TOKOH - Ferry Irwandi merupakan pembuat konten, aktivis, dan pemengaruh media sosial Indonesia yang dikenal melalui pembahasan mengenai politik, ekonomi, filsafat, kebudayaan internet, dan berbagai persoalan sosial.
Lahir di Jambi pada 16 Desember 1991, Ferry menempuh perjalanan yang tidak sepenuhnya lurus. Ia pernah menjalani kehidupan sebagai mahasiswa kedinasan, bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Kementerian Keuangan, menjadi videografer pemerintah, lalu memilih meninggalkan pekerjaan yang stabil untuk berkarya secara mandiri di ruang digital.
Keputusan tersebut membawanya ke jalan baru. Melalui video, siniar, monolog, dan dokumenter, Ferry membangun ruang percakapan yang menjangkau jutaan orang. Ia membahas filsafat dengan bahasa populer, mengkritik kebijakan pemerintah, berbicara tentang judi daring, menantang kepercayaan mistis, serta terlibat dalam berbagai gerakan masyarakat sipil.
Namanya juga dikenal sebagai salah seorang pendiri Malaka Project, sebuah gerakan pendidikan yang dibangun bersama sejumlah kreator digital dengan cita-cita menciptakan akses belajar yang lebih terbuka.
Di balik seluruh aktivitas itu, perjalanan Ferry memperlihatkan perubahan besar dalam kehidupan publik Indonesia: ketika kamera, kanal YouTube, dan media sosial dapat menjadi ruang pendidikan sekaligus arena perdebatan politik.
Tumbuh dalam Keluarga Perantau Minangkabau
Ferry lahir di Jambi dari pasangan Irwandi dan Rosma. Kedua orang tuanya merupakan perantau Minangkabau. Ayahnya berasal dari Barulak, sedangkan ibunya berasal dari Pauh Duo Nan Batigo, Sumatera Barat.
Meskipun lahir dan tumbuh di Jambi, akar budaya Minangkabau tetap menjadi bagian dari latar keluarganya. Tradisi merantau, pendidikan, serta kebiasaan berdiskusi menjadi nilai yang dekat dengan kehidupan banyak keluarga Minangkabau.
Ayah Ferry merupakan dosen hukum tata negara di Universitas Jambi. Pekerjaan sang ayah membuat Ferry tumbuh dalam lingkungan yang tidak asing dengan pembahasan mengenai hukum, pemerintahan, negara, dan kekuasaan.
Di rumah, persoalan politik mungkin tidak selalu hadir sebagai percakapan formal. Namun, profesi ayahnya membuat dunia hukum tata negara menjadi sesuatu yang cukup dekat dengan kehidupan keluarga.
Kelak, ketika Ferry aktif membahas demokrasi, hubungan sipil dan militer, pemilu, serta kebijakan pemerintah, latar keluarga tersebut seperti menemukan bentuk baru dalam ruang digital.
Namun, Ferry tidak memilih mengikuti jejak ayahnya menjadi dosen hukum. Ia mengambil jalan berbeda yang mempertemukan keuangan negara, seni pertunjukan, film, komunikasi publik, dan teknologi media.
Menjalani Pendidikan di SMA Titian Teras
Ferry menempuh pendidikan menengah di SMA Titian Teras Jambi. Sekolah tersebut dikenal sebagai salah satu lembaga pendidikan yang menekankan disiplin dan pembinaan akademik.
Masa sekolah menjadi periode pembentukan sebelum Ferry memasuki lingkungan pendidikan kedinasan. Ia mulai belajar hidup dalam struktur yang tertib, mengikuti aturan, serta membangun kemandirian.
Setelah menamatkan SMA, Ferry melanjutkan pendidikan ke Politeknik Keuangan Negara STAN. Keputusan tersebut membawanya keluar dari Jambi dan memasuki lingkungan pendidikan yang dirancang untuk menyiapkan tenaga profesional dalam pengelolaan keuangan negara.
Memasuki PKN STAN
Di PKN STAN, Ferry mengambil Program Diploma III Kebendaharaan Negara. Bidang tersebut mempelajari berbagai aspek pengelolaan keuangan pemerintah, termasuk anggaran, perbendaharaan, administrasi negara, dan pertanggungjawaban penggunaan uang publik.
Pendidikan di kampus kedinasan memiliki karakter yang berbeda dengan perguruan tinggi pada umumnya. Mahasiswa dipersiapkan untuk memasuki birokrasi dan menjalankan tugas sebagai aparatur negara.
Namun, kehidupan Ferry di kampus tidak hanya dipenuhi angka, aturan anggaran, dan administrasi keuangan. Ia justru aktif dalam klub teater dan film.
Di ruang-ruang kegiatan mahasiswa tersebut, Ferry menemukan dunia lain yang sangat berbeda dari kebendaharaan negara.
Teater mengajarkannya memahami karakter, emosi, dialog, dan cara menyampaikan cerita. Film memperkenalkannya pada kamera, sudut pengambilan gambar, penyuntingan, pencahayaan, dan cara membangun pesan melalui rangkaian visual. Dua pengalaman itu kelak menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya.
