TOKOH - Ada orang yang menjalani hidup dengan mengikuti jalur yang sudah tersedia. Ada pula yang berani meninggalkan kenyamanan untuk menemukan jalan pengabdian yang lebih besar. Ir. Drs. Djohan Yoga, M.Sc., MoT., Ph.D. termasuk dalam kelompok kedua.
Lahir di Bukittinggi pada 8 Oktober 1964, Djohan Yoga tumbuh menjadi sosok yang dikenal luas sebagai motivator, pembicara publik, konsultan sumber daya manusia, sekaligus praktisi pendidikan yang banyak berkarya di kawasan Asia-Pasifik. Namanya juga identik dengan Mind Map®, sebuah metode pemetaan pikiran yang kemudian menjadi salah satu bidang yang paling serius ia tekuni.
Namun perjalanan menuju dunia pendidikan dan pengembangan manusia tidak ditempuhnya secara langsung. Ada proses panjang yang membawanya dari ruang kuliah teknik, dunia industri multinasional, hingga akhirnya berdiri di hadapan para siswa, mahasiswa, guru, dosen, pegawai pemerintahan, dan profesional untuk berbicara tentang cara manusia belajar, berpikir, mengingat, berkreasi, dan berkembang.
Dari Bukittinggi Menuju Dunia Teknik
Perjalanan intelektual Djohan Yoga menunjukkan bahwa rasa ingin tahu tidak selalu harus dibatasi oleh satu bidang ilmu.
Ia menempuh pendidikan Teknik Kimia di Institut Teknologi Bandung pada 1985 hingga 1990. Kesungguhannya dalam belajar membawanya meraih predikat sebagai lulusan terbaik. Namun ia tidak berhenti pada satu disiplin ilmu. Djohan juga menempuh pendidikan statistika di Universitas Terbuka.
Perpaduan antara teknik dan statistika memberikan fondasi kuat bagi cara berpikirnya. Teknik mengajarkannya tentang sistem, struktur, proses, dan penyelesaian masalah. Statistika melatihnya membaca pola, memahami data, dan mengambil keputusan secara rasional.
Kelak, dua tradisi berpikir tersebut menjadi bekal penting ketika ia mendalami bidang kreativitas, inovasi, pendidikan, serta pengembangan potensi manusia.
Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, Djohan memasuki dunia profesional. Ia bergabung dengan sebuah perusahaan minyak multinasional dan membangun karier di lingkungan korporasi.
Selama sekitar delapan belas tahun, ia menjalani kehidupan profesional yang relatif mapan. Dunia industri memberinya pengalaman tentang kepemimpinan, teknologi, manajemen, organisasi, dan dinamika sumber daya manusia dalam sebuah perusahaan besar.
Bagi banyak orang, perjalanan seperti itu mungkin sudah cukup untuk menjadi sebuah pencapaian.
Tetapi bagi Djohan Yoga, hidup tidak hanya berbicara tentang seberapa tinggi posisi yang dapat dicapai. Ada pertanyaan yang lebih besar: untuk apa pengalaman dan pengetahuan itu digunakan?
Pertanyaan itulah yang perlahan membawa hidupnya menuju arah berbeda.
Berani Meninggalkan Zona Nyaman
Setelah sekitar delapan belas tahun bekerja di dunia korporasi, Djohan Yoga mengambil keputusan yang tidak ringan. Ia memilih mengundurkan diri.
Ia meninggalkan kenyamanan dunia perusahaan untuk memasuki bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.
Keputusan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan hidupnya.
Berpindah dari perusahaan multinasional menuju dunia pendidikan bukan sekadar pergantian pekerjaan. Itu adalah perubahan arah hidup. Ia memilih menggunakan pengalaman, ilmu, dan kemampuannya untuk membantu orang lain menemukan potensi terbaik dalam diri mereka.
Sejak saat itu, ruang pengabdiannya semakin luas.
Djohan mulai terlibat dalam seminar, workshop, pelatihan, serta pendampingan di sekolah, perguruan tinggi, lembaga pemerintahan, dan perusahaan. Di berbagai forum itulah ia berbagi pemikiran mengenai pendidikan, kreativitas, inovasi, cara belajar, daya ingat, mindset, serta pengembangan manusia.
