Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag., Tuanku Mudo, Dari Surau Sikabu Menjadi Guru Besar dan Ulama

    Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag., Tuanku Mudo, Dari Surau Sikabu Menjadi Guru Besar dan Ulama
    Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag., Tuanku Mudo

    TOKOH - Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag., bergelar Tuanku Mudo, tumbuh dari lingkungan yang menjadikan agama, surau, dan pendidikan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Lahir pada 18 Juli 1960, ia kemudian dikenal sebagai dosen, akademisi, ulama, pendakwah, dan penulis asal Sumatera Barat. Perjalanan hidupnya membentang panjang dari sebuah kampung di Sikabu, Lubuk Alung, menuju dunia pesantren, perguruan tinggi, organisasi keagamaan, hingga mencapai jabatan akademik sebagai guru besar. Di kemudian hari, ia dipercaya menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kota Padang selama dua periode, duduk dalam jajaran pimpinan Persatuan Tarbiyah Islamiyah, serta terus mengabdikan diri dalam dunia pendidikan Islam.

    Tumbuh dalam Keluarga Guru Agama

    Duski Samad lahir sebagai salah seorang dari 12 bersaudara dalam keluarga Djalaluddin dan Maimunah. Kehidupan keluarga itu sangat dekat dengan tradisi keagamaan masyarakat Minangkabau. Ayahnya merupakan tokoh agama di Sikabu yang menjalankan berbagai tanggung jawab sosial-keagamaan. Selain menjadi qadi nikah, Djalaluddin aktif mengurus masjid dan mengajarkan Al-Qur'an kepada anak-anak di kampung. Ibunya, Maimunah, juga memiliki peran serupa. Ia mengajarkan mengaji dan dasar-dasar ilmu keislaman, terutama kepada anak-anak perempuan. Pengabdian keduanya membuat masyarakat memberikan penghormatan dengan menyebut mereka sebagai Guru Tuo, sebutan bagi guru agama yang dituakan dan dihormati.

    Keluarga menjadi madrasah pertama bagi Duski. Ia tidak hanya menyaksikan kedua orang tuanya mengajar agama kepada masyarakat, tetapi juga menerima pendidikan langsung dari mereka. Ayahnya dikenal sebagai pribadi yang sangat tegas dalam mendidik anak-anak. Duski mengenangnya sebagai orang yang keras dalam menegakkan disiplin. Ketika perintah tidak dilaksanakan, sang ayah tidak segan memberikan hukuman. Di balik ketegasan itu tersimpan harapan besar agar anak-anaknya tumbuh sebagai pribadi yang disiplin, bertanggung jawab, dan memiliki dasar agama yang kuat.

    Sejak berusia sekitar enam tahun, bahkan sebelum memasuki sekolah dasar, Duski telah belajar agama kepada ayahnya di Surau Balenggek Sikabu Bukik yang terletak tidak jauh dari rumah. Di tempat itulah dasar-dasar kehidupan keagamaannya mulai dibentuk. Ia belajar bacaan salat, rukun tiga belas, membaca Al-Qur'an, serta mendengarkan berbagai kaba atau cerita sebelum tidur. Surau bagi Duski kecil bukan sekadar tempat ibadah, melainkan ruang hidup tempat ia belajar, bergaul, dan memahami kebersamaan. Pada hari libur, anak-anak surau bergotong royong membersihkan tempat tersebut, kemudian berjalan sekitar dua kilometer menuju Tapian Puti untuk mandi bersama. Kenangan kehidupan surau itulah yang kelak terus melekat dalam perjalanan intelektual dan keagamaannya.

    Anak Sawah yang Mulanya Enggan Bersekolah

    Duski mulai bersekolah di Sekolah Dasar Nomor 2 Sikabu pada 1968. Menariknya, anak yang kelak menjadi profesor tersebut pada awalnya tidak begitu tertarik dengan pendidikan formal. Ia lebih senang membantu ayahnya bertani dan bermain di sawah daripada duduk mengikuti pelajaran di sekolah. Sekolah baginya ketika itu belum memiliki daya tarik yang kuat. Namun seorang tetua kampung bernama Muhammad Djamil memberikan nasihat yang kemudian membekas dalam pikirannya. Muhammad Djamil bertanya apakah Duski ingin menjadi koncek atau katak yang sepanjang hidupnya hanya senang berada di sawah. Teguran sederhana itu menjadi salah satu dorongan yang membuatnya terus bersekolah.

