TOKOH - Gadis Arivia Effendi tumbuh dalam perjalanan yang sejak awal membuatnya akrab dengan perbedaan budaya, bahasa, dan cara pandang. Lahir pada 8 September 1964 di New Delhi, India, ia merupakan anak ketujuh dari sembilan bersaudara pasangan Arif Effendi dan Atikah. Ayahnya, yang berdarah Melayu Deli, bekerja di British Council dan karena pekerjaannya keluarga mereka kerap berpindah dari satu negara ke negara lain. Sementara ibunya, perempuan berdarah Aceh dan Minang kelahiran Pematang Siantar, pernah aktif di ‘Aisyiyah, organisasi perempuan Muhammadiyah. Dari lingkungan keluarga inilah Gadis tumbuh dengan dua warisan yang kelak sangat menentukan jalan hidupnya: keterbukaan terhadap dunia dan keberanian untuk terlibat dalam persoalan masyarakat.
Bahkan namanya menyimpan cerita keluarga. “Arivia” merupakan perpaduan dari nama ayahnya, Arif, yang diambil menjadi “Ari”, dengan nama neneknya, Lathifah, yang melahirkan unsur “Via”. Ketika Gadis lahir, ayahnya sedang menjalankan tugas di Ethiopia. Baru berusia sekitar dua minggu, ia bersama keluarganya kemudian pindah ke negara tersebut dan tinggal di sana selama dua tahun.
Setelah kembali beberapa tahun ke Indonesia, keluarga itu kembali berpindah, kali ini ke Budapest, Hungaria. Di kota tersebut Gadis mulai bersekolah di British Embassy School. Empat tahun hidup di Budapest membuat bahasa Inggris menjadi sangat akrab baginya. Ketika keluarga kembali ke Indonesia dan tinggal di kawasan Tebet, Jakarta, ia bahkan sempat kesulitan mengikuti pelajaran sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia karena pada saat itu dirinya jauh lebih fasih berbahasa Inggris.
Kehidupan Gadis kembali berubah setelah ayahnya meninggal dunia pada Juli 1977. Ia kemudian mengikuti kakaknya, Arizal Effendi, yang meniti karier sebagai diplomat dan ketika itu bertugas di Washington, Amerika Serikat. Arizal kelak dikenal sebagai diplomat Indonesia yang pernah menjalankan tugas sebagai duta besar.
Di Amerika Serikat, Gadis melanjutkan pendidikan di McLean High School, Virginia. Di sanalah perjumpaannya dengan dunia pemikiran semakin serius. Pada usia remaja ia telah membaca karya Albert Camus, Jean-Paul Sartre, dan Simone de Beauvoir. Bacaan-bacaan itu memperkenalkannya pada pertanyaan tentang kebebasan, keberadaan manusia, relasi kekuasaan, dan posisi perempuan di dalam masyarakat. Simone de Beauvoir kemudian menjadi salah satu pintu yang membawanya lebih jauh kepada feminisme.
Seusai menyelesaikan sekolah menengah di Virginia, Gadis memilih kembali ke Indonesia. Ia mengambil Program Diploma III Sastra Prancis di Universitas Indonesia. Pilihan itu tidak jauh dari ketertarikannya terhadap tradisi intelektual Prancis yang telah dikenalnya sejak remaja. Pada awal 1980-an, ia sering menghabiskan waktunya di perpustakaan Centre Culturel Français di Jalan Salemba Raya, Jakarta. Di sana, di antara rak-rak buku dan karya para pemikir Prancis, ketertarikannya terhadap filsafat semakin dalam.
Setelah menyelesaikan pendidikan Sastra Prancis, Gadis melanjutkan studi filsafat di Universitas Indonesia. Pada fase inilah feminisme tidak lagi sekadar menjadi bacaan, tetapi berkembang menjadi bidang pemikiran yang ingin ditekuninya secara serius.
Ketika itu, kajian feminisme di Indonesia belum berkembang seperti sekarang. Literatur terbatas, istilah feminisme belum populer, dan gagasan mengenai kesetaraan perempuan masih sering dipandang sebagai pemikiran asing. Tetapi kondisi tersebut justru membuat Gadis semakin tertarik mempelajarinya.
Salah satu pemikir yang memberi pengaruh kepadanya adalah Barbara Smith, feminis Amerika yang memandang feminisme sebagai teori sekaligus praktik politik untuk memperjuangkan pembebasan perempuan secara menyeluruh. Dari dalam negeri, Gadis banyak memperoleh inspirasi dari Toeti Heraty Noerhadi, dosen dan pemikir perempuan Indonesia yang kerap meminjamkan kepadanya buku-buku mengenai feminisme.
Buku-buku itu menjadi sangat berarti karena pada masa tersebut bahan bacaan tentang feminisme tidak mudah ditemukan di Indonesia.
