Abdul Somad Batubara, Dari Madrasah di Sumatra Menuju Mimbar Dakwah Nusantara

    Abdul Somad Batubara, Dari Madrasah di Sumatra Menuju Mimbar Dakwah Nusantara
    Dr. Abdul Somad Batubara

    TOKOH - Dr. Abdul Somad Batubara, yang lebih dikenal dengan panggilan Ustaz Abdul Somad, merupakan pendakwah, dosen, dan ahli ilmu hadis serta fikih asal Indonesia. Lahir pada 18 Mei 1977, perjalanan hidupnya dibentuk oleh pendidikan agama yang panjang, mulai dari sekolah berbasis hafalan Al-Qur’an di Sumatra hingga pusat-pusat keilmuan Islam di Mesir, Maroko, dan Sudan.

    Namanya kemudian dikenal luas melalui ceramah yang disampaikan dengan gaya lugas, spontan, dan diselingi humor. Perkembangan internet dan media sosial membuat rekaman ceramahnya menyebar dengan cepat, menjangkau masyarakat jauh di luar ruang masjid atau lokasi tablig akbar.

    Di balik popularitasnya sebagai penceramah, Abdul Somad memiliki perjalanan akademik yang panjang. Ia pernah menjadi dosen Ilmu Hadis di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, mendirikan dan membina lembaga pendidikan, serta menjalankan sejumlah amanah di organisasi Islam.

    Berasal dari Keluarga dengan Jejak Keulamaan

    Abdul Somad lahir dari pasangan Bachtiar Batubara dan Rohana. Dari garis keluarga ibunya, ia memiliki hubungan keturunan dengan Syekh Abdurrahman, seorang ulama sufi yang lebih dikenal dengan sebutan Tuan Syekh Silau Laut I.

    Tuan Syekh Silau Laut I dikenal sebagai tokoh Tarekat Syattariyah yang lahir di wilayah Batu Bara. Garis keluarganya berasal dari perantau Minangkabau yang nenek moyangnya datang dari Mudik Tampang, Rao, Pasaman.

    Jejak keulamaan dalam keluarga tersebut menjadi bagian penting dari latar kehidupan Abdul Somad. Sejak kecil, ia telah berada dalam lingkungan yang menempatkan pendidikan agama sebagai dasar pembentukan diri.

    Kehidupan keagamaannya tidak hanya dibentuk melalui cerita keluarga. Ia menjalani pendidikan yang sejak awal diarahkan pada pembelajaran Al-Qur’an, bahasa Arab, dan ilmu-ilmu Islam.

    Pendidikan Agama Sejak Sekolah Dasar

    Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Abdul Somad belajar di lembaga pendidikan yang memberikan perhatian besar terhadap tahfiz atau hafalan Al-Qur’an.

    Ia menyelesaikan pendidikan di SD Al-Washliyah Kisaran, Kabupaten Asahan, pada tahun 1990. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Mu’allimin Universitas Al-Washliyah Medan.

    Di madrasah tersebut, Abdul Somad mulai mendalami pelajaran agama dalam tingkat yang lebih tinggi. Ia belajar bahasa Arab, fikih, hadis, dan berbagai disiplin keislaman yang menjadi dasar pendidikan seorang calon ulama.

    Setelah tamat pada tahun 1993, ia melanjutkan pendidikan di Pesantren Darularafah, Deli Serdang. Namun, ia hanya belajar di pesantren tersebut selama sekitar satu tahun.

    Pada tahun 1994, Abdul Somad pindah ke Riau. Ia melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Nurul Falah, Air Molek, Kabupaten Indragiri Hulu.

    Perpindahan dari Sumatera Utara menuju Riau menjadi bagian penting dalam perjalanan hidupnya. Kelak, Riau tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi pusat kegiatan akademik dan dakwahnya.

    Abdul Somad menyelesaikan pendidikan madrasah aliyah pada tahun 1996. Setelah itu, ia sempat menempuh kuliah di Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Sultan Syarif Kasim Riau pada periode 1996–1998.

    Bahasa Arab menjadi pintu penting dalam perjalanan keilmuannya. Melalui penguasaan bahasa tersebut, ia dapat membaca kitab-kitab rujukan Islam dalam bahasa aslinya serta melanjutkan pendidikan ke negara-negara Arab.

