Alfatih Timur, Dari Aktivisme Kampus Menuju Gerakan Kebaikan Digital

    Alfatih Timur, Dari Aktivisme Kampus Menuju Gerakan Kebaikan Digital
    M. Alfatih Timur

    TOKOH - Ada orang yang melihat masalah sosial sebagai sesuatu yang terlalu besar untuk disentuh. Ada pula yang memilih memulainya dari satu langkah kecil, satu gagasan sederhana, lalu membiarkannya tumbuh menjadi gerakan bersama. Muhammad Alfatih Timur, yang akrab disapa Timmy, adalah salah satu orang yang memilih jalan kedua.

    Lahir pada 27 Desember 1991, Timmy tumbuh menjadi sosok yang dikenal sebagai wirausahawan sosial sekaligus penggerak perubahan berbasis teknologi. Namanya kemudian lekat dengan Kitabisa.com, sebuah platform urun dana atau crowdfunding yang mempertemukan orang-orang yang membutuhkan bantuan dengan masyarakat yang ingin berbagi. Namun perjalanan menuju lahirnya Kitabisa tidak terjadi dalam satu malam.

    Sebelum dikenal sebagai pendiri platform penggalangan dana sosial, Timmy menjalani kehidupan seperti banyak mahasiswa lainnya: belajar, berorganisasi, berdiskusi, dan terlibat dalam berbagai aktivitas sosial.

    Ketika menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, ia aktif sebagai mahasiswa dan terlibat dalam berbagai kegiatan yang mempertemukannya dengan persoalan masyarakat.

    Dari lingkungan kampus itulah kepekaan sosialnya semakin terasah. Ia mulai memahami bahwa persoalan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, maupun kesejahteraan sosial tidak selalu kekurangan orang yang peduli. Sering kali masalahnya justru terletak pada bagaimana mempertemukan orang yang ingin membantu dengan mereka yang benar-benar membutuhkan bantuan.

    Kesadaran itu kelak menjadi salah satu benih yang tumbuh menjadi Kitabisa.

    Belajar dari Rumah Perubahan

    Setelah menjalani berbagai aktivitas semasa kuliah, Timmy mendapatkan kesempatan bekerja sebagai asisten Prof. Rhenald Kasali di Rumah Perubahan.

    Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dalam pembentukan cara berpikirnya. Di sana ia berada dalam lingkungan yang banyak berbicara tentang perubahan, kewirausahaan, kepemimpinan, inovasi, serta keberanian untuk keluar dari cara-cara lama.

    Bekerja di sekitar orang-orang yang percaya bahwa perubahan dapat dirancang dan diciptakan membuat Timmy semakin yakin bahwa persoalan sosial tidak harus selalu dijawab melalui pendekatan konvensional.

    Teknologi dapat menjadi alat.

    Kewirausahaan dapat menjadi pendekatan.

    Dan kolaborasi masyarakat dapat menjadi kekuatan.

    Pada saat yang sama, Timmy juga aktif di Asosiasi Kewirausahaan Sosial Indonesia. Lingkungan tersebut semakin memperkenalkannya pada gagasan bahwa bisnis dan kegiatan sosial tidak harus selalu berada di dua dunia yang berbeda.

    Sebuah usaha dapat dibangun bukan hanya untuk menghasilkan keuntungan, tetapi juga untuk menghadirkan dampak sosial. Dari situlah pandangannya mengenai social entrepreneurship semakin berkembang.

    Sebuah Pertanyaan Sederhana

    Di balik lahirnya sebuah gerakan besar sering kali terdapat pertanyaan sederhana. Bagaimana jika teknologi digunakan untuk mempermudah orang berbuat baik?

    Bagaimana jika seseorang yang membutuhkan biaya pengobatan, pembangunan sekolah, beasiswa, atau bantuan kemanusiaan dapat menceritakan kebutuhannya secara terbuka?

    Dan bagaimana jika masyarakat dapat membantu hanya dengan beberapa klik dari telepon genggam atau komputer mereka?

    Pertanyaan-pertanyaan semacam itulah yang kemudian menemukan jawabannya dalam sebuah platform bernama Kitabisa.com.

    Pada 6 Juni 2013, Timmy mulai menggerakkan Kitabisa sebagai platform crowdfunding sosial. Gagasannya sederhana tetapi memiliki kekuatan besar: mengumpulkan sedikit bantuan dari banyak orang untuk menyelesaikan persoalan yang mungkin terasa terlalu berat jika ditanggung sendirian.

    Seribu rupiah mungkin terlihat kecil. Sepuluh ribu rupiah mungkin terasa sederhana.

    Namun ketika diberikan oleh ribuan orang yang memiliki kepedulian yang sama, nilai kecil itu dapat berubah menjadi bantuan yang sangat berarti.

    Di situlah filosofi urun dana bekerja. Bukan menunggu satu orang kaya memberikan semuanya, tetapi mengajak banyak orang memberikan apa yang mereka mampu.

