TOKOH - Prof. Riset Asvi Warman Adam yang lahir pada 8 Oktober 1954 ini merupakan salah satu sejarawan Indonesia yang dikenal karena keberaniannya membaca kembali sejarah politik Indonesia dari sudut pandang yang berbeda. Ia lama berkarier sebagai peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, yang kemudian bertransformasi menjadi Badan Riset dan Inovasi Nasional, sebelum memasuki masa purnatugas pada 2024.
Bidang yang paling kuat melekat pada namanya adalah sejarah sosial-politik, khususnya kritik terhadap penulisan sejarah pada masa Orde Baru. Asvi banyak menelaah bagaimana sebuah peristiwa sejarah dibentuk, ditafsirkan, dipilih, bahkan kadang diarahkan untuk kepentingan politik tertentu.
Ia juga dikenal memberi perhatian besar kepada suara korban yang selama bertahun-tahun kurang mendapat tempat dalam historiografi resmi Indonesia.
Bagi Asvi, sejarah bukan hanya milik penguasa, jenderal, presiden, atau institusi negara. Sejarah juga merupakan milik orang-orang biasa yang mengalami langsung kekerasan, diskriminasi, penahanan, kehilangan keluarga, dan berbagai perubahan politik.
Dari keyakinan itulah sebagian besar perjalanan intelektualnya dibangun.
Tumbuh dalam Sebuah Keluarga Besar
Asvi Warman Adam lahir dalam keluarga Adam Sutan Djamaris dan Meimunah. Meimunah merupakan istri pertama dari tiga istri sang ayah. Dalam keluarga besar tersebut, Asvi memiliki saudara satu ayah, salah satunya Asrif Adam yang kemudian meniti karier sebagai jaksa tinggi dan terakhir berdinas di Yogyakarta.
Lingkungan keluarga besar memberinya pengalaman mengenai keberagaman hubungan manusia sejak kecil. Namun, jalan yang akhirnya dipilih Asvi bukanlah bidang hukum seperti saudaranya. Ia justru tertarik kepada bahasa, budaya, kemudian sejarah. Perjalanan tersebut tidak langsung membawanya menjadi sejarawan. Asvi memulainya melalui sastra Prancis.
Dari Sastra Prancis Menuju Sejarah
Pendidikan tinggi Asvi bermula di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Di kampus tersebut, ia menyelesaikan pendidikan sarjana muda dalam bidang Sastra Prancis. Ia kemudian melanjutkan pendidikan ke Universitas Indonesia dan memperoleh gelar sarjana dalam bidang yang sama.
Pilihan terhadap Sastra Prancis membuka pintu menuju dunia yang lebih luas. Ia tidak hanya belajar bahasa, tetapi juga membaca kebudayaan, pemikiran, sejarah, dan kehidupan masyarakat Eropa melalui karya-karya berbahasa Prancis.
Penguasaan bahasa tersebut kelak menjadi bekal penting ketika ia melanjutkan pendidikan ke Paris. Pada tahun 1984, Asvi berangkat ke Prancis untuk menempuh pendidikan di École des Hautes Études en Sciences Sociales atau EHESS. Lembaga tersebut dikenal memiliki tradisi kuat dalam ilmu sosial dan kajian sejarah.
Di Paris, Asvi mulai semakin serius mendalami pendekatan sejarah yang tidak hanya berpusat pada elite politik. Ia mengenal tradisi historiografi yang melihat kehidupan masyarakat, struktur sosial, ingatan, budaya, dan pengalaman sehari-hari sebagai bagian penting dalam memahami masa lalu.
Pendidikan itu ditempuh hingga ia berhasil memperoleh gelar doktor pada tahun 1990. Perjalanan dari mahasiswa Sastra Prancis menjadi peneliti sejarah memperlihatkan perubahan arah intelektual yang besar. Namun, sastra dan sejarah sebenarnya memiliki hubungan yang dekat. Keduanya sama-sama berbicara tentang manusia, pengalaman, ingatan, dan perubahan zaman.
Mengawali Karier sebagai Wartawan Olahraga
Sebelum dikenal sebagai sejarawan, Asvi pernah menjalani kehidupan sebagai wartawan. Pada periode 1980 hingga 1983, ia bekerja di majalah Sportif sebagai wartawan olahraga.