Perjalanan ini memberikan pelajaran penting bahwa keberhasilan tidak selalu berarti bertahan pada sesuatu yang sudah nyaman.
Terkadang, keberhasilan justru dimulai ketika seseorang berani meninggalkan kenyamanan demi sesuatu yang diyakininya lebih bermakna.
Belajar Hingga Melampaui Batas
Semangat belajar Djohan Yoga tidak berhenti ketika karier profesionalnya berkembang. Ia melanjutkan pendidikan dan meraih Master of Science in Management of Technology (MOT) dari National University of Singapore atau NUS.
Di kemudian hari, ia juga menyandang gelar Ph.D. dalam bidang kreativitas dan inovasi terapan. Pendidikan baginya bukan sekadar jalan untuk menambah gelar akademik. Pendidikan adalah proses memperluas cara pandang.
Karena itulah Djohan terus mencari berbagai metode yang dapat membantu manusia menggunakan potensi pikirannya secara lebih optimal.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya bertemu dengan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam dunia pengembangan kemampuan berpikir, Anthony Peter Buzan, atau Tony Buzan.
Tony Buzan dikenal sebagai pengembang dan tokoh yang memopulerkan metode Mind Map® ke seluruh dunia.
Bagi Djohan Yoga, kesempatan belajar langsung kepada Tony Buzan bukan sekadar pengalaman profesional. Pertemuan tersebut menjadi salah satu tonggak penting yang mengubah arah pengabdiannya dalam dunia pendidikan.
Belajar Langsung dari Tony Buzan
Djohan Yoga mendalami metode pemetaan pikiran secara langsung kepada Tony Buzan. Kesungguhannya membawa Djohan memperoleh berbagai sertifikasi keahlian. Ia menjadi orang Indonesia pertama yang memperoleh sertifikasi dalam tiga bidang sekaligus, yakni Tony Buzan’s Power Learning Techniques, Tony Buzan’s Advanced Mind Map®, dan Tony Buzan’s iMindMap®.
Ia juga memperluas kompetensinya dengan memperoleh sertifikasi Edward de Bono’s Effective Thinking Methods serta NLP Practitioner for Education.
Berbagai sertifikasi tersebut tidak berhenti sebagai penghargaan personal. Djohan membawa ilmu yang diperolehnya kembali ke ruang-ruang pendidikan.
Ia kemudian dipercaya menjadi instruktur internasional Mind Map® untuk wilayah Asia dengan jaringan yang menjangkau sembilan negara: Hong Kong, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Indonesia, India, Korea, dan Taiwan.
Ia juga dikenal sebagai perwakilan ThinkBuzan di Asia. Di Indonesia, Djohan menjadi direktur sekaligus master trainer Indomindmap®, lembaga yang memegang lisensi Mind Map® dari Tony Buzan khusus dalam bidang pendidikan.
Dari sinilah pengabdiannya berkembang semakin luas.
Mengajarkan Manusia Mengenali Potensi Otaknya
Djohan Yoga memiliki keyakinan bahwa setiap manusia pada dasarnya memiliki potensi berpikir yang sangat besar. Masalahnya, banyak orang belum menggunakan potensi tersebut secara optimal.
Menurutnya, secara alamiah otak manusia bekerja dengan pola radian. Ketika seseorang mendapatkan sebuah gagasan, otak dapat menghubungkannya dengan berbagai konsep, pengalaman, gambar, kata, warna, maupun ide lain secara bersamaan.
Namun dalam banyak sistem pendidikan, manusia justru lebih sering dilatih berpikir secara linier.
Satu langkah.
Kemudian langkah berikutnya.
Setelah itu baru berpindah kepada gagasan lain.
Cara seperti ini memang diperlukan dalam kondisi tertentu, tetapi menurut Djohan, jika digunakan secara berlebihan, kemampuan alami otak untuk membangun hubungan antargagasan dapat menjadi kurang optimal.
Karena itu ia memperkenalkan pendekatan berpikir radian melalui teknik pemetaan pikiran.
