Prof. Dr. H. Basir Barthos merupakan seorang akademisi dan tokoh pendidikan Indonesia yang mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk membangun lembaga pendidikan tinggi. Ia lahir di Padang pada 12 Mei 1940 dan dikenal sebagai pendiri Universitas Borobudur Jakarta.
Perjalanan Basir Barthos dalam dunia pendidikan tidak dimulai dari gedung kampus yang luas atau fasilitas yang lengkap. Ia memulainya dari ruang-ruang sederhana yang disewa, dengan keyakinan bahwa pendidikan dapat tumbuh di mana saja selama dibangun dengan kesungguhan, keberanian, dan cita-cita yang besar.
Dari sebuah sekolah dasar negeri yang dikontrak di kawasan Matraman, Jakarta, ia merintis lembaga pendidikan yang kemudian berkembang menjadi sebuah universitas. Perjalanan tersebut memperlihatkan kegigihan seorang pendidik dalam mengubah keterbatasan menjadi peluang bagi ribuan orang untuk memperoleh pendidikan tinggi.
Dari Padang Menuju Dunia Pendidikan
Basir Barthos lahir dan tumbuh di Padang, Sumatera Barat. Daerah kelahirannya dikenal memiliki tradisi pendidikan dan budaya merantau yang kuat. Lingkungan tersebut turut membentuk semangatnya untuk belajar, bekerja keras, dan membangun kehidupan di luar kampung halaman.
Dalam perjalanan kariernya, Basir memilih dunia akademik sebagai ruang pengabdian. Sebelum mendirikan lembaga pendidikan sendiri, ia telah memperoleh pengalaman dalam pengelolaan perguruan tinggi.
Ia pernah dipercaya menjabat sebagai Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jayabaya. Pengalaman tersebut memberinya pemahaman tentang kehidupan kampus, tata kelola pendidikan, kebutuhan mahasiswa, serta berbagai tantangan dalam mengembangkan perguruan tinggi.
Dari pengalaman itulah tumbuh gagasan untuk mendirikan lembaga pendidikan yang dapat menjangkau lebih banyak masyarakat. Basir ingin membangun tempat belajar yang tidak hanya memberikan ijazah, tetapi juga membekali mahasiswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang dapat digunakan dalam kehidupan kerja.
Namun, mendirikan lembaga pendidikan bukanlah pekerjaan mudah. Dibutuhkan biaya, tenaga pengajar, kurikulum, perizinan, sarana, serta kepercayaan masyarakat.
Basir tidak menunggu semua fasilitas tersedia. Ia memulai dari apa yang dimilikinya.
Bermula dari Sebuah Sekolah Dasar Kontrakan
Kisah pendirian Universitas Borobudur bermula dari sebuah bangunan sekolah dasar negeri di Jalan Matraman Raya, Jakarta Pusat.
Basir Barthos mengontrak sebagian ruang di sekolah tersebut untuk menjalankan kegiatan pendidikan. Gedung itu tentu belum menyerupai kampus besar. Ruang belajar terbatas dan fasilitas yang tersedia masih sederhana.
Namun, bagi Basir, keterbatasan tempat bukan alasan untuk menghentikan langkah. Ia percaya bahwa sebuah lembaga pendidikan besar dapat dimulai dari ruang yang kecil.
Untuk menaungi cita-cita tersebut, Yayasan Pendidikan Borobudur didirikan pada 11 Maret 1971. Basir Barthos dipercaya menjadi ketua yayasan dan memimpin langsung pengembangan lembaga pendidikan yang berada di bawah naungannya.
Nama Borobudur dipilih sebagai identitas lembaga. Seperti Candi Borobudur yang dibangun melalui susunan batu demi batu hingga menjadi bangunan besar, lembaga pendidikan tersebut juga dirintis secara bertahap melalui kerja keras dan ketekunan.
Pada tahun 1972, Basir mendirikan tiga unit akademi. Ketiganya adalah Akademi Akuntansi Borobudur, Akademi Keuangan dan Perbankan Borobudur, serta Akademi Bahasa Asing Borobudur.