Dunia olahraga mungkin terlihat jauh dari kajian sejarah politik yang kemudian ditekuninya. Namun, pekerjaan jurnalistik memberikan kemampuan penting yang terus dibawanya sepanjang karier. Wartawan harus memiliki rasa ingin tahu. Ia harus mencari sumber, memeriksa informasi, menemukan sudut pandang, serta menjelaskan sebuah peristiwa agar dapat dipahami pembaca.
Asvi menjalani pekerjaan tersebut selama sekitar tiga tahun dan bahkan sempat dipercaya menjadi redaktur pelaksana. Sebagai redaktur, tugasnya tidak hanya menulis. Ia harus membaca tulisan wartawan lain, menilai informasi, memperbaiki struktur cerita, serta mempertimbangkan bagaimana sebuah peristiwa disampaikan kepada masyarakat.
Pengalaman itu kelak sangat membantu ketika ia menjadi penulis sejarah. Sejarah dan jurnalistik memang memiliki perbedaan metode, tetapi keduanya sama-sama membutuhkan ketelitian terhadap sumber dan keberanian untuk bertanya.
Pada akhirnya, Asvi memilih meninggalkan ruang redaksi. Ia mengundurkan diri dan berangkat ke Paris untuk melanjutkan pendidikan pascasarjana.
Hidup dan Belajar di Paris
Tinggal di Paris membuat Asvi tidak hanya menjadi mahasiswa. Untuk menjalani kehidupannya selama menempuh pendidikan magister dan doktoral, ia juga bekerja sebagai pengajar bahasa Indonesia di Institut Bahasa-bahasa Timur di Paris.
Di satu sisi, ia belajar sejarah dan ilmu sosial. Di sisi lain, ia mengajarkan bahasa Indonesia kepada masyarakat asing.
Pengalaman tersebut menempatkan Asvi dalam dua posisi sekaligus: sebagai orang Indonesia yang sedang mempelajari pendekatan akademik Eropa dan sebagai pengajar yang menjelaskan Indonesia kepada orang lain.
Pertemuan dengan berbagai perspektif membuat cara pandangnya terhadap sejarah nasional semakin berkembang. Ia mulai melihat bahwa apa yang dianggap sebagai satu-satunya versi sejarah di dalam negeri belum tentu dipahami dengan cara sama di luar Indonesia.
Setiap negara memiliki politik ingatan. Ada peristiwa yang diperingati secara besar-besaran, ada yang hanya disebut sepintas, dan ada pula yang perlahan menghilang dari buku pelajaran.
Kesadaran seperti itu kelak menjadi sangat penting dalam penelitian Asvi mengenai historiografi Orde Baru.
Menjadi Peneliti Sejarah
Setelah kembali ke Indonesia, Asvi membangun karier sebagai peneliti. Ia bergabung dengan lingkungan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia dan mendalami sejarah sosial-politik.
Di lembaga penelitian tersebut, Asvi tidak hanya mengumpulkan tanggal dan kronologi. Ia tertarik pada satu pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang menulis sejarah dan dari sudut pandang siapa sejarah itu diceritakan?
Pertanyaan itu menjadi penting ketika membahas masa Orde Baru. Selama puluhan tahun, pemerintah memiliki pengaruh sangat besar dalam membentuk narasi resmi mengenai berbagai peristiwa nasional.
Buku sekolah, film, peringatan nasional, museum, dan pidato kenegaraan dapat digunakan untuk menanamkan cara tertentu dalam memahami masa lalu.
Asvi mulai menelaah kembali narasi-narasi tersebut. Ia membandingkan dokumen, kesaksian, arsip, karya penelitian, dan berbagai sumber lain untuk melihat apakah terdapat bagian sejarah yang disederhanakan, dihilangkan, atau diarahkan.
Dari sinilah namanya kemudian banyak dikaitkan dengan kritik terhadap “rekayasa sejarah” Orde Baru.
Melihat Sejarah dari Perspektif Korban
Salah satu ciri paling menonjol dalam karya Asvi adalah perhatian terhadap korban. Dalam banyak historiografi resmi, negara sering berada di pusat cerita. Yang dibahas adalah keputusan pemerintah, strategi militer, pidato pemimpin, atau pergantian kekuasaan.
Asvi berusaha menggeser pandangan itu. Ia bertanya bagaimana suatu peristiwa dialami oleh masyarakat biasa.
