H.B. Saanin, Perintis Pelayanan Kesehatan Jiwa dari Pesisir Selatan

    H.B. Saanin, Perintis Pelayanan Kesehatan Jiwa dari Pesisir Selatan
    Prof. dr. Hasan Basri Saanin Datuk Tan Pariaman, yang lebih dikenal sebagai H.B. Saanin,

    TOKOH - Prof. dr. Hasan Basri Saanin Datuk Tan Pariaman, yang lebih dikenal sebagai H.B. Saanin, merupakan salah satu tokoh penting dalam perkembangan ilmu psikiatri dan pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia. Lahir pada 9 Juni 1917, ia mengabdikan hidupnya sebagai dokter, pengelola rumah sakit, pendidik, dan pembela profesi kedokteran.

    Namanya memiliki tempat khusus dalam sejarah kesehatan Sumatera Barat. Di tengah keterbatasan fasilitas dan situasi politik yang tidak menentu pada masa awal kemerdekaan, H.B. Saanin ikut memperjuangkan keberlangsungan pelayanan bagi pasien gangguan jiwa. Pengabdian itulah yang kemudian membuat namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit jiwa milik Pemerintah Provinsi Sumatera Barat di Kota Padang.

    Hasan Basri lahir di Kayu Kalek, Kambang, Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Ia merupakan anak ketiga dari delapan bersaudara pasangan Saanin dan Siti Raffah yang berasal dari suku Malayu. Salah seorang adiknya adalah Mariana Saanin.

    Masa kecil Hasan Basri tidak hanya dihabiskan di Pesisir Selatan. Pendidikan dasarnya ditempuh di Sekolah Desa Lasi, Kabupaten Agam. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Hollandsch-Inlandsche School dan Meer Uitgebreid Lager Onderwijs di Bukittinggi.

    Pada awalnya, Hasan Basri memiliki cita-cita menjadi seorang ahli hukum. Namun, perjalanan hidup membawanya ke dunia kedokteran. Ia diterima sebagai mahasiswa Nederlandsch-Indische Artsen School di Surabaya, salah satu sekolah kedokteran terkemuka pada masa Hindia Belanda.

    Pendidikan kedokterannya menghadapi tantangan besar ketika Jepang menduduki Indonesia. Sekolah kedokteran di Surabaya ditutup, sehingga Hasan Basri berpindah ke Jakarta dan melanjutkan pendidikan di Ika Daigaku Djakarta. Pada masa pendudukan Jepang, lembaga tersebut menjadi satu-satunya sekolah kedokteran yang masih beroperasi.

    Setelah Indonesia merdeka, Ika Daigaku dinasionalisasi menjadi Perguruan Tinggi Kedokteran di bawah Balai Perguruan Tinggi Djakarta. Lembaga tersebut kemudian berkembang menjadi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

    Di tengah suasana revolusi dan ketidakpastian setelah kemerdekaan, Hasan Basri berhasil menyelesaikan pendidikannya. Pada 27 November 1945, ia resmi memperoleh gelar dokter. Hanya beberapa hari kemudian, tepatnya pada 1 Desember 1945, ia memulai karier di Laboratorium Eijkman, Jakarta.

    Masa awal kemerdekaan juga memperlihatkan sisi lain dari H.B. Saanin. Selain bekerja sebagai dokter, ia pernah memimpin Harian Berita Indonesia di Jakarta. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perhatiannya tidak hanya tertuju pada pelayanan kesehatan, tetapi juga pada dunia informasi dan perjuangan kebangsaan.

    Meskipun telah menjadi dokter, ketertarikannya terhadap hukum tidak sepenuhnya hilang. Pada tahun 1948, ia sempat mengikuti perkuliahan tingkat C II di Fakultas Hukum Balai Pengajaran Tinggi Jakarta. Namun, pada akhirnya bidang psikiatri menjadi jalan utama pengabdiannya.

    Perjalanan karier H.B. Saanin kemudian membawanya kembali ke Sumatera Barat. Ketika Agresi Militer Belanda I mengancam keselamatan masyarakat dan fasilitas kesehatan, pelayanan terhadap pasien gangguan jiwa ikut terdampak.

    Pada 21 Januari 1947, para pasien dari Koloni Orang Sakit Djiwa Ulu Gadut, Padang, harus dievakuasi. Mereka dipindahkan dan digabungkan dengan Rumah Sakit Umum Sawahlunto yang ketika itu dipimpin oleh Hasan Basri.