Pengetahuan mengenai keuangan negara membantunya memahami birokrasi. Sementara itu, pengalaman teater dan film memberinya kemampuan mengubah gagasan menjadi cerita yang dapat ditonton masyarakat.
Ferry menyelesaikan pendidikannya di PKN STAN pada tahun 2013. Setelah lulus, ia mengikuti jalur yang lazim ditempuh para alumni kampus tersebut: bekerja sebagai pegawai negeri sipil.
Bekerja di Kementerian Keuangan
Ferry memulai karier sebagai aparatur sipil negara di Kementerian Keuangan. Ia ditempatkan di Biro Komunikasi dan Layanan Informasi, sebuah unit yang menangani komunikasi publik lembaga tersebut.
Di sana, Ferry bekerja sebagai pegawai fungsional di bidang hubungan masyarakat dan menjalankan tugas sebagai videografer. Pekerjaan tersebut mempertemukan dua sisi dalam dirinya.
Sebagai lulusan PKN STAN, ia memahami dunia birokrasi dan keuangan negara. Sebagai orang yang memiliki pengalaman di bidang teater dan film, ia mampu menerjemahkan kebijakan serta kegiatan pemerintah ke dalam bentuk visual.
Ia bekerja di balik kamera, merekam kegiatan, menyusun gambar, dan membantu Kementerian Keuangan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Pekerjaan videografer pemerintah tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis.
Ia juga harus memahami pesan yang ingin disampaikan lembaga, memilih gambar yang tepat, serta menyesuaikan bahasa komunikasi dengan karakter masyarakat. Melalui tugas itu, Ferry belajar bagaimana pemerintah membangun narasi publik. Ia mengetahui proses komunikasi dalam sebuah lembaga besar, mulai dari penyusunan materi hingga penyebaran informasi.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar penting ketika ia kemudian membangun kanal media sendiri. Ia telah memahami kamera, proses produksi, komunikasi publik, dan cara menyusun cerita. Yang kemudian berubah hanyalah posisi dan kebebasan editorialnya.
Memulai Kanal YouTube
Ferry telah membuat akun YouTube pribadi sejak tahun 2010, ketika platform tersebut belum menjadi ruang utama dalam kehidupan media Indonesia. Namun, selama bertahun-tahun, kanal itu belum banyak memperoleh perhatian masyarakat.
Aktivitasnya sebagai pembuat konten berjalan berdampingan dengan pekerjaan sebagai pegawai negeri. Ia masih menjalani kehidupan birokrasi sekaligus mencoba menyalurkan ketertarikan terhadap film, pemikiran, dan isu publik.
Perubahan besar terjadi pada Januari 2022. Pada bulan tersebut, Ferry mengunggah sebuah video berjudul Memahami Filsafat Stoikisme. Video itu membahas sebuah aliran filsafat kuno yang mengajarkan manusia membedakan hal-hal yang dapat dikendalikan dan sesuatu yang berada di luar kuasanya.
Stoikisme sebenarnya bukan tema baru. Pemikiran tersebut telah dibahas selama berabad-abad. Namun, Ferry menyampaikannya dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Ia menghubungkan filsafat dengan kecemasan, kegagalan, pekerjaan, hubungan sosial, serta cara manusia menghadapi ketidakpastian.
Video tersebut menarik perhatian luas. Masyarakat yang sebelumnya mungkin menganggap filsafat sebagai pembahasan berat mulai melihat bahwa gagasan klasik dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari satu video itulah nama Ferry semakin dikenal.
Filsafat sebagai Pintu Masuk
Popularitas video mengenai stoikisme membuka pintu bagi perjalanan Ferry sebagai pembuat konten publik. Ia menunjukkan bahwa topik yang dianggap rumit dapat dibicarakan melalui bahasa sederhana tanpa sepenuhnya kehilangan kedalamannya.
Ferry tidak menempatkan dirinya sebagai profesor filsafat. Ia hadir sebagai seseorang yang membaca, mempelajari, lalu mencoba menjelaskan kembali gagasan kepada masyarakat luas.
Pendekatan tersebut cocok dengan karakter media digital. Penonton tidak selalu mencari kuliah panjang atau istilah akademik. Mereka menginginkan penjelasan yang dapat dikaitkan dengan persoalan nyata.
Ferry membangun narasi melalui contoh, pengalaman, ilustrasi, dan penyuntingan visual. Pengalaman di bidang film membuat videonya tidak hanya berisi seseorang yang berbicara di hadapan kamera. Ia memanfaatkan gambar, musik, ilustrasi, dan ritme penceritaan untuk mempertahankan perhatian penonton.
Perlahan, kanalnya berkembang dari tempat berbagi pemikiran pribadi menjadi ruang percakapan mengenai berbagai persoalan publik.