Bagaimana kehidupan keluarga korban setelah seseorang ditahan?
Apa yang terjadi kepada anak-anak orang yang distigmatisasi?
Bagaimana masyarakat mengingat kekerasan yang tidak pernah dibicarakan secara terbuka?
Pertanyaan seperti itu membawa sejarah lebih dekat dengan kehidupan manusia.
Bagi Asvi, memahami korban bukan berarti menghapus peran negara atau elite politik. Sebaliknya, perspektif korban memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang dampak keputusan politik terhadap kehidupan masyarakat.
Cara pandang tersebut menjadi sangat kuat ketika ia membahas peristiwa 1965 dan akibat-akibatnya.
Bergabung dalam Tim Pengkaji Pelanggaran HAM Berat Soeharto
Pada tahun 2003, Asvi direkrut menjadi anggota tim Pengkaji Pelanggaran HAM Berat Soeharto yang dibentuk oleh Komisi Nasional Hak Asasi Manusia.
Keterlibatan itu membawanya dari ruang penelitian akademik menuju persoalan yang memiliki konsekuensi hukum, politik, dan kemanusiaan. Meneliti sejarah pelanggaran hak asasi manusia membutuhkan kehati-hatian. Sumber-sumber dapat saling bertentangan.
Sebagian saksi membawa trauma. Dokumen mungkin tidak lengkap. Kepentingan politik juga dapat memengaruhi cara sebuah peristiwa diceritakan. Sebagai sejarawan, Asvi harus memisahkan antara dugaan, kesaksian, bukti, dan kesimpulan.
Keterlibatan dalam tim tersebut memperkuat posisinya sebagai peneliti yang tidak menjauhkan sejarah dari persoalan keadilan. Bagi dirinya, sejarah bukan hanya untuk mengetahui masa lalu.
Pengetahuan sejarah juga dapat membantu masyarakat memahami mengapa sebuah luka sosial terus bertahan.
Menelaah Kembali Gerakan 30 September 1965
Tidak banyak tema sejarah modern Indonesia yang menimbulkan perdebatan sepanjang peristiwa Gerakan 30 September 1965. Selama masa Orde Baru, negara membangun narasi yang sangat kuat mengenai peristiwa tersebut. Narasi itu hadir melalui buku sekolah, media massa, monumen, upacara, dan film.
Asvi kemudian menjadi salah satu sejarawan yang berusaha membaca kembali berbagai sumber mengenai periode tersebut. Ia tidak hanya meneliti peristiwa malam 30 September dan 1 Oktober 1965. Perhatiannya juga diarahkan kepada apa yang terjadi sesudahnya.
Bagaimana kekuasaan berpindah?
Bagaimana penangkapan berlangsung?
Apa yang terjadi kepada orang-orang yang dituduh memiliki hubungan dengan Partai Komunis Indonesia?
Bagaimana kekerasan menyebar di berbagai wilayah?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa penelitian keluar dari pusat kekuasaan di Jakarta menuju pengalaman masyarakat di Jawa, Bali, Sumatra, dan berbagai daerah lainnya.
Dikukuhkan sebagai Profesor Riset
Pada 26 Juli 2018, Asvi Warman Adam dikukuhkan sebagai Profesor Riset Bidang Sejarah Sosial Politik di LIPI. Pengukuhan tersebut menjadi salah satu puncak perjalanan akademiknya.
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan orasi ilmiah berjudul Dampak G30S: Setengah Abad Historiografi Gerakan 30 September 1965.
Orasi tersebut tidak hanya membahas peristiwa G30S. Asvi menelusuri bagaimana peristiwa tersebut ditulis dan dipahami selama lebih dari setengah abad. Ia membahas perubahan historiografi, persaingan narasi, serta dampak politik dari cara sebuah bangsa mengingat masa lalunya.
Dalam risetnya, Asvi menyatakan bahwa proses perebutan kekuasaan setelah Gerakan 30 September 1965 mengakibatkan sekitar 500 ribu orang terbunuh di Jawa, Bali, dan Sumatra.
Menurut penilaiannya, proses pengambilalihan kekuasaan dari Sukarno menimbulkan korban dalam jumlah yang sangat besar dan menjadi salah satu tragedi terbesar dalam sejarah Indonesia.
