Rustam Didong, Dari Kampus hingga Bappenas dalam Arus Pembangunan Ekonomi Indonesia

    Rustam Didong, Dari Kampus hingga Bappenas dalam Arus Pembangunan Ekonomi Indonesia
    Prof. Dr. Rustam Didong

    TOKOH - Prof. Dr. Rustam Didong lahir pada 21 Desember 1935. Namanya dikenal sebagai salah satu ekonom dan akademisi Indonesia yang menempuh perjalanan panjang di antara dunia pendidikan tinggi, penelitian ekonomi, perencanaan pembangunan, dan pengelolaan institusi akademik.

    Sebagian besar perjalanan intelektualnya bertaut erat dengan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. Dari kampus itulah ia membangun fondasi keilmuannya, memulai karier sebagai dosen, memimpin lembaga penelitian ekonomi, hingga akhirnya dikukuhkan sebagai guru besar.

    Namun kiprahnya tidak berhenti di ruang kuliah. Pengetahuan ekonomi yang dikembangkannya di lingkungan akademik kemudian membawanya ke pusat perencanaan pembangunan nasional. Selama bertahun-tahun, Rustam Didong ikut terlibat dalam proses penyusunan dan pengelolaan kebijakan pembangunan melalui Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas.

    Perjalanan tersebut menjadikannya sosok yang memahami ekonomi bukan hanya sebagai teori, tetapi juga sebagai instrumen untuk membaca arah pembangunan sebuah negara.

    Menempuh Jalan Ekonomi dari Universitas Indonesia

    Perjalanan akademik Rustam Didong dimulai di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

    Ia menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1959, ketika Indonesia masih berada dalam masa awal membangun fondasi ekonominya sebagai negara yang relatif muda.

    Pada masa tersebut, tantangan pembangunan Indonesia sangat besar. Negara harus membangun institusi ekonomi, mengembangkan sektor produksi, menciptakan infrastruktur, sekaligus mencari pola pembangunan yang sesuai dengan kondisi masyarakat.

    Ekonomi menjadi ilmu yang sangat strategis. Rustam memilih bidang itu sebagai jalan intelektualnya. Setelah menyelesaikan pendidikan sarjana, ia tidak berhenti belajar. Kesempatan untuk memperdalam ilmu membawanya ke Amerika Serikat.

    Ia melanjutkan pendidikan di University of California, Berkeley, dan meraih gelar master pada 1962. Belajar di Berkeley mempertemukannya dengan lingkungan akademik yang lebih luas, terutama ketika dunia pada masa itu sedang ramai memperdebatkan pembangunan ekonomi, industrialisasi, perdagangan internasional, dan perubahan struktural negara-negara berkembang.

    Pengalaman tersebut kelak menjadi bekal penting dalam perjalanan akademik dan birokrasi Rustam. Setelah beberapa tahun kembali ke Indonesia, ia kembali menempuh pendidikan di Amerika Serikat, kali ini di University of Southern California, Los Angeles.

    Di universitas tersebut, Rustam menyelesaikan pendidikan doktoral pada 1976. Tiga jenjang pendidikan—Universitas Indonesia, University of California Berkeley, dan University of Southern California—membentuk dasar intelektual yang kemudian dibawanya kembali ke Indonesia.

    Menjadi Dosen dan Membangun Tradisi Akademik

    Karier Rustam Didong sebagai pendidik sebenarnya telah dimulai tidak lama setelah ia menyelesaikan pendidikan sarjana. Pada 1960, ia menjadi dosen Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

    Ruang kuliah kemudian menjadi salah satu bagian terpenting dalam kehidupannya. Mengajar bagi Rustam bukan semata-mata menyampaikan teori ekonomi. Indonesia sedang bergerak melalui berbagai perubahan ekonomi dan politik, sehingga mahasiswa juga harus memahami bagaimana teori itu bekerja ketika berhadapan dengan persoalan nyata.

    Keterlibatannya dalam pendidikan tidak hanya berlangsung di Jakarta. Pada 1963 hingga 1969, ia menjadi dosen afiliasi Universitas Sriwijaya. Peran tersebut membuat pengabdiannya dalam pendidikan ekonomi menjangkau lebih jauh dari Universitas Indonesia.

