Iskandar Alisjahbana, Sang Teknolog yang Berdiri Bersama Mahasiswa

    Iskandar Alisjahbana, Sang Teknolog yang Berdiri Bersama Mahasiswa
    Prof. Dr.-Ing. Iskandar Alisjahbana

    TOKOH - Pagi di Bandung pada awal Januari 1978 belum benar-benar beranjak siang ketika seorang lelaki bertubuh tinggi memasuki ruangan Panglima Kodam Siliwangi di Jalan Aceh. Langkahnya tergesa. Wajahnya menyimpan kemarahan sekaligus kegelisahan.

    Di hadapan Mayor Jenderal Himawan Soetanto, lelaki itu langsung melontarkan pertanyaan dalam bahasa Belanda.

    Waarom hebben jullie mijn huis beschoten?

    Mengapa kalian menembaki rumah saya?

    Himawan terkejut. Pagi itu ia mengaku belum menerima laporan mengenai penembakan terhadap rumah dinas Rektor Institut Teknologi Bandung. Ia kemudian menjawab, juga dalam bahasa Belanda, bahwa jika benar ada yang menembaki rumah tersebut, itu bukan caranya dan bukan pula pekerjaan anak buahnya.

    Lelaki tinggi itu belum puas.

    Wie dan?

    Lalu siapa?

    Himawan menggeleng.

    Lelaki yang datang tanpa banyak basa-basi itu adalah Prof. Dr.-Ing. Iskandar Alisjahbana, Rektor Institut Teknologi Bandung. Seorang ilmuwan elektronika, pendidik, pemikir teknologi, dan tokoh yang kemudian dikenang sebagai salah satu figur penting di balik sistem komunikasi satelit domestik Palapa.

    Namun pagi itu ia datang bukan sebagai profesor yang hendak membicarakan teknologi. Ia datang sebagai seorang kepala keluarga yang rumahnya ditembaki, dan sebagai rektor yang berada di tengah pusaran konflik politik antara mahasiswa dan kekuasaan.

    Peristiwa tersebut kelak menjadi salah satu episode paling dramatis dalam kehidupan Iskandar Alisjahbana—seorang ilmuwan yang perjalanan hidupnya membentang dari laboratorium teknologi di Jerman hingga pergolakan mahasiswa di Kampus Ganesha.

    Putra Sulung Sutan Takdir Alisjahbana

    Iskandar Alisjahbana lahir pada 20 Oktober 1931. Ia merupakan putra sulung Sutan Takdir Alisjahbana, salah seorang tokoh besar kebudayaan dan sastra Indonesia, dari pernikahannya dengan Raden Ajeng Rohani Daha.

    Masa kecil Iskandar tidak sepenuhnya berjalan dalam kehangatan keluarga yang utuh. Ketika usianya baru empat tahun, ibunya meninggal dunia.

    Sutan Takdir kemudian menikah kembali. Dari keluarga besar itu Iskandar akhirnya memiliki sembilan saudara. Salah seorang adiknya yang lahir dari ibu yang sama adalah Sofyan Alisjahbana, yang kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh di balik perkembangan Femina Group.

    Tumbuh sebagai anak seorang intelektual besar membuat Iskandar akrab dengan dunia gagasan. Namun ia tidak memilih jalan sastra seperti ayahnya. Minatnya justru tertuju kepada teknologi.

    Jika Sutan Takdir Alisjahbana mengolah kata dan pemikiran untuk membicarakan masa depan Indonesia, Iskandar memilih kabel, gelombang elektromagnetik, elektronika, telekomunikasi, dan sistem teknologi sebagai medan pengabdiannya. Dari sanalah perjalanan seorang insinyur dimulai.

    Dari Bandung Menuju Jerman

    Pada 1954, Iskandar menyelesaikan pendidikan Sarjana Muda Teknik Elektro di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung, institusi yang kemudian berkembang menjadi Institut Teknologi Bandung.

    Indonesia saat itu masih sangat muda sebagai sebuah republik. Infrastruktur teknologi belum berkembang seperti sekarang. Telekomunikasi masih merupakan bidang yang hanya dikuasai oleh sedikit orang.

    Iskandar memilih memperdalam ilmu tersebut hingga ke Eropa. Ia berangkat ke Jerman Barat dan pada 1956 memperoleh gelar Diplom-Ingenieur dari Sekolah Tinggi Teknik München.