    Kesempatan Belajar di Universitas Al-Azhar

    Pada tahun 1998, Pemerintah Mesir menawarkan beasiswa kepada 100 orang pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo.

    Kesempatan tersebut menarik minat ratusan calon mahasiswa. Sekitar seribu orang mengikuti proses seleksi untuk memperebutkan seratus tempat yang disediakan.

    Abdul Somad mengikuti ujian itu dan berhasil menjadi salah seorang penerima beasiswa. Ia mengungguli sekitar 900 peserta lainnya yang juga berusaha mendapatkan kesempatan belajar di salah satu pusat pendidikan Islam tertua di dunia.

    Keberangkatannya menuju Kairo membuka babak baru dalam perjalanan intelektualnya.

    Di Universitas Al-Azhar, Abdul Somad mempelajari berbagai disiplin keislaman dalam lingkungan akademik yang mempertemukan pelajar dari berbagai negara.

    Kairo menjadi ruang perjumpaan antara tradisi keilmuan klasik dan kehidupan masyarakat Muslim modern. Di sana, ia berhadapan langsung dengan kitab-kitab, dosen, serta perdebatan keagamaan yang berasal dari berbagai mazhab dan latar budaya.

    Abdul Somad menyelesaikan pendidikan sarjananya dalam waktu sekitar tiga tahun sepuluh bulan. Pada pertengahan tahun 2002, ia memperoleh gelar Licence atau Lc.

    Keberhasilannya menyelesaikan pendidikan di Al-Azhar menjadi salah satu dasar penting dalam perjalanan dakwahnya. Ia tidak hanya membawa pengalaman tinggal di Timur Tengah, tetapi juga memperoleh landasan akademik dalam ilmu agama.

    Dari Malaysia Menuju Maroko

    Setelah menyelesaikan pendidikan di Mesir, Abdul Somad belum ingin menghentikan perjalanan belajarnya.

    Pada tahun akademik 2003–2004, ia melanjutkan pendidikan magister di Fakultas Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia.

    Namun, perkuliahan tersebut hanya dijalaninya selama dua semester. Perjalanan akademiknya kemudian berpindah ke Maroko setelah ia memperoleh kesempatan beasiswa yang baru.

    Pada tahun 2004, Kerajaan Maroko melalui Agence Marocaine de Coopération Internationale menyediakan beasiswa bagi pelajar asing untuk menempuh pendidikan magister dan doktoral.

    Abdul Somad mengikuti proses penerimaan dan berhasil masuk ke Institut Darul-Hadits Al-Hassaniyah di Rabat.

    Lembaga tersebut memiliki sistem seleksi yang ketat. Setiap tahun, hanya sekitar 20 mahasiswa yang diterima. Sebanyak 15 tempat diberikan kepada warga Maroko, sedangkan lima tempat lainnya disediakan bagi pelajar asing.

    Berhasil diterima melalui kuota yang terbatas itu menjadi pencapaian penting bagi Abdul Somad.

    Di Institut Darul-Hadits Al-Hassaniyah, ia semakin memusatkan perhatian pada kajian hadis. Ia mempelajari periwayatan, penilaian terhadap perawi, penelitian kitab, dan metode memahami hadis secara mendalam.

    Pendidikan magister tersebut diselesaikannya dalam waktu sekitar satu tahun sebelas bulan. Pada akhir tahun 2006, ia memperoleh gelar D.E.S.A. atau Diplôme d’Études Supérieures Approfondies, yang berarti diploma studi lanjutan.

    Memulai Karier sebagai Penerjemah

    Setelah menyelesaikan pendidikan magister, Abdul Somad kembali ke Indonesia.

    Pada tahun 2007, ia bekerja sebagai penerjemah untuk sejumlah penerbit buku Islam di Jakarta.

    Pekerjaan tersebut berhubungan erat dengan kemampuan bahasa Arab yang diperolehnya selama bertahun-tahun. Ia menerjemahkan berbagai gagasan dan karya keislaman agar dapat dibaca oleh masyarakat Indonesia.

    Menjadi penerjemah menuntut lebih dari sekadar kemampuan mengganti kata dari satu bahasa ke bahasa lain.

