TOKOH - Nama Effendi Gazali pernah begitu lekat dengan sebuah panggung yang tidak biasa. Di atas panggung itu, Indonesia seolah memiliki republiknya sendiri. Ada presiden, pejabat negara, tokoh politik, lengkap dengan berbagai persoalan yang terasa sangat akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Hanya saja, semuanya disajikan dalam bentuk parodi.
Panggung itu bernama Republik Mimpi. Melalui acara tersebut, Effendi Gazali dikenal luas oleh publik sebagai sosok yang mampu mempertemukan politik, komunikasi, kritik sosial, dan humor dalam satu ruang.
Namun jauh sebelum namanya dikenal melalui televisi, Effendi telah menjalani perjalanan panjang sebagai akademisi komunikasi.
Lahir pada 5 Desember 1966, Effendi tumbuh menjadi seorang yang menaruh perhatian besar terhadap bagaimana pesan politik disampaikan, bagaimana media bekerja, dan bagaimana komunikasi mampu memengaruhi hubungan antara kekuasaan dengan masyarakat.
Ketertarikan itulah yang kemudian membawanya ke dunia akademik. Ia menempuh pendidikan sarjana di bidang komunikasi di Universitas Indonesia dan menyelesaikannya pada 1990.
Bagi Effendi, gelar sarjana bukan akhir perjalanan. Ia kembali memperdalam ilmu komunikasi di kampus yang sama hingga meraih gelar master pada 1996. Namun pandangannya tentang komunikasi tidak berhenti pada konteks Indonesia.
Effendi kemudian melanjutkan pendidikan ke Cornell University, Amerika Serikat. Di sana ia mempelajari International Development dengan konsentrasi International Communication dan memperoleh gelar master pada 2000.
Pengalaman akademik tersebut memperluas cara pandangnya. Komunikasi tidak lagi sekadar dipahami sebagai proses penyampaian pesan. Dalam kehidupan politik, komunikasi merupakan bagian dari kekuasaan itu sendiri.
Siapa yang berbicara, siapa yang memiliki akses terhadap media, pesan apa yang disampaikan, dan siapa yang menentukan bagaimana suatu peristiwa diberitakan merupakan bagian dari proses politik.
Pertanyaan-pertanyaan seperti itulah yang kemudian menjadi pusat perhatian akademiknya. Effendi melanjutkan pendidikan doktoral di Radboud University Nijmegen, Belanda.
Pada 2004 ia menyelesaikan gelar Ph.D. dalam bidang komunikasi politik melalui disertasi berjudul Communication of Politics & Politics of Communication in Indonesia: A Study on Media Performance, Responsibility, and Accountability.
Disertasi tersebut kemudian diterbitkan oleh Radboud University Press. Judul penelitian itu seperti merangkum salah satu tema besar perjalanan intelektual Effendi Gazali: komunikasi politik dan politik komunikasi.
Keduanya terdengar serupa, tetapi memiliki makna yang berbeda. Komunikasi politik berbicara tentang bagaimana pesan politik disampaikan kepada masyarakat. Sementara politik komunikasi mempertanyakan siapa yang mengendalikan komunikasi, bagaimana media menjalankan kekuasaan, serta bagaimana kepentingan bekerja di balik produksi dan penyebaran informasi.
Tema tersebut menjadi semakin penting di Indonesia setelah runtuhnya Orde Baru. Reformasi membawa kebebasan pers, tumbuhnya industri televisi, munculnya berbagai media baru, serta perubahan besar dalam hubungan antara masyarakat dengan kekuasaan.
Effendi berada di tengah perubahan tersebut sebagai peneliti sekaligus pengamat. Pada 2000, bersama Leen d’Haenens dan Chantal Verelst, ia menulis kajian berjudul In Search of Quality Measures for Indonesian Television News yang diterbitkan dalam buku Television in Contemporary Asia.
Dua tahun kemudian, artikelnya mengenai rezim Soeharto dan kejatuhannya melalui perspektif media lokal diterbitkan dalam Gazette: The International Journal for Communication Studies.
Perhatiannya juga tertuju pada penyiaran publik dan komunitas. Pada 2003, Effendi bersama sejumlah peneliti lainnya menulis Establishing a Middle Ground for Public and Community Broadcasting in Indonesia: An Action Research Project.