    Perjalanan akademiknya tidak berhenti di sana. Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di Sekolah Tinggi Teknik Darmstadt, Jerman Barat, dan meraih gelar doktor pada 1960. Namun masa tinggalnya di Jerman bukan hanya dihabiskan di ruang kuliah.

    Sejak 1956 hingga 1960, Iskandar bekerja di Laboratorium Pusat Siemens & Halske di München.

    Di tempat itulah ia bersentuhan langsung dengan perkembangan teknologi elektronika dan telekomunikasi yang pada masa tersebut sedang bergerak cepat.

    Pengalaman di Jerman memberinya sesuatu yang kelak sangat penting: kemampuan melihat teknologi bukan semata sebagai perangkat teknis, tetapi sebagai sarana untuk menghubungkan manusia. Ketika kembali ke Indonesia, gagasan itu menemukan ruangnya.

    Membangun Teknik Elektro ITB

    Setelah pulang ke Tanah Air, Iskandar kembali ke lingkungan akademik Bandung. Pada 1961–1963, ia dipercaya menjadi Sekretaris Departemen Teknik Elektro ITB. Karier akademiknya terus berkembang. Pada 1966–1968, ia menjabat Ketua Departemen Teknik Elektro ITB.

    Pada 1972–1974, tanggung jawab yang lebih besar diberikan kepadanya ketika ia menjadi Dekan Fakultas Teknologi Industri ITB.

    Iskandar berada dalam generasi ilmuwan Indonesia yang menghadapi tantangan besar: bagaimana ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang pesat di negara maju dapat digunakan untuk menyelesaikan persoalan Indonesia.

    Baginya, teknologi harus hadir untuk kepentingan masyarakat. Pandangan tersebut membawanya keluar dari batas-batas kampus. Pada 1974–1976, Iskandar dipercaya menjadi Wakil Ketua Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

    Di sinilah bidang elektronika, telekomunikasi, penerbangan, dan antariksa bertemu dalam perjalanan kariernya.

    Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas. Ribuan pulau dipisahkan laut, sementara komunikasi antardaerah pada masa itu masih menjadi persoalan besar. Teknologi satelit menawarkan jawabannya.

    Palapa dan Mimpi Menghubungkan Indonesia

    Nama Iskandar Alisjahbana kemudian tidak dapat dilepaskan dari sejarah telekomunikasi Indonesia. Ia dikenang sebagai Bapak Sistem Komunikasi Satelit Domestik Palapa.

    Palapa bukan sekadar proyek teknologi. Di balik satelit itu terdapat gagasan besar mengenai bagaimana wilayah Indonesia yang terbentang dari barat hingga timur dapat disatukan oleh jaringan komunikasi.

    Satelit memungkinkan suara, informasi, siaran televisi, dan berbagai bentuk komunikasi melintasi laut serta pegunungan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada jaringan fisik di daratan.

    Dalam konteks Indonesia sebagai negara kepulauan, teknologi semacam itu memiliki arti strategis.

    Iskandar memahami bahwa komunikasi bukan hanya persoalan teknik. Komunikasi juga merupakan persoalan persatuan. Teknologi dapat memperpendek jarak geografis yang selama berabad-abad menjadi tantangan Indonesia.

    Karena itulah kontribusinya dalam perkembangan sistem komunikasi satelit domestik menjadi salah satu bagian penting dalam jejak kehidupannya.

    Namun Iskandar tidak berhenti pada teknologi satelit. Imajinasinya mengenai masa depan komunikasi bahkan melampaui zamannya.

    Teleblackboard, Gagasan Pendidikan Jarak Jauh

    Salah satu gagasan teknologi Iskandar yang menarik adalah teleblackboard. Konsepnya sederhana, tetapi untuk zamannya sangat maju.

    Tulisan tangan seseorang di atas papan elektronik dapat direkam, kemudian dikirimkan melalui gelombang radio atau televisi sehingga muncul di lokasi lain yang berjarak jauh.

    Bayangkan seorang guru menulis rumus di Bandung. Tulisan itu kemudian dapat diterima oleh siswa di kota lain.

    Pada masa ketika internet belum menjadi bagian dari kehidupan manusia, gagasan semacam itu menunjukkan bagaimana Iskandar memikirkan teknologi komunikasi sebagai instrumen pendidikan.