    Dari Website Menjadi Gerakan

    Pada masa awalnya, Kitabisa hanyalah sebuah platform digital dengan sebuah gagasan. Namun sebuah gagasan akan menemukan kekuatannya ketika masyarakat mempercayainya.

    Sedikit demi sedikit, semakin banyak individu, komunitas, yayasan, hingga lembaga zakat menggunakan Kitabisa untuk menggalang dana.

    Berbagai kampanye sosial mulai bermunculan.

    Ada keluarga yang membutuhkan biaya medis.

    Ada masyarakat yang ingin membangun rumah ibadah.

    Ada anak-anak yang membutuhkan beasiswa.

    Ada komunitas yang ingin membantu korban bencana.

    Ada pula berbagai proyek kemanusiaan yang sebelumnya sulit mendapatkan akses kepada jaringan donatur yang luas.

    Kitabisa mempertemukan mereka dalam satu ruang digital. Dalam perkembangannya, platform tersebut memfasilitasi lebih dari 2.000 penggalangan dana sosial.

    Dana publik yang terkumpul ketika itu mencapai sekitar Rp30 miliar.

    Angka tersebut bukan berasal dari satu atau dua donatur besar.

    Ia terbentuk dari ribuan bahkan lebih banyak tindakan kecil: donasi mulai dari seribu rupiah hingga jutaan rupiah.

    Dan di situlah makna sebenarnya menjadi terlihat.

    Kitabisa bukan semata-mata cerita tentang teknologi. Ia adalah cerita tentang kepercayaan.

    Kepercayaan seseorang bahwa bantuan kecilnya berarti.

    Kepercayaan penerima bantuan bahwa masih ada orang yang peduli.

    Dan kepercayaan masyarakat bahwa teknologi dapat digunakan bukan hanya untuk berkomunikasi atau berbisnis, tetapi juga untuk memperkuat solidaritas sosial.

    Kebaikan Tidak Harus Menunggu Kaya

    Salah satu pesan kuat yang tercermin dari perjalanan Kitabisa adalah bahwa berbuat baik tidak harus menunggu memiliki banyak uang.

    Dalam kehidupan sehari-hari, orang sering berpikir bahwa membantu sesama hanya dapat dilakukan ketika seseorang sudah mapan.

    Namun crowdfunding menunjukkan sesuatu yang berbeda.

    Seseorang dapat membantu sesuai kemampuannya.

    Nilainya mungkin kecil bagi pemberi, tetapi dapat menjadi bagian penting dari solusi besar bagi penerima.

    Seribu rupiah dari satu orang mungkin belum dapat membayar biaya pengobatan.

    Namun seribu rupiah dari puluhan ribu orang dapat mengubah keadaan.

    Cara berpikir seperti inilah yang kemudian membuat teknologi crowdfunding menjadi salah satu instrumen penting dalam membangun partisipasi sosial.

    Timmy dan Kitabisa membantu memperlihatkan bahwa kekuatan masyarakat tidak selalu terletak pada besarnya kontribusi masing-masing individu.

    Kekuatan itu justru lahir dari berapa banyak orang yang bersedia bergerak bersama.

    Dari Aktivis Menjadi Wirausahawan Sosial

    Perjalanan Timmy juga menunjukkan transformasi menarik seorang aktivis mahasiswa menjadi wirausahawan sosial. Semangat aktivisme tidak harus berhenti ketika seseorang meninggalkan kampus.

    Nilai-nilai yang diperjuangkan dapat diterjemahkan ke dalam bentuk berbeda.

    Ada yang memilih bekerja melalui lembaga sosial.

    Ada yang masuk ke pemerintahan.

    Ada yang menjadi akademisi.

    Ada pula yang membangun perusahaan sosial.

    Timmy memilih jalan teknologi dan kewirausahaan. Ia membawa semangat perubahan sosial ke dalam sebuah platform yang dapat digunakan masyarakat secara luas.

    Inilah salah satu karakter utama social entrepreneurship: melihat masalah bukan hanya sebagai keluhan, tetapi sebagai ruang untuk menciptakan solusi.

    Bagi seorang wirausahawan sosial, pertanyaan terpenting bukan hanya, “Berapa besar keuntungan yang dapat diperoleh?”

    Pertanyaannya juga, “Berapa banyak masalah yang dapat diselesaikan?”

    Ketika Dampak Mulai Mendapat Pengakuan

    Perjalanan tersebut kemudian memperoleh berbagai pengakuan. Timmy masuk dalam daftar Forbes 30 Under 30 Asia, sebuah pengakuan yang diberikan kepada anak-anak muda di kawasan Asia yang dinilai memiliki pencapaian dan dampak penting dalam bidangnya.

    Ia juga memperoleh pengalaman sebagai Jolkona Social Entrepreneur USA dan menjadi finalis DBS-NUS Social Venture Challenge Asia.

    Sebelumnya, ketika menempuh pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Timmy juga memperoleh penghargaan sebagai lulusan terbaik dalam kategori pengabdian masyarakat.