Pernyataan tersebut menjadi bagian dari perdebatan historiografi 1965 yang hingga kini terus berkembang. Berbagai peneliti memiliki estimasi berbeda mengenai jumlah korban dan proses kekerasan di masing-masing wilayah. Namun, bagi Asvi, satu hal yang tidak boleh hilang adalah keberadaan manusia di balik angka-angka tersebut.
Setiap korban memiliki keluarga, nama, kehidupan, dan sejarahnya sendiri.
Historiografi sebagai Arena Kekuasaan
Asvi melihat historiografi bukan sekadar kegiatan menulis masa lalu. Cara sejarah ditulis dapat memengaruhi legitimasi politik.
Pemerintah dapat menggunakan sejarah untuk menjelaskan mengapa sebuah rezim dianggap sah. Tokoh tertentu dapat ditampilkan sebagai pahlawan, sementara tokoh lain ditempatkan sebagai musuh.
Karena itu, historiografi selalu membutuhkan sikap kritis. Sejarawan harus bertanya dari mana sumber berasal.
Siapa yang membuatnya? Dalam keadaan apa sumber itu ditulis? Apa yang tidak disebutkan?
Pertanyaan tersebut menjadi dasar dalam berbagai kritik Asvi terhadap sejarah versi Orde Baru. Ia berusaha menunjukkan bahwa penulisan sejarah tidak boleh hanya mengikuti suara pihak yang menang. Orang-orang yang kalah, ditindas, atau dibungkam juga memiliki pengalaman yang layak dicatat.
Dengan cara itu, sejarah dapat menjadi ruang yang lebih adil.
Menulis tentang Sisi Gelap Kekuasaan Soeharto
Pada tahun 2004, Asvi menerbitkan buku Soeharto: Sisi Gelap Sejarah Indonesia. Judul tersebut memperlihatkan arah kajiannya. Ia menelaah berbagai bagian dari kekuasaan Orde Baru yang menurutnya tidak cukup dibicarakan dalam narasi resmi.
Soeharto selama lebih dari tiga dasawarsa menjadi tokoh sentral dalam kehidupan politik Indonesia. Selama masa itu, pemerintah membangun stabilitas, pembangunan ekonomi, serta berbagai proyek nasional.
Namun, pada saat yang sama terdapat persoalan kekerasan politik, pembatasan kebebasan, pelanggaran hak asasi manusia, serta pengendalian terhadap informasi.
Asvi berusaha membaca kedua sisi tersebut melalui penelitian sejarah. Ia tidak ingin tokoh politik hanya dipahami melalui citra yang dibangun pemerintah atau lawan politiknya. Sejarawan harus memeriksa sumber dan konteks secara kritis.
Menggugat Historiografi Indonesia
Pada tahun 2005, Asvi menerbitkan Menggugat Historiografi Indonesia. Melalui buku tersebut, ia mempertanyakan cara sejarah Indonesia selama ini ditulis.
Siapa yang paling sering muncul dalam buku sejarah?
Mengapa peristiwa tertentu memperoleh banyak halaman sementara kejadian lain nyaris tidak disebut?
Mengapa suara korban sering kalah oleh suara negara?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi dasar kritik historiografi.
Asvi mendorong agar penulisan sejarah membuka ruang bagi perspektif alternatif. Sejarah nasional tidak boleh hanya terdiri dari kisah pusat. Daerah, kelompok minoritas, perempuan, korban kekerasan, serta komunitas yang selama ini terpinggirkan juga merupakan bagian dari Indonesia. Dengan memperluas sumber dan perspektif, gambaran masa lalu menjadi lebih kaya.
Meluruskan atau Menafsirkan Kembali Sejarah
Pada tahun 2007, Asvi menerbitkan Pelurusan Sejarah Indonesia dan Seabad Kontroversi Sejarah.
Kedua karya tersebut memperlihatkan perhatiannya terhadap peristiwa-peristiwa yang selama bertahun-tahun menimbulkan perdebatan.
Istilah “pelurusan sejarah” sendiri mengandung tantangan. Sejarah tidak selalu memiliki satu versi akhir yang tidak dapat diganggu gugat.
Sumber baru dapat ditemukan. Kesaksian baru dapat muncul. Arsip yang sebelumnya tertutup dapat dibuka. Karena itu, pelurusan sejarah bukan berarti mengganti satu dogma dengan dogma lain. Tugas sejarawan adalah terus menguji narasi melalui bukti.