    Dalam periode yang hampir bersamaan, Rustam juga terlibat dalam pengelolaan penerbitan akademik. Pada 1966 hingga 1967, ia dipercaya menjadi Direktur Yayasan Badan Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

    Kegiatan penerbitan memiliki arti penting dalam kehidupan akademik. Melalui buku dan publikasi ilmiah, pengetahuan tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi dapat diwariskan kepada mahasiswa dan peneliti dari generasi berikutnya.

    Sedikit demi sedikit, Rustam berkembang bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai salah satu figur dalam pengembangan kelembagaan akademik.

    Memimpin LPEM FEUI

    Perjalanan akademiknya memasuki babak penting ketika ia dipercaya memimpin Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia atau LPEM FEUI pada 1982.

    Ia menjabat sebagai Kepala LPEM FEUI hingga 1987. LPEM merupakan salah satu lembaga penelitian ekonomi yang memiliki posisi penting dalam dunia akademik Indonesia. Di lembaga tersebut, penelitian tidak berhenti pada teori, tetapi diarahkan untuk membaca berbagai persoalan ekonomi yang sedang dihadapi masyarakat dan pemerintah.

    Bagi Rustam, posisi itu mempertemukan dunia akademik dengan kebutuhan kebijakan publik. Para ekonom di lingkungan LPEM dituntut memahami persoalan perdagangan, industri, pertanian, investasi, pembangunan daerah, infrastruktur, hingga hubungan ekonomi internasional.

    Di masa kepemimpinannya, Rustam juga aktif terlibat dalam berbagai seminar dan forum ekonomi internasional. Pada September 1982, misalnya, ia menulis kajian berjudul Some Notes on ASEAN Agriculture Exports to the EC: Discriminated or Not? untuk ASEAN–EC Conference on Economic Relations di Brussels.

    Tulisan tersebut membahas hubungan ekonomi antara negara-negara ASEAN dan Masyarakat Ekonomi Eropa, terutama mengenai perdagangan hasil pertanian.

    Setahun kemudian, pada Januari 1983, ia kembali berpartisipasi dalam forum internasional di Manila melalui karya berjudul Asian Economic Integration: Problems and Prospect.

    Persoalan integrasi ekonomi regional menjadi perhatian yang semakin penting ketika negara-negara Asia mulai mencari bentuk kerja sama yang dapat memperkuat posisi mereka dalam perdagangan dunia. Rustam berada di tengah diskusi tersebut.

    Dikukuhkan sebagai Guru Besar

    Tahun 1984 menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan akademiknya. Pada tahun itu, Rustam Didong dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia.

    Gelar profesor merupakan puncak jenjang akademik, tetapi sekaligus membawa tanggung jawab lebih besar dalam pengembangan ilmu pengetahuan.

    Bagi Rustam, pengukuhan tersebut merupakan hasil dari perjalanan panjang sejak menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi UI pada dekade 1950-an, melanjutkan studi ke Amerika Serikat, mengajar, meneliti, hingga memimpin lembaga penelitian ekonomi.

    Pada tahun yang sama, pengabdiannya juga mendapat penghargaan dari negara. Ia menerima Satyalancana Karya Satya Tingkat II dari Presiden Republik Indonesia.

    Karier akademiknya terus berkembang. Pada 1986, Rustam dipercaya menjadi Pembantu Rektor I Universitas Indonesia Bidang Akademik.

    Posisi tersebut membuat tanggung jawabnya meluas dari Fakultas Ekonomi ke tingkat universitas. Selama dua tahun, hingga 1988, ia ikut terlibat dalam pengelolaan kebijakan akademik Universitas Indonesia.

    Tetapi setelah itu, perjalanan hidupnya bergerak semakin dekat ke pusat kebijakan pembangunan nasional.

    Dari Kampus Menuju Bappenas

    Pada 1988, Rustam Didong dipercaya menduduki jabatan Deputi Ketua Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Ia menjalankan tanggung jawab tersebut hingga 1996.

    Perpindahan dari kampus menuju Bappenas bukanlah perubahan yang sepenuhnya terpisah dari perjalanan sebelumnya. Sebaliknya, jabatan tersebut menjadi ruang penerapan dari pengetahuan ekonomi yang telah dikembangkannya selama puluhan tahun.

