Dr. Hendri: Deepfake Suara dan Ancaman terhadap Kepercayaan Publik

    Dr. Hendri: Deepfake Suara dan Ancaman terhadap Kepercayaan Publik

    OPINI - Deepfake suara adalah ancaman yang sangat berbahaya karena menyerang salah satu fondasi paling tua dalam hubungan sosial manusia: kepercayaan terhadap suara. Selama ini, suara dianggap sebagai tanda kehadiran, kedekatan, dan keaslian. Ketika seseorang mendengar suara orang tua, pejabat, komandan, tokoh agama, atasan, sahabat, atau keluarga, respons pertama yang muncul biasanya bukan curiga, melainkan percaya. Di sinilah letak bahayanya. Deepfake suara tidak hanya memalsukan bunyi, tetapi memalsukan rasa percaya.

    Dalam konteks perang kognitif, deepfake suara menjadi senjata yang sangat efektif karena ia bekerja langsung pada persepsi, emosi, dan keputusan manusia. Deppe dan Schaal (2024) menjelaskan bahwa perang kognitif berkaitan dengan upaya memengaruhi, mengganggu, atau membentuk kognisi individu dan kelompok melalui kombinasi teknologi, informasi, dan efek psikologis. Artinya, medan tempurnya bukan semata jaringan komputer, melainkan pikiran manusia dan kepercayaan sosial.

    Ancaman deepfake suara berbeda dari hoaks teks biasa. Teks palsu masih bisa dicurigai karena gaya bahasa, sumber, atau kesalahan redaksi. Foto palsu masih bisa diperiksa melalui pencarian gambar. Namun suara memiliki kekuatan emosional yang lebih intim. Suara yang terdengar seperti orang yang kita kenal dapat memicu respons cepat: panik, takut, percaya, patuh, atau marah. Dalam situasi genting, masyarakat tidak selalu punya waktu untuk memverifikasi. Mereka bereaksi dulu, berpikir kemudian.

    Penelitian Mai et al. (2023) menunjukkan bahwa manusia tidak selalu andal membedakan suara asli dan suara deepfake. Dalam eksperimen terhadap suara asli dan suara sintetis, pendengar hanya mampu mengidentifikasi deepfake secara terbatas, dan para peneliti memperingatkan bahwa semakin realistis teknologi sintesis suara, semakin sulit pula tugas deteksi bagi manusia. Müller et al. (2022) juga menemukan bahwa manusia dan algoritma pendeteksi sama-sama memiliki kelemahan dalam menghadapi jenis serangan audio tertentu.

    Dampaknya terhadap kepercayaan publik sangat luas. Bayangkan sebuah rekaman suara palsu yang menyerupai pejabat negara sedang memberi instruksi kontroversial, seorang pimpinan lembaga sedang menghina kelompok tertentu, seorang tokoh agama sedang menyerukan kebencian, atau seorang pemimpin daerah sedang mengakui kebijakan yang sebenarnya tidak pernah ia ucapkan. Meskipun kemudian dibantah, kerusakan awal sudah terjadi. Publik terlanjur marah, media sosial terlanjur ramai, dan kelompok tertentu terlanjur memanfaatkan kebingungan itu.

    Masalah terbesarnya bukan hanya orang percaya pada rekaman palsu, tetapi masyarakat mulai tidak percaya pada rekaman asli. Inilah efek yang lebih berbahaya. Ketika deepfake suara menjadi umum, publik dapat masuk ke fase “semua bisa dipalsukan”. Rekaman asli dianggap rekayasa. Klarifikasi dianggap sandiwara. Bukti audio dianggap tidak cukup. Pada titik ini, deepfake bukan hanya menciptakan kebohongan, tetapi menghancurkan standar kebenaran.

    Penelitian Vaccari dan Chadwick (2020) tentang deepfake politik menunjukkan bahwa deepfake dapat menciptakan ketidakpastian mengenai benar-salahnya suatu informasi, dan ketidakpastian itu dapat menurunkan kepercayaan terhadap berita di media sosial. Dengan kata lain, deepfake tidak harus selalu membuat orang percaya pada kebohongan; cukup membuat orang ragu pada kebenaran. Dalam ruang publik yang sudah mudah terpolarisasi, keraguan semacam ini dapat menjadi bahan bakar konflik sosial.

    Lebih rumit lagi, koreksi tidak selalu mampu menghapus pengaruh informasi palsu. Lewandowsky et al. (2012) menjelaskan adanya continued influence effect, yaitu kondisi ketika informasi keliru tetap memengaruhi penilaian seseorang meskipun telah dikoreksi. Ini berarti rekaman suara palsu dapat meninggalkan bekas psikologis yang panjang: “Mungkin memang palsu, tapi jangan-jangan benar.” Kalimat seperti ini adalah kemenangan kecil bagi perang kognitif.