    Seorang penerjemah harus memahami konteks, istilah, gaya bahasa, serta maksud penulis. Kesalahan dalam menerjemahkan teks keagamaan dapat mengubah makna yang ingin disampaikan.

    Pengalaman tersebut turut melatih Abdul Somad dalam memilih kata dan menjelaskan persoalan agama dengan bahasa Indonesia yang lebih mudah dipahami masyarakat.

    Namun, Jakarta tidak menjadi tempatnya menetap dalam waktu lama. Ia kemudian kembali ke Riau dan mulai mengajar di perguruan tinggi swasta.

    Menjadi Dosen Ilmu Hadis

    Pada tahun 2008, Abdul Somad mengikuti seleksi calon pegawai negeri sipil.

    Setahun kemudian, ia resmi diangkat sebagai dosen tetap pada Program Studi Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau.

    Pengangkatan tersebut membawanya kembali ke lingkungan kampus yang pernah menjadi tempatnya belajar Bahasa Arab sebelum berangkat ke Mesir.

    Sebagai dosen Ilmu Hadis, Abdul Somad mengajarkan mahasiswa mengenai sumber, periwayatan, kedudukan, dan metode memahami hadis.

    Ilmu hadis menuntut ketelitian yang tinggi. Setiap riwayat harus dipelajari melalui jalur periwayatan, kepribadian para perawi, isi teks, dan kesesuaiannya dengan sumber-sumber lain.

    Di ruang kuliah, ia berada dalam lingkungan akademik yang mengharuskan pembahasan dilakukan secara sistematis dan berdasarkan rujukan.

    Pengalaman mengajar tersebut memperkuat kemampuannya menjelaskan tema agama secara runtut.

    Namun, di luar kampus, kegiatan dakwahnya semakin berkembang. Undangan ceramah datang dari berbagai daerah, sementara rekaman pengajiannya mulai beredar luas melalui internet.

    Jadwal dakwah yang semakin padat membuatnya kesulitan memenuhi kewajiban untuk hadir setiap hari di kampus.

    Setelah sekitar sepuluh tahun menjadi dosen, Abdul Somad mengajukan pengunduran diri sebagai dosen PNS UIN Sultan Syarif Kasim Riau pada tahun 2019.

    Keputusan tersebut diambil karena kesibukannya sebagai penceramah telah menyita sebagian besar waktu dan membuatnya tidak dapat menjalankan aktivitas kampus secara penuh.

    Meraih Gelar Doktor

    Meskipun kegiatan dakwahnya semakin luas, Abdul Somad tetap melanjutkan perjalanan akademik.

    Pada tahun 2019, ia meraih gelar doktor atau Ph.D. dari Universitas Islam Omdurman, Sudan.

    Gelar tersebut melengkapi perjalanan pendidikannya yang telah berlangsung di beberapa negara.

    Ia memulai pendidikan agama di Sumatra, melanjutkan studi sarjana di Mesir, memperoleh gelar magister di Maroko, dan meraih gelar doktor di Sudan.

    Rangkaian pendidikan itu memperlihatkan luasnya pengalaman akademiknya dalam tradisi studi Islam di berbagai wilayah.

    Setelah memperoleh gelar doktor, Abdul Somad juga mendapat pengakuan dari lembaga pendidikan internasional.

    Ia diangkat sebagai profesor tamu di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Sultan Sharif Ali, Brunei Darussalam, untuk periode 2020–2022. Amanah tersebut kemudian dilanjutkan pada periode 2023–2024.

    Posisi sebagai profesor tamu memberinya kesempatan untuk tetap terlibat dalam kegiatan akademik meskipun tidak lagi menjadi dosen tetap di UIN Sultan Syarif Kasim Riau.

    Dakwah yang Tumbuh Bersama Internet

    Nama Abdul Somad mulai dikenal luas bukan hanya karena latar akademiknya, tetapi juga karena cara menyampaikan ceramah.

    Ia dikenal menggunakan bahasa yang lugas, memberikan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan menyelipkan humor di tengah pembahasan agama.

    Gaya tersebut membuat ceramahnya mudah diterima berbagai kalangan.

    Di tengah pembahasan fikih atau hadis yang cukup serius, Abdul Somad kerap menyampaikan perumpamaan dan kisah ringan. Jamaah dapat tertawa, tetapi tetap menerima pokok pesan yang disampaikan.