    Di lingkungan Bappenas, ekonomi tidak lagi hanya dibahas melalui teori dan penelitian. Setiap keputusan berkaitan dengan pembangunan.

    Bagaimana negara mengalokasikan sumber daya.

    Bagaimana infrastruktur dibangun.

    Bagaimana pertumbuhan ekonomi didorong.

    Bagaimana investasi diarahkan.

    Bagaimana kebijakan pembangunan dirancang agar memberikan manfaat bagi masyarakat.

    Sebagai deputi, Rustam berada di dalam proses perencanaan tersebut pada masa ketika Indonesia sedang mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup pesat dan pembangunan infrastruktur menjadi salah satu agenda utama pemerintah.

    Pengalaman akademiknya memberinya cara pandang analitis, sementara pengalaman birokrasi menuntutnya memahami bahwa setiap kebijakan harus berhadapan dengan persoalan anggaran, kelembagaan, politik, dan kebutuhan masyarakat.

    Dunia teori dan dunia kebijakan bertemu.

    Ekonomi dan Infrastruktur

    Keterlibatan Rustam dalam perencanaan pembangunan membuat persoalan infrastruktur menjadi salah satu bidang yang dekat dengan perhatiannya.

    Infrastruktur merupakan fondasi penting bagi aktivitas ekonomi. Jalan, transportasi, energi, telekomunikasi, serta berbagai fasilitas publik menentukan bagaimana barang, manusia, dan modal bergerak.

    Pengalaman tersebut kemudian terlihat pula dalam karya-karyanya. Pada 2000, misalnya, ia terlibat dalam penyusunan White Paper on Regulatory Strategy and Legal Framework to Support Infrastructure Reform, sebuah laporan proyek yang membahas strategi regulasi dan kerangka hukum untuk mendukung reformasi infrastruktur.

    Karya itu menunjukkan bahwa pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan investasi fisik.

    Infrastruktur membutuhkan tata kelola. Dibutuhkan regulasi yang jelas, kepastian hukum, mekanisme pembiayaan, serta hubungan yang sehat antara pemerintah dan dunia usaha.

    Pandangan semacam itu lahir dari pengalaman panjang Rustam yang telah melihat pembangunan dari dua sisi: akademik dan birokrasi.

    Kembali Memimpin Dunia Pendidikan

    Setelah menyelesaikan pengabdiannya di Bappenas, Rustam kembali semakin aktif dalam dunia pendidikan. Pada 1997, ia dipercaya memimpin Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan dan Perbankan Indonesia atau STEKPI.

    Ia menjabat sebagai Ketua STEKPI School of Business and Accounting dan kembali dipercaya untuk periode berikutnya hingga 2006. Posisi tersebut memperlihatkan satu pola yang konsisten dalam perjalanan hidupnya.

    Setelah berada di dunia birokrasi, ia kembali ke kampus. Bagi Rustam, pengalaman pemerintahan tidak dipisahkan dari pendidikan. Sebaliknya, pengalaman tersebut dapat dibawa ke ruang akademik agar mahasiswa memahami bahwa ekonomi bukan hanya sekumpulan rumus dan teori.

    Ekonomi berkaitan dengan keputusan.

    Keputusan memengaruhi perusahaan.

    Keputusan memengaruhi pembangunan.

    Dan pada akhirnya, keputusan ekonomi memengaruhi kehidupan masyarakat. Selain di Universitas Indonesia dan STEKPI, Rustam juga mengajar di Universitas Jayabaya serta aktif memberikan pengajaran dan pelatihan melalui berbagai kursus.

    Dengan demikian, pengetahuan yang dimilikinya tidak hanya disampaikan kepada mahasiswa dalam pendidikan formal, tetapi juga kepada berbagai kalangan melalui kegiatan pelatihan dan pengembangan profesional.

    Pengabdian yang Mendapat Pengakuan

    Perjalanan panjang Rustam Didong memperoleh sejumlah penghargaan. Pada 1983, ia menerima Regional Integration Award dari University of the Philippines dan Institute of European Studies.

    Penghargaan tersebut berkaitan dengan keterlibatannya dalam kajian integrasi ekonomi regional, sebuah tema yang pada masa itu menjadi semakin penting bagi negara-negara ASEAN.