Memasuki Siniar Populer
Beberapa bulan setelah video stoikismenya mendapatkan perhatian, Ferry mulai muncul dalam berbagai siniar populer. Pada April 2022, ia menjadi tamu dalam program Close the Door di kanal YouTube Deddy Corbuzier.
Kehadiran dalam siniar tersebut memperkenalkannya kepada audiens yang jauh lebih besar. Ferry berbicara mengenai filsafat, kehidupan, pekerjaan, dan berbagai pemikirannya dengan gaya yang lebih spontan daripada video yang telah disunting.
Pada Mei 2022, ia kembali menjadi tamu dalam siniar Raditya Dika bertajuk Stoikisme, dan Lain-Lain....
Percakapan tersebut memperkuat citranya sebagai pembuat konten yang mampu menjelaskan filsafat melalui pengalaman sehari-hari.
Dalam waktu relatif singkat, Ferry beralih dari pekerja di balik kamera pemerintah menjadi figur yang dikenal di depan kamera. Namun, perubahan tersebut juga memunculkan persoalan baru.
Semakin besar kanalnya, semakin banyak waktu yang dibutuhkan untuk menulis, merekam, menyunting, dan mengembangkan konten.
Pada saat bersamaan, statusnya sebagai pegawai negeri menuntut kedisiplinan serta kepatuhan terhadap berbagai aturan. Dua kehidupan itu semakin sulit dijalankan secara bersamaan.
Memilih Meninggalkan Pekerjaan sebagai PNS
Pada November 2022, Ferry mengumumkan keputusan besar: ia telah mengundurkan diri dari Kementerian Keuangan.
Bagi banyak orang, menjadi pegawai negeri merupakan pekerjaan yang dianggap aman. Ada kepastian penghasilan, jenjang karier, dan status yang dihormati masyarakat. Meninggalkan pekerjaan tersebut bukan keputusan ringan.
Ferry telah menjalani karier di Kementerian Keuangan selama sekitar satu dasawarsa. Ia memahami sistem kerja, memiliki lingkungan profesional, dan telah membangun pengalaman sebagai aparatur negara. Namun, perkembangan kariernya sebagai pembuat konten mulai menyita banyak waktu.
Ia juga menyadari adanya risiko konflik kepentingan apabila terus membahas kebijakan pemerintah sambil tetap berstatus sebagai pegawai negeri. Sebagai aparatur, ia terikat oleh aturan dan tanggung jawab kepada lembaga. Sementara itu, sebagai pembuat konten, ia menginginkan kebebasan untuk membicarakan isu sosial dan politik secara lebih terbuka.
Ferry kemudian memilih jalan yang lebih tidak pasti. Ia meninggalkan birokrasi dan memusatkan seluruh perhatian pada pembuatan konten.
Keputusan tersebut menjadi titik balik dalam kehidupannya. Setelah bertahun-tahun membuat video untuk lembaga pemerintah, kini ia membangun narasi berdasarkan pilihan dan penilaian editorialnya sendiri.
Membangun Format Konten yang Beragam
Di kanal YouTube miliknya, Ferry tidak hanya menggunakan satu bentuk penyajian. Ia menggabungkan siniar bersama figur publik, monolog bergaya jurnal, serta video dokumenter mengenai persoalan sosial, ekonomi, politik, dan internasional.
Dalam format monolog, Ferry berbicara langsung kepada kamera. Ia menyusun pembahasan seperti sebuah catatan pribadi yang dikembangkan melalui data, bacaan, dan pendapat.
Dalam format dokumenter, ia menggunakan rekaman, ilustrasi, wawancara, dan narasi untuk menjelaskan persoalan secara lebih mendalam.
Sementara itu, melalui siniar, Ferry membuka ruang dialog dengan narasumber yang memiliki pengalaman atau pandangan berbeda.
Keberagaman format tersebut membuat kanalnya dapat menjangkau berbagai jenis penonton. Ada orang yang tertarik pada filsafat. Ada yang ingin memahami kebijakan ekonomi. Sebagian lainnya mengikuti kritik politik atau pembahasan mengenai kebudayaan digital.
Ferry juga mengangkat isu internasional untuk membantu penonton Indonesia memahami hubungan antara peristiwa global dengan kehidupan domestik.
Hubungan dengan Close the Door
Dalam perjalanan pengembangan kanalnya, Ferry menjalin hubungan bisnis dengan lini usaha Close the Door milik Deddy Corbuzier.
Ferry mengakui bahwa Deddy melalui lini bisnis tersebut merupakan pemilik bersama kanal YouTube miliknya.
Kepemilikan bersama itu menunjukkan bahwa kanal Ferry tidak lagi hanya menjadi proyek pribadi yang dikelola secara sederhana.
Produksi konten digital membutuhkan biaya, tim, peralatan, promosi, dan pengelolaan bisnis. Kerja sama dengan pihak lain dapat membantu memperluas kapasitas produksi.
Namun, hubungan bisnis dengan figur besar juga menimbulkan pertanyaan mengenai kebebasan editorial.
