TOKOH - Akmal Taher dikenal sebagai salah satu dokter ahli bedah dan urologi terkemuka di Indonesia. Lahir pada 27 Juli 1955, perjalanan hidupnya menggambarkan perpaduan antara ketekunan akademik, pengabdian dalam pelayanan kesehatan, serta keberanian melakukan inovasi di bidang kedokteran.
Ia lahir dari pasangan Taher dan Rosnalia, keluarga yang berasal dari Koto Gadang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Meskipun memiliki akar budaya Minangkabau yang kuat, Akmal tumbuh dan menempuh pendidikan menengah di Jakarta. Ia tercatat sebagai siswa Kolese Kanisius, salah satu sekolah yang dikenal memiliki tradisi pendidikan disiplin dan kuat dalam pembentukan karakter.
Ketertarikannya terhadap dunia kesehatan kemudian membawanya memasuki Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Di kampus tersebut, Akmal menempuh pendidikan dokter umum sebelum memperdalam bidang urologi. Setelah melalui proses pendidikan dan pelatihan yang panjang, ia resmi menyandang gelar dokter spesialis urologi pada tahun 1988.
Keinginan untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan membawa Akmal ke Jerman. Pada periode 1990 hingga 1992, ia menjadi peneliti atau research fellow di Hannover Medical School and Institute for Peptide Research, Hannover. Di lingkungan akademik internasional tersebut, Akmal tidak hanya memperdalam pengetahuan medis, tetapi juga terlibat dalam kegiatan penelitian yang memperluas cakrawala keilmuannya.
Kerja kerasnya selama berada di Jerman membuahkan pencapaian penting. Pada tahun 1993, Akmal meraih gelar Doktor Medikus dan PhD dari institusi tersebut. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh gelar doktor dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Kiprah Akmal tidak berhenti di ruang kuliah dan laboratorium. Ia turut menghasilkan inovasi dalam bidang farmakologi dan kedokteran dengan memiliki hak paten atas temuan bertajuk use of inhibitor of phosphodiesterase IV. Hak paten tersebut terdaftar di sejumlah negara maju, yakni Jerman, Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang. Pencapaian ini menunjukkan bahwa kontribusinya dalam ilmu kedokteran mendapat pengakuan secara internasional.
Dalam perjalanan kariernya, Akmal dipercaya menduduki berbagai posisi strategis. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Utama Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo di Jakarta. Rumah sakit tersebut merupakan salah satu pusat rujukan nasional sekaligus rumah sakit pendidikan utama Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Akmal juga pernah dipercaya memimpin organisasi profesi sebagai Ketua Ikatan Ahli Urologi Indonesia. Melalui jabatan tersebut, ia berperan dalam pengembangan pendidikan, pelayanan, penelitian, serta peningkatan kompetensi para dokter urologi di Indonesia.
Pengabdiannya sebagai aparatur negara memperoleh apresiasi pada tahun 2004 ketika ia dianugerahi Satyalancana Karya Satya 20 Tahun. Penghargaan tersebut diberikan sebagai bentuk penghormatan atas kesetiaan, kecakapan, kejujuran, dan kedisiplinannya dalam menjalankan tugas.
Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 2006, Akmal Taher dikukuhkan sebagai Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Pengukuhan tersebut menjadi salah satu puncak perjalanan akademiknya sekaligus menegaskan kedudukannya sebagai ilmuwan, pendidik, dan praktisi kedokteran yang memiliki kontribusi besar bagi dunia kesehatan nasional.
Pengalaman panjang Akmal dalam mengelola rumah sakit, organisasi profesi, pendidikan kedokteran, dan penelitian kemudian membawanya memasuki lingkungan birokrasi kesehatan. Pada Februari 2013, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nafsiah Mboi mengangkatnya sebagai Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Dalam jabatan tersebut, Akmal memikul tanggung jawab besar dalam pembinaan dan pengembangan pelayanan kesehatan di Indonesia. Penunjukannya memperlihatkan kepercayaan pemerintah terhadap pengalaman dan kemampuannya dalam menjembatani dunia akademik, pelayanan medis, manajemen rumah sakit, serta kebijakan kesehatan.
Perjalanan hidup Akmal Taher menjadi gambaran tentang seorang dokter yang tidak hanya mengabdikan dirinya untuk merawat pasien. Ia juga membangun sistem pelayanan kesehatan, mendidik generasi penerus, menghasilkan inovasi ilmiah, dan ikut menentukan arah kebijakan kesehatan nasional.
Dari akar keluarganya di Koto Gadang, ruang pendidikan di Universitas Indonesia, laboratorium penelitian di Hannover, hingga jajaran pimpinan Kementerian Kesehatan, Akmal Taher telah menorehkan perjalanan panjang sebagai dokter, peneliti, pendidik, pemimpin, dan pengabdi kesehatan Indonesia. (PERS)

Updates.