Prof. Ari Fahrial Syam, Dari Ilmu Penyakit Dalam, Riset Helicobacter pylori, hingga Gerakan Melawan Hoaks Kesehatan

    Prof. Ari Fahrial Syam, Dari Ilmu Penyakit Dalam, Riset Helicobacter pylori, hingga Gerakan Melawan Hoaks Kesehatan
    Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP

    TOKOH - Perjalanan Prof. Dr. dr. H. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH, MMB, FINASIM, FACP merupakan kisah panjang seorang dokter, akademisi, peneliti, dan pendidik yang mengabdikan sebagian besar hidupnya pada pengembangan ilmu penyakit dalam, khususnya gastroenterologi dan hepatologi. Lahir di Jakarta pada 19 Juni 1966, Ari kemudian tumbuh menjadi salah satu akademisi kedokteran yang menempati berbagai posisi penting di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo.

    Fondasi perjalanan profesionalnya dibangun di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan dokter umum pada 1990. Namun pendidikan kedokteran baginya tidak berhenti pada gelar dokter. Ketertarikannya terhadap penyakit dalam membawanya melanjutkan pendidikan spesialis di Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI–RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo hingga selesai pada 2000.

    Di tengah proses memperdalam ilmu klinis, Ari juga memberikan perhatian besar terhadap ilmu dasar dan penelitian biomedik. Ia melanjutkan pendidikan di University of Queensland, Australia, dan memperoleh gelar Master of Molecular Biology pada 2001. Perpaduan antara kedokteran klinis dan biologi molekuler kemudian menjadi salah satu karakter penting dalam perjalanan akademiknya.

    Setelah menyelesaikan pendidikan spesialis penyakit dalam, Ari terus memperdalam kompetensinya dalam bidang saluran cerna dan hati. Pada 2005, ia memperoleh kualifikasi sebagai Konsultan Gastroenterologi dan Hepatologi. Pendidikan akademiknya kembali berlanjut hingga akhirnya ia memperoleh gelar Doktor Ilmu Biomedik dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia pada 2011.

    Perjalanan itu membentuk Ari sebagai dokter yang bekerja di dua wilayah sekaligus: pelayanan klinis dan penelitian ilmiah. Di satu sisi, ia menghadapi pasien dengan berbagai persoalan penyakit saluran pencernaan. Di sisi lain, ia menempatkan laboratorium dan penelitian sebagai bagian penting untuk memahami penyakit secara lebih mendalam.

    Keinginannya untuk terus memperbarui pengetahuan juga membawanya mengikuti berbagai pelatihan dan pengalaman profesional di luar negeri. Ia pernah menjadi Visiting Physician di Department of Gastroenterology, Jichi Hospital, Jepang, serta mengikuti Gastrointestinal Motility Course di National University Hospital, Singapura pada 2017. Pengalaman internasional tersebut memperluas wawasan klinis dan akademiknya dalam bidang gastroenterologi.

    Di Indonesia, Ari menjalani pengabdian panjang sebagai staf pengajar di Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI–RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo. Dari lingkungan pendidikan dan pelayanan rumah sakit itulah karier akademiknya berkembang.

    Kepercayaan yang diberikan kepadanya kemudian melampaui ruang kuliah dan pelayanan klinis. Pada periode 2017–2021, Ari dipercaya menjadi Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jabatan tersebut menempatkannya pada posisi strategis dalam pengembangan pendidikan dokter, penelitian, pelayanan kesehatan, dan kerja sama akademik.

    Dalam menjalankan kepemimpinan di FKUI, Ari menaruh perhatian besar pada kolaborasi internasional. Ia berpandangan bahwa kemajuan ilmu kedokteran tidak dapat dibangun sendiri-sendiri. Pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan membutuhkan jejaring serta pertukaran pengetahuan dengan berbagai institusi di dalam maupun luar negeri.

    Pandangan itulah yang mendorongnya aktif menggagas kerja sama antara FKUI dan berbagai institusi kedokteran internasional. Peran tersebut kemudian membawanya memperoleh kepercayaan sebagai Ketua ASEAN Medical Dean Network periode 2018–2020, sebuah jaringan yang mempertemukan institusi pendidikan kedokteran terkemuka dari negara-negara Asia Tenggara.