Penelitian tersebut memperlihatkan kepeduliannya terhadap bagaimana ruang komunikasi publik seharusnya tidak hanya dikuasai negara atau industri media besar.
Masyarakat juga membutuhkan ruang untuk berbicara. Produktivitas akademiknya memperoleh pengakuan. Pada 2003, Effendi tercatat sebagai salah satu Peneliti Terbaik Universitas Indonesia di bidang sosial dan humaniora berdasarkan publikasinya di jurnal internasional.
Setahun kemudian, ia menerima penghargaan dari International Communication Association atau ICA dalam konferensi tahunan organisasi tersebut di New Orleans, Amerika Serikat.
Penghargaan itu diberikan dalam bidang penelitian, pengajaran, dan publikasi. Di dunia akademik, Effendi semakin dikenal sebagai salah seorang ilmuwan komunikasi politik Indonesia yang aktif menghubungkan teori dengan kenyataan politik.
Namun menariknya, ia tidak hanya berbicara kepada mahasiswa atau sesama akademisi. Ia juga membawa gagasan-gagasan komunikasi politik ke ruang publik.
Televisi menjadi salah satu panggungnya. Dalam berbagai program diskusi politik, Effendi tampil sebagai analis yang sering mengurai persoalan bukan hanya dari sisi hukum atau politik, melainkan dari bagaimana suatu peristiwa dikomunikasikan kepada masyarakat.
Ia berulang kali tampil dalam program Indonesia Lawyers Club yang dipandu Karni Ilyas. Dalam forum tersebut, Effendi kerap diminta membahas dinamika komunikasi politik, perilaku elite, media, hingga berbagai kontroversi nasional.
Salah satu kemunculannya yang mendapat perhatian terjadi ketika ia membicarakan Setya Novanto dalam tayangan Indonesia Lawyers Club pada 21 November 2017. Tetapi di antara berbagai kemunculan di layar kaca, Republik Mimpi menjadi salah satu karya yang paling membekas dalam ingatan publik.
Acara tersebut menggunakan parodi sebagai cara membaca kekuasaan. Tokoh-tokoh politik ditampilkan melalui karakter yang menyerupai figur nyata. Berbagai persoalan bangsa dibicarakan melalui humor dan satire.
Di balik kelucuannya terdapat kritik. Republik Mimpi menunjukkan bahwa kritik politik tidak selalu harus disampaikan melalui pidato serius atau tulisan akademik. Humor pun dapat menjadi bahasa politik.
Satire mampu membuat masyarakat tertawa sekaligus berpikir. Dalam konteks komunikasi, hal tersebut menarik. Sebuah pesan yang berat dapat menjadi lebih mudah diterima ketika disampaikan melalui cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat.
Karier akademik Effendi terus berkembang. Ia menjadi staf pengajar program pascasarjana ilmu komunikasi Universitas Indonesia. Ia juga mengajar di Sekolah Pascasarjana Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama).
Pada 30 Juli 2019, perjalanan akademiknya mencapai salah satu titik penting ketika ia dikukuhkan sebagai profesor tetap Program Pascasarjana Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) dalam bidang ilmu komunikasi.
Dalam pengukuhan tersebut, Effendi menyampaikan orasi ilmiah berjudul Merajut Indonesia: Menuju Konstelasi Algoritma Komunikasi Politik yang Lebih Mempersatukan.
Judul itu menunjukkan bagaimana perhatian intelektualnya berkembang mengikuti zaman. Jika pada masa sebelumnya komunikasi politik banyak dibicarakan melalui televisi, surat kabar, dan lembaga penyiaran, perkembangan teknologi digital menghadirkan medan baru.
Algoritma mulai menentukan informasi apa yang muncul di hadapan seseorang. Media sosial membentuk kelompok-kelompok percakapan.
Informasi bergerak lebih cepat daripada sebelumnya. Pada saat yang sama, masyarakat dapat semakin terfragmentasi karena hanya menerima informasi yang sesuai dengan pandangan masing-masing.
Di tengah perubahan itu, Effendi mengangkat pertanyaan besar: bagaimana komunikasi politik dapat digunakan untuk merajut Indonesia, bukan justru memecahnya?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika politik bertemu dengan teknologi digital. Dalam perjalanan profesionalnya, Effendi juga pernah terlibat dalam lingkungan pemerintahan sebagai staf ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.
