TOKOH - Prof. Dr. Azyumardi Azra, CBE, merupakan salah seorang cendekiawan Muslim paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia modern. Ia dikenal sebagai sejarawan, akademisi, wartawan, pemikir pendidikan, dan tokoh pers yang sepanjang hidupnya berusaha mempertemukan nilai-nilai Islam dengan modernitas, demokrasi, toleransi, dan keterbukaan intelektual.
Lahir pada 4 Maret 1955, Azyumardi menjalani perjalanan panjang dari lingkungan keluarga sederhana hingga menjadi akademisi yang dihormati di berbagai negara. Ia pernah memimpin Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, membangun jurnal kajian Islam bertaraf internasional, menulis banyak buku, serta mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Pers.
Kehidupannya memperlihatkan perjalanan seorang anak yang pada awalnya tidak bercita-cita menjadi ahli studi Islam, tetapi kemudian justru dikenal sebagai salah satu pemikir Islam terkemuka di Asia Tenggara.
Jalan Hidup yang Dipilihkan Sang Ayah
Azyumardi Azra lahir dari pasangan Azikar dan Ramlah. Pada masa mudanya, ia sebenarnya tidak memiliki obsesi untuk mendalami pendidikan Islam. Keinginannya lebih banyak tertuju pada pendidikan umum dan ia sempat berniat melanjutkan studi ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
Namun, sang ayah memiliki pandangan berbeda. Atas dorongan keluarga, terutama ayahnya, Azyumardi akhirnya memasuki Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Keputusan tersebut awalnya mungkin terasa sebagai jalan yang dipilihkan orang lain. Akan tetapi, justru dari kampus itulah arah hidup Azyumardi terbentuk.
Ia menempuh pendidikan di Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Lingkungan kampus Ciputat pada masa itu tidak hanya menjadi ruang belajar agama, tetapi juga tempat tumbuhnya berbagai diskusi mengenai politik, kebudayaan, pendidikan, dan masa depan umat Islam Indonesia.
Azyumardi tidak menjadi mahasiswa yang hanya datang ke ruang kuliah, mencatat pelajaran, kemudian pulang. Ia aktif dalam kegiatan kemahasiswaan dan dikenal memiliki kemampuan berpikir serta berbicara yang kuat.
Aktivismenya membawanya bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam. Pada era 1980-an, ia dipercaya menjadi Ketua Umum HMI Cabang Ciputat.
Melalui organisasi tersebut, Azyumardi belajar memimpin, menyampaikan gagasan, mengelola perbedaan, dan membaca berbagai perubahan sosial yang sedang berlangsung di Indonesia.
Di tengah aktivitas kampus dan organisasi, ketertarikannya terhadap dunia jurnalistik juga semakin berkembang. Sejak mahasiswa, Azyumardi dikenal memiliki kemampuan menulis dan kepekaan terhadap persoalan sosial.
Baginya, tulisan bukan hanya susunan kata-kata. Tulisan merupakan sarana untuk mempertemukan gagasan dengan masyarakat.
Belajar Jurnalistik dari Panji Masyarakat
Pada tahun 1979, Azyumardi bergabung dengan majalah Panji Masyarakat. Media tersebut memiliki tempat penting dalam sejarah pers dan pemikiran Islam Indonesia.
Selama bekerja sebagai wartawan hingga tahun 1985, Azyumardi terbiasa mengamati peristiwa, melakukan wawancara, memeriksa fakta, serta menyampaikan persoalan yang rumit dalam bahasa yang dapat dipahami masyarakat.
Dunia jurnalistik membentuk cara berpikirnya. Ia belajar bahwa seorang penulis harus memiliki ketelitian, keberanian, dan tanggung jawab terhadap setiap informasi yang disampaikan.
Pengalaman di ruang redaksi juga melatihnya untuk mengikuti perkembangan masyarakat secara langsung. Ia tidak hanya membaca persoalan Islam dari kitab atau ruang kuliah, tetapi juga dari perubahan politik, kehidupan sosial, dan perdebatan yang muncul di tengah masyarakat.