Ferry menjelaskan bahwa kepemilikan tersebut tidak disertai intervensi terhadap topik atau isi kontennya. Menurut keterangannya, ia tetap memiliki kebebasan dalam menentukan arah pembahasan.
Pernyataan tersebut penting karena kredibilitas pembuat konten sangat bergantung pada kejelasan hubungan antara kepentingan bisnis dan keputusan editorial.
Membicarakan Judi Daring dan Tanggung Jawab Influencer
Pada September 2023, Ferry mengunggah video berjudul Tangan Kotor Influencer dalam Judi Online.
Melalui video tersebut, ia membahas perkembangan judi daring di Indonesia serta keterlibatan para pemengaruh dalam mempromosikan situs dan layanan perjudian.
Judi daring berkembang melalui internet, iklan digital, pesan pribadi, dan promosi yang menggunakan figur terkenal.
Sebagian pemengaruh menerima tawaran untuk mempromosikan platform tanpa mempertimbangkan akibatnya bagi penonton.
Ferry menyoroti tanggung jawab moral pembuat konten terhadap produk yang mereka iklankan. Seorang pemengaruh memiliki hubungan kepercayaan dengan pengikutnya. Ketika ia mempromosikan sesuatu, sebagian penonton dapat menganggap produk tersebut aman atau layak digunakan.
Padahal, judi daring dapat menyebabkan kecanduan, kerugian ekonomi, konflik keluarga, serta berbagai persoalan sosial lainnya.
Melalui konten tersebut, Ferry mengingatkan bahwa popularitas tidak hanya memberikan keuntungan. Popularitas juga membawa tanggung jawab atas dampak dari setiap promosi dan pesan yang disebarkan.
Lahirnya Malaka Project
Pada 20 Oktober 2023, Ferry bersama delapan pembuat konten dan figur internet lainnya meluncurkan Malaka Project di Djakarta Theater.
Mereka adalah Angellie Nabilla, Aurelia Vizal, Cania Citta, Coki Pardede, Dea Anugrah, Fathia Izzati, Jerome Polin, dan Rizky Arief Dwi Prakoso.
Kesembilan pendiri tersebut memiliki latar dan jenis konten yang berbeda. Ada yang dikenal melalui pendidikan, komedi, musik, budaya, filsafat, sastra, dan pembahasan sosial.
Perbedaan itu dipertemukan dalam satu gagasan bersama: membangun masyarakat yang lebih terdidik untuk menyongsong Indonesia Emas 2045.
Malaka Project terinspirasi oleh pemikiran Tan Malaka, seorang tokoh pergerakan yang memberikan perhatian besar terhadap pendidikan, logika, kemerdekaan berpikir, dan pembentukan masyarakat.
Bagi para pendirinya, pendidikan tidak harus selalu berlangsung dalam struktur formal yang kaku. Internet memungkinkan ilmu diakses dari berbagai tempat dan pada waktu yang berbeda.
Melalui Malaka Project, mereka ingin membuat materi pendidikan yang dekat dengan kehidupan masyarakat serta mampu menjangkau orang-orang yang selama ini sulit mengakses pembelajaran berkualitas.
Gagasan Kampus Malaka
Salah satu cita-cita yang sering disampaikan Ferry melalui Malaka Project adalah pembangunan Kampus Malaka.
Kampus tersebut digambarkan sebagai perguruan tinggi yang terbuka bagi semua kalangan. Sistem pembelajarannya dirancang adaptif, modular, serta dapat diakses dari mana saja dan kapan saja.
Gagasan tersebut muncul dari kritik terhadap pendidikan konvensional. Banyak orang memiliki keinginan belajar, tetapi menghadapi keterbatasan biaya, lokasi, waktu, dan persyaratan administratif.
Di sisi lain, perkembangan teknologi memungkinkan materi pembelajaran disampaikan dalam bentuk video, diskusi daring, modul interaktif, dan komunitas belajar.
Ferry melihat bahwa pendidikan harus mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan manusia, bukan sebaliknya. Seseorang mungkin tidak membutuhkan seluruh mata kuliah dalam sebuah program panjang. Ia dapat memilih modul tertentu sesuai kebutuhan, pekerjaan, atau minatnya. Namun, membangun perguruan tinggi terbuka bukan hanya persoalan membuat konten.
Dibutuhkan kurikulum, pengajar, sistem penilaian, tata kelola, dan jaminan kualitas. Kampus Malaka menjadi gambaran mengenai cita-cita jangka panjang yang ingin dibangun melalui kerja sama antara teknologi, kreativitas, dan pendidikan.
Dari Pembuat Konten Menjadi Aktivis Jalanan
Ferry tidak membatasi aktivitasnya pada ruang digital. Ia juga hadir dalam berbagai dialog publik dan unjuk rasa untuk menyampaikan pandangan sebagai warga negara.
Kehadirannya dalam demonstrasi menunjukkan perubahan peran seorang pemengaruh. Ia tidak hanya berbicara kepada kamera dari studio, tetapi juga berdiri bersama masyarakat di ruang publik. Namun, keterlibatan pembuat konten dalam demonstrasi memiliki konsekuensi yang berbeda.