Namun perjalanan tersebut kemudian membawa namanya ke dalam pusaran pemberitaan ketika Komisi Pemberantasan Korupsi memanggilnya terkait penyidikan perkara ekspor benih bening lobster atau benur.
Pada awal 2021, Effendi mengundurkan diri dari posisinya sebagai dosen Universitas Indonesia. Keputusan tersebut disampaikan di tengah kekecewaannya terhadap pemberitaan yang berkembang mengenai dirinya.
Peristiwa itu menjadi salah satu fase paling berat dalam perjalanan panjang seorang akademisi yang sebelumnya banyak berbicara mengenai media, tanggung jawab komunikasi, dan akuntabilitas pemberitaan.
Ada semacam ironi di sana. Seorang ilmuwan yang selama bertahun-tahun meneliti bagaimana media membangun realitas suatu peristiwa, pada akhirnya harus berhadapan sendiri dengan kerasnya realitas pemberitaan.
Namun perjalanan intelektual seseorang tidak hanya ditentukan oleh satu episode. Jejak Effendi Gazali terbentang sejak dunia kampus, penelitian, jurnal internasional, organisasi profesi, televisi, hingga ruang debat publik.
Ia pernah menjadi Ketua Kesatuan Aksi Mahasiswa Pascasarjana Universitas Indonesia atau Wacana UI pada 1998, kemudian menjadi anggota presidium.
Ia juga pernah menjabat sebagai Deputi Ketua Umum Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia atau ISKI serta menjadi anggota International Communication Association.
Tulisan-tulisannya mengenai komunikasi politik tersebar di berbagai media nasional seperti Kompas, Tempo, dan Media Indonesia.
Effendi juga pernah dipercaya menjadi anggota Dewan Juri Anugerah Adi Warta Wartawan Indonesia pada 2006 dan 2007.
Dalam dunia akademik, sejumlah karya ilmiahnya menjadi bagian dari percakapan mengenai media dan politik Indonesia.
Pada 2004 ia menerbitkan Negotiating Public and Community Media in Post-Suharto Indonesia di Javnost—The Public, jurnal European Institute for Communication and Culture.
Pada tahun yang sama, karya doktoralnya tentang komunikasi politik dan politik komunikasi di Indonesia diterbitkan di Belanda.
Kemudian pada 2006, ia menulis Political Communication in Indonesia: Media Performance in Three Eras dalam buku mengenai komunikasi politik di Asia.
Dari karya-karya itu terlihat bahwa satu tema terus mengikuti perjalanan Effendi Gazali: hubungan antara media, masyarakat, dan kekuasaan.
Bagi sebagian masyarakat Indonesia, ia mungkin lebih mudah diingat sebagai sosok di balik Republik Mimpi.
Bagi mahasiswa dan akademisi komunikasi, ia dikenal melalui penelitian dan gagasan-gagasannya mengenai komunikasi politik.
Bagi publik televisi, ia menjadi salah satu wajah yang sering muncul dalam perdebatan nasional.
Semua peran tersebut bertemu pada satu titik yang sama: komunikasi. Sebab dalam politik, kekuasaan tidak hanya bekerja melalui keputusan dan aturan.
Kekuasaan juga bekerja melalui kata-kata.
Melalui berita.
Melalui televisi.
Melalui humor.
Melalui media sosial.
Bahkan melalui algoritma yang menentukan apa yang kita lihat setiap hari. Dan sepanjang perjalanan intelektualnya, Effendi Gazali berusaha membaca ruang tersebut—ruang tempat komunikasi dan politik saling memengaruhi, saling membentuk, dan terkadang saling memperebutkan kendali.
Mungkin itu sebabnya Republik Mimpi menjadi simbol yang tepat untuk mengingat salah satu sisi perjalanan Effendi Gazali. Sebuah panggung tempat politik dibuat lucu agar dapat dikritik. Sebuah ruang tempat masyarakat tertawa, tetapi pada saat bersamaan diajak mempertanyakan kekuasaan.
Karena terkadang, untuk memahami sebuah republik, orang tidak hanya membutuhkan teori politik. Kadang-kadang, republik juga membutuhkan cermin. Dan sesekali, cermin itu hadir dalam bentuk satire. (PERS)

Updates.