TOKOH - Bagi sebagian orang, masyarakat hanya terlihat sebagai kumpulan manusia yang hidup berdampingan. Namun bagi seorang antropolog, kehidupan manusia menyimpan lapisan-lapisan yang jauh lebih dalam: kebudayaan, nilai, kebiasaan, strategi hidup, hubungan sosial, hingga cara suatu kelompok menghadapi perubahan.
Dunia seperti itulah yang menjadi ruang perjalanan intelektual Prof. Amri Marzali, Ph.D. Lahir pada 11 Desember 1942, Amri Marzali kemudian dikenal sebagai salah seorang antropolog Indonesia yang menekuni bidang antropologi sosiokultural.
Perjalanan akademiknya membawanya tidak hanya mengajar di Indonesia, tetapi juga hingga Malaysia. Ia menjadi guru besar antropologi sosiokultural di Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, sekaligus pernah menjalankan kegiatan akademik di Academy of Malay Studies, Universitas Malaya, Malaysia.
Dua lingkungan akademik tersebut mempertemukan Amri dengan ruang kajian yang luas mengenai masyarakat, kebudayaan, pembangunan, dan kehidupan manusia. Namun perjalanan menuju posisi sebagai guru besar tentu tidak berlangsung dalam satu langkah. Semuanya dimulai dari bangku pendidikan.
Memulai Perjalanan dari Yogyakarta
Pada masa mudanya, Amri memilih antropologi sebagai bidang yang hendak dipelajarinya secara serius. Ia menempuh pendidikan sarjana di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Di kota pelajar itulah fondasi keilmuannya mulai terbentuk.
Antropologi mengajaknya melihat manusia bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai bagian dari masyarakat dan kebudayaan yang membentuk cara seseorang berpikir, bertindak, serta memandang kehidupan.
Pada 1969, Amri menyelesaikan pendidikan B.A. dalam bidang Antropologi di Universitas Gadjah Mada. Namun pendidikan tersebut baru menjadi awal. Keinginan untuk memahami antropologi secara lebih mendalam kemudian membawanya keluar Indonesia.
Menuju Australia
Perjalanan akademik Amri berikutnya membawanya ke Australia. Ia melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Canberra, Canberra. Berada di lingkungan akademik yang berbeda membuka kesempatan bagi Amri untuk memperluas perspektif mengenai antropologi dan masyarakat.
Pada 1983, ia berhasil memperoleh gelar Master of Arts dalam bidang Antropologi. Tetapi pencarian ilmunya belum selesai. Setelah Australia, perjalanan akademik itu berlanjut lebih jauh lagi. Kali ini menuju Amerika Serikat.
Menempuh Doktoral di Amerika Serikat
Amri kemudian melanjutkan pendidikan doktoral di Universitas Boston, Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Perjalanan dari Yogyakarta, Canberra, hingga Boston menjadi bagian dari proses panjang pembentukan dirinya sebagai antropolog.
Di Universitas Boston, ia kembali mendalami antropologi dalam tingkat akademik yang lebih tinggi. Pada 1992, Amri berhasil menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar Ph.D. dalam bidang Antropologi.
Gelar tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan intelektualnya. Dari sana, Amri semakin meneguhkan pengabdiannya dalam dunia pendidikan dan penelitian.
Mengajar dan Membaca Masyarakat
Sepulang dari perjalanan pendidikan, Amri Marzali semakin dikenal dalam lingkungan akademik. Ia menjadi guru besar antropologi sosiokultural di Departemen Antropologi FISIP Universitas Indonesia.
Di ruang perkuliahan, antropologi tidak hanya disampaikan sebagai teori. Mahasiswa diajak memahami bagaimana manusia membangun kebudayaan, bagaimana masyarakat mempertahankan nilai, bagaimana kelompok sosial beradaptasi, serta bagaimana perubahan ekonomi dan pembangunan memengaruhi kehidupan masyarakat. Pengabdiannya kemudian meluas hingga ke Academy of Malay Studies, Universitas Malaya, Malaysia.
Keberadaannya di lingkungan akademik Indonesia dan Malaysia mempertemukannya dengan wilayah kajian yang dekat dengan masyarakat Melayu serta dinamika sosial di kawasan Asia Tenggara.
Sebagai antropolog, Amri tidak hanya mengamati manusia dari kejauhan. Antropologi menuntut kedekatan dengan realitas. Kemiskinan, pembangunan, kehidupan petani, pendidikan, serta perubahan masyarakat menjadi bagian dari persoalan yang dapat dibaca melalui sudut pandang kebudayaan. Pandangan seperti itu kemudian tercermin dalam karya-karyanya.
Membawa Antropologi ke Ruang Pendidikan
Salah satu karya Amri Marzali adalah buku berjudul Antropologi Untuk Sekolah Menengah Umum. Buku tersebut diterbitkan di Jakarta oleh Asosiasi Antropologi Indonesia pada 1999.
Kehadiran buku itu menunjukkan bahwa antropologi tidak harus berhenti di ruang perguruan tinggi. Ilmu tentang manusia dan kebudayaan juga dapat diperkenalkan kepada generasi yang lebih muda.
Melalui pendidikan menengah, siswa dapat mulai memahami bahwa masyarakat Indonesia dibangun oleh keberagaman. Bahasa berbeda. Adat berbeda. Tradisi berbeda. Cara hidup pun tidak selalu sama. Namun semua perbedaan tersebut menjadi bagian dari kenyataan sosial yang dapat dipelajari melalui antropologi.