Pemilihan bidang tersebut disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dan dunia kerja pada masa itu. Akuntansi, keuangan, perbankan, dan bahasa asing merupakan bidang yang semakin dibutuhkan seiring berkembangnya kegiatan ekonomi dan hubungan internasional di Jakarta.
Mahasiswa mulai berdatangan untuk mengikuti perkuliahan. Para dosen mengajar dalam fasilitas yang masih terbatas, sementara pengelola terus berusaha menjaga agar kegiatan akademik berjalan dengan baik.
Di tengah keterbatasan tersebut, Basir tidak hanya bertindak sebagai pendiri. Ia terlibat langsung dalam pengelolaan lembaga, memikirkan perkembangan program pendidikan, membangun jaringan, serta menumbuhkan kepercayaan masyarakat.
Dari Tiga Akademi Menjadi Universitas
Tiga akademi yang dirintis Basir Barthos terus mengalami perkembangan. Jumlah mahasiswa bertambah dan kebutuhan terhadap program pendidikan yang lebih luas semakin besar.
Perkembangan tersebut mendorong Yayasan Pendidikan Borobudur meningkatkan status lembaganya. Akademi-akademi yang awalnya berdiri secara terpisah kemudian dikembangkan menjadi sebuah perguruan tinggi dengan bidang pendidikan yang lebih beragam.
|
Baca juga:
Moeslim Taher, Dari Sigli Membangun Jayabaya
|
Pada tahun 1982, Universitas Borobudur resmi berdiri. Peresmian tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang Basir Barthos sebagai pendidik.
Impian yang dahulu dimulai dari ruang kontrakan di sebuah sekolah dasar akhirnya berkembang menjadi universitas.
Sebagai pendiri sekaligus rektor, Basir memikul tanggung jawab besar. Ia harus memastikan universitas yang baru berdiri memiliki arah akademik yang jelas, tenaga pengajar yang memadai, serta program studi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Universitas Borobudur kemudian membuka berbagai fakultas dan program pendidikan. Bidang ilmu yang dikembangkan antara lain ekonomi, hukum, teknik, pertanian, dan ilmu komputer.
Selain fakultas-fakultas tersebut, lembaga pendidikan di bawah Yayasan Pendidikan Borobudur juga mengembangkan sejumlah akademi dan program keterampilan. Di antaranya adalah Akademi Akuntansi, Akademi Keuangan dan Perbankan, Akademi Bahasa Asing, Teknik Komputer, serta Manajemen Informatika Borobudur.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa Basir tidak membatasi universitas hanya pada satu bidang ilmu. Ia berupaya membangun lembaga pendidikan yang dapat menyesuaikan diri dengan perubahan zaman dan kebutuhan dunia kerja.
Membangun Kampus di Kalimalang
Seiring bertambahnya jumlah mahasiswa dan program pendidikan, lokasi di Matraman tidak lagi mampu menampung seluruh kegiatan akademik.
Basir kembali menghadapi sebuah keputusan besar. Universitas membutuhkan tempat yang lebih luas agar dapat berkembang.
Kegiatan pendidikan kemudian dipindahkan ke Jalan Raya Kalimalang, Jakarta Timur. Di kawasan tersebut, Universitas Borobudur membangun kampus di atas lahan seluas sekitar empat hektare.
Perpindahan itu menjadi babak baru dalam sejarah universitas. Dari gedung kontrakan yang terbatas, Universitas Borobudur akhirnya memiliki kawasan kampus sendiri.
Di tempat baru tersebut, berbagai fasilitas pendidikan dapat dikembangkan. Ruang kuliah, kantor pengelola, perpustakaan, laboratorium, serta fasilitas penunjang lainnya dibangun secara bertahap.
Kampus Kalimalang menjadi bukti nyata bahwa cita-cita Basir Barthos terus bertumbuh. Setiap gedung yang berdiri merupakan kelanjutan dari langkah kecil yang pernah dimulainya di Matraman.
Dalam perkembangannya, Universitas Borobudur menaungi ribuan mahasiswa. Lembaga tersebut juga didukung oleh ratusan dosen tetap dan karyawan yang menjalankan kegiatan akademik serta administrasi.
