TOKOH - Perjalanan hidup Prof. Ismet Fanany, Ph.D. bergerak di antara dua dunia yang sama-sama kuat membentuk dirinya: dunia akademik dan dunia sastra. Lahir pada 9 April 1952 di Kotopanjang, Tanah Datar, Sumatera Barat, Ismet tumbuh dalam lingkungan Minangkabau yang kaya dengan tradisi bahasa, cerita, dan kebiasaan merantau. Dari daerah kelahirannya itu, langkahnya kemudian bergerak jauh, menembus berbagai ruang pendidikan hingga membawanya mengajar di sejumlah universitas di Asia, Australia, dan Amerika Serikat, sembari tetap menjaga hubungan yang erat dengan dunia kepenulisan.
Ketertarikan Ismet terhadap bahasa dan sastra telah tumbuh sejak muda. Ia mulai menulis ketika masih duduk di bangku sekolah menengah. Kebiasaan tersebut terus berlanjut saat ia memasuki perguruan tinggi. Ketika menjadi mahasiswa Jurusan Bahasa Inggris di IKIP Padang, salah satu cerpennya berhasil dimuat di Harian Haluan, Padang. Bagi seorang mahasiswa yang baru menapaki dunia kepenulisan, pemuatan karya itu menjadi salah satu pintu awal menuju perjalanan panjang sebagai cerpenis, novelis, dan kolumnis.
Namun Ismet tidak hanya membangun dirinya melalui tulisan. Ia juga menempuh pendidikan secara serius dalam bidang bahasa.
Pada 1974, Ismet menyelesaikan pendidikan Sarjana Muda atau B.A. di Jurusan Bahasa Inggris IKIP Padang. Keinginannya memperdalam pendidikan kemudian membawanya meninggalkan Sumatera Barat dan melanjutkan studi ke Jawa Timur. Ia masuk IKIP Malang dan menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1978.
Dari Indonesia, perjalanan akademiknya kemudian bergerak lebih jauh ke Amerika Serikat. Ismet melanjutkan pendidikan doktoral di Cornell University, salah satu universitas yang memiliki tradisi kuat dalam kajian Asia Tenggara. Pada 1990, ia berhasil menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar Ph.D.
Pendidikan tersebut menjadi fondasi penting bagi karier akademiknya. Bidang bahasa, sastra, serta kajian Indonesia dan Melayu kemudian menjadi ruang utama pengabdiannya.
Karier internasional Ismet mulai berkembang pada awal 1990-an. Pada 1992 hingga 1993, ia mengajar di Jurusan Kajian Melayu, National University of Singapore. Lingkungan akademik Singapura memberinya kesempatan untuk menempatkan bahasa dan kebudayaan Melayu dalam perspektif regional yang lebih luas.
Dari Singapura, perjalanan itu berlanjut ke Australia. Pada 1993, Ismet dipercaya menjadi Ketua Jurusan Bahasa dan Kajian Asia di Universitas Tasmania. Jabatan tersebut menempatkannya tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai akademisi yang ikut mengembangkan program bahasa dan kajian kawasan Asia di lingkungan universitas Australia.
Beberapa tahun kemudian, pada 1998, tanggung jawab akademiknya kembali berkembang. Ismet dipercaya menjadi Ketua Program Bahasa dan Kajian Indonesia di Universitas Deakin, Melbourne.
Di sinilah salah satu sisi penting perjalanan hidupnya terlihat. Ismet tidak hanya membawa dirinya sebagai akademisi Indonesia yang mengajar di luar negeri, tetapi juga membawa bahasa, kebudayaan, dan kajian tentang Indonesia masuk ke ruang pendidikan internasional.
Melalui kegiatan akademiknya, mahasiswa di Australia dapat mempelajari Indonesia bukan hanya dari sisi bahasa, tetapi juga masyarakat, budaya, sastra, dan berbagai dinamika yang membentuk kehidupan bangsa Indonesia.
Namun kesibukan akademik tidak membuat Ismet meninggalkan dunia sastra yang telah dicintainya sejak muda.
Di sela aktivitas mengajar dan memimpin program akademik, ia terus menulis.
Cerpen-cerpennya muncul di berbagai media nasional, termasuk Harian Kompas. Dari sana, namanya semakin dikenal sebagai salah satu penulis yang memiliki hubungan kuat dengan pengalaman manusia, rantau, masyarakat, dan kehidupan sehari-hari.
Pada 1996, cerpennya yang berjudul “Separoh Jalan” terpilih sebagai salah satu cerpen terbaik Kompas. Karya tersebut kemudian dimuat dalam kumpulan cerpen Kompas Pistol Perdamaian.
Setahun kemudian, pada 1997, cerpen “Hadiah dari Rantau” kembali memperoleh pengakuan sebagai salah satu cerpen terbaik Kompas dan diterbitkan dalam kumpulan Anjing-anjing Menyerbu Kuburan.
Pengakuan terhadap karya Ismet tidak berhenti di sana. Pada 2002, cerpennya berjudul “Batu Menangis” kembali terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas. Cerpen tersebut kemudian dimuat dalam kumpulan cerpen Jejak Tanah.