    Rangkaian penghargaan tersebut memang menjadi catatan penting dalam perjalanan hidupnya. Namun lebih besar daripada penghargaan adalah dampak dari gagasan yang ia bangun.

    Karena keberhasilan seorang wirausahawan sosial pada akhirnya bukan hanya diukur melalui gelar, penghargaan, atau pemberitaan.

    Keberhasilannya diukur melalui seberapa banyak orang yang terbantu.

    Teknologi dengan Wajah Kemanusiaan

    Kisah Alfatih Timur juga memperlihatkan bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral.

    Ia dapat digunakan untuk hiburan.

    Ia dapat digunakan untuk perdagangan.

    Ia dapat digunakan untuk membangun popularitas.

    Tetapi teknologi juga dapat digunakan untuk menyelamatkan kehidupan.

    Sebuah tautan yang dibagikan melalui media sosial dapat membawa biaya operasi bagi seseorang.

    Sebuah tombol donasi dapat membuka kesempatan sekolah bagi seorang anak.

    Sebuah kampanye daring dapat membangun fasilitas yang dibutuhkan sebuah komunitas.

    Teknologi menemukan maknanya ketika digunakan untuk menyelesaikan persoalan manusia.

    Itulah sisi kemanusiaan yang muncul dari perjalanan Kitabisa.

    Jangan Menunggu Sempurna untuk Memulai

    Perjalanan Timmy memberikan pelajaran lain yang tidak kalah penting. Sebuah gagasan besar tidak selalu harus dimulai dengan modal besar, teknologi sempurna, tim besar, atau kantor megah.

    Sering kali perubahan bermula dari keberanian mencoba.

    Kitabisa dimulai dari sebuah ide tentang bagaimana masyarakat dapat saling membantu melalui internet.

    Kemudian ide tersebut diuji.

    Dikembangkan.

    Diperbaiki.

    Dipercaya.

    Dan akhirnya digunakan oleh semakin banyak orang.

    Pelajaran itu relevan bagi banyak generasi muda yang memiliki gagasan tetapi takut memulai karena merasa belum siap.

    Tidak ada inovasi yang lahir dalam keadaan sempurna.

    Kesempurnaan biasanya dibentuk selama perjalanan.

    Yang dibutuhkan pertama kali adalah keberanian mengambil langkah.

    Setiap Orang Bisa Menjadi Bagian dari Perubahan

    Kisah Alfatih Timur pada akhirnya bukan hanya cerita tentang seorang pendiri startup. Ini adalah cerita tentang bagaimana satu gagasan dapat menghubungkan jutaan niat baik.

    Tentang bagaimana teknologi dapat mempertemukan orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal.

    Tentang bagaimana mereka kemudian dapat bekerja bersama untuk menyelesaikan satu persoalan.

    Perjalanan dari mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, aktivis kampus, asisten Prof. Rhenald Kasali, pegiat kewirausahaan sosial, hingga menjadi pendiri Kitabisa menunjukkan satu pesan penting: "perubahan tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang besar."

    Ia dapat dimulai dari sebuah pertanyaan.

    Dari rasa peduli.

    Dari keberanian melihat masalah.

    Lalu dari keputusan sederhana untuk melakukan sesuatu.

    Alfatih Timur memperlihatkan bahwa satu orang mungkin tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan masyarakat.

    Tetapi satu orang dapat membangun sebuah jalan agar banyak orang dapat menyelesaikannya bersama-sama.

    Dan mungkin di situlah arti sebenarnya dari sebuah perubahan sosial.

    Bukan tentang menjadi pahlawan seorang diri.

    Melainkan tentang menciptakan ruang agar sebanyak mungkin orang dapat ikut menjadi bagian dari kebaikan.

    Karena ketika teknologi bertemu kepedulian, dan ketika kepedulian bertemu keberanian untuk bertindak, sebuah donasi kecil pun dapat menjadi awal dari perubahan yang jauh lebih besar. (PERS)

    alfatih timur tokoh minangkabau tokoh indonesia
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Kolaborasi Lanud Sjamsudin Noor dan BRI...

    Artikel Berikutnya

    Moeslim Taher, Dari Sigli Membangun Jayabaya

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Rakor Optimalisasi Posyandu 6 SPM, Koramil Karanganom Dorong Sinergi Tingkatkan Kesehatan Masyarakat
    Kekerasan OPM Tewaskan Sopir Angkutan Masyarakat, TNI Perkuat Pengamanan Dan Kejar Pelaku
    Setetes air membawa harapan, Kodim 0811/Tuban hadir untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kemarau
    PHO Perbaikan Saluran Air di Lemahwungkuk, Babinsa Pastikan Pembangunan Sesuai Peruntukan
    Gotong Royong Bersama Masyarakat, Babinsa 0804/05 Poncol Jinakkan Api Kebakaran Lahan Jati di Desa Cileng

    Ikuti Kami