Bagi Basir, pertumbuhan jumlah mahasiswa bukan hanya keberhasilan kelembagaan. Di balik setiap mahasiswa terdapat keluarga yang menaruh harapan terhadap pendidikan dan masa depan anak-anak mereka.
Karena itu, mengelola universitas berarti menjaga kepercayaan masyarakat.
Seorang Rektor dan Pembangun Lembaga
Sebagai rektor, Basir Barthos tidak hanya menjalankan kegiatan seremonial. Ia menjadi tokoh utama dalam menentukan arah perkembangan Universitas Borobudur.
Ia harus berhadapan dengan berbagai persoalan, mulai dari pengembangan kurikulum, penyediaan tenaga pengajar, pengelolaan keuangan, pembangunan fasilitas, hingga pemenuhan ketentuan pendidikan tinggi.
Membangun universitas memerlukan kesabaran. Hasilnya tidak dapat dilihat dalam waktu singkat. Sebuah kampus membutuhkan waktu untuk membangun reputasi, melahirkan lulusan, dan memperoleh kepercayaan masyarakat.
Basir menjalani proses tersebut selama bertahun-tahun.
Ia mengembangkan Universitas Borobudur bukan hanya sebagai tempat perkuliahan, tetapi juga sebagai lingkungan akademik yang memberi kesempatan kepada masyarakat untuk meningkatkan pendidikan.
Pengalaman sebagai dosen, dekan, pendiri yayasan, dan rektor menjadikannya memahami pendidikan dari berbagai sisi. Ia mengetahui kebutuhan mahasiswa, memahami tantangan dosen, serta mengerti bahwa pengelolaan kampus membutuhkan ketegasan dan keberlanjutan.
Di bawah kepemimpinannya, Universitas Borobudur terus berkembang dan dikenal sebagai salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta.
Keluarga yang Tumbuh Bersama Dunia Pendidikan
Di balik kesibukannya membangun universitas, Basir Barthos menjalani kehidupan keluarga bersama Rohana Suganda, seorang perempuan Sunda.
Pernikahan mereka dikaruniai tujuh orang anak. Keluarga tersebut tumbuh berdampingan dengan perjalanan Yayasan Pendidikan Borobudur dan Universitas Borobudur.
Bagi keluarga Basir, universitas bukan sekadar tempat kerja sang ayah. Lembaga tersebut menjadi bagian dari kehidupan mereka.
Anak sulungnya, Bambang Bernanthos, mengikuti jejak sang ayah dalam dunia pendidikan. Ia aktif mengelola berbagai kegiatan pendidikan dan kemudian dipercaya menggantikan Basir sebagai Ketua Yayasan Pendidikan Borobudur.
Pergantian kepemimpinan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan lembaga. Basir memahami bahwa universitas yang dibangunnya harus mampu bertahan melampaui masa kepemimpinannya.
Putrinya, Megawati Barthos, juga menekuni dunia akademik. Ia dipercaya menjadi Dekan Fakultas Hukum Universitas Borobudur.
Keterlibatan anak-anaknya menunjukkan bahwa semangat pendidikan yang ditanamkan Basir berkembang di dalam keluarga. Mereka tidak hanya mewarisi nama, tetapi juga tanggung jawab untuk melanjutkan dan mengembangkan lembaga yang telah dirintis.
Putranya yang lain, Mohammad Guntur, memilih ruang pengabdian melalui organisasi kepemudaan dan politik. Ia dikenal sebagai Ketua Umum Pemuda Perti serta Ketua Umum Laskar Muda Hanura.
Meskipun menempuh bidang yang berbeda, anak-anak Basir membawa semangat keterlibatan dalam kehidupan masyarakat sebagaimana yang dicontohkan oleh ayah mereka.
Menyiapkan Regenerasi
Salah satu tantangan terbesar seorang pendiri adalah memastikan lembaga yang dibangunnya tidak berhenti ketika dirinya tidak lagi memimpin.
Basir Barthos memahami pentingnya regenerasi. Karena itu, kepemimpinan Yayasan Pendidikan Borobudur kemudian dilanjutkan oleh putra sulungnya, Bambang Bernanthos.