Kebiasaan menulis tersebut terus dibawanya ketika memasuki dunia akademik. Kelak, Azyumardi dikenal sebagai akademisi yang produktif dan mampu menyampaikan gagasan ilmiah dengan bahasa yang relatif mudah diterima oleh pembaca umum.
Jurnalisme tidak pernah benar-benar meninggalkan kehidupannya. Bahkan ketika telah menjadi profesor dan pemimpin perguruan tinggi, ia tetap aktif menulis artikel, esai, dan pandangan mengenai berbagai persoalan bangsa.
Puluhan tahun kemudian, perjalanan panjang itu membawanya kembali ke dunia pers dalam kedudukan yang berbeda. Bukan lagi sebagai wartawan muda, melainkan sebagai Ketua Dewan Pers.
Menembus Universitas Columbia
Kemampuan akademik Azyumardi membuka jalan menuju pendidikan internasional. Melalui beasiswa Fulbright, ia memperoleh kesempatan belajar di Universitas Columbia, New York, Amerika Serikat.
Di kampus tersebut, ia mendalami Bahasa dan Kebudayaan Timur Tengah. Pada tahun 1988, ia meraih gelar Master of Arts.
Pendidikan itu belum memuaskan rasa ingin tahunya. Azyumardi kemudian memperoleh Columbia President Fellowship dan melanjutkan studi di Departemen Sejarah.
Perpindahan bidang tersebut menjadi penting dalam pembentukan dirinya sebagai sejarawan. Ia mulai melihat perkembangan Islam bukan hanya sebagai persoalan ajaran, tetapi juga sebagai perjalanan manusia, jaringan pengetahuan, perpindahan gagasan, dan perubahan masyarakat.
Pada tahun 1989, ia kembali memperoleh gelar Master of Arts, kali ini dalam bidang sejarah. Ia kemudian melanjutkan pendidikan hingga memperoleh gelar Master of Philosophy dan Doctor of Philosophy dari Universitas Columbia.
Disertasinya berjudul The Transmission of Islamic Reformism to Indonesia: Network of Middle Eastern and Malay-Indonesian ‘Ulama in the Seventeenth and Eighteenth Centuries.
Penelitian tersebut membahas jaringan para ulama Timur Tengah dan Melayu-Indonesia pada abad ke-17 dan ke-18. Melalui penelitian itu, Azyumardi menunjukkan bahwa perkembangan Islam di Nusantara tidak berlangsung dalam ruang yang terisolasi.
Para ulama dari kepulauan Melayu-Indonesia memiliki hubungan intelektual dengan pusat-pusat keilmuan Islam di Timur Tengah. Mereka belajar, bertukar pemikiran, membangun jaringan, lalu membawa gagasan pembaruan ke daerah masing-masing.
Penelitian tersebut kelak menjadi salah satu karya terpenting dalam kajian sejarah Islam Asia Tenggara. Disertasi yang telah direvisi kemudian diterbitkan pada tahun 2004 oleh sejumlah penerbit di Canberra, Honolulu, dan Leiden.
Karya itu memperkuat kedudukan Azyumardi sebagai ahli sejarah sosial dan intelektual Islam. Ia tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga di lingkungan akademik internasional.
Membangun Studia Islamika
Setelah menyelesaikan pendidikannya di Amerika Serikat, Azyumardi kembali ke Jakarta. Ia membawa pengalaman akademik internasional dan keinginan untuk mengembangkan kajian Islam Indonesia agar dikenal lebih luas.
Pada tahun 1993, ia mendirikan jurnal Studia Islamika dan menjadi pemimpin redaksinya.
Jurnal tersebut dirancang sebagai ruang akademik untuk membahas Islam di Indonesia dan Asia Tenggara secara serius. Melalui Studia Islamika, para peneliti memperoleh tempat untuk mempublikasikan hasil penelitian mengenai sejarah, politik, budaya, pendidikan, dan kehidupan sosial umat Islam.
Azyumardi memahami bahwa perkembangan ilmu pengetahuan membutuhkan tradisi menulis dan penerbitan yang kuat. Sebuah kampus tidak cukup hanya memiliki ruang kuliah dan dosen. Perguruan tinggi juga harus memiliki jurnal yang memungkinkan gagasan diuji, diperdebatkan, dan disebarluaskan.
