Hamka dipilih secara aklamasi menjadi ketua pertama.
Dalam pidato pertamanya, ia menggambarkan kedudukan MUI seperti kue bika yang dibakar dari atas dan bawah. Api dari atas merupakan harapan pemerintah, sedangkan api dari bawah adalah tuntutan umat.
Hamka menyadari bahwa seorang ulama harus menjaga hubungan dengan pemerintah tanpa kehilangan kepercayaan masyarakat.
Ia menolak menerima gaji sebagai Ketua MUI. Pusat kegiatan MUI juga ditempatkannya di Masjid Agung Al-Azhar.
Di bawah kepemimpinannya, MUI berusaha tampil sebagai lembaga yang mandiri dan berwibawa. Hamka mendukung kerukunan antarumat beragama, tetapi ia memiliki batas yang tegas dalam perkara keyakinan.
Pada tahun 1981, muncul ketegangan antara MUI dan pemerintah setelah lembaga tersebut mengeluarkan fatwa mengenai keikutsertaan umat Islam dalam perayaan Natal.
Pemerintah meminta agar fatwa tersebut dicabut karena dikhawatirkan mengganggu hubungan antarumat beragama. Hamka tidak bersedia menarik keputusan yang menurutnya telah menjadi tanggung jawab keagamaan para ulama.
Ia memilih mengundurkan diri dari jabatan Ketua MUI. Keputusan itu memperoleh simpati luas dari masyarakat.
Bagi Hamka, jabatan dapat ditinggalkan, tetapi keyakinan dan tanggung jawab moral tidak boleh dipertukarkan dengan kedudukan.
Hari-Hari Terakhir Sang Buya
Setelah mengundurkan diri dari MUI, kondisi kesehatan Hamka menurun. Pada 18 Juli 1981, bertepatan dengan awal Ramadan, ia dirawat di Rumah Sakit Pusat Pertamina.
Pada hari keenam perawatan, Hamka masih berusaha menunaikan salat Duha. Putrinya, Azizah, membantunya bertayamum.
Tidak lama kemudian, kondisinya memburuk. Tim dokter menyatakan bahwa fungsi ginjal, paru-paru, dan saraf pusatnya telah menurun secara serius.
Pada Jumat, 24 Juli 1981, pukul 10.37 WIB, Buya Hamka mengembuskan napas terakhir dalam usia 73 tahun.
Jenazahnya disemayamkan di rumah keluarga di Jalan Raden Fatah III, Kebayoran Baru. Para pejabat negara, ulama, sahabat, murid, dan masyarakat datang memberikan penghormatan terakhir.
Jenazah Hamka kemudian dibawa ke Masjid Agung Al-Azhar untuk disalatkan sebelum dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir, Jakarta Selatan.
Warisan Seorang Pembelajar Otodidak
Hamka meninggalkan warisan yang sangat luas. Selama puluhan tahun berkarya, ia menghasilkan puluhan buku dalam bidang agama, tasawuf, filsafat, sejarah, kebudayaan, politik, dan sastra.
Di antara karya sastranya yang paling dikenal adalah Si Sabariah, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Merantau ke Deli, dan Tuan Direktur.
Dalam bidang pemikiran dan keagamaan, ia menulis Tasawuf Modern, Falsafah Hidup, Lembaga Hidup, Sejarah Umat Islam, Ayahku, dan berbagai karya lainnya.
Karya terbesarnya adalah Tafsir Al-Azhar. Tafsir tersebut memadukan pengetahuan agama dengan sejarah, sastra, kebudayaan Melayu-Minangkabau, persoalan masyarakat modern, dan perkembangan ilmu pengetahuan.
Hamka tidak menyelesaikan pendidikan formal yang panjang. Namun, ketekunan membaca membuatnya menguasai berbagai bidang ilmu.
Ia belajar dari kitab, surat kabar, roman, perjalanan, organisasi, ruang redaksi, mimbar dakwah, pertemuan politik, kehidupan rakyat, bahkan dari kesunyian penjara.
Berbagai perguruan tinggi kemudian memberikan penghormatan kepadanya. Universitas Al-Azhar dan Universitas Kebangsaan Malaysia menganugerahkan gelar doktor kehormatan, sedangkan Universitas Prof. Dr. Moestopo mengukuhkannya sebagai guru besar.
Setelah wafat, pemerintah menganugerahkan Bintang Mahaputera Utama kepadanya. Pada tahun 2011, Hamka ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.
Namanya juga diabadikan menjadi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka di Jakarta. Rumah kelahirannya di Maninjau dijadikan museum untuk mengenang perjalanan hidup dan karya-karyanya.
Perjalanan Hamka merupakan kisah tentang seorang anak yang pernah merasa kehilangan tempat pulang, seorang murid yang tidak menyukai sistem hafalan, dan seorang calon guru yang ditolak karena tidak mempunyai ijazah.
Namun, penolakan tidak membuatnya berhenti belajar. Ia memilih menjadikan dunia sebagai sekolahnya.
Dari tepian Danau Maninjau, Hamka berjalan menuju Yogyakarta, Pekalongan, Medan, Makassar, Makkah, Kairo, dan berbagai penjuru dunia. Setiap perjalanan memberinya cerita, setiap kesulitan memberinya pelajaran, dan setiap luka diubahnya menjadi tulisan.
“Si Bujang Jauh” itu akhirnya pulang sebagai salah satu tokoh terbesar Indonesia—seorang ulama yang berbicara dengan bahasa sastra, seorang sastrawan yang menulis dengan jiwa dakwah, dan seorang pejuang yang memilih memaafkan orang-orang yang pernah menyakitinya.
Buya Hamka tidak hanya meninggalkan nama. Ia meninggalkan keberanian untuk belajar tanpa batas, keteguhan mempertahankan keyakinan, serta teladan bahwa ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika digunakan untuk membimbing dan memanusiakan sesama. (PERS)

Updates.