TOKOH - Antoni Tsaputra, S.S., M.A., Ph.D. lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 19 Desember 1976. Dalam perjalanan hidupnya, Antoni dikenal sebagai seorang akademisi sekaligus aktivis yang banyak mencurahkan perhatian pada dunia pendidikan dan isu-isu sosial.
Sejak lahir, Antoni menjalani kehidupan dengan menggunakan kursi roda. Namun, kondisi tersebut tidak pernah menjadi alasan baginya untuk berhenti belajar ataupun membatasi cita-cita. Justru dari keterbatasan itulah tumbuh ketekunan yang kemudian membawanya menempuh perjalanan akademik hingga jenjang doktoral.
Masa sekolah Antoni menjadi salah satu gambaran kuat tentang kecintaannya terhadap pendidikan. Sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, ia dikenal sebagai siswa berprestasi. Peringkat pertama hampir selalu menjadi bagian dari perjalanan akademiknya.
Kegemarannya membaca sudah tumbuh sejak kecil. Buku menjadi jendela yang membawanya melihat dunia jauh melampaui lingkungan tempat ia tumbuh. Kebiasaan membaca itu pula yang perlahan membentuk keinginan Antoni untuk terus melanjutkan pendidikan setinggi mungkin.
Selepas menyelesaikan pendidikan menengah, Antoni memilih Sastra Inggris di Universitas Andalas, Padang, sebagai tempat melanjutkan studinya. Di perguruan tinggi tersebut, ia menempuh pendidikan sarjana dan semakin memperluas wawasan akademiknya.
Keinginannya untuk terus belajar kemudian membawanya menyeberang ke Australia. Antoni memperoleh Australian Awards Scholarship untuk melanjutkan pendidikan magister di Griffith University, Brisbane. Di universitas tersebut, ia mendalami bidang Jurnalistik dan Komunikasi Massa.
|
Baca juga:
Moeslim Taher, Dari Sigli Membangun Jayabaya
|
Pengalaman belajar di Australia membuka babak baru dalam kehidupan Antoni. Ia tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga berhadapan langsung dengan lingkungan pendidikan dan kehidupan sosial yang berbeda. Pengalaman itu semakin memperkuat perhatiannya terhadap persoalan komunikasi, pendidikan, dan kehidupan kelompok penyandang disabilitas.
Perjalanan akademiknya belum selesai. Pada 2015, Antoni kembali mendapatkan kesempatan melanjutkan pendidikan di Australia setelah memperoleh beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Kali ini ia menempuh pendidikan doktoral di University of New South Wales (UNSW).
Empat tahun kemudian, pada 2019, perjalanan panjang tersebut membuahkan hasil. Antoni berhasil menyelesaikan pendidikan doktoralnya. Gelar Ph.D. menjadi pencapaian penting dari perjalanan seorang anak yang sejak kecil menjadikan pendidikan sebagai jalan untuk menembus berbagai batas.
Di tengah kesibukan akademik dan aktivitas sosialnya, kehidupan pribadi Antoni juga memasuki babak baru. Pada Desember 2011, ia menikahi Yuki Melani, perempuan berdarah Minangkabau yang sebelumnya tinggal di Pontianak, Kalimantan Barat. Bersama istri dan keluarganya, Antoni kemudian menjalani kehidupan di Kota Padang, Sumatera Barat.
Bagi Antoni, pendidikan bukan sekadar perjalanan untuk memperoleh gelar akademik. Pendidikan menjadi ruang untuk membangun kemandirian, membuka kesempatan, sekaligus memperjuangkan agar setiap orang mendapatkan ruang yang setara untuk berkembang.
Perjalanan Antoni Tsaputra memperlihatkan bahwa keterbatasan fisik tidak harus menjadi batas bagi seseorang untuk mengejar pengetahuan. Dari Bukittinggi hingga Padang, lalu menyeberang ke Brisbane dan Sydney, ia menempuh jalan panjang melalui buku, ruang kuliah, penelitian, dan aktivitas sosial.
Pada akhirnya, pendidikan menjadi bagian penting dari kehidupan Antoni—bukan hanya sebagai jalan menuju pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai sarana untuk memberikan suara, membuka ruang, dan mendorong kehidupan yang lebih inklusif bagi banyak orang. (PERS)

Updates.