    Ia melihat kemungkinan bahwa pengetahuan tidak harus dibatasi oleh ruang kelas. Guru dan murid bahkan tidak selalu harus berada di tempat yang sama.

    Puluhan tahun kemudian, dunia mengenal pembelajaran daring, papan digital, konferensi video, dan kelas jarak jauh sebagai sesuatu yang biasa.

    Namun jauh sebelumnya, Iskandar telah membayangkan bagaimana teknologi komunikasi dapat membawa pendidikan melintasi jarak. Teknologi, baginya, harus mempunyai dimensi sosial.

    Memimpin Kampus Ganesha

    Pada 7 Desember 1976, perjalanan Iskandar memasuki babak baru. Ia dipercaya menjadi Rektor Institut Teknologi Bandung, menggantikan Prof. Dr. Doddy A. Tisna Amidjaja yang telah memimpin sejak 1969.

    Dalam lintasan sejarah ITB, Iskandar tercatat sebagai rektor keenam ITB, atau rektor ke-22 jika perjalanan Kampus Ganesha dihitung sejak era Technische Hoogeschool te Bandoeng. Ia memasuki kursi rektor pada periode politik yang tidak mudah.

    Kampus-kampus Indonesia sedang mengalami dinamika kuat. Gerakan mahasiswa semakin kritis terhadap pemerintah Orde Baru.

    ITB menjadi salah satu pusatnya. Dan di tengah pusaran itulah watak Iskandar sebagai seorang akademisi diuji.

    Ketika Mahasiswa Mengkritik Kekuasaan

    Menjelang 1977 dan memasuki 1978, gerakan mahasiswa semakin keras menyuarakan kritik kepada pemerintah.

    Tokoh-tokoh mahasiswa seperti Heri Akhmadi, Rizal Ramli, Al Hilal Hamdi, Jusman Syafii Djamal, Ramles Manapang, dan sejumlah pimpinan Dewan Mahasiswa lainnya berada dalam pusaran gerakan tersebut.

    Dalam salah satu momentum besar, pimpinan Dewan Mahasiswa se-Indonesia berkumpul bersama ribuan mahasiswa di ITB.

    Menurut catatan yang dikutip dalam kisah mengenai Iskandar, sekitar 8.000 mahasiswa memenuhi lapangan basket ITB ketika sebuah ikrar mahasiswa dibacakan. Salah satu tuntutannya bahkan menyerukan Sidang Istimewa MPR untuk meminta pertanggungjawaban Presiden Soeharto.

    Bagi pemerintah saat itu, gerakan tersebut dipandang sebagai tantangan serius. Seorang rektor mungkin saja memilih jalan paling aman: menjaga jarak dari mahasiswa dan memastikan kampus mengikuti kehendak pemerintah.

    Iskandar mengambil sikap berbeda. Dalam kegiatan Gelora Kebangkitan 28 Oktober 1977, ia justru berada di tengah mahasiswa. Ia tidak berdiri di podium untuk membubarkan mereka.

    Dengan kamera di tangannya—fotografi memang menjadi salah satu hobinya—Iskandar malah sibuk mendokumentasikan kegiatan mahasiswa.

    Klik.

    Klik.

    Klik.

    Tustelnya merekam apa yang terjadi di kampus. Bagi sebagian orang, tindakan itu mungkin terlihat sederhana. Namun dalam suasana politik yang tegang, keberadaan seorang rektor di tengah demonstrasi mahasiswa mempunyai makna besar.

    Iskandar dinilai terlalu dekat dengan mahasiswa. Pemerintah kemudian menganggap ia tidak mampu mengendalikan kampus.

    Tembakan di Rumah Rektor

    Ketegangan akhirnya tidak hanya terasa di dalam Kampus Ganesha. Ia sampai ke rumah dinas Rektor ITB. Pada awal Januari 1978, rumah Iskandar diberondong tembakan. Iskandar dan keluarganya nyaris terkena peluru.

    Itulah yang membuatnya pagi-pagi mendatangi Pangdam Siliwangi Mayor Jenderal Himawan Soetanto.

    “Waarom hebben jullie mijn huis beschoten?”

    Mengapa kalian menembaki rumah saya?

    Himawan mengatakan bukan dirinya dan bukan pula anak buahnya.

    “Wie dan?”