    Walaupun mengikuti pendidikan formal, pelajaran agama tetap menjadi bagian utama kehidupannya. Sebelum berangkat dan sepulang sekolah, ia belajar kepada ayahnya di surau bersama anak-anak lain. Pada usia yang masih sangat muda, Duski telah diperkenalkan dengan kitab-kitab dasar yang lazim dipelajari dalam tradisi pendidikan Islam tradisional. Ia belajar Matan Bina, Matan Ajrumiah, Matan Taqrib, hingga Tafsir Jalalain. Sang ayah juga selalu mengingatkannya mengenakan peci ketika pergi ke sekolah. Bagi ayahnya, berkopiah merupakan salah satu tanda urang siak, yakni orang yang dikenal dekat dengan kehidupan keagamaan.

    Duski sendiri mengakui bahwa pada masa-masa awal sekolah ia bukanlah murid yang menonjol dalam kecerdasan akademik. Ketertarikannya terhadap sekolah tumbuh perlahan, salah satunya karena ia memiliki teman-teman di sana. Meskipun demikian, ia terus naik kelas dan mulai menunjukkan keberanian untuk tampil. Ketika duduk di kelas V sekolah dasar, ia dipercaya mewakili Kecamatan Lubuk Alung dalam Pekan Olahraga Seni dan Agama tingkat Kabupaten Padang Pariaman. Pengalaman itu belum memberikan kemenangan. Ketika tampil, Duski justru pingsan tanpa diketahui secara pasti penyebabnya. Namun kegagalan tersebut tidak menjadi akhir. Beberapa tahun kemudian, panggung pidato justru menjadi salah satu ruang yang membesarkan namanya.

    Kehilangan Ayah dan Wasiat Al-Qur'an

    Masa kecil Duski mengalami titik balik besar ketika ayahnya jatuh sakit keras. Menjelang meninggal dunia, Djalaluddin meninggalkan sebuah pesan yang sangat membekas. Ia meminta anak-anaknya agar tidak larut dalam tangisan ketika dirinya meninggal. Sang ayah berpesan agar mereka mengambil Al-Qur'an dan membacanya. Bagi Duski, pesan tersebut bukan sekadar kata-kata terakhir seorang ayah, tetapi menjadi warisan spiritual yang terus diingatnya sepanjang kehidupan.

    Pada 31 Mei 1971, Djalaluddin meninggal dunia. Duski ketika itu baru berusia sekitar 11 tahun dan masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika anggota keluarga lainnya menangis di sekitar jenazah, Duski teringat pada pesan sang ayah. Ia mengambil Al-Qur'an dan mulai membacanya hingga akhirnya tertidur di dekat jenazah ayahnya. Peristiwa tersebut menjadi salah satu pengalaman paling kuat dalam pembentukan kehidupan batinnya. Kehilangan pada usia muda membuatnya harus belajar menerima kenyataan, sementara pesan terakhir sang ayah semakin mengikatnya kepada Al-Qur'an dan tradisi keagamaan yang telah ditanamkan sejak kecil.

    Meninggalnya Djalaluddin juga meninggalkan kekosongan dalam kehidupan keagamaan masyarakat Sikabu. Warga kemudian meminta Tuanku Salih, seorang ulama asal Balah Air VII Koto, untuk melanjutkan peran keagamaan yang selama ini dijalankan ayah Duski. Sejak saat itu Duski melanjutkan belajar kitab kepada Tuanku Salih di Surau Lereng Kampung Tangah Sikabu. Hubungan mereka berkembang semakin dekat hingga Duski dipercaya menjadi asisten Tuanku, yang dalam tradisi setempat disebut sebagai “Sampan” Tuanku.

    Sebagai Sampan, Duski mengikuti Tuanku Salih dalam berbagai kegiatan masyarakat. Ia mendampingi sang guru ketika memimpin kenduri, menghadiri kematian, maupun menjalankan kegiatan pada peringatan hari-hari besar Islam seperti Maulid Nabi. Pengalaman itu memperkenalkannya sejak usia muda kepada kehidupan seorang ulama yang sebenarnya. Ia belajar bahwa ulama tidak hanya bertugas membaca kitab atau menyampaikan ceramah, melainkan juga hadir dalam berbagai fase kehidupan masyarakat, baik ketika mereka mengalami kegembiraan maupun ketika menghadapi duka. Dalam kegiatan tersebut, Duski terkadang memperoleh imbalan sebagai pendamping Tuanku, sesuatu yang juga membantu kehidupan ekonominya.