Rangkaian penghargaan tersebut memperlihatkan konsistensi Ismet dalam dunia cerita pendek. Meski sebagian besar hidup profesionalnya dijalani di lingkungan universitas, kemampuannya menangkap pengalaman manusia melalui sastra tetap tumbuh.
Salah satu tema yang kuat dalam banyak karyanya adalah pengalaman tentang manusia, perjalanan, kampung halaman, dan rantau. Hal itu terasa dekat dengan pengalaman masyarakat Minangkabau, tempat merantau bukan semata perpindahan geografis, tetapi bagian dari perjalanan hidup.
Ismet sendiri menjalani pengalaman itu.
Ia lahir di Tanah Datar.
Belajar di Padang.
Melanjutkan pendidikan di Malang.
Menempuh doktoral di Amerika Serikat.
Mengajar di Singapura.
Kemudian membangun karier akademik di Australia.
Dengan demikian, kehidupan yang dijalaninya memiliki hubungan erat dengan tema perjalanan yang sering muncul dalam dunia sastra.
Setelah cukup lama dikenal melalui cerita pendek, Ismet kemudian menerbitkan novel pertamanya.
Pada 2003, terbit novel Kusut melalui Dian Aksara Press, Bandung. Novel tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan kepenulisannya karena menunjukkan bahwa ruang kreatif Ismet tidak hanya berada dalam cerita pendek.
Karya lainnya, Bulan Susut, kemudian diterbitkan oleh Kompas.
Novel tersebut memperoleh perhatian hingga ke luar Indonesia. Dua novel karya Ismet terpilih oleh National Endowment for the Arts atau NEA, sebuah lembaga nasional Amerika Serikat yang memberikan dukungan terhadap bidang seni dan kesusastraan.
NEA kemudian memberikan dukungan bagi penerbitan Bulan Susut dalam bahasa Inggris.
Proses penerjemahan karya tersebut memiliki cerita tersendiri karena dilakukan oleh istrinya, Rebecca Fanany, seorang perempuan asal Amerika Serikat yang menjadi pasangan hidup Ismet.
Kehidupan pribadi dan intelektual keduanya pun bertemu dalam dunia bahasa.
Ismet dan Rebecca tidak hanya menjadi pasangan suami istri, tetapi juga memiliki hubungan akademik dan kepenulisan. Bersama istrinya, Ismet menulis buku The Wisdom of Malay Proverbs, sebuah karya yang memperlihatkan perhatian keduanya terhadap kebudayaan, bahasa, dan kekayaan peribahasa Melayu.
Dari pernikahan tersebut, Ismet dan Rebecca dikaruniai dua orang anak.
Kehidupan lintas budaya yang dijalani Ismet juga memberikan warna tersendiri dalam perjalanannya. Ia berasal dari Minangkabau, menikah dengan perempuan Amerika Serikat, menempuh pendidikan di Indonesia dan Amerika, lalu mengembangkan karier di Singapura dan Australia.
Namun di tengah pengalaman internasional itu, hubungannya dengan bahasa dan kebudayaan Indonesia tidak pernah terputus.
Justru sebagian besar karier akademiknya dibangun dengan memperkenalkan bahasa, kajian Indonesia, dan kebudayaan Melayu kepada masyarakat internasional.
Jika perjalanan Ismet Fanany ditarik dalam satu garis panjang, terlihat sebuah kehidupan yang secara konsisten bergerak di antara bahasa, pendidikan, dan sastra.
Ia belajar bahasa Inggris sejak muda.
Menjadi mahasiswa bahasa.
Menulis cerpen.
Melanjutkan pendidikan hingga doktoral.
Mengajar kajian Melayu di Singapura.
Memimpin program bahasa dan kajian Asia di Tasmania.
Mengembangkan Bahasa dan Kajian Indonesia di Melbourne.
Dan di sela semua itu, ia tetap menulis cerita yang berbicara tentang manusia dan kehidupannya.
Perjalanannya menunjukkan bahwa seorang akademisi tidak harus terpisah dari dunia kreatif. Sebaliknya, ilmu pengetahuan dan sastra dapat saling memperkaya.
Pengalaman akademik memberikan kedalaman pada cara memandang masyarakat dan budaya.
Sementara sastra memberikan ruang untuk menyampaikan pengalaman manusia dengan cara yang lebih hidup, dekat, dan emosional.
Di situlah posisi Prof. Ismet Fanany, Ph.D. menjadi menarik. Ia tidak hanya hadir sebagai seorang pengajar Indonesia yang membangun karier akademik di luar negeri, tetapi juga sebagai sastrawan yang tetap menjaga hubungan dengan bahasa, cerita, dan pengalaman masyarakat asalnya.
Dari Kotopanjang di Tanah Datar hingga kampus-kampus di Singapura dan Australia, perjalanan Ismet Fanany menjadi kisah tentang seorang perantau intelektual yang membawa Indonesia bersamanya—melalui ruang kuliah, penelitian, bahasa, novel, dan cerita pendek.
Ia memperkenalkan Indonesia melalui ilmu.
Ia menceritakan manusia melalui sastra.
Dan di antara keduanya, Ismet Fanany membangun sebuah perjalanan panjang yang mempertemukan kampung halaman dengan dunia. (PERS)

Updates.