    Siapa?

    Pertanyaan itu bertahun-tahun tidak mendapatkan jawaban.

    Kampus Diduduki Tentara

    Situasi terus memburuk. Pada 20 Januari 1978, kampus ITB diduduki tentara.

    Dalam tulisan Mengenang Iskandar Alisjahbana, Edy Budiyarso kemudian menuturkan versi kesaksian yang ia peroleh mengenai operasi tersebut.

    Menurut kesaksian yang dikutip Budiyarso, operasi pendudukan kampus dilakukan atas perintah Kepala Staf Komando Pemulihan Keamanan dan Ketertiban, Laksamana Soedomo. Operasi disebut melibatkan struktur Kopkamtib dan unsur intelijen militer.

    Tulisan itu juga mengungkap klaim mengenai siapa yang menembaki kediaman Iskandar.

    Budiyarso menuturkan bahwa seorang perwira Angkatan Darat bernama Ki Oetomo Darmadi pernah mengaku melakukan penembakan tersebut. Menurut kesaksian yang disampaikan kepada Budiyarso, tembakan diarahkan ke genting dan disebut dimaksudkan untuk menakut-nakuti, bukan mencederai penghuni rumah.

    Karena informasi tersebut berasal dari kesaksian yang kemudian dituliskan kembali oleh Budiyarso, kisah itu tetap perlu ditempatkan sebagai bagian dari kesaksian sejarah mengenai suasana politik 1977–1978.

    Bagi Iskandar sendiri, jawaban itu datang terlambat. Selama bertahun-tahun ia masih bertanya-tanya siapa sebenarnya yang menembaki rumahnya.

    Harga Sebuah Sikap

    Puncaknya datang pada Februari 1978. Pemerintah menilai Iskandar tidak berhasil memulihkan keadaan ITB yang kala itu dipandang telah menjadi pusat perlawanan mahasiswa.

    Pada Selasa, 14 Februari 1978, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan membebastugaskannya dari jabatan Rektor ITB.

    Dua hari kemudian, pada 16 Februari 1978, Iskandar menyerahkan kepemimpinan ITB kepada sebuah rektorium yang diketuai Dr. Soedjana Sapi'ie.

    Masa kepemimpinannya pun berakhir hanya sekitar empat belas bulan setelah dimulai. Tetapi cara ia meninggalkan kursi rektor justru menjadi bagian yang paling banyak dikenang.

    Iskandar kehilangan jabatan bukan karena persoalan kemampuan akademik. Ia tersingkir dalam pergulatan antara kekuasaan negara, kebebasan kampus, dan gerakan mahasiswa.

    Dalam berbagai kisah mengenai periode tersebut, Iskandar dikenang sebagai rektor yang memilih berada dekat dengan mahasiswanya ketika mereka berada dalam tekanan.

    Kursi rektor dapat dicabut. Tetapi sikap seseorang tidak selalu dapat dihapus dari ingatan.

    Ilmuwan dengan Wajah Humanis

    Di balik gelar profesor, kepakaran elektronika, Palapa, dan teleblackboard, ada sisi lain Iskandar yang membuat banyak orang mengingatnya sebagai seorang pendidik.

    Ia dikenal egaliter. Integritas menjadi salah satu watak yang kerap dilekatkan kepadanya.

    Ia dapat berada di laboratorium membicarakan sistem elektronik, tetapi juga berdiri di tengah mahasiswa dengan kamera menggantung di tangannya.

    Ia memahami mesin, namun tidak melepaskan perhatian kepada manusia.

    Barangkali di situlah salah satu kekhasan Iskandar Alisjahbana. Baginya, universitas bukan sekadar gedung tempat ilmu diajarkan. Kampus adalah ruang tempat manusia belajar berpikir. Dan berpikir berarti juga berani bertanya.

    Keluarga Para Intelektual

    Kehidupan Iskandar juga berjalan di tengah keluarga yang lekat dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan.

    Ia menikah dengan Prof. Anna Alisjahbana. Dari pernikahan tersebut mereka dikaruniai tiga anak, yakni Andi Alisjahbana, Rian Alisjahbana, dan Bachti Alisjahbana, serta kemudian enam orang cucu.