Setiap tindakan dapat direkam dan disebarkan. Setiap pernyataan dapat dianalisis, dipuji, maupun diserang oleh kelompok dengan kepentingan berbeda. Ferry memilih menggunakan popularitasnya untuk memperbesar perhatian terhadap sejumlah isu demokrasi dan kebijakan publik.
Kritik terhadap Perluasan Peran Militer
Pada Maret 2025, di tengah gelombang demonstrasi yang dikenal sebagai gerakan Indonesia Gelap, Ferry mengunggah video berjudul Catatan Seorang Demonstran untuk Prabowo Subianto.
Dalam video tersebut, ia mengkritik kebijakan yang dinilainya memperluas keterlibatan militer dalam urusan sipil. Menurut Ferry, perluasan tersebut dapat menjadi ancaman terhadap demokrasi dan tatanan sipil yang sehat. Indonesia memiliki sejarah panjang mengenai hubungan militer dan politik.
Pada masa Orde Baru, militer memiliki peran luas dalam pemerintahan dan kehidupan sosial. Setelah Reformasi, muncul tuntutan agar militer kembali berfokus pada pertahanan, sedangkan urusan pemerintahan sipil dijalankan oleh lembaga sipil.
Ferry menyatakan bahwa sebelum Pemilu 2024, ia pernah berdialog dengan Prabowo Subianto. Dalam pertemuan tersebut, menurut Ferry, Prabowo menyampaikan komitmen terhadap supremasi sipil serta menolak kepemimpinan yang bersifat militeristik.
Karena itu, Ferry menggunakan pernyataan tersebut sebagai dasar untuk mempertanyakan kebijakan yang dinilainya bergerak ke arah berbeda. Ia kemudian ikut berpartisipasi dalam demonstrasi menolak perubahan Undang-Undang TNI.
Bagi Ferry dan sebagian masyarakat sipil, perubahan itu dikhawatirkan membuka ruang yang terlalu besar bagi prajurit aktif untuk memasuki jabatan-jabatan sipil.
Gelombang Demonstrasi 2025
Pada Agustus hingga September 2025, Ferry kembali terlibat dalam gelombang unjuk rasa yang berlangsung di berbagai wilayah. Aksi tersebut muncul setelah mengemukanya wacana kenaikan tunjangan anggota DPR dan tragedi terbunuhnya Affan Kurniawan.
Peristiwa itu memperbesar kemarahan publik terhadap ketimpangan, penggunaan kekerasan, dan sikap lembaga politik. Ferry turut menyuarakan “17+8 Tuntutan Rakyat”, serangkaian tuntutan yang dibawa oleh masyarakat sipil dan sejumlah pemengaruh.
Keterlibatannya menunjukkan bagaimana media sosial dan gerakan jalanan semakin saling terhubung. Informasi mengenai demonstrasi disebarkan melalui platform digital. Poster, tuntutan, jadwal aksi, dan rekaman kejadian dapat tersebar hanya dalam hitungan menit. Namun, kecepatan tersebut juga menimbulkan risiko.
Informasi yang belum terverifikasi dapat beredar. Akun anonim dapat menyebarkan provokasi. Potongan video dapat dipisahkan dari konteks dan digunakan untuk membangun kemarahan. Situasi itu menjadi salah satu tema yang kemudian dibahas Ferry.
Membicarakan Provokasi dan Ancaman Darurat Militer
Pada 31 Agustus 2025, Ferry mengunggah video berjudul Dalang Demo dan Mencegah Darurat Militer. Dalam video tersebut, ia membahas sejumlah akun media sosial yang menurut penilaiannya berusaha memprovokasi kerusuhan.
Ferry menyampaikan kekhawatiran bahwa kerusuhan yang meluas dapat digunakan sebagai alasan untuk memberlakukan keadaan darurat militer. Menurut pandangannya, demonstrasi yang sah harus dijaga agar tidak berubah menjadi kekerasan yang kemudian merugikan gerakan masyarakat sipil.
Ia mengajak penonton membedakan antara aksi protes dan provokasi. Demonstrasi merupakan hak warga dalam negara demokratis. Namun, tindakan pembakaran, penjarahan, atau serangan terhadap masyarakat dapat mengubah persepsi publik serta memberikan alasan kepada negara untuk meningkatkan tindakan keamanan.
Video tersebut menunjukkan posisi Ferry sebagai pembuat konten yang berusaha terlibat langsung dalam dinamika gerakan. Ia tidak hanya mendukung tuntutan demonstrasi, tetapi juga memperingatkan risiko manipulasi dan eskalasi kekerasan.
Tuduhan dari Patroli Siber TNI
Pada 8 September 2025, Kepala Pusat Penerangan TNI menyampaikan bahwa patroli siber militer menemukan dugaan tindak pidana berupa provokasi dan fitnah dalam sejumlah unggahan Ferry.
Pernyataan itu segera menimbulkan perdebatan. Sebagian masyarakat mempertanyakan kewenangan militer dalam memantau dan menilai aktivitas warga sipil di internet.