Melihat Kemiskinan dari Kehidupan Petani
Pada 2003, Amri menerbitkan buku Strategi Peisan Cikalong dalam Menghadapi Kemiskinan, yang diterbitkan oleh Yayasan Obor Indonesia. Judul tersebut membawa perhatian pada salah satu persoalan paling nyata dalam kehidupan masyarakat: kemiskinan.
Namun sebagai antropolog, persoalan kemiskinan tidak hanya dibaca melalui angka pendapatan. Di balik kemiskinan terdapat manusia. Ada keluarga. Ada kebiasaan. Ada lingkungan sosial. Ada pilihan-pilihan hidup. Dan ada strategi yang dilakukan masyarakat untuk bertahan menghadapi tekanan ekonomi.
Melalui cara pandang antropologi, kehidupan masyarakat dapat dipahami tidak semata-mata sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai kelompok manusia yang memiliki pengetahuan, pengalaman, serta cara sendiri dalam menghadapi kesulitan. Di sinilah ilmu antropologi bertemu dengan persoalan pembangunan.
Antropologi dan Pembangunan Indonesia
Hubungan antara antropologi dan pembangunan kemudian semakin jelas melalui karya Amri yang terbit pada 2005. Buku tersebut berjudul Antropologi dan Pembangunan Indonesia, diterbitkan oleh Prenada Media.
Judulnya menggambarkan sebuah pertanyaan besar: Apa peran ilmu yang mempelajari manusia dan kebudayaan dalam proses pembangunan?
Pembangunan sering kali berbicara mengenai jalan, ekonomi, teknologi, industri, atau infrastruktur. Tetapi pembangunan pada akhirnya selalu berhubungan dengan manusia.
Suatu program dapat dirancang dengan sangat baik secara teknis, tetapi masyarakat memiliki kebudayaan, nilai, pola hubungan, dan cara hidup yang mungkin berbeda dengan asumsi para perencana.
Karena itu, pemahaman terhadap masyarakat menjadi penting. Di ruang inilah antropologi dapat memberikan pandangan. Bukan hanya menanyakan apa yang akan dibangun, tetapi juga: untuk siapa pembangunan dilakukan, bagaimana masyarakat menerimanya, dan bagaimana perubahan tersebut memengaruhi kehidupan mereka.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu menjadi salah satu wilayah penting dalam antropologi pembangunan.
Ketika Antropolog Menulis Cerita Pendek
Namun perjalanan Amri Marzali tidak hanya bergerak dalam dunia buku ilmiah dan ruang akademik. Ada sisi lain dari aktivitas menulisnya. Ia juga pernah menulis sebuah cerita pendek. Cerpen itu berjudul Beri Semangat Kepada Pasukan Kita. Karya tersebut dimuat dalam majalah Horison pada Maret 1993.
Kehadiran sebuah karya sastra dari seorang antropolog menunjukkan sisi menarik dalam perjalanan intelektual Amri. Antropologi memang mempelajari manusia. Sastra pun berbicara mengenai manusia.
Jika antropologi mencoba memahami kehidupan melalui penelitian dan analisis, sastra dapat menghadirkan kehidupan melalui cerita, tokoh, pengalaman, dan emosi. Cerpen tersebut kemudian melintasi batas bahasa. Karya itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul Support Our Troops. Terjemahan tersebut kemudian dimuat dalam buku Beyond the Horizon, yang dieditori oleh David T. Hill dan diterbitkan oleh Monash Asia Institute di Clayton, Victoria, Australia, pada 1998.
Dengan demikian, tulisan Amri tidak hanya beredar dalam ruang pembaca Indonesia, tetapi juga hadir dalam publikasi berbahasa Inggris.
Antara Ilmu, Masyarakat, dan Tulisan
Jika perjalanan Prof. Amri Marzali ditarik dalam sebuah garis panjang, terlihat sebuah pola yang kuat. Ia belajar antropologi di Yogyakarta. Kemudian memperdalamnya di Canberra. Lalu menyelesaikan pendidikan doktoral di Boston.
Setelah itu, perjalanan keilmuannya membawanya menjadi guru besar di Universitas Indonesia dan berkegiatan akademik di Universitas Malaya. Di sepanjang perjalanan tersebut, satu hal tetap menjadi pusat perhatian: manusia dan masyarakat.
Ia menulis tentang antropologi untuk pendidikan. Ia menulis tentang kemiskinan. Ia menulis tentang pembangunan Indonesia. Bahkan ketika menulis cerita pendek, manusia tetap berada di tengah cerita. Itulah mungkin salah satu daya tarik antropologi.
Ilmu ini mengajak seseorang melihat bahwa di balik setiap perubahan sosial, program pembangunan, konflik, tradisi, atau persoalan ekonomi, selalu terdapat manusia yang menjalani kehidupan.
Dan sepanjang perjalanan akademiknya, Prof. Amri Marzali, Ph.D. memilih menjadikan manusia, kebudayaan, dan masyarakat sebagai wilayah utama pengabdian intelektualnya. Dari Yogyakarta menuju Canberra. Dari Canberra menuju Boston. Dari ruang kuliah Universitas Indonesia hingga lingkungan akademik Universitas Malaya.
Perjalanan itu membentuk seorang antropolog yang tidak hanya mempelajari masyarakat, tetapi juga berusaha menjelaskan bagaimana manusia hidup, bertahan, berubah, dan memberi makna terhadap dunia di sekelilingnya. (PERS)

Updates.