    Perjuangan Seorang Ibu

    Sepeninggal ayahnya, figur terpenting dalam kehidupan Duski adalah Maimunah. Ibunya harus membesarkan anak-anak dalam kondisi ekonomi yang tidak mudah. Bahkan sebelum suaminya meninggal, Maimunah telah membantu keluarga dengan berjualan makanan dan minuman di kedai di Simpang Empat Sikabu. Setelah menjadi orang tua tunggal, perjuangannya menjadi semakin berat. Ia kemudian berjualan kain dari kampung ke kampung dengan berjalan kaki, terkadang menempuh perjalanan lebih dari sepuluh kilometer dalam sehari.

    Perjalanan dagang Maimunah membawanya dari Sikabu menuju Surantih, Kayu Gadang, Koto Buruk, hingga Kampung Koto. Penjualan tidak selalu dilakukan dengan pembayaran uang tunai. Ia juga menerima sistem barter. Kain dapat dibayar dengan ayam, telur, beras, atau barang lain yang dapat dibawa pulang dan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Duski bersama saudara-saudaranya terkadang ikut mendampingi sang ibu. Dari sosok Maimunah itulah ia belajar tentang kerja keras, kesetiaan, dan tanggung jawab. Ia menyaksikan secara langsung bagaimana pendidikan anak-anak mereka dipertahankan melalui kerja keras seorang ibu yang tidak mengenal menyerah.

    Pengalaman tersebut memberikan pemahaman bahwa pendidikan bukan sesuatu yang diperoleh tanpa pengorbanan. Di balik kesempatan seorang anak untuk terus belajar, ada orang tua yang berjalan berkilo-kilometer, berdagang, dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Ketangguhan ibunya kelak menjadi salah satu fondasi pembentukan karakter Duski sebagai pribadi yang mandiri dan terbiasa bekerja keras.

    Menjadi Santri di MTI Batang Kabung

    Setelah menyelesaikan sekolah dasar, Duski melanjutkan perjalanan sesuai keinginan yang telah diwasiatkan ayahnya. Pada 13 Agustus 1973, ibunya membawanya ke Madrasah Tarbiyah Islamiyah Batang Kabung di Koto Tangah. Daerah tersebut ketika itu masih termasuk wilayah Kabupaten Padang Pariaman. MTI Batang Kabung merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam yang dikenal luas dan dipimpin oleh Syekh H. Salif Tuanku Sutan, ulama yang populer dengan sebutan Buya Batang Kabung. Buya juga memiliki hubungan dekat dengan mendiang ayah Duski.

    Kemasyhuran Buya Batang Kabung membuat madrasah tersebut didatangi santri dari berbagai daerah, bahkan dari luar Sumatera Barat. Ketika mengikuti seleksi masuk, kemampuan keagamaan Duski mendapat perhatian. Bekal yang diperolehnya dari ayah dan Tuanku Salih membuatnya telah mampu membaca kitab tafsir serta memahami dasar nahwu dan saraf. Karena kemampuan tersebut, Buya Batang Kabung menempatkannya langsung di kelas II. Pendidikan surau yang dijalaninya sejak usia enam tahun terbukti memberikan fondasi kuat ketika memasuki pendidikan pesantren secara formal.

    Kehidupan sebagai santri membawa Duski memasuki dunia baru. Ia tinggal di asrama bersama santri dari Tandikat yang dikenal sebagai kelompok Andestan, singkatan dari Anak Desa Tandikat. Persahabatan di lingkungan tersebut turut membentuk pola pikir dan pergaulannya. Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar kitab, tetapi juga sekolah kehidupan. Di sana ia belajar mandiri, berbagi ruang dengan teman, menghadapi keterbatasan, serta mengatur kehidupan jauh dari keluarga.

    Dalam masa pesantren, Duski sempat mengikuti para senior melakukan mamakiah. Ia pernah mengikuti seorang senior bernama Tamar Jaya dari Padangsago menyusuri daerah Kasang, Kuliek, hingga Salisikan Pasar Usang. Namun pengalaman tersebut tidak berlangsung lama. Setelah pernah ditakut-takuti oleh Tamar ketika mereka melewati kawasan hutan dan tempat sepi, Duski memilih tidak lagi mengikuti mamakiah. Ia kemudian mencari cara lain untuk memperoleh tambahan biaya pendidikan, yakni bekerja di sawah.