    Kiprahnya dalam jejaring internasional juga semakin luas ketika ia dipercaya menjadi Regional Ambassador for Southeast Asia pada Association of Academic Health Centers International atau AAHCI periode 2018–2023, organisasi yang berkantor pusat di Washington, D.C.

    Perjalanan akademik Ari mencapai tonggak penting pada 2018, ketika ia dikukuhkan sebagai Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Dalam pidato pengukuhannya, ia mengangkat tema “Masa Depan Penelitian Kedokteran di Era Disrupsi dan Kedokteran Presisi: Penelitian Bakteri Helicobacter pylori di Indonesia Sebagai Model.”

    Tema tersebut mencerminkan arah besar penelitian yang selama bertahun-tahun ditekuninya. Ari menaruh perhatian khusus pada Helicobacter pylori, bakteri yang berkaitan dengan berbagai gangguan lambung, selain juga mendalami functional gastrointestinal disease dan Gastroesophageal Reflux Disease atau GERD.

    Bagi Ari, penelitian kedokteran bukan sekadar menghasilkan publikasi. Ia melihat penelitian sebagai dasar untuk memahami variasi penyakit pada masyarakat Indonesia dan mengembangkan pendekatan diagnosis serta terapi yang semakin tepat.

    Kiprahnya dalam bidang gastroenterologi juga berjalan melalui organisasi profesi. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Cabang Jakarta Raya atau PAPDI JAYA pada 2012–2018.

    Pada 2016, ia dipercaya menjadi Ketua Pengurus Besar Perhimpunan Endoskopi Gastrointestinal Indonesia atau PB PEGI, dan terus aktif dalam organisasi tersebut. Keterlibatannya memperlihatkan perhatian terhadap pengembangan kompetensi dokter serta kemajuan pelayanan endoskopi gastrointestinal di Indonesia.

    Sejak 2011, Ari juga tercatat sebagai Fellow of the American College of Physicians, sebuah pengakuan yang menempatkannya dalam jejaring profesional kedokteran internasional.

    Aktivitas ilmiahnya tidak hanya berlangsung di organisasi atau ruang penelitian. Ari juga kerap hadir sebagai pembicara dalam berbagai pertemuan ilmiah tingkat internasional. Ia antara lain berbicara dalam Annual Meeting of the Korean College of Helicobacter and Upper Gastrointestinal Research serta The 16th Japan-Korea Joint Symposium on Helicobacter Research di Busan pada 2019.

    Setahun sebelumnya, ia mengikuti The 10th International Gastrointestinal Consensus Symposium di Nagoya, Jepang. Pada 2016, ia juga terlibat dalam Emirates Gastroenterology & Hepatology Society–World Gastroenterology Organisation di Abu Dhabi, serta Asian Pacific Digestive Week di Kobe, Jepang.

    Rangkaian forum tersebut memperlihatkan konsistensi Ari menempatkan penelitian Indonesia dalam percakapan ilmiah internasional.

    Di tengah aktivitas klinis dan akademik, ia juga produktif menulis. Ari terlibat dalam penyusunan dan penyuntingan berbagai konsensus nasional, termasuk Konsensus Penatalaksanaan Irritable Bowel Syndrome di Indonesia, konsensus penyakit radang usus, serta Konsensus Nasional Penatalaksanaan Dispepsia dan Infeksi Helicobacter pylori.

    Ia juga menjadi salah satu penulis Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam dan Buku Ajar Gastroenterologi, karya yang digunakan dalam pendidikan kedokteran dan pengembangan ilmu penyakit dalam.

    Produktivitas ilmiahnya tercermin pula dalam publikasi jurnal. Hingga Agustus 2024, Ari tercatat memiliki 129 artikel terindeks Scopus dengan H-index 22. Ia juga pernah memperoleh penghargaan sebagai salah satu dari 10 staf pengajar Universitas Indonesia dengan jumlah karya tulis terbanyak dalam Science and Technology Index atau SINTA Kemenristekdikti.

    Namun perjalanan Ari tidak hanya berada dalam dunia jurnal ilmiah dan forum akademik. Ia memiliki perhatian besar terhadap satu persoalan lain yang semakin penting di era digital: hoaks kesehatan.