    Rumah sakit tersebut kemudian berkembang menjadi Rumah Perawatan Sakit Djiwa Sawahlunto. Dalam suasana perang, keterbatasan obat-obatan, tenaga medis, dan fasilitas, Hasan Basri harus memastikan pasien tetap memperoleh perawatan yang layak.

    Tugasnya semakin bertambah ketika pada 4 Februari 1948 ia ikut bekerja dalam pelayanan transfusi darah Palang Merah Indonesia di Sumatera Barat. Pada periode 1948 hingga 1949, ia juga dipercaya menjadi Kepala Rumah Sakit Umum Bukittinggi.

    Dari tahun 1949 sampai 1957, Hasan Basri menjalankan berbagai tanggung jawab sekaligus. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Rumah Sakit Umum Sawahlunto, dokter untuk wilayah Sawahlunto dan Sijunjung, serta Kepala Rumah Sakit Jiwa Sawahlunto dan Ulu Gadut, Padang.

    Ia juga memimpin Sekolah Jururawat Sawahlunto dan bekerja sebagai dokter di Tambang Batu Bara Ombilin. Tugas-tugas tersebut memperlihatkan luasnya pengabdian Hasan Basri, dari pelayanan kesehatan masyarakat hingga kesehatan para pekerja tambang.

    Salah satu perjuangan terpentingnya berlangsung pada tahun 1954. Ketika sejumlah bangunan rumah sakit mengalami kerusakan akibat situasi perang, Hasan Basri memimpin pembangunan dan pemugaran kembali fasilitas tersebut. Ia juga mengawal proses pemindahan pasien dari Sawahlunto kembali ke Padang.

    Baginya, pelayanan terhadap pasien gangguan jiwa tidak boleh dihentikan hanya karena keadaan politik atau keamanan sedang tidak menentu. Pasien tetap harus memperoleh tempat yang aman, perawatan yang manusiawi, serta tenaga kesehatan yang bertanggung jawab.

    Pada tahun 1957, Hasan Basri dipercaya menjadi Pengawas Kepala Jawatan Kesehatan Provinsi Sumatera Tengah di Padang. Jabatan tersebut memperluas ruang pengabdiannya dari pengelolaan rumah sakit menuju pembinaan pelayanan kesehatan di tingkat provinsi.

    Dua tahun kemudian, ia dipindahkan ke Bandung. Dari tahun 1959 hingga 1961, Hasan Basri bertugas sebagai dokter di Rumah Sakit Umum Rancabadak, yang kini dikenal sebagai Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung.

    Pada tahun 1961, ia dipercaya menjadi Direktur Rumah Sakit Jiwa Bandung dan Cimahi atau Cisarua. Ia juga menjabat sebagai Kepala Bagian Penyakit Jiwa Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung. Secara keseluruhan, H.B. Saanin menghabiskan sekitar 28 tahun hidupnya dalam kepemimpinan rumah sakit.

    Pengalaman panjang tersebut membuatnya memahami bahwa rumah sakit bukan hanya tempat mengobati penyakit. Rumah sakit juga merupakan ruang perlindungan bagi pasien, tempat pendidikan bagi tenaga medis, serta bagian penting dari pelayanan kemanusiaan.

    Karier H.B. Saanin kemudian berkembang ke dunia akademik. Pada tahun 1964, ia diangkat sebagai dosen luar biasa pada Bagian Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung.

    Pengalaman praktis yang diperolehnya selama puluhan tahun di rumah sakit menjadi bekal penting dalam mengajar. Ia tidak hanya menyampaikan teori mengenai penyakit jiwa, tetapi juga membagikan pengalaman menghadapi pasien, keluarga pasien, persoalan sosial, dan berbagai masalah hukum yang berhubungan dengan kedokteran.

    Pada tahun 1973, Hasan Basri diangkat menjadi lektor kepala. Lima tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1978, ia dikukuhkan sebagai guru besar atau profesor psikiatri di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran.

    Kemampuannya menggabungkan ilmu kedokteran jiwa dan ilmu hukum menjadi salah satu ciri penting dalam perjalanan akademiknya. Ia memahami bahwa seorang psikiater tidak hanya berhadapan dengan persoalan medis, tetapi juga dapat terlibat dalam proses peradilan, penilaian tanggung jawab hukum, serta pembelaan terhadap hak pasien dan tenaga kesehatan.

    Pemikiran tersebut tercermin dalam karya-karyanya, antara lain Peranan Psikiatri dalam Kedokteran Kehakiman serta Psikiater dan Pengadilan. Karya-karya itu memperlihatkan perhatian H.B. Saanin terhadap hubungan antara kondisi kejiwaan seseorang dan proses penegakan hukum.