    Perkembangan internet di Indonesia turut mempercepat penyebaran ceramahnya.

    Rekaman pengajian yang semula hanya disaksikan jamaah di satu masjid kemudian diunggah ke YouTube, Facebook, Instagram, dan berbagai platform lain.

    Potongan ceramah berdurasi singkat tersebar melalui telepon seluler. Masyarakat dapat mendengarkannya di rumah, kendaraan, kantor, atau ketika beristirahat.

    Internet mengubah skala dakwah Abdul Somad.

    Ia tidak lagi hanya berbicara kepada jamaah yang hadir secara langsung. Setiap ceramah dapat ditonton kembali oleh ratusan ribu bahkan jutaan orang.

    Popularitas tersebut kemudian membawanya berkeliling ke berbagai wilayah Indonesia dan menghadiri tablig akbar dengan jumlah jamaah yang besar.

    Membangun dan Membina Lembaga Pendidikan

    Perjalanan Abdul Somad tidak berhenti pada kegiatan ceramah.

    Ia juga terlibat dalam pengembangan berbagai lembaga pendidikan Islam.

    Abdul Somad menjadi pimpinan Yayasan Pendidikan Hajjah Rohana Berbagi di Sumatera Utara serta mendirikan Yayasan Pendidikan Hajjah Rohana di Riau.

    Nama Hajjah Rohana diambil dari nama ibunya. Penggunaan nama tersebut menjadi bentuk penghormatan terhadap sosok yang memiliki tempat penting dalam perjalanan hidupnya.

    Ia juga menjadi pembina Pondok Pesantren Nurul Azhar di Pekanbaru.

    Melalui pesantren dan yayasan pendidikan, dakwah tidak hanya dilakukan dalam bentuk ceramah. Pendidikan memberikan kesempatan untuk membina peserta didik secara lebih teratur dan berkelanjutan.

    Di dalam lembaga pendidikan, pelajar memperoleh ilmu, pembentukan karakter, kehidupan bersama, dan kebiasaan menjalankan ajaran agama.

    Abdul Somad juga dipercaya menjadi Direktur Lembaga Penyelenggaraan Pendidikan Perti Nasional.

    Amanah itu semakin memperkuat keterlibatannya dalam pengembangan pendidikan Islam melalui organisasi Persatuan Tarbiyah Islamiyah.

    Kehidupan Keluarga

    Pada tahun 2012, Abdul Somad menikah dengan Mellya Juniarti.

    Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai seorang putra bernama Mizyan Hadziq Abdillah.

    Rumah tangga tersebut kemudian berakhir dengan perceraian pada tahun 2019.

    Dua tahun setelahnya, pada tahun 2021, Abdul Somad menikah dengan Fatimah Az Zahra Salim Barabud.

    Dari pernikahan kedua, ia dikaruniai dua orang putra bernama Samy Ahmad Mesbahy ’Ibadillah dan Sadeem Shahrezad ’Ibadillah.

    Ceramah yang Memunculkan Perdebatan

    Popularitas yang besar membuat setiap perkataan Abdul Somad mendapatkan perhatian luas.

    Ceramah yang dahulu disampaikan dalam lingkungan terbatas kini dapat dipotong, disebarkan, ditonton ulang, dan dibicarakan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang.

    Dalam perjalanan dakwahnya, sejumlah pernyataan Abdul Somad memunculkan kontroversi.

    Ia pernah mendapat kritik karena pernyataannya mengenai kebiasaan berbelanja, hubungan dengan kelompok non-Muslim, simbol agama Kristen, pandemi Covid-19, serta konflik Palestina.

    Beberapa ceramahnya dinilai mengandung pandangan yang keras atau tidak sesuai dengan kehidupan masyarakat yang majemuk.

    Pernyataannya mengenai serangan terhadap warga sipil dan penggunaan istilah “mati syahid” dalam konteks aksi peledakan juga memunculkan kecaman karena dianggap dapat membenarkan kekerasan.

    Dalam konteks kesehatan, pernyataan awalnya mengenai Covid-19 sebagai “tentara Allah” serta klaim tentang kelompok tertentu yang terhindar dari wabah juga menjadi bahan perdebatan.