    Membiayai Pendidikan dengan Kerja Sendiri

    Kondisi ekonomi keluarga membuat kiriman uang dari kampung sangat terbatas. Duski memahami keadaan ibunya sehingga ia tidak ingin sepenuhnya bergantung pada keluarga. Ketika memasuki kelas IV madrasah, ia mulai membiayai sekolahnya secara mandiri. Ia bekerja di sawah milik masyarakat serta bertanam cabai dan bengkuang bersama Buya Jamaris di lahan milik Buya Imam Maulana Batang Kabung. Kehidupannya pada masa itu berjalan antara kitab, surau, kelas, dan sawah.

    Kerja keras tersebut tidak menjauhkannya dari kehidupan keagamaan. Sebaliknya, pada masa itulah Duski mulai belajar berdakwah di tengah masyarakat. Lingkup dakwahnya pada awalnya masih sederhana dan didominasi lingkungan surau, orang-orang tua, serta anak-anak mengaji. Namun pengalaman tersebut menjadi latihan penting bagi kemampuan komunikasinya. Sedikit demi sedikit ia belajar menyampaikan pengetahuan agama bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga kepada orang lain.

    Kemampuan berbicara itu mulai terlihat ketika pada 1975 ia mewakili MTI Batang Kabung dalam lomba pidato antarmadrasah se-Kota Padang. Kali ini, pengalaman buruk ketika pingsan pada lomba semasa sekolah dasar tidak terulang. Duski justru tampil sebagai juara pertama. Ia memperoleh hadiah sebuah jam weker yang diserahkan dalam peringatan Isra Mikraj di Mushalla Darus Salikin Batang Kabung. Kemenangan tersebut menjadi salah satu titik penting yang menumbuhkan keyakinannya untuk berbicara di hadapan masyarakat. Anak yang sebelumnya pernah gagal di atas panggung mulai menemukan kemampuan yang kemudian menjadi bagian penting kehidupannya sebagai pendakwah.

    Belajar Memimpin melalui Organisasi

    Selain belajar agama, Duski aktif berorganisasi sejak masih menjadi santri. Ketika duduk di kelas III pesantren, ia telah terlibat dalam Ikatan Pelajar Tarbiyah Islamiyah atau IPTI, yang juga dikenal dengan sebutan Ittihadut Thalabah. Kemampuan organisasinya berkembang dengan cepat. Pada sekitar 1975, ketika duduk di kelas V, ia dipercaya menjadi Ketua Umum IPTI MTI Batang Kabung. Jabatan tersebut memberinya ruang untuk belajar memimpin, mengorganisasi kegiatan, dan memahami dinamika organisasi Islam.

    Pada masa kepemimpinannya, lingkungan Tarbiyah Islamiyah tengah menghadapi dinamika politik yang kuat. Dalam Musyawarah Kerja Daerah PERTI se-Sumatera Barat pada 1975, santri MTI Batang Kabung terlibat sebagai tuan rumah kegiatan. Pada masa itu Persatuan Tarbiyah Islamiyah mengalami perpecahan berkaitan dengan pilihan politik. Kelompok yang memakai nama TARBIYAH mendukung Golongan Karya, sedangkan kelompok yang menggunakan nama PERTI memilih Partai Persatuan Pembangunan. Buya Batang Kabung mengambil sikap tegas berpihak kepada PPP, meskipun terdapat berbagai tawaran untuk mendukung Golkar.

    Sebagai aktivis pelajar yang tumbuh dalam lingkungan tersebut, Duski ikut terlibat dalam dinamika politik. Ketika Pemilu 1977 berlangsung, ia ikut menggerakkan dukungan kepada PPP sesuai sikap madrasah dan afiliasi organisasi yang diikutinya. Keterlibatan itu berlanjut pada tingkat yang lebih luas. Duski mengakui pernah aktif di Dewan Pimpinan Cabang Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang dalam periode Pemilu 1977, 1982, dan 1987. Fase tersebut menjadi sekolah sosial-politik bagi dirinya dan memperluas pengalaman di luar ruang pesantren.

    Dari Santri Menjadi Guru

    Setelah menyelesaikan pendidikan di MTI Batang Kabung pada 1982, Duski melanjutkan pendidikan tinggi di Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang. Pilihan tersebut merupakan kelanjutan dari jalan keilmuan yang ditempuh sejak masa kecil. Ia mendalami bidang Aqidah dan Filsafat serta berhasil menyelesaikan pendidikan sarjana muda dengan gelar B.A. pada 1985. Tiga tahun kemudian, pada 1988, ia menyelesaikan program sarjana lengkap dan memperoleh gelar doktorandus.