    Ketika aktif dalam Ikatan Dokter Indonesia Jawa Barat, ia dikenal sebagai sosok yang gigih membela para dokter yang dituduh melakukan malapraktik. Pembelaannya bukan dimaksudkan untuk membenarkan kesalahan, melainkan memastikan bahwa setiap tuduhan diperiksa secara adil berdasarkan ilmu kedokteran dan ketentuan hukum.

    Di mata rekan kerja dan bawahannya, H.B. Saanin dikenal sebagai pribadi yang bersemangat, disiplin, dan penuh tanggung jawab. Wajahnya sering dianggap terlihat tegas, bahkan terkesan angker. Namun, di balik penampilannya itu, ia dikenal sebagai sosok yang merakyat, hangat, dan mengutamakan rasa kekeluargaan.

    Ia tidak menjaga jarak dengan bawahannya. Dalam lingkungan rumah sakit, ia berusaha membangun hubungan kerja yang dekat sekaligus disiplin. Baginya, pelayanan kesehatan hanya dapat berjalan baik apabila dokter, perawat, pegawai, dan pengelola rumah sakit bekerja sebagai satu keluarga besar.

    Dalam kehidupan pribadi, H.B. Saanin menikah dengan Nadijar Idrus. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tujuh orang anak. Salah seorang putranya, Syaiful Saanin, mengikuti jejak sang ayah di dunia kedokteran dan dikenal sebagai dokter ahli saraf di Padang.

    Pada masa akhir hidupnya, kesehatan H.B. Saanin menurun. Ia menderita gangguan pada liver, paru-paru, dan ginjal, disertai pendarahan di bagian usus. Kondisinya memburuk ketika ia mengalami muntah darah dan harus dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung.

    Selama sembilan hari, tim medis berusaha menangani penyakitnya. Ia juga menjalani tindakan operasi yang ditangani oleh dokter ahli bedah, dr. Warko Karnadihardja.

    Namun, kondisi kesehatannya tidak dapat dipulihkan. H.B. Saanin meninggal dunia di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung pada Jumat, 18 Maret 1988. Kepergiannya meninggalkan duka bagi keluarga, rekan sejawat, murid, serta dunia kedokteran Indonesia.

    Pengabdiannya tidak berhenti bersama wafatnya. Pada 2 November 2000, rumah sakit jiwa di Padang yang dahulu pernah dipimpinnya secara resmi diberi nama Rumah Sakit Jiwa Prof. dr. Hasan Basri Saanin Datuk Tan Pariaman.

    Pengabadian nama tersebut bukan sekadar bentuk penghormatan kepada seorang dokter. Nama H.B. Saanin menjadi pengingat tentang perjuangan panjang membangun pelayanan kesehatan jiwa di tengah perang, keterbatasan fasilitas, dan kurangnya perhatian terhadap pasien gangguan jiwa.

    Dari Kayu Kalek di Pesisir Selatan, ia menempuh perjalanan panjang menuju ruang kuliah, laboratorium, rumah sakit, organisasi profesi, hingga jabatan guru besar. Dalam setiap tahap kehidupannya, H.B. Saanin menunjukkan bahwa ilmu kedokteran bukan hanya persoalan menyembuhkan penyakit, melainkan juga membela kemanusiaan.

    Ia dikenang sebagai dokter yang menjaga pasien ketika perang memaksa mereka mengungsi, pemimpin yang membangun kembali rumah sakit yang rusak, pendidik yang membentuk generasi psikiater, serta tokoh yang mempertemukan ilmu kedokteran dengan keadilan hukum. (PERS)

    prof. dr. hasan basri saanin datuk tan pariaman h.b. saanin
    Updates.

    Updates.

    Artikel Sebelumnya

    Panglima TNI Sambut Kepulangan Satgas Kizi...

    Artikel Berikutnya

    Agustiar Syah Nur, Rektor Pertama Universitas...

    Berita terkait

    Rekomendasi

    Pantau Wilayah Teritorial, Sertu Nursam Komsos dengan Kasun Bayuh
    Danramil Nusa Penida Sambangi Peternak Babi di Desa Sekartaji
    TNI Gencarkan Penyuluhan Door to Door Cegah Karhutla di Kabupaten Sambas
    Sinergi Tiga Pilar Perkuat Kamtibmas di Desa Ukirsari
    Aksi Tanggap Sertu Asep Iman Gempur Kebakaran Lahan 2 Hektare di Cibeber

    Ikuti Kami