    Kontroversi tersebut memperlihatkan risiko besar yang menyertai dakwah melalui media digital.

    Sebuah pernyataan dapat dipahami berbeda ketika dipisahkan dari konteksnya. Namun, pada saat yang sama, seorang tokoh publik tetap memiliki tanggung jawab terhadap dampak dari kata-kata yang disampaikannya.

    Ceramah mengenai agama, hubungan antarumat, dan konflik internasional membutuhkan kehati-hatian karena dapat memengaruhi sikap para pengikutnya.

    Penolakan Masuk ke Singapura

    Salah satu peristiwa yang mendapat perhatian luas terjadi pada 16 Mei 2022.

    Ketika hendak berkunjung untuk berlibur, Abdul Somad ditolak masuk oleh otoritas imigrasi Singapura.

    Pemerintah Singapura menyatakan bahwa keputusan tersebut diambil karena Abdul Somad dinilai pernah menyampaikan pandangan yang dianggap ekstrem dan memecah belah.

    Otoritas Singapura merujuk beberapa ceramahnya mengenai peledakan dalam konflik, simbol agama Kristen, serta penyebutan terhadap kelompok non-Muslim.

    Abdul Somad meminta penjelasan mengenai penolakan tersebut karena merasa telah membawa dokumen perjalanan yang lengkap.

    Dalam tanggapannya, ia menyampaikan sejumlah pernyataan keras mengenai Singapura, sejarah Melayu, dan hubungan negara tersebut dengan Indonesia.

    Pernyataan itu kembali memunculkan perdebatan.

    Sebagian pendukungnya menyatakan protes melalui media sosial dan berencana melakukan aksi di depan Kedutaan Besar Singapura.

    Sementara itu, pemerintah Singapura mempertahankan keputusan tersebut dengan alasan menjaga keharmonisan masyarakat multietnis dan multiagama.

    Naskah sumber juga mencatat bahwa sebelum peristiwa tersebut, Abdul Somad pernah mengalami penolakan masuk ke sejumlah wilayah lain, termasuk Jerman, Belanda, Inggris, Hong Kong, dan Timor Leste.

    Aktif dalam Organisasi Islam

    Selain mengajar dan berdakwah, Abdul Somad aktif dalam sejumlah organisasi Islam.

    Ia pernah dipercaya menjadi Wakil Ketua Majelis Ifta’ Persatuan Tarbiyah Islamiyah Provinsi Riau untuk periode 2017–2022.

    Majelis Ifta’ merupakan bagian organisasi yang berkaitan dengan pembahasan dan penetapan pandangan hukum Islam terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

    Setelah menyelesaikan masa tugas sebagai wakil ketua, Abdul Somad dipercaya menjadi Ketua Majelis Ifta’ Perti Provinsi Riau untuk periode 2022–2027.

    Ia juga menjadi Wakil Ketua Dewan Fatwa Pengurus Besar Al Jam’iyatul Washliyah untuk periode 2021–2026.

    Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa perannya tidak hanya sebagai penceramah yang berbicara di hadapan jamaah.

    Ia juga terlibat dalam forum yang membahas persoalan fikih, fatwa, pendidikan, serta kebutuhan organisasi Islam.

    Sejak tahun 2025, Abdul Somad dipercaya menjadi Direktur Lembaga Penyelenggaraan Pendidikan Perti Nasional.

    Melalui jabatan tersebut, ia memperoleh tanggung jawab dalam pengembangan dan penyelenggaraan pendidikan di lingkungan Perti.

    Karya dalam Kajian Hadis

    Latar belakang akademik Abdul Somad terutama berpusat pada kajian hadis dan fikih.

    Salah satu karya ilmiahnya adalah tesis berbahasa Arab yang membahas para perawi dalam kitab Al-Muwaththa’ serta dua kitab hadis sahih yang dinilai lemah oleh Imam An-Nasa’i dalam kitab Adh-Dhu’afa’ wal-Matrukin.

    Kajian tersebut memperlihatkan perhatiannya terhadap ilmu rijalul hadis, yaitu disiplin yang meneliti identitas, kehidupan, ketelitian, dan kredibilitas para perawi.