    Menurutnya, informasi kesehatan yang keliru dapat menimbulkan dampak serius. Masyarakat dapat mengambil keputusan yang salah, menggunakan obat tanpa dasar yang benar, atau mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    Karena itu, Ari memilih aktif hadir di ruang publik. Ia kerap menjadi narasumber kesehatan di berbagai stasiun televisi nasional. Ia juga menulis melalui dokterari.com dan Kompasiana, dengan tujuan menyampaikan informasi kesehatan yang lebih mudah dipahami masyarakat.

    Upaya tersebut kemudian berkembang pada 2018, ketika ia meluncurkan aplikasi “Apa Kata Dokter”. Aplikasi itu dibuat sebagai salah satu sarana menyediakan informasi kesehatan yang dapat dipercaya sekaligus membantu masyarakat menghadapi berbagai hoaks kesehatan yang beredar.

    Bagi Ari, seorang dokter tidak cukup hanya memberikan pelayanan kepada pasien yang datang ke rumah sakit. Dokter juga memiliki tanggung jawab memberikan pengetahuan yang benar kepada masyarakat.

    Pengabdian itu bahkan telah ia jalankan jauh di luar ruang rumah sakit.

    Ari pernah terjun sebagai relawan dalam berbagai bencana besar di Indonesia, termasuk tsunami Aceh, gempa Yogyakarta, banjir besar Jakarta, gempa Jawa Barat, dan gempa Sumatera Barat.

    Di lokasi bencana, ilmu kedokteran bertemu dengan kenyataan kemanusiaan yang berbeda dengan ruang klinik sehari-hari. Dokter harus bekerja dalam keterbatasan, menghadapi banyak korban, dan memberikan pertolongan di tengah kondisi darurat.

    Pengalaman-pengalaman itu memperlihatkan sisi lain dari perjalanan Ari sebagai dokter yang tidak hanya aktif dalam pendidikan dan penelitian, tetapi juga hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan secara langsung.

    Di balik aktivitas profesionalnya, Ari menjalani kehidupan keluarga bersama drg. Seri Fahrial. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga orang anak, yakni Fahresa Hilmy, Fajar Fikri, dan Akira Rahmat.

    Jika seluruh perjalanan Prof. Ari Fahrial Syam ditarik dalam satu garis panjang, terlihat sebuah pola pengabdian yang konsisten.

    Ia memulai sebagai mahasiswa kedokteran. Menjadi dokter. Mendalami penyakit dalam. Memperkuat keilmuan melalui biologi molekuler. Menjadi konsultan gastroenterologi dan hepatologi. Melakukan penelitian. Mengajar mahasiswa. Memimpin organisasi profesi. Menjadi Dekan FKUI. Membangun kerja sama akademik internasional. Menjadi guru besar.

    Dan kemudian menggunakan otoritas akademiknya untuk membantu masyarakat memilah informasi kesehatan yang benar.

    Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa ilmu kedokteran bagi Ari tidak berdiri sendiri. Di dalamnya terdapat pendidikan, pelayanan, penelitian, kepemimpinan, komunikasi publik, dan kemanusiaan.

    Dari ruang kuliah FKUI hingga forum ilmiah internasional, dari penelitian Helicobacter pylori hingga gerakan melawan hoaks kesehatan, Prof. Ari Fahrial Syam membangun perjalanan yang mempertemukan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan masyarakat.

    Di situlah pengabdiannya memperoleh makna: seorang dokter tidak hanya bertugas menyembuhkan penyakit, tetapi juga mengembangkan ilmu, mendidik generasi berikutnya, menjaga kualitas profesi, dan memastikan masyarakat mendapatkan informasi kesehatan yang benar. (PERS)

    prof. dr. dr. h. ari fahrial syam sppd-kgeh mmb finasim facp
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Kolaborasi Lanud Sjamsudin Noor dan BRI...

    Artikel Berikutnya

    Handi Risza Idris, Dari Aktivis Mahasiswa...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Pantau Wilayah Teritorial, Sertu Nursam Komsos dengan Kasun Bayuh
    Danramil Nusa Penida Sambangi Peternak Babi di Desa Sekartaji
    TNI Gencarkan Penyuluhan Door to Door Cegah Karhutla di Kabupaten Sambas
    Sinergi Tiga Pilar Perkuat Kamtibmas di Desa Ukirsari
    Aksi Tanggap Sertu Asep Iman Gempur Kebakaran Lahan 2 Hektare di Cibeber

    Ikuti Kami