Kritik datang dari kalangan masyarakat sipil, termasuk Ketua Umum Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia, Muhamad Isnur, serta peneliti Setara Institute, Ikhsan Yosarie.
Mereka menilai keterlibatan militer dalam persoalan ekspresi sipil dapat mengancam kebebasan berpendapat dan prinsip supremasi sipil. Bagi Ferry, peristiwa tersebut menjadi salah satu konsekuensi paling serius dari aktivitasnya sebagai pengkritik kebijakan.
Konten digital yang dahulu digunakan untuk membahas filsafat kini telah membawanya masuk ke dalam perdebatan mengenai kewenangan militer, kebebasan sipil, dan potensi proses hukum.
Kasus tersebut juga menunjukkan bahwa ruang digital bukan wilayah yang terpisah dari kekuasaan negara. Unggahan, video, dan komentar dapat menjadi bagian dari pemantauan, penyelidikan, dan konflik politik.
Menjadi Saksi Meringankan
Pada 6 Juli 2026, Ferry dihadirkan sebagai saksi meringankan dalam persidangan Khariq Anhar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Perkara itu berkaitan dengan sebuah unggahan berupa tangkapan layar pernyataan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia, Said Iqbal.
Dalam unggahan tersebut, sebagian teks asli ditutup dan diganti. Jaksa menilai perubahan itu menghasilkan informasi yang berbeda dari pernyataan awal serta menimbulkan kesan provokatif.
Ferry diminta memberikan pandangan mengenai budaya internet. Dalam keterangannya, ia menjelaskan bahwa praktik “timpa teks”, meme, dan poster satir telah lama digunakan oleh masyarakat internet untuk menyampaikan kritik, humor, serta ekspresi politik.
Menurut Ferry, perubahan visual pada unggahan Khariq dapat dikenali sebagai meme atau satire. Penggunaan blok hitam serta jenis huruf yang berbeda, menurut keterangannya, menunjukkan bahwa gambar tersebut bukan representasi autentik dari pemberitaan asli.
Pandangan itu menempatkan perkara tidak hanya sebagai persoalan benar atau salahnya teks. Kasus tersebut juga menyentuh pertanyaan mengenai bagaimana hukum memahami bahasa internet, satire, meme, dan kebiasaan komunikasi digital.
Ferry juga menjelaskan bahwa keikutsertaannya dalam demonstrasi pada Agustus dan September 2025 merupakan keputusan pribadi. Ia menegaskan tidak mengikuti aksi karena dipengaruhi unggahan Khariq.
Kehadirannya sebagai saksi memperlihatkan perkembangan lain dalam perjalanan Ferry. Dari pembuat meme dan video, ia kemudian diminta menjelaskan kebudayaan internet di ruang pengadilan.
Menantang Praktik Judi Daring
Sebelum terlibat dalam gelombang demonstrasi, Ferry telah beberapa kali menarik perhatian melalui kritik terhadap isu sosial.
Salah satu yang menonjol adalah sikapnya terhadap judi daring dan keterlibatan pemengaruh dalam mempromosikannya. Ia melihat bahwa ekonomi digital memungkinkan promosi produk berbahaya disebarkan melalui figur yang memiliki kedekatan dengan audiens.
Ketika seorang selebriti internet mempromosikan judi, pengikutnya mungkin tidak melihat iklan itu sebagai pesan dari perusahaan. Mereka melihatnya sebagai rekomendasi dari seseorang yang dipercaya.
Ferry menggunakan posisinya sebagai sesama pembuat konten untuk mengkritik praktik tersebut. Ia mempertanyakan tanggung jawab moral orang-orang yang memperoleh keuntungan dari promosi, sementara kerugian ditanggung oleh masyarakat yang terjebak kecanduan.
Konten itu juga menjadi refleksi mengenai dunia pemengaruh yang sedang ia jalani. Seorang pembuat konten harus menentukan batas antara kebutuhan bisnis dan tanggung jawab kepada penonton.
Tantangan terhadap Klaim Santet
Pada Oktober 2024, Ferry menjadi sorotan setelah mengunggah tantangan kepada siapa pun yang mengaku memiliki kemampuan santet.
Ia menyatakan akan memberikan sebuah mobil mewah kepada orang yang dapat membuatnya muntah paku melalui ilmu gaib. Tantangan itu muncul setelah Ferry mengkritik narasi mistis yang berkembang dalam pembahasan kasus hilangnya pendaki Naomi Daviola Setyanie di Gunung Slamet. Sebagian masyarakat mengaitkan hilangnya pendaki dengan kekuatan gaib.
Ferry menilai bahwa penjelasan semacam itu dapat mengalihkan perhatian dari pencarian berbasis bukti, kondisi alam, keselamatan pendakian, dan kemungkinan yang dapat diperiksa secara rasional. Pernyataannya memicu reaksi dari Ria Puspita, seseorang yang mengaku pernah menjadi dukun santet.