Kehadiran Studia Islamika ikut memperkenalkan kajian Islam Indonesia kepada masyarakat akademik internasional. Islam Indonesia mulai semakin banyak dipelajari bukan sebagai bagian pinggiran dari dunia Islam, melainkan sebagai tradisi intelektual yang memiliki sejarah dan karakter tersendiri.
Pada periode 1994 hingga 1995, Azyumardi mengembangkan pengalamannya di Inggris. Ia melakukan kunjungan akademik pada bidang kajian Asia Tenggara di Oxford Centre for Islamic Studies, Universitas Oxford.
Pada saat yang sama, ia mengajar sebagai dosen di St. Antony’s College. Pengalaman tersebut memperluas jaringan akademiknya sekaligus memberinya kesempatan memperkenalkan sejarah dan perkembangan Islam Indonesia kepada para mahasiswa dan peneliti dari berbagai negara.
Akademisi Indonesia di Panggung Internasional
Karier Azyumardi terus berkembang. Pada tahun 1997, ia menjadi profesor tamu di Universitas Filipina dan Universitas Malaya, Malaysia.
Ia juga menjadi anggota Selection Committee of Southeast Asian Regional Exchange Program yang diselenggarakan oleh Toyota Foundation dan Japan Center di Tokyo pada periode 1997 hingga 1999.
Kepercayaan tersebut menunjukkan bahwa keahliannya tidak hanya diakui di Indonesia. Ia mulai dipandang sebagai salah seorang akademisi penting dalam kajian Asia Tenggara.
Pada periode 2004 hingga 2009, Azyumardi menjadi orang Asia Tenggara pertama yang diangkat sebagai Professor Fellow di Universitas Melbourne, Australia.
Dalam kurun waktu yang sama, ia juga dipercaya menjadi anggota Dewan Penyantun Universitas Islam Internasional Islamabad, Pakistan.
Melalui berbagai forum akademik, Azyumardi berbicara mengenai sejarah Islam, pendidikan, demokrasi, masyarakat sipil, pluralitas, dan hubungan antara agama dengan negara.
Ia membawa pengalaman Indonesia ke ruang internasional. Menurut pandangannya, Islam Indonesia memiliki modal sejarah yang kuat untuk berkembang secara moderat, terbuka, demokratis, dan toleran.
Memimpin IAIN Syarif Hidayatullah
Pada tahun 1998, Indonesia sedang memasuki masa perubahan besar. Pemerintahan Orde Baru berakhir dan masyarakat mulai membangun kehidupan demokrasi yang baru.
Pada masa perubahan tersebut, Azyumardi dipercaya memimpin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Awalnya ia menjabat sebagai Pembantu Rektor I, kemudian diangkat menjadi rektor.
Sebagai pemimpin perguruan tinggi, Azyumardi tidak ingin IAIN hanya menjadi tempat pendidikan agama dalam pengertian yang sempit. Ia menginginkan kampus tersebut berkembang menjadi universitas yang mempertemukan ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu sosial, sains, teknologi, ekonomi, kedokteran, dan bidang pengetahuan lainnya.
Gagasan itu melanjutkan cita-cita rektor terdahulu, Prof. Dr. Harun Nasution. Harun Nasution menginginkan lulusan IAIN menjadi pribadi yang berpikiran rasional, modern, demokratis, dan toleran.
Azyumardi menerjemahkan gagasan tersebut ke dalam perubahan kelembagaan yang lebih besar.
Transformasi itu bukan pekerjaan sederhana. Perubahan institut menjadi universitas membutuhkan persiapan akademik, pembentukan fakultas baru, pengembangan sumber daya manusia, penataan administrasi, serta dukungan pemerintah.
Azyumardi terus mendorong agar IAIN Syarif Hidayatullah tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan.
Perjuangan tersebut mencapai tonggak penting pada 20 Mei 2002. Melalui Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 031 Tahun 2002, IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta resmi berubah status menjadi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Perubahan tersebut menempatkan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai salah satu pelopor perguruan tinggi keagamaan Islam negeri dengan status universitas.