    Menariknya, perjalanan sebagai pendidik sebenarnya telah dimulai bahkan sebelum ia menyelesaikan pendidikan tinggi. Sejak 1980 Duski sudah mengajar di MTI Batang Kabung. Lembaga yang dahulu mendidiknya sebagai santri kemudian menjadi tempatnya berdiri sebagai guru. Pada 1988, tanggung jawabnya semakin besar ketika dipercaya menjadi Kepala Madrasah Aliyah MTI Batang Kabung. Jabatan tersebut diembannya hingga 1993.

    Transformasi dari santri menjadi guru mempunyai arti penting dalam perjalanan Duski. Ia mulai memahami bahwa ilmu tidak berhenti ketika seseorang berhasil membaca dan memahami kitab. Ilmu baru memperoleh makna sosial ketika dapat diteruskan kepada generasi berikutnya. Pengalaman mengajar di madrasah tersebut kemudian menjadi salah satu fondasi bagi perjalanan panjangnya sebagai akademisi.

    Menapaki Dunia Perguruan Tinggi

    Tahun 1988 menjadi fase penting dalam karier akademiknya. Selain mengajar dan memimpin madrasah, Duski menjadi dosen kader pada Fakultas Ushuluddin IAIN Imam Bonjol Padang hingga 1993. Pada periode yang sama ia juga mengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Syekh Burhanuddin Pariaman antara 1988 hingga 1997. Kariernya di STIT Syekh Burhanuddin berkembang ketika ia dipercaya menjadi Pembantu Ketua I Bidang Akademis untuk periode 1992–1997. Selain itu, ia juga tercatat sebagai dosen tetap Sekolah Tinggi Agama Islam Yayasan Tarbiyah Islamiyah Padang pada periode 1988–1997.

    Aktivitas tersebut memperlihatkan luasnya ruang pengabdian Duski dalam pendidikan Islam. Ia bergerak dari madrasah menuju perguruan tinggi, sekaligus terus mempertahankan hubungan dengan lingkungan Tarbiyah Islamiyah yang telah membentuknya sejak masa remaja. Pengalaman sebagai guru, kepala madrasah, dan dosen memberinya perspektif yang luas tentang pendidikan, mulai dari tingkat sekolah hingga pendidikan tinggi.

    Pada 1 Maret 1992, Duski resmi diangkat sebagai calon pegawai negeri sipil sebagai dosen di IAIN Imam Bonjol Padang. Selanjutnya, pada 1 Desember 1993, ia menjadi dosen tetap pegawai negeri sipil. Sejak fase itu, IAIN Imam Bonjol—yang kemudian berubah menjadi Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang—menjadi rumah utama perjalanan akademiknya. Ia mengajar, meneliti, menulis, dan membimbing mahasiswa dalam tradisi keilmuan Islam.

    Memperdalam Pemikiran Islam di Jakarta

    Kesibukan sebagai dosen tidak menghentikan keinginannya untuk melanjutkan pendidikan. Pada 1997, Duski memperoleh beasiswa dari Departemen Agama Republik Indonesia untuk mengikuti pendidikan magister pada Program Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia memilih bidang pemikiran Islam, sebuah kajian yang memperluas perspektifnya dari tradisi pendidikan surau dan pesantren menuju diskursus keislaman dalam lingkungan akademik modern.

    Perpindahan ke Jakarta mempertemukannya dengan lingkungan intelektual yang lebih luas. Di sana ia mendalami berbagai persoalan pemikiran Islam dan berinteraksi dengan tradisi akademik yang berkembang di salah satu pusat studi Islam terkemuka di Indonesia. Pada 1999, Duski berhasil menyelesaikan program tersebut dan memperoleh gelar Magister Agama.

    Keinginannya untuk terus belajar belum selesai. Duski melanjutkan pendidikan doktoral dalam bidang kajian Islam pada institusi yang kemudian berkembang menjadi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada 2003, ia berhasil meraih gelar doktor. Pencapaian tersebut menjadi tonggak penting dalam kehidupan akademiknya. Anak yang dahulu sempat enggan pergi ke sekolah, lebih memilih bermain di sawah, kehilangan ayah ketika masih kecil, dan harus bekerja untuk membiayai pendidikan, akhirnya mencapai jenjang akademik tertinggi.