Mind Map® memungkinkan sebuah gagasan utama ditempatkan sebagai pusat, kemudian dikembangkan melalui berbagai cabang yang saling berhubungan.
Dengan cara tersebut, seseorang tidak hanya mencatat informasi. Ia belajar melihat hubungan antara informasi.
Dan dari hubungan itulah kreativitas sering kali lahir.
Dari Menghafal Menjadi Memahami
Dalam pandangan Djohan Yoga, pendidikan seharusnya tidak semata-mata mengajarkan peserta didik untuk mengingat informasi. Pendidikan harus membantu seseorang memahami bagaimana dirinya berpikir.
Itulah sebabnya ia banyak memfokuskan aktivitasnya pada bidang pemetaan pikiran, membaca cepat, super memory, karakter, mindset, kreativitas, serta inovasi.
Semua bidang tersebut memiliki satu benang merah: membantu manusia mengenali dan mengoptimalkan kemampuan dirinya.
Ketika seseorang mengetahui bagaimana cara belajar yang sesuai dengan kerja otaknya, proses pendidikan dapat berubah. Belajar tidak lagi sekadar kewajiban. Belajar dapat menjadi petualangan menemukan sesuatu yang baru.
Dari Fixed Mindset Menuju Growth Mindset
Salah satu gagasan yang sering disuarakan Djohan Yoga adalah pentingnya perubahan pola pikir. Ia menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang terlalu mengagungkan prestasi sebagai tujuan akhir.
Ketika seseorang merasa dirinya sudah pintar, sudah berhasil, atau sudah memiliki kedudukan tertentu, ada risiko ia berhenti belajar. Inilah yang berkaitan dengan pola pikir tetap atau fixed mindset.
Seseorang dengan pola pikir seperti ini cenderung melihat kemampuan sebagai sesuatu yang sudah tetap. Kesalahan dapat dianggap sebagai kegagalan, kritik dipandang sebagai ancaman, dan tantangan sering dihindari karena takut kehilangan citra keberhasilan.
Djohan mendorong masyarakat, terutama dunia pendidikan, untuk mengembangkan growth mindset.
Dalam pola pikir bertumbuh, manusia menyadari bahwa kemampuan dapat terus dikembangkan.
Kesalahan bukan akhir perjalanan.
Kesalahan adalah bahan pembelajaran.
Kritik bukan penghinaan.
Kritik dapat menjadi cermin untuk memperbaiki diri.
Dan keberhasilan bukan alasan untuk berhenti.
Keberhasilan justru menjadi pintu menuju tantangan berikutnya.
Bagi Djohan, salah satu ciri penting manusia yang terus bertumbuh adalah kerendahan hati untuk tetap belajar.
Semakin banyak seseorang mengetahui sesuatu, seharusnya semakin besar pula kesadarannya bahwa masih banyak hal yang belum diketahui.
Kreativitas Bukan Milik Orang Tertentu
Djohan Yoga juga memberikan perhatian besar terhadap persoalan kreativitas dan inovasi, terutama di perguruan tinggi.
Menurutnya, kreativitas bukan kemampuan eksklusif yang hanya dimiliki seniman, desainer, atau penemu.
Kreativitas adalah bagian dari kemampuan manusia dalam menyelesaikan persoalan.
Di perguruan tinggi, ia mendorong pengembangan inovasi melalui empat pendekatan: duplikasi, ekstensi, synthesis, dan invention.
Duplikasi merupakan proses mempelajari dan menerapkan sesuatu yang telah ada.
Ekstensi berarti mengembangkan sesuatu menjadi lebih baik atau lebih luas.
Synthesis menggabungkan berbagai gagasan sehingga melahirkan sesuatu yang berbeda.
Sedangkan invention merupakan proses menciptakan sesuatu yang benar-benar baru.
Tahapan tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dengan penemuan besar.
Seseorang dapat memulainya dengan mengamati.
Kemudian belajar.
Mengembangkan.
Menggabungkan.
Dan akhirnya menciptakan.
Pesannya sederhana: jangan takut memulai dari sesuatu yang kecil.