Bagi Azyumardi, perubahan nama bukan tujuan akhir. Transformasi tersebut merupakan langkah untuk menghilangkan pemisahan yang terlalu kaku antara ilmu agama dan ilmu umum.
Ia berpandangan bahwa seorang Muslim dapat mempelajari agama sekaligus sains, sejarah, ekonomi, politik, teknologi, dan kedokteran. Semua bidang ilmu tersebut dapat digunakan untuk memahami kehidupan serta memberikan manfaat kepada masyarakat.
Selama memimpin dari tahun 1998 hingga akhir 2006, Azyumardi melakukan berbagai pembaruan di lingkungan kampus. Ia memperkuat kegiatan penelitian, memperluas jaringan internasional, dan mendorong perubahan budaya akademik.
Pada tahun 2006, masa kepemimpinannya sebagai rektor berakhir. Dalam rapat senat yang dipimpinnya sendiri, Prof. Dr. Komaruddin Hidayat terpilih sebagai penggantinya setelah mengungguli dua kandidat lainnya.
Azyumardi menerima pergantian kepemimpinan tersebut sebagai bagian dari tradisi akademik. Sejak Desember 2006, ia melanjutkan pengabdian sebagai Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Profesor Sejarah Islam yang Produktif
Selain memimpin perguruan tinggi, Azyumardi menjalani karier panjang sebagai dosen. Ia pernah mengajar di Fakultas Adab dan Fakultas Tarbiyah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Ia kemudian dikukuhkan sebagai Guru Besar Sejarah. Bidang kajiannya meliputi sejarah sosial, sejarah intelektual Islam, jaringan ulama, pendidikan Islam, politik, masyarakat sipil, dan perkembangan Islam Asia Tenggara.
Salah satu kekuatan Azyumardi adalah produktivitasnya dalam menulis. Ia tidak membatasi tulisan hanya untuk pembaca akademik, tetapi juga menulis bagi masyarakat umum.
Pada tahun 2002, ia memperoleh penghargaan sebagai penulis paling produktif dari Penerbit Mizan di Bandung.
Karya yang paling dikenal adalah Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Buku tersebut dikembangkan dari penelitian doktoralnya mengenai hubungan intelektual ulama Nusantara dengan Timur Tengah.
Melalui karya itu, Azyumardi memperlihatkan bahwa pembaruan Islam di Nusantara tumbuh melalui jaringan yang luas. Para ulama tidak hanya berpindah secara fisik dari satu wilayah ke wilayah lain, tetapi juga membawa kitab, gagasan, metode pendidikan, dan semangat pembaruan.
Ia juga menulis Renaisans Islam di Asia Tenggara. Buku tersebut memperoleh penghargaan nasional sebagai buku terbaik dalam kategori ilmu sosial dan humaniora pada tahun 1999.
Dalam bidang pendidikan, Azyumardi menghasilkan sejumlah karya seperti Pendidikan Islam: Tradisi dan Modernisasi Menuju Milenium Baru, Esei-Esei Pendidikan Islam dan Cendekiawan Muslim, Paradigma Baru Pendidikan Nasional: Rekonstruksi dan Demokratisasi, serta Membebaskan Pendidikan Islam.
Melalui karya-karya tersebut, ia mendorong lembaga pendidikan Islam agar tidak hanya menjaga tradisi, tetapi juga berani melakukan pembaruan.
Menurutnya, pendidikan Islam harus membentuk manusia yang memiliki pengetahuan, keterbukaan, kemampuan berpikir kritis, dan tanggung jawab sosial.
Azyumardi juga menulis mengenai hubungan agama, demokrasi, dan negara. Beberapa bukunya antara lain Pergolakan Politik Islam, Islam Reformis, Menuju Masyarakat Madani, Islam Substantif, dan Reposisi Hubungan Agama dan Negara.
Tema moderasi menjadi bagian penting dalam pemikirannya. Ia melihat bahwa umat Islam Indonesia memiliki tradisi yang dapat mendukung kehidupan damai dan demokratis.
Gagasan itu dituangkannya dalam karya seperti Relevansi Islam Wasathiyah: Dari Melindungi Kampus hingga Mengaktualisasi Kesalehan dan Moderasi Islam di Indonesia: Dari Ajaran, Ibadah, hingga Perilaku.