Memasuki dekade 1990-an, cakrawala intelektual Gadis kembali berkembang ketika ia berkenalan dengan pemikiran pascamodernisme. Salah seorang dosen filsafat Universitas Indonesia, Asikin Arif, yang baru kembali dari Jerman, membawa diskusi mengenai pemikiran baru tersebut ke lingkungan kampus. Gadis kemudian ikut membentuk Lingkaran Studi Filsafat, ruang tempat para peminat filsafat membaca dan memperdebatkan berbagai pemikiran kontemporer.
Di antara berbagai pemikir itu, Jacques Derrida menarik perhatiannya. Gagasan Derrida mengenai dekonstruksi memberikan cara baru untuk membaca bahasa, kekuasaan, serta berbagai struktur pemikiran yang selama ini dianggap mapan. Ketertarikan itu akhirnya membawa Gadis ke Prancis. Pada 1992 hingga 1994 ia belajar di École des Hautes Études en Sciences Sociales dan memperoleh kesempatan mengikuti kuliah-kuliah Jacques Derrida secara langsung.
Dua tahun tersebut menjadi periode penting dalam pembentukan pemikirannya. Di Prancis, Gadis tidak hanya membaca filsafat, tetapi juga berada di tengah lingkungan intelektual tempat gagasan-gagasan tersebut diperdebatkan. Pertemuannya dengan pemikiran kontemporer semakin menguatkan keyakinannya bahwa berbagai struktur sosial—termasuk relasi antara laki-laki dan perempuan—dapat dan perlu dipertanyakan.
Sepulang ke Indonesia, ia kembali ke kampus dan mengajar studi feminisme serta filsafat kontemporer di Universitas Indonesia. Di ruang kuliah itulah Gadis menemukan masalah yang sangat konkret. Mahasiswanya tertarik mempelajari feminisme, tetapi sulit memperoleh bahan bacaan dalam bahasa Indonesia.
Keterbatasan itu kemudian melahirkan sebuah gagasan sederhana. Gadis membuat buletin tentang perempuan dan feminisme. Sekitar 200 eksemplar dicetak. Ternyata seluruhnya habis.
Peristiwa kecil tersebut membuka kesadaran baru: kebutuhan terhadap pengetahuan mengenai perempuan ternyata jauh lebih besar daripada ruang yang tersedia saat itu. Dari sinilah muncul gagasan untuk membangun media yang lebih serius dan berkelanjutan.
Pada 1996, bersama Toeti Heraty Noerhadi dan Asikin Arif, Gadis mendirikan Yayasan Jurnal Perempuan. Mereka kemudian menerbitkan Jurnal Perempuan, yang pada awalnya terutama dimaksudkan sebagai bahan pendukung perkuliahan paradigma feminisme di Universitas Indonesia.
Tetapi sambutan pembaca mengubah arah perkembangannya. Jurnal itu tidak hanya dibaca mahasiswa. Publik mulai mencarinya di koperasi mahasiswa Universitas Indonesia dan kemudian di toko-toko buku. Sedikit demi sedikit, Jurnal Perempuan berkembang menjadi salah satu ruang penting bagi wacana feminisme di Indonesia. Di dalamnya dibahas persoalan kesetaraan gender, kekerasan terhadap perempuan, hak asasi manusia, politik, budaya, seksualitas, hingga posisi perempuan dalam kehidupan sosial.
Apa yang bermula dari kesulitan memperoleh bahan ajar akhirnya berkembang menjadi sebuah gerakan pengetahuan.
Bagi Gadis, feminisme memang tidak pernah berhenti pada teori. Hal itu terlihat jelas pada Februari 1998. Indonesia ketika itu sedang berada dalam pusaran krisis ekonomi. Harga berbagai kebutuhan melonjak dan barang-barang pokok sulit diperoleh. Di tengah keadaan tersebut, susu bayi ikut menjadi barang yang langka dan mahal.
Bagi sebagian orang, susu bayi mungkin tampak sebagai urusan rumah tangga. Tetapi bagi para ibu yang setiap hari berjuang memenuhi kebutuhan anak-anak mereka, kelangkaan itu merupakan persoalan hidup yang nyata.
Sejumlah perempuan kemudian bergerak melalui Suara Ibu Peduli. Gadis berada di antara mereka.
Mereka datang ke Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, membawa keresahan para ibu ke ruang publik. Mereka menyuarakan persoalan kelangkaan dan mahalnya susu bayi pada masa ketika demonstrasi terhadap keadaan sosial dan kebijakan pemerintah masih mengandung risiko besar.
Aksi itu kemudian berujung pada penangkapan. Gadis bersama Wilasih Noviana dan Karlina Leksono ditangkap polisi. Justru dari peristiwa itulah namanya semakin dikenal masyarakat. Aksi Suara Ibu Peduli memperlihatkan bahwa persoalan perempuan yang selama ini dianggap berada di wilayah domestik sesungguhnya memiliki dimensi ekonomi dan politik. Harga susu, kebutuhan anak, serta kemampuan seorang ibu memenuhi kebutuhan keluarganya tidak dapat dilepaskan dari kebijakan negara dan kondisi perekonomian.