Penyerahan kepemimpinan tersebut bukan hanya pergantian jabatan. Di dalamnya terdapat penyerahan amanah, sejarah, dan cita-cita yang telah dibangun selama puluhan tahun.
Generasi berikutnya bertugas mempertahankan nilai-nilai pendirian universitas sekaligus menyesuaikannya dengan perubahan zaman.
Dunia pendidikan tinggi terus berubah. Teknologi berkembang, kebutuhan tenaga kerja bergeser, dan persaingan antarperguruan tinggi semakin kuat.
Lembaga yang dahulu dimulai dengan tiga akademi kini harus menghadapi tantangan pendidikan digital, perkembangan ilmu pengetahuan, serta tuntutan peningkatan mutu.
Regenerasi menjadi cara agar Universitas Borobudur terus hidup dan berkembang tanpa kehilangan semangat awal pendiriannya.
Akhir Perjalanan Sang Pendiri
Prof. Dr. H. Basir Barthos meninggal dunia pada 17 Juni 2021 dalam usia 81 tahun.
Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga besar, para dosen, karyawan, mahasiswa, alumni, serta seluruh pihak yang pernah bekerja bersamanya.
Namun, warisan Basir tidak berakhir bersama wafatnya. Universitas Borobudur tetap berdiri dan melanjutkan kegiatan pendidikan yang dahulu dirintisnya.
Setiap mahasiswa yang memasuki ruang kuliah, setiap dosen yang mengajar, dan setiap lulusan yang mengabdikan ilmunya di tengah masyarakat menjadi bagian dari warisan panjang tersebut.
Nama Basir Barthos akan selalu berkaitan dengan sejarah berdirinya Universitas Borobudur. Ia adalah sosok yang mengubah ruang kelas kontrakan menjadi sebuah perguruan tinggi.
Warisan Seorang Pendidik
Perjalanan hidup Basir Barthos menunjukkan bahwa sebuah lembaga besar tidak selalu dimulai dengan modal dan fasilitas yang sempurna.
Universitas Borobudur bermula dari sebuah keyakinan. Basir melihat kebutuhan masyarakat terhadap pendidikan tinggi, kemudian berani mengambil langkah untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Ia tidak menunggu memiliki lahan luas untuk memulai. Ia menggunakan ruang yang tersedia.
Ia tidak langsung mendirikan universitas dengan banyak fakultas. Ia memulainya melalui tiga akademi.
Ia membangun sedikit demi sedikit, memperluas program pendidikan, menambah tenaga pengajar, meningkatkan status lembaga, dan akhirnya memindahkan kampus ke kawasan yang lebih besar.
Dari proses itulah terlihat watak seorang pendiri. Basir bukan hanya memiliki gagasan, tetapi juga ketekunan untuk mengubah gagasan tersebut menjadi lembaga nyata.
Ia mengabdikan hidupnya untuk membangun jembatan antara masyarakat dan pendidikan tinggi.
Bagi sebagian orang, kampus mungkin hanya tampak sebagai kumpulan gedung, ruang kuliah, dan kantor. Namun, bagi Basir Barthos, kampus merupakan tempat manusia membangun harapan.
Melalui Universitas Borobudur, ribuan mahasiswa memperoleh kesempatan belajar, para dosen mendapatkan ruang untuk mengembangkan ilmu, dan masyarakat memperoleh lulusan dari berbagai bidang.
Dari Padang, Basir Barthos merantau dan membangun kehidupannya di Jakarta. Dari pengalaman sebagai akademisi, ia tumbuh menjadi pendiri universitas. Dari ruang-ruang kontrakan di Matraman, ia meletakkan dasar bagi kampus yang kemudian berdiri di atas lahan seluas empat hektare di Kalimalang.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak selalu lahir dari kemewahan. Pendidikan sering kali tumbuh dari keberanian seseorang untuk memulai, kesediaan menghadapi keterbatasan, dan keteguhan mempertahankan cita-cita.
Prof. Dr. H. Basir Barthos telah menyelesaikan perjalanan hidupnya. Namun, universitas yang dibangunnya terus menjalankan tugas yang dahulu ia mulai: membuka pintu ilmu pengetahuan dan membantu generasi muda menata masa depan. (PERS)

Updates.