Azyumardi tidak memandang moderasi sebagai sikap lemah atau tidak memiliki pendirian. Moderasi baginya merupakan kemampuan menjaga keyakinan sambil menghormati keberagaman serta menolak kekerasan dan ekstremisme.
Karya-karyanya yang lain membahas historiografi Islam, pendidikan surau, konflik antarperadaban, pluralitas, humanisme, globalisasi, dan perkembangan demokrasi Indonesia.
Ia menulis bukan sekadar untuk menyimpan pengetahuan dalam buku. Tulisan-tulisannya merupakan bagian dari upaya membentuk masyarakat yang lebih rasional, terbuka, dan beradab.
Kehidupan Keluarga
Di balik kesibukannya sebagai akademisi dan tokoh publik, Azyumardi menjalani kehidupan keluarga bersama istrinya, Ipah Farihah.
Pasangan tersebut dikaruniai empat orang anak, yakni Raushanfikri Usada, Firman El-Amny Azra, Muhammad Subhan Azra, dan Emily Sakina Azra.
Keluarga menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Di tengah jadwal mengajar, menulis, menghadiri konferensi, dan memimpin universitas, Azyumardi tetap menjalani perannya sebagai suami dan ayah.
Nama besar yang diperolehnya tidak dibangun dalam waktu singkat. Di belakang berbagai pencapaian akademik tersebut terdapat perjalanan panjang, kedisiplinan membaca, kebiasaan menulis, serta dukungan keluarga.
Pengakuan dari Berbagai Negara
Kontribusi Azyumardi memperoleh penghargaan dari dalam dan luar negeri.
Pada 9 Agustus 2005, Pemerintah Republik Indonesia menganugerahkan kepadanya Bintang Mahaputera Utama.
Penghargaan tersebut diberikan atas jasa dan pengabdiannya terhadap bangsa, terutama dalam bidang pendidikan, pemikiran Islam, serta pengembangan kehidupan intelektual.
Pada tahun 2010, Kerajaan Inggris menganugerahkan gelar Commander of the Most Excellent Order of the British Empire atau CBE kepada Azyumardi.
Gelar tersebut menjadi bentuk pengakuan atas kontribusinya dalam memperkuat hubungan antarbudaya, pendidikan, dan dialog antara masyarakat Muslim dengan dunia internasional.
Pada tahun 2017, Pemerintah Jepang menganugerahkan kepadanya Order of the Rising Sun: Gold and Silver Star.
Pada tahun yang sama, ia juga menerima penghargaan Sarwono Prawirohardjo Memorial Lecture dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.
Berbagai penghargaan itu tidak membuat Azyumardi berhenti menulis atau menarik diri dari kehidupan publik. Ia tetap aktif menyampaikan pandangan mengenai pendidikan, demokrasi, toleransi, radikalisme, dan perkembangan masyarakat Muslim.
Kembali kepada Dunia Pers
Meskipun dikenal luas sebagai profesor dan mantan rektor, kecintaan Azyumardi terhadap jurnalistik tidak pernah hilang.
Pengalaman sebagai wartawan Panji Masyarakat telah membentuk sebagian penting dari dirinya. Ia memahami bahwa pers memiliki kedudukan strategis dalam menjaga demokrasi, mengawasi kekuasaan, memberikan pendidikan kepada masyarakat, dan mempertahankan ruang publik yang sehat.
Pada tahun 2022, Azyumardi terpilih menjadi anggota Dewan Pers dari unsur tokoh masyarakat untuk periode 2022–2025.
Ia kemudian dipercaya menjadi Ketua Dewan Pers.
Amanah tersebut seperti membawa perjalanan hidupnya kembali ke titik awal. Puluhan tahun sebelumnya, ia memulai karier dengan menulis berita dan artikel. Setelah menjadi wartawan, dosen, profesor, rektor, serta cendekiawan internasional, ia kembali ke dunia pers sebagai pemimpin lembaga yang menjaga kemerdekaan dan profesionalisme jurnalistik.
