TOKOH - Prof. dr. Aleina Roesma Datuk Indo Kayo merupakan salah satu tokoh penting dalam sejarah pendidikan tinggi dan kesehatan di Indonesia, khususnya di Sumatera Barat. Lahir di Palembayan, Kabupaten Agam, pada 13 Juli tahun 1896, ia tumbuh dalam keluarga yang memiliki kedekatan dengan dunia pelayanan masyarakat dan pemerintahan.
Aleina merupakan putra tunggal pasangan Ahmad Datuk Maroehoem Basa dan Radjimah. Sang ayah, Ahmad, dikenal sebagai sosok yang memiliki perjalanan karier panjang sejak masa pemerintahan Hindia Belanda. Ketika masih muda, Ahmad terpilih mengikuti pendidikan sebagai verpleger atau perawat pria yang diselenggarakan pemerintah kolonial.
Profesi tersebut membawa Ahmad berkenalan lebih dekat dengan dunia kesehatan dan pelayanan publik. Namun, perjalanan hidupnya kemudian bergerak ke bidang pemerintahan. Ia pernah memperoleh tawaran dari Kepolisian Hindia Belanda untuk menjadi anggota polisi di Tanah Datar.
Karier Ahmad terus berkembang hingga akhirnya ia dipercaya mengemban jabatan sebagai demang di Bangko, Sarolangun, Karesidenan Jambi. Jabatan demang pada masa itu memiliki kedudukan penting dalam struktur pemerintahan daerah dan kerap disetarakan dengan kepala wilayah atau bupati.
Lingkungan keluarga yang akrab dengan pelayanan kesehatan, kedisiplinan, dan tanggung jawab pemerintahan turut membentuk perjalanan hidup Aleina. Ia kemudian menekuni bidang kedokteran dan berkembang menjadi seorang ahli kesehatan sekaligus pengajar yang disegani.
Pengabdiannya tidak hanya berlangsung di ruang praktik kesehatan. Aleina juga mencurahkan perhatian besar terhadap dunia pendidikan. Pengetahuan dan pengalaman yang dimilikinya digunakan untuk mendidik generasi muda serta memperkuat perkembangan pendidikan kedokteran di Indonesia.
Nama Aleina Roesma semakin dikenal ketika ia dipercaya memimpin Universitas Andalas di Padang, Sumatera Barat. Pada tahun 1958, ia menggantikan Prof. dr. M. Syaaf sebagai Presiden Universitas Andalas, sebutan yang pada masa itu digunakan untuk jabatan rektor.
Sebagai pemimpin kedua Universitas Andalas, Aleina mengemban tugas besar pada masa awal pertumbuhan perguruan tinggi tersebut. Universitas Andalas masih berada dalam tahap pembangunan dan membutuhkan kepemimpinan yang mampu memperkuat tata kelola, kegiatan akademik, serta peran universitas dalam kehidupan masyarakat.
Selama enam tahun, dari 1958 hingga 1964, Aleina memimpin Universitas Andalas melewati berbagai tantangan. Masa kepemimpinannya menjadi bagian penting dalam proses penguatan fondasi universitas sebagai salah satu pusat pendidikan tinggi terkemuka di Pulau Sumatera.
Sebagai dokter dan pendidik, ia membawa semangat keilmuan serta pengabdian ke dalam kepemimpinannya. Baginya, perguruan tinggi tidak hanya menjadi tempat memperoleh gelar, tetapi juga pusat pembentukan manusia terdidik yang mampu memberikan manfaat bagi bangsa dan masyarakat.
Pada tahun 1964, masa jabatan Aleina sebagai pimpinan Universitas Andalas berakhir. Kedudukannya kemudian dilanjutkan oleh Prof. Drs. Harun Alrasjid Zain, yang menjadi rektor berikutnya.
Prof. dr. Aleina Roesma Datuk Indo Kayo wafat pada 25 Oktober 1964. Meskipun perjalanan hidupnya telah berakhir, kontribusinya tetap tercatat dalam sejarah Universitas Andalas dan perkembangan pendidikan kesehatan di Indonesia.
Dari sebuah keluarga sederhana di Palembayan, Aleina tumbuh menjadi dokter, pengajar, dan pemimpin perguruan tinggi. Perjalanan hidupnya menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan memperoleh makna yang lebih besar ketika digunakan untuk mendidik, melayani, dan membangun masa depan masyarakat. (PERS)

Updates.