Karena banyak inovasi besar lahir dari keberanian melakukan perbaikan kecil secara konsisten.
Pendidikan di Tengah Revolusi Industri 4.0
Memasuki abad ke-21, perubahan terjadi semakin cepat. Revolusi Industri 4.0 membawa transformasi besar pada teknologi, ekonomi, sosial, budaya, hingga pendidikan.
Di tengah perubahan tersebut, Djohan Yoga mengingatkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang mampu menghafal informasi.
Informasi kini tersedia dalam jumlah luar biasa besar dan dapat diperoleh dalam hitungan detik. Yang menjadi semakin penting adalah kemampuan untuk memahami informasi, menghubungkannya, mempertanyakannya, menciptakan gagasan baru, dan mengubah gagasan tersebut menjadi solusi. Karena itu kreativitas menjadi salah satu kemampuan penting abad ke-21.
Djohan berpandangan kreativitas membutuhkan setidaknya perpaduan antara kemampuan berpikir kreatif, keahlian, dan motivasi.
Pengetahuan memberikan bahan.
Kemampuan berpikir memberikan arah.
Sedangkan motivasi memberikan energi untuk terus bergerak.
Ketiganya harus berjalan bersama.
Mengubah Cara Belajar, Mengubah Masa Depan
Perjalanan hidup Djohan Yoga menggambarkan sebuah transformasi.
Ia pernah berada di dunia teknik.
Ia pernah menghabiskan hampir dua dekade di perusahaan multinasional.
Ia kemudian meninggalkan kenyamanan tersebut untuk memasuki dunia pendidikan.
Ia belajar kepada berbagai tokoh pemikiran dunia.
Kemudian membawa ilmu itu kembali kepada masyarakat.
Dari sekolah hingga universitas.
Dari lembaga pemerintahan hingga perusahaan.
Dari Indonesia hingga berbagai negara di Asia.
Semua perjalanan tersebut seakan memiliki satu tujuan yang sama: membantu manusia memahami bahwa kapasitas dirinya jauh lebih besar daripada yang sering dibayangkan.
Mind Map®, membaca cepat, daya ingat, kreativitas, inovasi, dan mindset hanyalah alat.
Pada akhirnya, tujuan terbesarnya adalah membantu manusia belajar bagaimana belajar dan berpikir bagaimana berpikir.
Belajar Tidak Pernah Mengenal Kata Selesai
Kisah Djohan Yoga menyampaikan sebuah pesan yang relevan bagi siapa pun.
Seorang lulusan terbaik pun masih harus belajar.
Seorang profesional dengan pengalaman puluhan tahun pun masih dapat memulai perjalanan baru.
Seorang ahli pun tetap membutuhkan guru.
Dan seseorang yang telah mencapai banyak hal tetap harus memiliki keberanian mengatakan, “Saya masih ingin belajar.”
Itulah kekuatan growth mindset yang selama ini ia suarakan.
Hidup bukan kompetisi untuk membuktikan siapa yang paling pintar.
Hidup adalah perjalanan untuk menjadi versi diri yang lebih baik dari hari ke hari.
Djohan Yoga menunjukkan bahwa perubahan terbesar sering kali bermula dari perubahan cara berpikir.
Ketika cara berpikir berubah, cara melihat persoalan ikut berubah.
Ketika cara melihat persoalan berubah, cara mengambil keputusan pun berubah.
Dan ketika keputusan berubah, arah kehidupan dapat ikut berubah.
Dari Bukittinggi menuju ITB, dari dunia perusahaan minyak menuju ruang-ruang pendidikan, dari belajar bersama Tony Buzan hingga menjadi instruktur internasional di berbagai negara Asia, perjalanan Djohan Yoga menjadi pengingat bahwa pendidikan sejati tidak berhenti ketika seseorang memperoleh ijazah.
Pendidikan sejati berlangsung sepanjang kehidupan.
Sebab manusia yang terus belajar akan terus bertumbuh.
Manusia yang terus bertumbuh akan terus menemukan kemungkinan.
Dan selama seseorang masih memiliki keberanian untuk belajar, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik daripada dirinya yang kemarin. (PERS)

Updates.