Asvi berusaha membuka perdebatan tersebut kepada masyarakat. Bagi dirinya, perbedaan pandangan dalam sejarah bukan sesuatu yang harus ditakuti.
Selama didasarkan pada sumber dan metode yang dapat dipertanggungjawabkan, perdebatan justru memperkuat ilmu sejarah.
Mengenang Sartono Kartodirdjo
Pada tahun 2008, Asvi terlibat dalam karya Sejarah yang Memihak: Mengenang Sartono Kartodirdjo.
Sartono Kartodirdjo merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan historiografi Indonesia. Ia dikenal mendorong sejarah sosial yang tidak hanya membahas elite politik, tetapi juga petani, gerakan sosial, dan masyarakat biasa.
Pendekatan tersebut memiliki kedekatan dengan perhatian Asvi terhadap sejarah dari perspektif korban. Keduanya melihat bahwa orang biasa juga merupakan pelaku sejarah.
Seorang petani yang melakukan protes, keluarga yang kehilangan anggota, atau komunitas yang mengalami diskriminasi memiliki tempat dalam narasi sejarah. Melalui cara pandang itu, sejarah menjadi lebih demokratis.
Membongkar Manipulasi dan Misteri Sejarah
Pada tahun 2009, Asvi menerbitkan Membongkar Manipulasi Sejarah: Kontroversi Pelaku dan Peristiwa.
Buku tersebut kembali membahas bagaimana fakta sejarah dapat berubah ketika masuk ke dalam ruang politik. Sebuah peristiwa dapat diberi nama tertentu untuk membangun persepsi. Tokoh dapat diberi label pahlawan atau pengkhianat.
Dokumen tertentu dapat ditonjolkan, sedangkan sumber lain diabaikan. Asvi berusaha mengajak pembaca tidak menerima setiap narasi sejarah secara otomatis. Ia mendorong masyarakat untuk bertanya.
Apakah versi ini didukung bukti?
Apakah terdapat sumber lain?
Bagaimana pihak lain mengalami peristiwa yang sama?
Pada tahun 2010, ia menerbitkan Menguak Misteri Sejarah. Semangat yang sama kembali terlihat: sejarah merupakan proses pencarian yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Menulis tentang Orang-orang di Balik Tragedi 1965
Buku Orang-orang di Balik Tragedi 1965 terbit pada tahun 2009. Melalui karya tersebut, Asvi menempatkan manusia sebagai pusat perhatian. Peristiwa politik besar sering disederhanakan menjadi nama organisasi dan tokoh utama.
Padahal, di belakang tragedi selalu terdapat banyak individu dengan posisi berbeda. Ada pengambil keputusan, pelaksana, korban, keluarga, saksi, dan orang-orang yang terjebak dalam keadaan.
Dengan menelusuri orang-orang tersebut, sejarah menjadi lebih kompleks. Pembaca tidak hanya melihat “kelompok” atau “institusi”, tetapi juga manusia dengan pilihan dan keterbatasannya.
Pendekatan tersebut membantu menghindari generalisasi yang terlalu sederhana terhadap peristiwa 1965.
Membaca Kembali Akhir Kekuasaan Sukarno
Asvi juga memberikan perhatian besar terhadap masa transisi dari Presiden Sukarno kepada Soeharto. Pada tahun 2010, ia menerbitkan buku Bung Karno Dibunuh Tiga Kali?: Tragedi Bapak Bangsa Tragedi Indonesia.
Karya tersebut membahas bagaimana Sukarno mengalami proses penyingkiran politik, pengurangan kekuasaan, serta perubahan citra dalam historiografi.
Peralihan kekuasaan pada periode 1965–1967 menjadi salah satu masa paling rumit dalam sejarah Indonesia. Di dalamnya terdapat konflik militer, pergulatan politik, tekanan massa, serta perubahan hubungan kekuasaan.
Asvi berusaha membaca peristiwa tersebut tidak hanya melalui dokumen resmi. Ia juga mempertimbangkan bagaimana Sukarno diperlakukan dan bagaimana narasi mengenai dirinya berubah setelah Orde Baru berkuasa.