    Menjadi Guru Besar

    Setelah memperoleh gelar doktor, Duski terus mengembangkan aktivitas akademik di IAIN Imam Bonjol Padang. Ia aktif mengajar, menulis, berdakwah, serta mengembangkan pemikiran keislaman. Perjalanan akademik yang telah dibangunnya selama puluhan tahun akhirnya mencapai salah satu titik penting pada 2008 ketika ia diangkat menjadi guru besar.

    Pengangkatan sebagai profesor seakan melengkapi lingkaran panjang perjalanan sebuah keluarga pendidik. Ayah dan ibunya dahulu dikenal masyarakat Sikabu sebagai Guru Tuo yang mengajarkan Al-Qur'an dan dasar-dasar agama kepada anak-anak kampung. Beberapa dekade kemudian, putra mereka berdiri sebagai guru besar di sebuah perguruan tinggi Islam negeri. Ruang pengabdiannya memang berubah dari surau kampung menjadi universitas, tetapi nilai dasarnya tetap sama: menyampaikan ilmu dan membentuk manusia melalui pendidikan.

    Pencapaian sebagai guru besar tidak menjauhkan Duski dari akar kehidupan keagamaannya. Ia tetap dikenal sebagai pendakwah dan ulama yang aktif berkomunikasi dengan masyarakat. Pada saat yang sama, tradisi akademiknya membuat dakwah dan pandangan keagamaannya bertumpu pada proses pembelajaran, pembacaan, serta pengembangan gagasan secara sistematis.

    Ulama, Akademisi, dan Penulis

    Duski Samad dikenal sebagai figur yang mempertemukan dunia akademik dan dunia dakwah. Di kampus ia menjalankan tugas sebagai profesor dan pendidik, sedangkan di tengah masyarakat ia hadir sebagai ulama dan pendakwah. Dua dunia tersebut tidak dipandangnya sebagai ruang yang terpisah. Justru pengalaman pesantren, surau, organisasi, dan perguruan tinggi saling melengkapi dalam membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan umat.

    Selain mengajar dan berdakwah, ia juga aktif menulis buku-buku bertema keislaman. Bagi seorang akademisi dan ulama, tulisan memiliki fungsi penting karena memungkinkan gagasan hidup lebih panjang daripada sebuah ceramah. Pemikiran yang disampaikan melalui mimbar mungkin hanya didengar oleh masyarakat yang hadir pada suatu kesempatan, tetapi tulisan dapat dibaca kembali oleh generasi yang berbeda, didiskusikan, dikritik, dan dikembangkan. Tradisi menulis menjadi salah satu jalan Duski dalam memperluas pengabdian intelektualnya.

    Latar belakangnya yang berakar kuat pada tradisi keislaman Minangkabau sekaligus ditempa oleh pendidikan akademik modern membuatnya berada pada posisi unik. Ia mengenal kultur surau dari dalam, menjalani tradisi pendidikan pesantren Tarbiyah Islamiyah, sekaligus memahami metodologi dan dinamika perguruan tinggi. Kombinasi tersebut menjadikannya salah satu figur yang berupaya menjembatani warisan keulamaan tradisional dengan perkembangan intelektual Islam kontemporer.

    Memimpin MUI Kota Padang

    Kepercayaan masyarakat terhadap Duski semakin besar ketika pada 2012 ia dipercaya menjabat Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Kota Padang. Amanah tersebut kemudian diberikan kembali untuk periode berikutnya sehingga ia memimpin MUI Kota Padang selama dua periode hingga 2021.

    Posisi sebagai Ketua Umum MUI membawa Duski menghadapi persoalan umat dalam cakupan yang jauh lebih luas daripada ruang akademik. Seorang ketua organisasi ulama tidak hanya berhadapan dengan persoalan ibadah, tetapi juga perkembangan sosial, pendidikan, budaya, ekonomi, kehidupan keluarga, dan berbagai problem masyarakat yang membutuhkan pertimbangan keagamaan. Pengalaman panjangnya sebagai santri, pendakwah, aktivis organisasi, dan akademisi menjadi modal penting dalam menjalankan tanggung jawab tersebut.

    Kiprahnya di MUI juga memperlihatkan kesinambungan perjalanan yang telah dimulai sejak menjadi Sampan Tuanku ketika masih kecil. Jika dahulu ia mengikuti Tuanku Salih menghadiri kenduri, kematian, dan kegiatan agama masyarakat Sikabu, beberapa dekade kemudian ia memimpin lembaga ulama di salah satu kota terbesar di Sumatera Barat. Ruang pengabdiannya berubah, tetapi substansinya tetap berhubungan dengan pelayanan keagamaan kepada masyarakat.