    Dalam kajian hadis, kualitas sebuah riwayat tidak hanya dinilai dari isi teks. Jalur periwayatan dan kepribadian orang-orang yang menyampaikan hadis juga menjadi bagian penting dalam penilaian.

    Penelitian semacam itu membutuhkan ketekunan dalam membandingkan kitab, menelusuri nama perawi, serta memeriksa penilaian para ulama terdahulu.

    Bidang tersebut kemudian menjadi salah satu dasar keilmuan yang dibawanya ketika mengajar dan berdakwah.

    Dari Ruang Kuliah Menuju Mimbar Digital

    Perjalanan Abdul Somad memperlihatkan perubahan besar dalam cara dakwah dilakukan pada zaman modern.

    Ia memulai pendidikan dalam sistem madrasah dan pesantren yang mengandalkan pertemuan langsung antara guru dengan murid.

    Setelah itu, ia menempuh pendidikan formal di universitas-universitas Islam di luar negeri dan kembali menjadi dosen.

    Namun, internet membuat perannya berkembang dari pengajar di ruang kuliah menjadi penceramah yang dikenal oleh masyarakat luas.

    Sebuah telepon genggam dapat merekam ceramahnya. Beberapa menit kemudian, rekaman tersebut dapat tersebar ke berbagai kota dan negara.

    Perubahan tersebut memberikan kesempatan besar bagi penyebaran ilmu, tetapi juga membawa tanggung jawab yang lebih berat.

    Setiap pernyataan dapat memengaruhi orang yang tidak mengenal konteks tempat dan waktu ketika ceramah disampaikan.

    Karena itu, kehidupan Abdul Somad tidak hanya menjadi kisah mengenai keberhasilan seorang pendakwah dalam memanfaatkan teknologi.

    Perjalanannya juga memperlihatkan tantangan seorang tokoh agama ketika setiap kata berada dalam pengawasan publik.

    Jejak Seorang Pendakwah

    Abdul Somad menempuh perjalanan panjang dari sekolah dasar berbasis tahfiz di Kisaran menuju pusat-pusat pendidikan Islam di Kairo, Rabat, dan Omdurman.

    Ia pernah menjadi penerjemah, dosen Ilmu Hadis, profesor tamu, pengelola yayasan pendidikan, pembina pesantren, dan pemimpin lembaga pendidikan Islam.

    Di ruang dakwah, gaya bicaranya yang spontan dan humoris membuatnya dekat dengan banyak jamaah.

    Namun, popularitas besar juga membawa kontroversi dan kritik. Sejumlah pernyataannya mengenai agama, kekerasan, kesehatan, dan hubungan antarkelompok menimbulkan perdebatan di tengah masyarakat.

    Kisah hidupnya memperlihatkan dua sisi dakwah dalam era digital.

    Di satu sisi, teknologi dapat membawa pembahasan agama menjangkau jutaan orang.

    Di sisi lain, teknologi membuat setiap ucapan dapat tersebar tanpa batas, diperdebatkan, dan memberikan dampak yang jauh lebih luas daripada jamaah yang hadir secara langsung.

    Dari keluarga dengan jejak ulama, Abdul Somad membangun dirinya melalui pendidikan agama yang panjang. Ia kemudian membawa pengetahuan tersebut ke kampus, organisasi, pesantren, yayasan, masjid, lapangan terbuka, dan berbagai platform digital.

    Perjalanannya masih terus berlangsung sebagai pendakwah dan tokoh pendidikan Islam yang dikenal luas di Indonesia. (PERS)

    abdul somad tokoh minangkabau
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Panglima TNI Sambut Kepulangan Satgas Kizi...

    Artikel Berikutnya

    Agustiar Syah Nur, Rektor Pertama Universitas...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Pantau Wilayah Teritorial, Sertu Nursam Komsos dengan Kasun Bayuh
    Danramil Nusa Penida Sambangi Peternak Babi di Desa Sekartaji
    TNI Gencarkan Penyuluhan Door to Door Cegah Karhutla di Kabupaten Sambas
    Sinergi Tiga Pilar Perkuat Kamtibmas di Desa Ukirsari
    Aksi Tanggap Sertu Asep Iman Gempur Kebakaran Lahan 2 Hektare di Cibeber

    Ikuti Kami