    Setahun kemudian, pada 1984, ia menerima Satyalancana Karya Satya Tingkat II dari Presiden Republik Indonesia.

    Pada 1993, pemerintah kembali memberikan penghargaan berupa Satyalancana Wira Karya. Dua tahun kemudian, pada 1995, Rustam dianugerahi Bintang Jasa Utama dari Presiden Republik Indonesia.

    Penghargaan itu menjadi salah satu bentuk pengakuan negara terhadap kontribusinya dalam pembangunan dan pelayanan publik.

    Pada 2006, pengabdiannya dalam dunia pendidikan juga mendapatkan penghargaan melalui Piagam Anugerah Sewaka Winayaroha dari Departemen Pendidikan Nasional.

    Rangkaian penghargaan tersebut memperlihatkan dua dunia yang berjalan bersamaan sepanjang hidupnya: pembangunan dan pendidikan.

    Akademisi yang Berjalan di Dua Dunia

    Jika perjalanan Rustam Didong dilihat secara utuh, ada satu karakter yang sangat menonjol: kemampuannya bergerak antara dunia akademik dan dunia kebijakan.

    Ia bukan hanya ekonom yang berbicara dari ruang kuliah. Ia pernah berada di pusat penelitian ekonomi. Ia pernah mengelola kebijakan akademik universitas. Ia pernah berada di dalam institusi perencanaan pembangunan nasional.

    Dan setelah itu, ia kembali ke kampus untuk mendidik generasi berikutnya. Pengalaman tersebut memberinya perspektif yang luas tentang ekonomi.

    Di kampus, teori memberikan kerangka untuk memahami masalah. Di lembaga penelitian, data digunakan untuk menguji teori tersebut. Di pemerintahan, penelitian harus diterjemahkan menjadi kebijakan.

    Sementara di ruang kuliah, seluruh pengalaman itu kembali dibagikan kepada mahasiswa. Bagi Rustam, ilmu ekonomi pada akhirnya tidak boleh terpisah dari persoalan pembangunan manusia.

    Pertumbuhan ekonomi harus didukung infrastruktur. Pembangunan membutuhkan regulasi. Kebijakan memerlukan penelitian. Dan semua itu membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki pendidikan serta kemampuan berpikir yang baik.

    Dari Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia hingga Bappenas, dari Berkeley dan Los Angeles hingga ruang-ruang kuliah di Jakarta, perjalanan Prof. Dr. Rustam Didong merupakan kisah seorang akademisi yang menjadikan ilmu sebagai bagian dari pembangunan. Ia mengajar, meneliti, memimpin institusi, merumuskan gagasan, dan terlibat dalam proses perencanaan negara.

    Jejak terpentingnya bukan hanya terletak pada berbagai jabatan yang pernah diembannya, tetapi juga pada upayanya mempertemukan pengetahuan ekonomi dengan kebutuhan nyata pembangunan Indonesia.

    Dalam perjalanan itu, Rustam Didong menunjukkan bahwa seorang akademisi tidak harus memilih antara ruang kampus dan ruang kebijakan.

    Keduanya dapat menjadi satu jalan pengabdian yang sama: menggunakan ilmu pengetahuan untuk membantu memahami, merencanakan, dan membangun masa depan. (PERS)

    rustam didong tokoh minangkabau tokoh indonesia
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Kolaborasi Lanud Sjamsudin Noor dan BRI...

    Artikel Berikutnya

    Moeslim Taher, Dari Sigli Membangun Jayabaya

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Rakor Optimalisasi Posyandu 6 SPM, Koramil Karanganom Dorong Sinergi Tingkatkan Kesehatan Masyarakat
    Kekerasan OPM Tewaskan Sopir Angkutan Masyarakat, TNI Perkuat Pengamanan Dan Kejar Pelaku
    Setetes air membawa harapan, Kodim 0811/Tuban hadir untuk membantu masyarakat menghadapi dampak kemarau
    PHO Perbaikan Saluran Air di Lemahwungkuk, Babinsa Pastikan Pembangunan Sesuai Peruntukan
    Gotong Royong Bersama Masyarakat, Babinsa 0804/05 Poncol Jinakkan Api Kebakaran Lahan Jati di Desa Cileng

    Ikuti Kami