Menggali Kisah di Balik Supersemar
Pada tahun 2013, Asvi terlibat dalam penulisan memoar Sidarto Danusubroto yang berjudul Ajudan Bung Karno: Sisi Sejarah yang Hilang, Masa Transisi di Seputar Supersemar.
Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar merupakan salah satu dokumen paling kontroversial dalam sejarah politik Indonesia. Dokumen tersebut menjadi titik penting dalam perpindahan kekuasaan dari Sukarno kepada Soeharto.
Namun, berbagai pertanyaan mengenai proses lahirnya dokumen, keberadaan naskah asli, serta situasi politik saat penandatanganan terus diperdebatkan.
Kesaksian orang-orang yang berada di dekat Sukarno memiliki nilai penting dalam memahami periode tersebut. Asvi melihat memoar sebagai salah satu bentuk sumber sejarah. Namun, memoar tetap harus dibaca secara kritis. Ingatan manusia dapat berubah, dipengaruhi pengalaman, atau tidak selalu lengkap. Karena itu, kesaksian harus dibandingkan dengan sumber lain.
Sejarawan yang Gemar Menulis Kata Pengantar
Selain dikenal melalui buku-buku sendiri, Asvi memiliki satu kebiasaan yang cukup khas dalam dunia penerbitan sejarah.
Ia sering diminta menulis kata pengantar atau epilog untuk berbagai buku sejarah. Peran tersebut membuatnya dikenal sebagai salah satu sejarawan yang banyak memberikan konteks terhadap karya penulis lain.
Menulis kata pengantar bukan hanya memberikan pujian. Seorang sejarawan harus memahami tema buku, menempatkannya dalam perkembangan historiografi, serta membantu pembaca memahami mengapa karya tersebut penting.
Asvi menggunakan kesempatan tersebut untuk menghubungkan sebuah buku dengan perdebatan sejarah yang lebih luas. Melalui kata pengantar, ia dapat menunjukkan sumber lain, persoalan yang belum selesai, atau konteks politik di balik suatu peristiwa.
Kebiasaan tersebut membuat jejak pemikirannya tersebar tidak hanya melalui buku yang ditulis sendiri, tetapi juga melalui karya-karya penulis lain.
Mengembalikan Tionghoa ke dalam Sejarah Indonesia
Salah satu perhatian terakhir Asvi menjelang purnatugas adalah posisi masyarakat Tionghoa dalam historiografi Indonesia.
Pada 8 Oktober 2024, ketika memasuki usia 70 tahun dan resmi purnatugas dari BRIN, momen tersebut dirayakan dengan peluncuran buku Mengembalikan Tionghoa ke Dalam Historiografi Indonesia.
Judul itu kembali memperlihatkan konsistensi pemikirannya. Asvi berusaha menghadirkan kelompok yang dianggap kurang memperoleh tempat secara proporsional dalam narasi sejarah nasional.
Masyarakat Tionghoa telah berada di Nusantara selama berabad-abad. Mereka terlibat dalam perdagangan, pendidikan, pergerakan politik, kebudayaan, jurnalisme, pembangunan ekonomi, dan berbagai bidang kehidupan lainnya. Namun, dalam periode tertentu, identitas Tionghoa juga mengalami tekanan dan diskriminasi.
Pada masa Orde Baru, misalnya, ekspresi budaya Tionghoa menghadapi berbagai pembatasan. Bagi Asvi, kondisi tersebut juga memengaruhi bagaimana sejarah mereka ditulis.
Dengan mengembalikan masyarakat Tionghoa ke dalam historiografi, ia berusaha menunjukkan bahwa sejarah Indonesia dibentuk oleh banyak kelompok. Tidak ada satu etnis atau komunitas yang berdiri sendiri dalam perjalanan bangsa.
Purnatugas Bukan Berarti Berhenti Membaca Sejarah
Pada 8 Oktober 2024, Asvi Warman Adam resmi purnatugas dari BRIN. Ia memasuki masa pensiun setelah menjalani perjalanan panjang sebagai peneliti dan profesor riset. Namun, purnatugas dari lembaga tidak serta-merta mengakhiri pekerjaan intelektual.
Seorang sejarawan dapat terus membaca, menulis, berdiskusi, serta memberi pandangan terhadap perkembangan historiografi. Bahkan, masa setelah pensiun dapat memberikan ruang yang lebih luas untuk menulis tanpa terbebani tugas administratif.