    Deepfake suara juga mengancam keamanan pribadi dan institusi. Dalam dunia perbankan, ia dapat dipakai untuk menipu keluarga atau staf keuangan. Dalam pemerintahan, ia dapat dipakai untuk membuat instruksi palsu. Dalam politik, ia dapat dipakai untuk merusak reputasi lawan. Dalam pertahanan dan keamanan, ia dapat dipakai untuk menciptakan kepanikan, memecah komando, atau memancing reaksi yang salah. Khanjani et al. (2023) menegaskan bahwa audio deepfake berkaitan langsung dengan isu misinformasi, keamanan siber, kecerdasan buatan, serta deteksi spoofing.

    Karena itu, melawan deepfake suara tidak cukup hanya dengan teknologi deteksi. Teknologi penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya benteng. Zhang et al. (2025) menunjukkan bahwa riset deteksi audio deepfake masih menghadapi tantangan besar, termasuk dataset, evaluasi, adaptasi terhadap metode serangan baru, explainability, dan ketahanan terhadap manipulasi teknis seperti kompresi. Artinya, negara, media, lembaga publik, dan masyarakat tidak boleh menggantungkan keselamatan informasi hanya pada aplikasi pendeteksi.

    Yang dibutuhkan adalah protokol kepercayaan baru. Pertama, setiap instruksi penting yang disampaikan melalui suara harus diverifikasi melalui kanal kedua. Jika ada perintah transfer dana, instruksi darurat, atau pernyataan sensitif, jangan cukup percaya pada suara. Lakukan konfirmasi melalui nomor resmi, tatap muka, tanda tangan digital, atau kanal kelembagaan yang sah.

    Kedua, pejabat publik, aparat, pimpinan organisasi, dan tokoh masyarakat harus memiliki sistem klarifikasi cepat. Di era deepfake suara, bantahan yang lambat dapat kalah oleh amarah digital. Klarifikasi harus singkat, tegas, visual, dan disebarkan melalui kanal resmi yang sudah dipercaya publik sebelum krisis terjadi.

    Ketiga, media harus memperlakukan rekaman suara viral sebagai bahan yang harus diverifikasi, bukan sekadar bahan yang harus dipublikasikan. Kecepatan tidak boleh mengalahkan kehati-hatian. Media yang menyiarkan rekaman palsu tanpa verifikasi bukan hanya melakukan kesalahan jurnalistik, tetapi ikut memperbesar operasi perang kognitif.

    Keempat, masyarakat perlu membangun budaya “percaya secara cerdas”. Jangan langsung percaya hanya karena suara terdengar mirip. Jangan langsung menyebarkan hanya karena rekaman terdengar mengejutkan. Jangan langsung marah hanya karena audio menyentuh emosi. Dalam era deepfake, kedewasaan publik diukur dari kemampuan menahan reaksi sampai fakta diperiksa.

    Deepfake suara adalah ujian baru bagi kepercayaan publik. Ia memaksa kita menyadari bahwa kebenaran tidak lagi cukup hanya didengar; ia harus diverifikasi. Suara yang akrab belum tentu asli. Rekaman yang viral belum tentu benar. Dan klarifikasi yang datang terlambat belum tentu mampu memulihkan kerusakan sosial.

    Masa depan ruang publik akan sangat bergantung pada kemampuan kita membangun ketahanan kognitif. Bukan sekadar dengan alat deteksi, tetapi dengan etika komunikasi, literasi digital, disiplin verifikasi, protokol kelembagaan, dan kepercayaan sosial yang sehat. Deepfake suara dapat meniru bunyi manusia, tetapi tidak boleh dibiarkan menggantikan akal sehat manusia.

    Jakarta, 26 April 2026
    Dr. Ir.  Hendri, ST., MT
    Ketua Umum Jurnalis Nasional Indonesia (INI)

    dr. hendri deepfake kepercayaan publik suara
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Abdullah Rasyid: Transisi Energi dan Ujian...

    Artikel Berikutnya

    Agustiar Syah Nur, Rektor Pertama Universitas...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Pantau Wilayah Teritorial, Sertu Nursam Komsos dengan Kasun Bayuh
    Danramil Nusa Penida Sambangi Peternak Babi di Desa Sekartaji
    TNI Gencarkan Penyuluhan Door to Door Cegah Karhutla di Kabupaten Sambas
    Sinergi Tiga Pilar Perkuat Kamtibmas di Desa Ukirsari
    Aksi Tanggap Sertu Asep Iman Gempur Kebakaran Lahan 2 Hektare di Cibeber

    Ikuti Kami