Dalam sebuah tayangan di kanal YouTube Malam Mencekam, Ria menyampaikan perkataan yang oleh Ferry dinilai sebagai ancaman pembunuhan. Ferry kemudian memberikan ultimatum agar Ria meminta maaf atau membuktikan klaimnya.
Pengelola kanal tersebut akhirnya menyampaikan permintaan maaf dan menghapus video yang menampilkan pernyataan Ria. Peristiwa itu memperlihatkan gaya Ferry dalam menghadapi kepercayaan yang dianggap tidak memiliki dasar pembuktian.
Ia menggunakan tantangan terbuka untuk menguji klaim, tetapi cara tersebut juga memicu perdebatan mengenai batas kritik, penghinaan, ancaman, dan kebebasan berpendapat.
Perdebatan Mengenai Jurusan Filsafat
Pada Juli 2025, Ferry kembali menimbulkan perdebatan setelah mengunggah sejumlah konten mengenai relevansi jurusan filsafat di perguruan tinggi.
Dalam pembahasannya, ia tidak sepenuhnya menolak pentingnya filsafat. Ferry justru menekankan bahwa filsafat sangat penting untuk membangun kemampuan berpikir kritis.
Namun, menurutnya, model penjurusan filsafat di perguruan tinggi cenderung eksklusif, sulit diakses banyak orang, dan kurang terhubung dengan penerapan praktis.
Ia mengangkat wacana pembubaran jurusan filsafat sebagai cara untuk memancing perdebatan mengenai bentuk pendidikan filsafat.
Menurut gagasannya, filsafat seharusnya tidak hanya dipelajari oleh sekelompok mahasiswa dalam satu jurusan.
Kemampuan berpikir logis, mengenali kesalahan penalaran, memahami etika, dan mempertanyakan asumsi seharusnya diberikan kepada semua mahasiswa. Wacana tersebut mendapat kritik dari berbagai kalangan.
Tokoh Perguruan Taman Siswa, Darmaningtyas, menilai gagasan pembubaran jurusan filsafat terlalu pragmatis. Menurut kritik tersebut, pendidikan tinggi tidak dapat dinilai hanya berdasarkan hubungan langsung dengan lapangan pekerjaan.
Universitas juga memiliki tugas membangun pemikiran kritis, kebudayaan, dan kemampuan manusia memahami kehidupan.
Pengamat lain menyoroti posisi Ferry sebagai selebriti internet yang tidak memiliki kepakaran formal dalam bidang filsafat. Mereka menilai pandangannya berisiko digunakan oleh para pengikut sebagai pembenaran untuk meremehkan suatu disiplin ilmu.
Perdebatan tersebut menunjukkan kekuatan sekaligus risiko seorang pemengaruh. Ferry mampu membawa topik yang biasanya dibahas dalam lingkungan akademik menjadi percakapan publik. Namun, jangkauan yang besar membuat setiap gagasan dapat disederhanakan, disalahpahami, atau diterima tanpa pemeriksaan kritis.
Antara Kritik, Provokasi, dan Pendidikan Publik
Karier Ferry Irwandi berlangsung di wilayah yang tidak memiliki batas tegas antara hiburan, pendidikan, opini, dan aktivisme.
Ketika membahas filsafat, ia berperan sebagai penyederhana gagasan. Ketika mengkritik judi daring, ia menjadi pengawas moral dalam industri pemengaruh. Saat menyoroti kebijakan pemerintah, ia memasuki ruang pengamatan politik. Ketika turun dalam demonstrasi, ia berubah menjadi peserta langsung dalam gerakan sosial. Setiap peran membawa tuntutan yang berbeda.
Seorang pendidik publik harus menjaga akurasi. Seorang aktivis harus memiliki keberanian. Seorang pembuat konten membutuhkan kreativitas. Seorang figur publik juga harus menyadari pengaruh kata-katanya terhadap pengikut.
Ferry sering berada di antara berbagai tuntutan tersebut. Sebagian masyarakat melihatnya sebagai suara kritis generasi digital. Sebagian lainnya menilai pandangannya terlalu menyederhanakan persoalan atau memperoleh bobot yang terlalu besar karena popularitas.
Perdebatan itu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan seorang pemengaruh politik.
Kehidupan Keluarga
Di balik kesibukan sebagai pembuat konten dan aktivis, Ferry menjalani kehidupan keluarga bersama Muthia Nadhira.
Keduanya menikah pada tahun 2015. Muthia dikenal sebagai penyanyi jazz dan juga lulusan PKN STAN. Ia pernah bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Direktorat Jenderal Pajak, Kementerian Keuangan.
Kesamaan latar pendidikan membuat keduanya memahami kehidupan sebagai mahasiswa kedinasan dan aparatur negara.
Dalam perjalanan berikutnya, Ferry memilih meninggalkan birokrasi untuk menekuni dunia kreatif secara penuh.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang anak perempuan dan seorang anak laki-laki. Keluarga menjadi bagian dari kehidupan yang berada di luar sorotan kamera.