Peluncuran buku mengenai masyarakat Tionghoa pada hari purnatugas menjadi simbol bahwa perjalanan intelektual tersebut tetap berlanjut. Jika karier birokrasi ilmiah telah selesai, percakapan dengan sejarah belum berakhir.
Warisan Perspektif Korban
Kontribusi terbesar Asvi Warman Adam terletak pada keberaniannya mempertanyakan siapa yang mendapat hak untuk bercerita tentang masa lalu.
Dalam banyak buku sejarah resmi, suara negara terdengar sangat kuat. Asvi membantu membuka ruang bagi suara lain.
Korban kekerasan politik, kelompok yang distigma, masyarakat Tionghoa, orang-orang di sekitar tragedi 1965, serta individu yang berada di luar pusat kekuasaan mendapat perhatian dalam karya-karyanya.
Pendekatan tersebut tidak berarti bahwa kesaksian korban selalu diterima tanpa kritik. Sejarawan tetap harus memeriksa sumber. Namun, pengalaman mereka tidak boleh diabaikan hanya karena tidak sesuai dengan narasi resmi.
Bagi Asvi, sejarah yang sehat membutuhkan banyak suara. Semakin banyak perspektif yang diperiksa, semakin besar kemungkinan masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih utuh.
Dari Wartawan Olahraga Menjadi Profesor Riset
Perjalanan Asvi Warman Adam memiliki lintasan yang tidak biasa. Ia memulai pendidikan melalui Sastra Prancis, kemudian bekerja sebagai wartawan olahraga. Dari ruang redaksi, ia berangkat ke Paris untuk belajar di EHESS. Di sana, ia mendalami sejarah dan ilmu sosial hingga memperoleh gelar doktor.
Setelah kembali ke Indonesia, ia membangun kehidupan sebagai peneliti sejarah sosial-politik. Ia terlibat dalam pengkajian pelanggaran hak asasi manusia, menulis berbagai buku mengenai Soeharto, Sukarno, G30S, Supersemar, serta kontroversi historiografi Indonesia.
Pada 2018, perjalanan itu membawanya menjadi Profesor Riset LIPI. Enam tahun kemudian, ia mengakhiri masa tugas formal di BRIN dengan sebuah buku baru yang kembali mengangkat kelompok yang kurang terdengar dalam sejarah nasional.
Perjalanan tersebut memperlihatkan satu benang merah. Asvi selalu tertarik pada cerita yang berada di balik cerita resmi. Ia melihat sejarah bukan sekadar apa yang tertulis dalam buku pelajaran, tetapi juga apa yang tidak ditulis. Ia bertanya tentang suara yang hilang, arsip yang terlupakan, korban yang tidak disebut, dan kelompok yang dikeluarkan dari ingatan nasional.
Menjaga Sejarah agar Tidak Menjadi Milik Pemenang
Dalam setiap pergantian kekuasaan, selalu ada godaan untuk menulis sejarah dari sudut pandang pihak yang menang. Pemenang memiliki akses terhadap institusi, pendidikan, media, dan dokumen. Mereka dapat menentukan siapa yang diperingati serta siapa yang dilupakan.
Asvi Warman Adam mengingatkan bahwa tugas sejarawan justru berada di tengah keadaan tersebut. Sejarawan tidak seharusnya menjadi penjaga citra kekuasaan. Ia harus menjaga jarak, memeriksa bukti, dan membuka kemungkinan terhadap interpretasi lain.
Sejarah memang tidak dapat sepenuhnya bebas dari perspektif. Namun, metode ilmiah memungkinkan setiap klaim diuji.
Asvi menggunakan perjalanan akademiknya untuk terus mendorong proses pengujian tersebut. Dari peristiwa 1965 hingga sejarah masyarakat Tionghoa, ia mencoba membuka kembali ruang yang selama bertahun-tahun tertutup oleh satu versi dominan.
Itulah warisan penting Asvi Warman Adam. Ia mengajarkan bahwa sejarah bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah.
Sejarah adalah tentang manusia yang hidup di dalam sebuah zaman—mereka yang berkuasa, mereka yang melawan, mereka yang menjadi korban, dan mereka yang selama bertahun-tahun tidak memperoleh kesempatan untuk menceritakan kisahnya sendiri. (PERS)

Updates.