Pada titik itu, jalan intelektual Gadis bertemu dengan jalan aktivismenya. Apa yang dibaca dari buku, dibicarakan di ruang kuliah, dan ditulis dalam jurnal menemukan bentuknya di jalanan.
Setelah periode tersebut, Gadis semakin aktif menulis dan berbicara mengenai feminisme, demokrasi, kebebasan, hak perempuan, serta berbagai persoalan sosial. Tulisan-tulisannya hadir dalam media, jurnal, dan buletin di Indonesia maupun di luar negeri. Ia tetap mengajar sekaligus mengabdikan diri melalui Yayasan Jurnal Perempuan.
Pada 2003, berbagai pemikiran yang selama bertahun-tahun ia tekuni dituangkan antara lain melalui buku Menuju Filsafat Berperspektif Feminis. Buku tersebut memperlihatkan upayanya untuk mempertanyakan tradisi filsafat yang terlalu lama melihat pengalaman manusia dari sudut pandang yang dominan, sementara pengalaman perempuan sering kali berada di pinggiran.
Bagi Gadis, persoalannya bukan sekadar menambahkan perempuan ke dalam pembicaraan filsafat. Yang lebih mendasar adalah mempertanyakan kembali siapa yang selama ini dianggap mewakili “manusia”, siapa yang memiliki hak untuk berbicara, serta pengalaman siapa yang selama berabad-abad dianggap penting untuk dicatat.
Pada 2006, Gadis kembali berada di tengah perdebatan publik ketika muncul kontroversi mengenai Rancangan Undang-Undang Antipornografi dan Pornoaksi. Ia aktif menulis dan berbicara mengenai persoalan tersebut karena melihat bahwa perdebatan tentang pornografi tidak bisa dilepaskan dari persoalan tubuh perempuan, kebebasan, keberagaman budaya, moralitas, dan kekuasaan negara.
Pada tahun yang sama, perjuangan panjangnya memperoleh pengakuan. Pada 11 Agustus 2006, Aliansi Jurnalis Independen memberikan Tasrif Award kepada Gadis Arivia dan Presiden keempat Republik Indonesia Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Keduanya dinilai memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan kebebasan berekspresi, persamaan hak, keberagaman, serta demokrasi di Indonesia.
Penghargaan itu menjadi salah satu penanda bahwa perjuangan Gadis telah melampaui dunia akademik. Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai dosen filsafat atau pendiri sebuah jurnal, tetapi sebagai bagian dari gerakan masyarakat sipil yang memperjuangkan ruang kebebasan di Indonesia.
Di tengah kesibukan intelektual dan aktivismenya, Gadis menjalani kehidupan keluarga bersama Richard Pollard, seorang warga negara Amerika Serikat yang bekerja di Bank Dunia. Hubungan mereka telah terjalin sejak Gadis belajar di Prancis. Pada akhir pekan, Pollard kerap datang menjenguknya. Gadis mengaguminya antara lain karena perjalanan pengabdiannya sebagai guru di Nepal, Pakistan, dan Afrika. Dari pernikahan tersebut, mereka memiliki dua anak, Anisa dan Benjamin.
Jika perjalanan Gadis Arivia dibaca secara utuh, sulit memisahkan antara filsafat, feminisme, pendidikan, dan aktivisme dalam kehidupannya. Semuanya berjalan sebagai satu rangkaian.
Masa kecil yang berpindah dari India, Ethiopia, Hungaria, Indonesia, hingga Amerika Serikat memberinya pandangan bahwa dunia tidak pernah hanya memiliki satu cara berpikir. Buku-buku filsafat yang ditemukannya sejak remaja memberinya perangkat untuk bertanya. Universitas memberinya ruang untuk mendalami pertanyaan itu. Prancis mempertemukannya dengan pemikir-pemikir yang menggugat struktur pengetahuan. Sementara kehidupan perempuan Indonesia memberinya alasan mengapa semua pemikiran tersebut harus memiliki arti di dunia nyata.
Karena itulah ia mendirikan Jurnal Perempuan. Karena itu pula ia turun ke Bundaran Hotel Indonesia bersama para ibu pada 1998.
Bagi Gadis, feminisme bukan sekadar konsep tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Feminisme adalah cara melihat bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana ketidakadilan diproduksi, dan bagaimana suara yang selama ini dipinggirkan harus memperoleh ruang.
Perjalanan hidup Gadis Arivia pada akhirnya merupakan kisah tentang pertemuan antara pemikiran dan keberanian. Ia memulai dengan membaca. Kemudian bertanya. Lalu mengajar dan menulis. Dan ketika keadaan menuntut, ia berdiri di ruang publik untuk memperjuangkan apa yang selama bertahun-tahun diyakininya.
Dari ruang filsafat hingga gerakan perempuan, dari rak buku hingga Bundaran Hotel Indonesia, jejak Gadis memperlihatkan bahwa sebuah gagasan memperoleh kekuatannya ketika tidak berhenti menjadi wacana, tetapi hadir dalam perjuangan manusia yang sesungguhnya. (PERS)

Updates.