    Keluarga Alisjahbana terus bersentuhan dengan dunia ilmu pengetahuan dan pembangunan Indonesia. Iskandar juga menjadi mertua Armida Alisjahbana, yang kemudian dikenal luas sebagai akademisi dan pernah memimpin Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

    Dari Sutan Takdir hingga generasi setelahnya, keluarga itu seperti membangun tradisi panjang: sastra, kebudayaan, teknologi, pendidikan, dan pembangunan bertemu dalam satu garis keluarga.

    Malam Terakhir di Bandung

    Tiga puluh tahun berlalu sejak pergolakan 1978. Bandung yang pernah menyaksikan tank dan tentara memasuki Kampus Ganesha telah berubah.

    Teknologi yang dahulu diperjuangkan Iskandar juga berkembang jauh. Satelit telah menjadi bagian penting sistem komunikasi. Pendidikan jarak jauh yang dahulu masih terdengar futuristis semakin mungkin dilakukan dengan teknologi digital. Namun perjalanan manusia tetap mempunyai ujung.

    Pada Selasa malam, 16 Desember 2008, Prof. Dr.-Ing. Iskandar Alisjahbana meninggal dunia di Rumah Sakit Boromeus, Bandung. Jam menunjukkan sekitar 23.08 WIB. Usianya 77 tahun.

    Keesokan harinya, Rabu, 17 Desember 2008, jenazahnya dimakamkan di Tugu, Jawa Barat, di samping makam ayahnya, Sutan Takdir Alisjahbana. Ia meninggalkan seorang istri, tiga anak, enam cucu, serta jejak panjang dalam sejarah teknologi dan pendidikan Indonesia.

    Warisan yang Lebih Besar dari Sebuah Jabatan

    Jika kehidupan Iskandar Alisjahbana hanya diukur dari masa jabatannya sebagai Rektor ITB, ceritanya memang relatif singkat: 7 Desember 1976 hingga 14 Februari 1978.

    Tetapi pengaruh seseorang tidak selalu sebanding dengan lamanya ia duduk di sebuah kursi. Iskandar meninggalkan jejak dalam Teknik Elektro ITB.

    Ia membawa pengalaman teknologi dari Jerman ke Indonesia.

    Ia berkontribusi pada pengembangan komunikasi satelit domestik Palapa.

    Ia menggagas teknologi teleblackboard yang menunjukkan visi jauh ke depan mengenai komunikasi dan pendidikan jarak jauh.

    Dan ketika kampus berhadapan dengan tekanan politik, namanya dikenang karena sikapnya terhadap mahasiswa. Puluhan tahun kemudian, satu adegan dari awal Januari 1978 seperti merangkum keberanian itu.

    Seorang profesor bergegas menuju kantor Pangdam Siliwangi. Rumahnya baru saja ditembaki.

    Ia berdiri di hadapan seorang jenderal dan bertanya:

    “Waarom hebben jullie mijn huis beschoten?”

    Mengapa kalian menembaki rumah saya?

    Pertanyaan itu bukan sekadar pertanyaan seorang pemilik rumah yang marah. Ia menjadi bagian dari cerita tentang seorang ilmuwan yang menjalani hidup dengan keberanian untuk bertanya, bahkan ketika pertanyaan itu diarahkan kepada kekuasaan.

    Iskandar Alisjahbana akhirnya dikenang bukan hanya sebagai profesor Teknik Elektro, Rektor ITB, atau Bapak Sistem Komunikasi Satelit Domestik Palapa. Ia juga dikenang sebagai pendidik humanis yang percaya bahwa ilmu, teknologi, kebebasan berpikir, dan keberanian moral seharusnya berjalan bersama. (PERS)

    iskandar alisjahbana tokoh minangkabau tokoh indonesia
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Menkopolkam Djamari Chaniago Kunjungi Kodam...

    Artikel Berikutnya

    Andani Eka Putra, Dari Laboratorium Mikrobiologi...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Pantau Wilayah Teritorial, Sertu Nursam Komsos dengan Kasun Bayuh
    Danramil Nusa Penida Sambangi Peternak Babi di Desa Sekartaji
    TNI Gencarkan Penyuluhan Door to Door Cegah Karhutla di Kabupaten Sambas
    Sinergi Tiga Pilar Perkuat Kamtibmas di Desa Ukirsari
    Aksi Tanggap Sertu Asep Iman Gempur Kebakaran Lahan 2 Hektare di Cibeber

    Ikuti Kami