    Kembali Mengabdi di Persatuan Tarbiyah Islamiyah

    Tarbiyah Islamiyah merupakan bagian yang sangat penting dalam perjalanan hidup Duski Samad. MTI Batang Kabung membentuknya sebagai santri, IPTI mengajarkannya kepemimpinan organisasi, dan lingkungan PERTI memperkenalkannya kepada dinamika sosial-keagamaan sejak usia muda. Karena itu, keterlibatannya dalam Persatuan Tarbiyah Islamiyah pada fase kehidupan berikutnya bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba, melainkan kelanjutan dari akar sejarah panjang perjalanan dirinya.

    Pada periode 2022–2027, Duski Samad dipercaya menjadi Wakil Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Amanah itu menempatkannya dalam jajaran pimpinan organisasi yang telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak masa santri. Ia juga masuk dalam Dewan Pembina Nasional Kesatuan Mahasiswa Tarbiyah Islamiyah periode 2022–2025. Posisi tersebut memberinya ruang untuk turut membina generasi muda Tarbiyah Islamiyah yang kelak akan melanjutkan estafet organisasi dan pendidikan.

    Ada semacam lingkaran sejarah dalam perjalanan ini. Pada masa remaja, Duski merupakan seorang santri yang memimpin organisasi pelajar Tarbiyah Islamiyah di MTI Batang Kabung. Puluhan tahun kemudian, ia berada dalam jajaran pimpinan pusat PERTI serta menjadi pembina mahasiswa Tarbiyah Islamiyah pada tingkat nasional. Dari seorang kader muda, ia tumbuh menjadi salah satu figur senior yang bertanggung jawab memikirkan keberlanjutan organisasi.

    Menjaga Pertemuan Surau dan Kampus

    Salah satu hal menarik dari perjalanan Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag. adalah kemampuannya menjalani dua tradisi keilmuan sekaligus. Ia tumbuh dari pendidikan surau dan pesantren yang berakar dalam masyarakat Minangkabau, tetapi kemudian berkembang dalam dunia perguruan tinggi modern hingga mencapai gelar doktor dan profesor. Kedua tradisi tersebut tidak saling menghapus. Justru keduanya membentuk karakter intelektualnya.

    Surau mengajarkannya kedekatan agama dengan kehidupan masyarakat. Pesantren memperkenalkannya kepada tradisi kitab dan disiplin pendidikan Islam. Organisasi melatih keberanian untuk memimpin. Sawah mengajarkan arti kerja keras. Sang ibu memberinya teladan tentang ketangguhan. Sang ayah meninggalkan disiplin dan kecintaan kepada Al-Qur'an. Sementara perguruan tinggi memperluas cakrawala berpikir serta memperkenalkannya kepada tradisi penelitian dan pemikiran akademik.

    Pertemuan pengalaman tersebut membuat kehidupan Duski Samad dapat dilihat sebagai representasi perjalanan seorang ulama-akademisi. Ia tidak meninggalkan akar tradisional ketika memasuki universitas, tetapi juga tidak berhenti pada pemahaman tradisional ketika mendapat kesempatan menempuh pendidikan tinggi. Ia bergerak di antara keduanya dan menjadikan ilmu sebagai jembatan.

    Dari Guru Tuo kepada Guru Besar

    Jika perjalanan Duski Samad ditarik kembali kepada keluarga tempat ia dilahirkan, terdapat sebuah kesinambungan yang menarik. Djalaluddin dan Maimunah tidak memiliki ruang kuliah besar atau jabatan akademik. Mereka mengajar anak-anak di kampung melalui surau dan kehidupan sehari-hari. Masyarakat menghormati mereka dengan sebutan Guru Tuo. Dari keluarga sederhana itulah lahir seorang anak yang kemudian menjadi guru besar.

    Perjalanan tersebut tentu tidak berlangsung lurus dan mudah. Duski pernah menjadi anak yang enggan bersekolah. Ia pernah kehilangan ayah ketika baru berusia 11 tahun. Ia menyaksikan ibunya berjalan berkilo-kilometer menjajakan kain. Ia pernah hidup dengan kiriman biaya yang terbatas dan harus bekerja di sawah untuk membiayai pendidikan pesantren. Ia pernah menanam cabai dan bengkuang untuk bertahan sebagai santri. Namun semua pengalaman itu tidak menghentikannya untuk terus belajar.