Namun, masa pengabdiannya sebagai Ketua Dewan Pers berlangsung singkat.
Perjalanan Terakhir ke Malaysia
Pada September 2022, Azyumardi berangkat ke Malaysia. Perjalanan tersebut dilakukan untuk memenuhi undangan sebagai narasumber dalam sebuah kegiatan.
Seperti perjalanan akademiknya selama puluhan tahun, ia membawa makalah dan gagasan yang hendak disampaikan kepada peserta forum.
Namun, setelah tiba di Malaysia, kondisi kesehatannya menurun. Ia mengalami serangan jantung dan harus mendapatkan perawatan.
Pada Minggu, 18 September 2022, Azyumardi Azra meninggal dunia di Malaysia dalam usia 67 tahun.
Makalah yang seharusnya dipresentasikan dalam acara tersebut kemudian diterbitkan secara lengkap oleh harian Kompas. Tulisan itu menjadi salah satu pesan intelektual terakhir yang ditinggalkannya kepada masyarakat.
Kepergian Azyumardi menghadirkan duka bagi keluarga, kalangan akademik, insan pers, mahasiswa, serta masyarakat luas.
Indonesia kehilangan seorang cendekiawan yang menghabiskan hidupnya untuk membaca sejarah, membangun pendidikan, menjaga moderasi, dan memperkuat demokrasi.
Warisan Sang Cendekiawan
Warisan terbesar Azyumardi Azra tidak hanya berupa jabatan, gelar, atau penghargaan.
Ia meninggalkan perubahan besar dalam pendidikan tinggi Islam Indonesia. Transformasi IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta menjadi UIN menjadi salah satu tonggak penting yang mengubah wajah perguruan tinggi keagamaan Islam.
Perubahan tersebut membuka jalan bagi integrasi ilmu agama dengan berbagai disiplin ilmu modern. Model itu kemudian menginspirasi perkembangan sejumlah perguruan tinggi Islam lainnya di Indonesia.
Azyumardi juga meninggalkan tradisi penelitian mengenai jaringan ulama Nusantara. Melalui karya-karyanya, sejarah Islam Indonesia ditempatkan dalam hubungan yang lebih luas dengan dunia Islam global.
Ia memperlihatkan bahwa ulama Nusantara bukan penerima pasif dari gagasan luar. Mereka merupakan bagian aktif dari jaringan intelektual yang menghubungkan Asia Tenggara, Timur Tengah, dan berbagai wilayah lainnya.
Dalam bidang jurnalistik, ia menunjukkan bahwa seorang wartawan dapat tumbuh menjadi akademisi tanpa kehilangan kepekaan terhadap kehidupan masyarakat.
Dalam dunia pendidikan, ia membuktikan bahwa kampus Islam dapat menjadi ruang yang modern, rasional, demokratis, dan terbuka tanpa kehilangan identitas keagamaannya.
Dalam kehidupan publik, ia terus menyuarakan pentingnya Islam moderat, masyarakat madani, demokrasi, toleransi, dan penghormatan terhadap keberagaman.
Azyumardi Azra memulai perjalanan intelektualnya dari pilihan pendidikan yang semula bukan menjadi cita-citanya. Namun, jalan yang awalnya ditempuh karena dorongan sang ayah itu justru mengantarkannya menjadi salah seorang pemikir Islam terbesar Indonesia.
Dari ruang kuliah di Ciputat, ruang redaksi Panji Masyarakat, perpustakaan Universitas Columbia, forum akademik Oxford, hingga kursi Ketua Dewan Pers, Azyumardi menjalani kehidupannya sebagai pembelajar sekaligus pendidik.
Ia tidak hanya membaca sejarah. Ia ikut membentuk sejarah pendidikan Islam Indonesia.
Ia tidak hanya menulis tentang perubahan. Ia memimpin perubahan itu secara langsung.
Dan ketika perjalanan hidupnya berakhir di Malaysia pada 18 September 2022, Azyumardi Azra meninggalkan jejak seorang cendekiawan yang percaya bahwa ilmu pengetahuan, agama, demokrasi, dan kemanusiaan dapat berjalan dalam satu arah yang sama. (PERS)

Updates.