Di tengah jadwal produksi, perjalanan, demonstrasi, serta perdebatan publik, terdapat tanggung jawab sebagai suami dan ayah.
Generasi Baru Aktivisme Digital
Ferry Irwandi mewakili generasi baru aktivisme Indonesia yang tumbuh bersama internet. Generasi sebelumnya menyebarkan pamflet, menerbitkan majalah, mengadakan diskusi tertutup, dan berbicara melalui mimbar.
Generasi digital menggunakan video, meme, siniar, utas, dan siaran langsung. Perubahan medium membuat pesan dapat menyebar jauh lebih cepat. Sebuah video dapat ditonton jutaan orang dalam satu hari. Sebuah potongan pernyataan dapat menjadi perdebatan nasional hanya dalam hitungan jam.
Namun, kecepatan itu juga mengurangi waktu untuk memeriksa informasi dan merenungkan sebuah persoalan.
Pembuat konten harus bersaing mendapatkan perhatian. Judul harus menarik, pembukaan harus kuat, dan pesan harus dapat dipahami dengan cepat.
Ferry berusaha menggunakan karakter media tersebut untuk membawa isu serius kepada masyarakat.
Ia membungkus filsafat, politik, dan ekonomi dalam bentuk yang dekat dengan kebiasaan menonton generasi digital.
Dari Videografer Pemerintah Menjadi Pengkritik Kekuasaan
Salah satu perubahan paling menarik dalam perjalanan Ferry terlihat dari hubungannya dengan pemerintah.
Ia pernah menjadi videografer di Kementerian Keuangan dan membantu lembaga negara menyampaikan pesan kepada publik.
Setelah mengundurkan diri, ia justru banyak menggunakan kamera untuk mengkritik kebijakan pemerintah.
Perubahan itu bukan sekadar perpindahan pekerjaan.
Ia beralih dari komunikasi institusional menuju komunikasi independen.
Ketika bekerja untuk pemerintah, pesan yang dibuat harus mengikuti kebijakan dan tujuan lembaga.
Sebagai pembuat konten, Ferry dapat memilih topik, menentukan sudut pandang, dan menyampaikan kritik dengan lebih bebas.
Namun, kebebasan tersebut juga menghilangkan perlindungan dari sebuah institusi besar.
Ia harus menanggung sendiri risiko bisnis, tekanan politik, kritik publik, dan kemungkinan persoalan hukum.
Warisan yang Sedang Dibangun
Perjalanan Ferry Irwandi masih terus berlangsung.
Ia belum berada pada titik ketika karya dan pengaruhnya dapat dinilai sebagai sesuatu yang telah selesai.
Malaka Project masih mengembangkan cita-cita pendidikannya. Kanal YouTube Ferry terus menghasilkan pembahasan baru. Aktivismenya juga bergerak mengikuti perubahan sosial dan politik.
Namun, jejak yang telah terbentuk menunjukkan satu pola yang jelas.
Ferry menggunakan media sebagai alat untuk menjelaskan, memengaruhi, dan menggerakkan masyarakat.
Ia memulai dari kamera di dalam birokrasi, lalu membangun panggungnya sendiri di internet.
Dari video mengenai stoikisme, ia memasuki percakapan mengenai filsafat. Dari kritik terhadap judi daring, ia membahas tanggung jawab pemengaruh. Dari Malaka Project, ia mencoba membangun alternatif pendidikan. Dari demonstrasi, ia membawa persoalan demokrasi ke dalam konten digital.
Kisah Ferry juga memperlihatkan bahwa popularitas tidak pernah datang tanpa konsekuensi.
Semakin besar audiens, semakin besar pula dampak dari sebuah pernyataan.
Kritik dapat menggerakkan masyarakat, tetapi juga dapat memicu konflik. Penyederhanaan dapat membuat ilmu mudah dipahami, tetapi berisiko menghilangkan kerumitannya. Keberanian dapat membuka percakapan, tetapi juga menghadirkan tekanan dari negara dan kelompok lain.
Dari Jambi, Ferry Irwandi menempuh perjalanan menuju PKN STAN, Kementerian Keuangan, studio YouTube, panggung Malaka Project, jalanan demonstrasi, hingga ruang persidangan.
Setiap tempat memberinya peran yang berbeda: mahasiswa, pegawai negeri, videografer, pembuat konten, aktivis, pendiri gerakan pendidikan, dan saksi dalam perkara hukum.
Perjalanan itu menggambarkan perubahan zaman ketika seseorang tidak harus memiliki stasiun televisi, surat kabar, atau partai politik untuk memengaruhi percakapan nasional.
Sebuah kamera, kemampuan bercerita, keberanian menyampaikan pendapat, dan jaringan internet dapat menjadikan seseorang bagian dari perdebatan besar mengenai arah bangsa.
Ferry Irwandi berada di tengah perubahan tersebut—sebagai pembuat konten yang berusaha mengubah penonton menjadi warga yang berpikir, bertanya, dan terlibat dalam kehidupan publik. (PERS)

Updates.