    Dari MTI Batang Kabung ia melangkah menuju IAIN Imam Bonjol. Dari Padang ia kemudian pergi ke Jakarta untuk menempuh pendidikan pascasarjana. Dari seorang guru madrasah ia berkembang menjadi dosen, doktor, lalu profesor. Dari aktivis pelajar Tarbiyah Islamiyah ia tumbuh menjadi salah satu pimpinan pusat organisasi tersebut. Dari anak yang dahulu mengikuti seorang Tuanku menghadiri kegiatan keagamaan masyarakat, ia kemudian dipercaya memimpin Majelis Ulama Indonesia Kota Padang.

    Ilmu sebagai Jalan Pengabdian

    Kehidupan Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag., Tuanku Mudo, memperlihatkan bahwa pendidikan dapat mengubah arah perjalanan seseorang tanpa harus memutus hubungan dengan akar kehidupannya. Ia tetap membawa surau, pesantren, dan nilai keluarga ke dalam perjalanan akademiknya. Gelar profesor tidak menghapus identitasnya sebagai santri, sebagaimana dunia dakwah tidak membuatnya meninggalkan tradisi intelektual perguruan tinggi.

    Perjalanannya sekaligus menunjukkan bahwa seorang guru dapat lahir dari pengalaman yang sangat sederhana. Tidak selalu dari ruang pendidikan yang mewah, tetapi dapat bermula dari surau kampung, sawah, ketegasan seorang ayah, ketangguhan seorang ibu, dan keinginan untuk terus belajar di tengah keterbatasan. Pendidikan dalam kehidupan Duski bukan semata-mata proses memperoleh ijazah. Ia merupakan jalan panjang pembentukan karakter.

    Ada pula satu pesan yang terasa kuat dari kisah tersebut: ilmu merupakan warisan yang terus bergerak. Djalaluddin mengajarkan agama kepada Duski. Tuanku Salih melanjutkan pendidikan setelah ayahnya wafat. Buya Batang Kabung membentuknya di pesantren. Para guru dan akademisi di perguruan tinggi memperluas wawasan intelektualnya. Setelah itu, Duski mengambil posisi sebagai orang yang meneruskan ilmu tersebut kepada mahasiswa, santri, jamaah, dan generasi organisasi berikutnya.

    Dari Guru Tuo lahir seorang guru besar. Dari Surau Balenggek lahir perjalanan menuju ruang akademik tertinggi. Dari anak yang dahulu lebih suka berada di sawah tumbuh seorang profesor, ulama, pendakwah, penulis, dan pemimpin organisasi Islam. Semua itu tidak terjadi dalam satu lompatan besar, melainkan melalui perjalanan panjang yang dibangun sedikit demi sedikit oleh pendidikan, kerja keras, kehilangan, ketekunan, serta pengabdian.

    Pada akhirnya, kisah Prof. Dr. H. Duski Samad, M.Ag., Tuanku Mudo, bukan hanya cerita mengenai seorang akademisi yang berhasil memperoleh gelar tertinggi di perguruan tinggi. Ia merupakan cerita mengenai kesinambungan ilmu dari keluarga kepada masyarakat, dari surau kepada kampus, dari guru kepada murid, dan dari satu generasi menuju generasi berikutnya. Jalan yang dimulainya sejak kecil di Sikabu terus berkembang menjadi pengabdian yang jauh lebih luas—namun akar pertamanya tetap berada di tempat yang sama: keluarga, Al-Qur'an, dan sebuah surau di kampung halaman. (PERS)

    prof. dr. h. duski samad tokoh minangkabau tokoh indonesia
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Wapang TNI Tinjau Kesiapan Yonif TP di Sumatera...

    Artikel Berikutnya

    Dr. Hendri: Penjajahan Modern Datang Melalui...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Pantau Wilayah Teritorial, Sertu Nursam Komsos dengan Kasun Bayuh
    Danramil Nusa Penida Sambangi Peternak Babi di Desa Sekartaji
    TNI Gencarkan Penyuluhan Door to Door Cegah Karhutla di Kabupaten Sambas
    Sinergi Tiga Pilar Perkuat Kamtibmas di Desa Ukirsari
    Aksi Tanggap Sertu Asep Iman Gempur Kebakaran Lahan 2 Hektare di Cibeber

    Ikuti Kami